Babysitter Kesayangan Tuan Muda

Babysitter Kesayangan Tuan Muda
Bab 45. Kemarahan Claude


__ADS_3

"Tuan Muda, sebai--"


"Panggil Lea, bilang kepadanya aku menunggunya di mobil!" tekannya pergi begitu saja, tanpa menatap ke sekitarnya lagi. Amarahnya benar-benar sudah berada dilevel tertinggi sekarang, melihat wanitanya lebih dekat dengan seorang pria asing dibandingkan dirinya.


Claude jadi cemburu, dia benar-benar cemburu apalagi melihat Lea merangkul pria asing tersebut tanpa menyadari keberadaannya. Mark hanya menganggukkan kepalanya patuh, menatap punggung Tuan Mudanya yang terlihat menjauh dia harus memastikan jika Tuan Muda Claude sudah benar-benar pergi.


Setelah dia memastikan Claude sudah benar-benar pergi, dengan wajah dinginnya Mark melangkahkan kakinya mendekati Lea beserta pria asing yang sedang ia rangkul saat ini, wanita yang sudah membuat Tuan Mudanya marah hingga pergi begitu saja.


"Selamat Malam Nona, sebaiknya Anda segera mengikuti saya ke mobil karena Tuan Muda sedang menunggui Anda." Ujarnya sopan, mengagetkan Lea yang sedang serius berbincang-bincang bersama Amar. Tatapan keduanya pun, teralihkan akan sosok pria kekar yang terlihat memasang ekspresi datarnya.


Kedua mata Lea, terbelalak menatap sekitarnya dengan sangat intens harap-harap cemas jika seseorang melihat dirinya tengah berbincang seru dengan Amar tadi, sampai ia tidak sengaja merangkul Amar secara tiba-tiba.


Sebenarnya Lea tidak mempedulikan perasaan pria tersebut, tetapi dia sadar karena ia datang kesini bersama pria yang berstatus sebagai majikannya sekaligus kekasih kencannya saat ini. Wajah Lea tampak pias, dan pucat sepertinya dia tengah ditunggui saat ini bahkan Mark berada disini.


Jangan-jangan Tuan Muda pun ada, disekitar mereka tadi sebelum Mark datang. Tetapi mengapa Lea tidak menyadarinya? Dia bahkan tidak tahu, jika Claude datang menyusul dirinya tadi. Tanpa dijelaskan oleh Mark, Lea sudah tahu jika Claude menyusulnya apalagi Mark tiba-tiba saja datang memanggilnya padahal Lea baru beberapa menit sampai.


Amar tampak diam, menatap sosok pria kekar yang sedang berdiri tepat dihadapan mereka. Tiba-tiba saja pria asing itu datang, merusak suasana yang hangat tadi saat ia tengah bertukar cerita dengan Lea. Namun saat pria berwajah datar itu datang, suhu disekitar mereka mendadak memanas.


Ingin rasanya, Amar meminta penjelasan kepada Lea. Namun sebelum ia meraih, pergelangan tangan milik Lea tiba-tiba saja dari arah lain, seseorang datang melayangkan pukulan kearahnya. Amar yang tidak menyadarinya pun, terkena pukulan tersebut karena dia tidak menyadarinya.

__ADS_1


Bugh!


Ah!


"Claude! Apa yang kau, lakukan. Ya ampun Amar, kau baik-baik saja?" tanya Lea hendak berjongkok untuk membantu Amar berdiri, namun langkahnya segera terhenti ketika ia merasakan tubuhnya mendadak melayang ke udara perlahan dia tidak merasakan, kakinya menginjak dilantai lagi.


"Ya ampun, Claude! Turunkan aku! Claude?!" pekiknya kuat sembari melayangkan, pukulan kearah tubuh kekar milik Claude yang terbalut oleh jas. Sepertinya pria itu, habis mengganti pakaiannya padahal tadi ia terlihat memakai, pakaian santai.


Lea benar-benar marah, serta malu karena tatapan pengunjung tertuju mereka berdua. Apalagi saat ini, ia tengah digendong ala bridal oleh seorang pria tampan, membuat Lea benar-benar malu. Untuk pertama kalinya baginya, Lea digendong oleh seseorang apalagi yang menggendongnya adalah anak dari bosnya sendiri. Dia benar-benar merasa seperti anak kecil, yang tengah digendong ayahnya apalagi tubuh Claude yang amat kekar dan tinggi tidak sesuai dengan umurnya.


Membuat mereka berdua, bagaikan ayah dan anaknya. Selepas Claude pergi, dengan menggendong Lea, terlihat Mark mengulurkan tangannya kepada Amar yang terlihat kesal, sembari mengusap cairan segar berwarna merah yang tampak, mengalir dari bawah bibirnya yang pecah.


Lea benar-benar berhutang sebuah penjelasan, kepada Amar. Amar ingin mendengar segala penjelasan dan kejujuran, yang keluar dari mulut Lea tentang apa yang terjadi saat ini. Namun lagi-lagi, pria asing bertubuh kekar, dengan wajah datarnya itu, kembali menghalangi langkahnya dan Amar, sampai mendapatkan dua kali pukulan telak di wajah tampannya.


Iapun, terjatuh ke lantai tak berdaya, dengan warna kulit yang berubah menjadi merah kebiruan.


"Sebaiknya Anda pergi, sejauh mungkin sebelum Tuan kami mendapatkan Anda kembali. Anda tidak akan lolos begitu saja dari tangannya, sebaiknya cepatlah pergi sebelum dia menemukan Anda!" jelas Mark. Amar berdecak sebal, segera berdiri tanpa membalas tangan seseorang yang menjulur kepadanya.


Tatapannya sinis, menatap kepada Mark sambil menahan emosinya. Tanpa ancang-ancang lagi, Amar segera berlalu pergi dari tempat tersebut, bukannya, Amar takut akan ancaman dari Mark tetapi dia memilih pergi karena dia masih ada urusan penting. Ia mampir ke Central Park, secara kebetulan karena memiliki urusan penting dan tidak sengaja berpapasan dengan seorang wanita yang awalnya ia kira, bukanlah Lea.

__ADS_1


Wanita yang sudah lama, dia cari. Namun dugaannya salah wanita itu adalah Lea, memanglah Lea wanita yang sudah lama ia cari yang entah kemana perginya. Lalu, secara tiba-tiba mereka dipertemukan kembali Amar sampai mengusap beberapa kali wajahnya memastikan, jika wanita tersebut benar-benar adalah Lea.


Karena sudah beberapa tahun lamanya, mereka tidak bertemu. Lea sudah berubah sangat drastis dari dirinya yang dulu, padahal dulu rambut Lea pendek sebahu dan sekarang sudah sangat panjang apalagi pipi chubby wanita tersebut, sudah tidak ada, entah hilang kemana. Amar jadi kecewa, ketika melihat tampilan baru Lea yang sekarang bukannya dia tidak suka, namun dia lebih suka melihat Lea menjadi dirinya sendiri.


Apalagi, Lea memakai pakaian yang sebenarnya tidak ia sukai. Amar tahu betul, bagaimana Lea dia selalu memakai pakaian yang ia anggap nyaman dengannya.


***


Sementara ditempat lain.


Tampak dua orang sejoli, sedang berperang dingin. Tidak ada yang berbicara, ataupun menjelaskan sesuatu yang tengah terjadi diantara keduanya. Keduanya diam, sama-sama membisu.


Lea terlihat marah, karena Claude telah memukuli Amar, dan juga masih sangat kesal karena ia menjadi pusat perhatian para pengunjung tadi. Bahkan dia, lupa membeli kado untuk Nona Caca, padahal Lea sangat bersemangat tadi ingin membelikan Nona Caca, sebuah hadiah namun semuanya harus pupus begitu saja.


Ketika melihat, Tuan Muda Claude datang secara tiba-tiba dengan wajah yang merah padam, menatap kepadanya dengan tatapan tajam. Lea sampai bergidik ngeri, ketika melihat tatapan tersebut apalagi tatapan tajam nan mengerikan itu, tertuju kepada dirinya. Membuat nyali Lea seketika menciut.


Tatapan yang tidak pernah, dia dapatkan semenjak mengenal Claude. Karena pria muda itu, selalu menjaga jarak dengannya.


"Maaf." Terdengar suara lirih, milik seseorang, mampu membuyarkan lamunan Lea. Lea tampak sangat terkejut ketika mendengar, kata-kata maaf dari sosok kekar yang sedang duduk di sampingnya sembari membelakanginya.

__ADS_1


***


__ADS_2