
Shaka dia menunggu ucapan Eyang lagi.
"Eyang." Suara Shaka datar.
"Shaka.. Gak gitu maksud eyang, Kamu bisa tetep sama Miria tapi, kamu coba jalanin dulu sama Indri sapa tahu cocok." Eyang masih tenang sediit.
Shaka tersenyum remeh, Shaka menatap Eyang dan Indri.
Yanuar masih diam dengan posisi berubah. Papa disini hanya untuk supaya Shaka tak kelepasan emosi pada eyangnya sendiri.
Papa tahu emosi Shaka seperti dirinya, walaupun Shaka bukan anak kandungnya.
"Shaka..." Suara Papa mengintrupsi nya.
Shaka tak bergeming di tatap santai Eyang yang terkesan keras di rahangnya seperti menahan amarahnya di wajah bukan di kedua matanya.
Shaka lihat itu.
"Shaka minta maaf sama Eyang kalo sikap Shaka keterlaluan tapi, Shaka gak bisa dan gak ada perubahan lagi." Final sudah dan pengakuan Shaka membuat Indri tak menyerah sekarang juga saatnya Indri mengatur bagaimana menggunakan cara lain mengusir istri Shaka yang masih hidup.
"Pikirkan Shaka, tak masalah dua istri ini juga demi darah biru yang ada ada kamu?" Kata eyang seketika membuat Shaka lelah dan frustasi sekaligus kasihan.
"Eyang tanggung jawab lelaki ketika menikah bukan hanya nafkah dunia dan nafkah batin, ada banyaak hal bahkan Suami juga harus membawa istrinya pulang ke hadapan Allah itu dengan baik, kalo sampe Shaka gagal, Tuntutan akhirat Shaka berat bahkan bisa berkali-kali lipat banyaknya, satu saja Shaka tak terlalu bisa mengendalikan apa lagi dua, lagi pula Eyang juga punya cucu lain dari anak Eyang yang lain dari suami eyang yang lain." Eyang tersindir lagi.
Yanuar tetap tenang dan merasa anaknya itu benar-benar menyindir mamanya dengan serangan yang bagus, Yanuar menahan senyumannya.
"Tapi, bukannya membibing banyak orang untuk ikut dalam kebaikan itu baik." Kata Eyang lagi.
"Satu lagi, aku gak punya darah biru dari keluarga eyang." Papa diam. Eyang kalah ucapannya sama sekali tak bisa di buktikan dan salah.
"Eyang, Cukup disini aja Eyang... Shaka udah lelah, Shaka bisa aja gak sabar dan malah nyakitin hati eyang."
Suasana hening sekejap.
Shaka berdiri Eyang Papa juga indri berdiri.
Mereka menatap Shaka.
"Papa akan keluar lihat mobil udah datang belum. Mama jangan buat hal yang buruk lagi," tambahan Papa berbisik agak keras meminta Mamanya tetap tenang.
"Cih... Kamu bilang tenang, diam, Kamu liat dia udah sombong, dia kira perempuan itu baik, Liat aja dia bakalan bawa sial buat kamu, Eyang gak akan restuin hidup kalian bahagia terus semoga kalian gak akan dapet keturunan sebelum dapet restu Eyang!"
Deg...
Yanuar yang hendak pergi mendengar ucapan Mamanya terdiam kaget, rasanya lemas.
__ADS_1
Shaka mengepalkan tangannya.
Indri merasa puas tapi, wajahnya sedih.
Diam-diam tangan Shaka mengepal keras di bawah meja.
"Mama Stop, Nyebut Mah Istighfar Mah, apa yang mama bilang itu buruk mama gak baik bilang gitu mah." Papa menatap kasihan ibunya.
Eyang tak perduli dan pergi dengan kesal dari sana. Indri juga sempat tersenyum pada Shaka dan keluar bersama Eyang.
Papa menoleh pada Shaka.
"Papa Eyang, Benar bilang gitu??" Papa menatap iba putra bungsunya.
"Enggak nak, Eyang lagi marah, itu gak papa, Eyang mungkin stres karena keinginanya gak kamu lakuin, sekarang kamu berdoa minta sama Allah, gimana baiknya aja."
Shaka menunduk lemas.
Papa langsung keluar dengan wajah lemasnya keluar ruangan Shaka dan wajah Shaka muak juga marah menatap meja kerjanya.
Tiba-tiba air matanya menetes keluar.
Shaka menelpon Miria.
Ria yang baru akan membersihkan sayuran merasa da panggilan masuk, melihat panggilan Shaka.
"Pak Juki, saya ke ruangan bos ya," ucapnya.
"Oh iya." Ria langsung pergi ke ruangan Shaka dan tak lupa mencuci tangannya.
Didalam ruangan nya Shaka berdiri menatap keluar jendela kaca, mendengar pintu terketuk menoleh dan melihat Ria masuk lalu menguncinya dari dalam. Shaka kembali menatap keluar jendela.
Ria mendekat dan menyentuh bahu Shaka.
"Kenapa? Apa kamu.." Shaka berbalik langsung memeluk Ria. Ria yang terkejut perlahan menepuk lembut bahu punggung Shaka.
"Aku gak bisa bilang apa yang eyang bilang tentang kita ke kamu tapi, aku gak bisa bohong aku sedih karena omongan eyang."
Shaka mengatakannya dalam pelukannya. Miria terus diam dan menepuk dan mengusap lembut.
Ria mendengarkan saja dengan baik-baik dan saat Shaka selesai cerita.
Shaka duduk di kursi kerjanya dan meminta Ria duduk di pangkuannya menyamping.
"Apa kamu marah, Kamu kecewa sama aku, aku emang kurang ajar sama keluarga tapi, kalo kamu gak suka sikap aku, maaf aku kelepasan tadi."
__ADS_1
Ria tersenyum.
Mengusap usap punggung tangan kanan Shaka dengan jempolnya.
"Aku gak marah, Aku maafin... Aku tahu itu bakalan terjadi tapi, aku berharap itu gak akan kejadian beneran, gak papa udah terjadi juga. Kan kamu sendiri yang bilang jangan tanggepin apa kata mereka. Kamu bilang pegang tangan aku."
Ria menggenggam tangan Shaka dan mencium tangan yang saling menggenggam itu.
"Kamu terpojok, kamu kasihan sama aku, kamu emang yang terbaik juga hebat, lain kali," memegang wajah Shaka dengan kedua tangannya dengan menempelkan dahinya perlahan.
"Jangan lepas kendali tahan emosinya Aku gak akan kecewa apapun pilihan suamiku, karena itu pasti yang terbaik."
Shaka mencium kedua telapak tangan Ria yang ada di kedua sisi wajahnya di bantu kedua tangannya, telapak tangan Ria yang sedikit kasar tapi, Shaka suka tangan seperti ini dan tangan ini yang berhasil meredam emosinya sekarang.
Setiap sentuhan dan usapan telapak tangan itu secara lembut di bahu kulit hingga wajahnya.
Menenangkan bagi Shaka.
Jangan putus asa sekarang, pikir Shaka.
Shaka memeluk Ria dari samping masih dengan posisi di pangkuannya.
***
Hanya diam dan ketenangan didalam mobil bahkan Miria tak bersuara sama sekali ia merasa Shaka butuh ketenangan.
Jaln pulang kerumah berbeda kemana Shaka mau pergi?
Dirumah Juan dan Ethan belajar di paviliun belakang di temani bibi dan Indri di dalam kamarnya juga di temani seorang pelayan mengajaknya mengobrol kadang pelayan harus pergi karena indri ingin sendiri saja.
Di ruang baca ayah Shaka bukan ruang baca Shaka sendiri. Nenek masih tak suka jika Shaka tambah jauh darinya.
"Yan.. Kamu itu loh... Buat Shaka cepet terima erjodohan ini aku tuh dapetin indri susah."
"Mama yang bawa indri kemari, Mama lupa kejadian dulu dimana Shaka harus keserempet motor karen kelakuan Indri dan kelakuan mamanya Indri yang bilang Shaka itu anak uangan, Mama lupa itu, Shaka memang harusnya menikah dengan Miria bukan Indri."
Eyang berdiri.
"Kamu itu terlalu menyayangi perempuan yang bahkan gak bisa di banggakan keluarga Erlangga."
"Mama harus paham apa kata ayah tentang jodoh bahkan keberuntungan seseorang, Mama juga ingat dengan karma baik seseorang." Eyang melirik tak suka dan mengipasi dirinya padahal ada ac di ruangan itu.
"Halah... Kamu itu yang terlalu percaya kebetulan kayak gitu, sekarang itu kita butuh kekuasaan dan koneksi pihak atas kalo sampe kakeknya Indri tahu itukan bakalan jadi hal bagus."
"Yanuar gak butuh manusia sombong itu, Mama juga berhenti berharap Shaka sama Indri, Mama ingat tidak mah!" Kata. Ayah dengan tegas.
__ADS_1
" Mama itu... sudah menyakiti... hati Shaka siang tadi, Apa mama sama sekali gak ada perasaan bersala, anak itu sulit dekat dengan perempuan karena masa lalunya dan karena masalah ibunya kematian ibunya juga Eyang yang terlalu membenci ibunya."