
"Turunkan aku! Hei Tuan Muda, kenapa semakin hari Anda semakin susah dinasehati hah!" Lea meninggikan nada suaranya, dengan menahan emosi di dadanya yang serasa ingin meledak.
"Kak Lea, pasti sudah tahu jawabannya kenapa bertanya lagi? Harusnya Kak Lea, bertanya kepada diri Kak Lea sendiri! Bukan malah meninggikan suaranya kepadaku!" balas Claude seraya menurunkan tubuh ramping Kak Lea, keatas kursi taman Mansion.
'Hah, yang benar saja ya ampun anak ini benar-benar berubah. Dia habis makan apa ya? Kok jadi mengerikan begini,' batin Lea bergidik ngeri.
"Kak ..."
"Kak!"
"Eh, ya ada apa?" tanya Lea kesal. Ingin berpura-pura tak mendengarkan, tetapi baru saja tidak menyahut justru dia malah diteriaki.
Apalagi dia diam, mungkin sudah tamat riwayatnya.
"Tangan Kakak, cepat!" tukas Claude. Lea pun hanya bisa pasrah, menyerahkan tangannya kepada Claude.
"Sekarang berbaringlah!"
"Hah! Ba--baring? Dimana?" tanya Lea pura-pura tak melihat, arah tunjuk Claude. Pria itu menyuruhnya untuk berbaring di pahanya tetapi apalah daya Lea, yang sedang menjaga imagenya.
Dia tidak mungkin, membiarkan gosip tidak benar beredar nantinya. Walaupun mustahil terjadi apalagi sampai didengar oleh, Tuan dan Nyonya nya bisa panjang masalahnya nanti.
"Tuan Muda, lebih baik kita masuk ini sudah sangat malam. Takutnya--"
"Apa Kak Lea, takut jika aku berbuat macam-macam kepada Kakak? Makanya selalu, menolak?" sontak perkataan Claude, membuat Lea terdiam dan kembali duduk untuk menjelaskan segalanya.
"Bu--bukan, bukan seperti itu. Huh, Tuan Muda Anda pasti tahu bukan? Dimana letak perbedaannya? Tolong sadarlah Tuan, kita ini berbeda! Banyak perbedaan yang tidak memungkin, Anda pun masih sangat muda perjalanan Anda masih sangat panjang. Tetapi masa depan Anda, sudah berada didepan mata jauh-jauh dari Anda lahir ke dunia ini! Anda adalah pewaris keluarga Ricchan, Anda tampan cerdas, banyak yang menyukai Anda. Cobalah pikirkan sesuatu, yang Anda lakukan kepadaku ini bukanlah cinta melainkan obsesi Anda!" ucap Lea.
Mengeluarkan segalanya. Yang ada didalam hatinya, mengapa Tuan Mudanya menjadi seperti ini coba pahamilah, kedepannya akan berdampak pada siapa saja.
"Tolong sadarlah, ayo berdamai. Sejujurnya, aku pernah menyukaimu tetapi rasa suka ini segera aku tutupi, dan aku ubah menjadi logika. Aku sadar menyukai seseorang yang tidak bisa aku gapai, begitu menyakitkan jadi belajarlah untuk memakai logika sekarang. Kau tampan, kaya apapun bisa terjadi, dan menjadi milikmu! Kau Claude Ricchan!" ucap Lea.
Sementara Claude, pria itu hanya bisa diam menunduk seperti seseorang yang putus cinta.
"Baik-baiklah sekarang, jika kau butuh sesuatu katakanlah. Kau tahu Claude, kau itu mirip seperti adikku cuman bedanya kau lebih tampan, dan terawat dibandingkan adikku yang gayanya seperti preman di pasar." Ungkap Lea, seraya merangkul Claude yang sedari tadi diam.
"Jangan patah semangat, Kak Lea doakan semoga kau mendapat pasangan yang baik ya. Apalagi kau pria yang sangat baik, dan manis apapun akan terjadi dengan kehendak mu, Kak Lea yakin, suatu waktu kita akan ketemu. Mungkin nanti, Kak Lea sudah tua sudah beruban haha!" Lea tampak tertawa.
__ADS_1
Hanya membayangkan, rambutnya yang panjang berubah warna sudah membuatnya tertawa saja apalagi benar-benar terjadi. Sejujurnya, Lea tidak ingin berbicara seperti ini tetapi sudah waktunya sekarang. Lagian jika Lea, tak menasehati Claude bisa saja obsesinya itu semakin menjadi-jadi. Apalagi mengingat, sifat keras kepala dan tak mau diatur nya ini, mungkin akan agak kesulitan untuk menasehatinya.
"Claude, mengapa diam? Apa kau keberatan, dengan perkataan Kakak?" tanya Lea hendak merangkul Claude, tetapi pria itu justru menjauhinya membuat Lea terdiam.
"Claude, kau--"
"Kak, aku masuk duluan. Sebaiknya Kakak segera masuk karena sudah malam!"
Setelah mengeluarkan kata-kata tersebut, Claude langsung pergi meninggalkan Lea sendirian yang diam tidak tahu, mau berbuat apa.
"Ya ampun, apakah aku salah menasehati? Huh benar-benar melelahkan, inilah hari yang paling aku benci. Mengungkapkan sesuatu, yang tidak ingin aku ungkapkan karena akan merusak saja! Tapi ini terpaksa aku lakukan, demi kebaikan bersama," lirih Lea, sembari mengepalkan kedua tangannya.
"Aku harus berbuat sesuatu!"
***
Keesokan harinya.
"Kak Lea!"
"Wah ... Caca cantik banget, sudah siap?" tanya Lea memandang gadis kecil tersebut yang tampak cantik, menggunakan seragam sekolah lengkap dengan rambut yang telah Lea ikat.
"Iya sayang, bekalnya udah Kak Lea taruh. Caca kan minta sandwich, Kak Lea udah buatin sandwich spesial pakai daging, pasti enak. Nanti bagi-bagi sama teman Caca juga ya!" ucap Lea.
Membuat Caca mengangguk setuju.
"Ca, Kakak kamu mana? Kenapa belum datang? Padahal sarapannya udah dingin tuh."
"Oh Kak, Claude. Sana dia, baru datang!" tunjuk Caca kepada sosok tampan yang baru saja datang.
"Claude, aduh sana sarapan nanti kamu sakit. Kalau gak sarapan!" tutur Lea, sembari fokus memasangkan sepatu kepada Caca.
"Tidak usah pedulikan aku, lain kali. Kakak tidak perlu buat sarapan untukku, karena aku makan diluar," ucap Claude dengan dingin, membuat Lea terdiam.
"Kakak! Ih ... Kenapa bicara begitu? Kenapa, ngomong kasar sama Kak Lea?" tanya Caca terlihat kesal. Karena Kakaknya sudah, sangat kasar berbicara seperti itu kepada Kak Lea yang jelas harus mereka hormati, karena lebih tua dibandingkan mereka.
"Ca, udah gak apa-apa kok. Terserah pada Claude, mau ngomong apa lain kali, Kakak gak bakalan gitu kecuali dimintai. Hehe ... Maaf, ya Claude maafin Kakak," sahut Lea tersenyum ramah.
__ADS_1
Berusaha menutupi, rasa kecewanya kepada Claude yang tiba-tiba saja berubah seperti itu. Sementara Lea, langsung pergi begitu saja meninggalkan Caca dan Claude yang sama-sama diam menatap Kak Lea, yang pergi meninggalkan mereka.
"Kakak Claude, benar-benar menyebalkan!" pekik Caca dengan sangat keras, menatap garang kepada Kakaknya yang terlihat acuh tak mempedulikan pekikan adiknya.
"Ih, dasar menyebalkan. Entar nyesel, baru tahu rasa! Fine, males temanan ama Kak Claude!" pekik Caca langsung pergi begitu saja, menyusul Kak Lea yang entah kemana perginya.
Seperginya Caca, Claude pun langsung diam ditempatnya. Mengerutuki kebodohannya, karena terlalu emosi tentang kejadian malam tadi membuat Claude selalu kepikiran.
"Huh, menyebalkan." Makinya menendang dinding Mansion dengan sangat frustasi.
***
Sementara ditempat lain.
Tampak Lea, tengah duduk dengan wajah sembab habis menangis. Walaupun perkataan Claude, seperti itu tetapi bagi Lea itu adalah kata-kata menyakitkan yang sangat menyesakkan hatinya.
Bagaimanapun, Lea hanyalah manusia biasa. Yang sangat sensitif, apalagi perkataan yang Claude lontari.
"Kak Lea!" pekik Caca.
"Ya ampun, Kakak menangis? Ah, aku tambah benci sama Kakak Claude bisa-bisanya dia membuat Kakak menangis!" pekik Caca.
Dengan segera mendekati Kak Lea, lalu memeluknya. Sementara Lea, tampak terkejut tiba-tiba saja ada seseorang memeluknya yang ternyata adalah Caca.
'Bagaimana, Caca bisa tahu jika aku berada dibelakang?,' batin Lea.
"Caca, kenapa menyusul? Kamu gak pergi sekolah?"
"Lima menit lagi, Kak!" ucap Caca semakin mengeratkan pelukannya kepada Kak Lea.
Mereka berdua pun, berpelukan. Lea tampak membalas pelukan dari Caca gadis kecil itu benar-benar membantunya.
"Terimakasih Caca, sudah memberikan Kakak pelukan ya. Caca mau Kak Lea, antar ke sekolah?" tanya Lea ketika pelukan mereka teruraikan.
"Mau! Mau banget!" ucap Caca dengan bahagia. Karena Babysitter Kesayangannya, akan mengantarnya ke sekolahnya.
"Baiklah ayo."
__ADS_1
****