
"Kak, sebaiknya aku musnahkan saja dia!" ujarnya, sembari tersenyum penuh arti. Membuat Lea seketika gelagapan, menghentikan Claude agar tidak mendekati Kimberly yang terlihat gemetaran ketakutan.
"Jangan! Jangan!" Lea memeluk Tuan Muda, sembari mengulangi setiap kalimatnya.
"Jangan Tuan Muda, Anda bisa membunuhnya nanti! Biarkan saja! Biarkan dia pergi. Jo tolong, bawa Nona Kimberly pergi, tolong antarkan dia ya!" sambung Lea. Memohon kepada Jo, dan Jo pun mengerti, awalnya ia ingin menolaknya sebab Tuan Muda Claude tidak bergeming sama sekali.
Namun, ketika melihat isyarat Tuan Muda, Jo pun dengan segera memaksa Kimberly agar berdiri dan membawanya pergi, keluar dari dalam Mansion. Sebelum pergi dari ruangan tersebut, Kimberly menatap Lea, dengan tatapan penuh arti, dan Lea sadar akan hal tersebut. Ia tahu jika Kimberly, menatapnya tadi namun Lea tidak terlalu mempedulikannya.
"Tuan Muda!" pekik Lea, ketika melihat sekitarnya yang sudah tidak ada orang sama sekali. Yap Claude, berhasil kabur dan Lea tidak menyadari akan hal tersebut sebab, ia sibuk beradu pandang dengan Kimberly tadi.
"Ya ampun, kemana dia pergi! Apa jangan-jangan, astaga aku lupa!" ujarnya, seraya menepuk jidatnya, baru mengingat sesuatu. Jika Kimberly, belum lama pergi dikawal oleh Jo, yang menandakan jika Claude mengikuti mereka, sebab Tuan Claude masih terlihat tersulut emosi tadi.
Dan Lea, melihatnya sendiri dengan kedua matanya. Wajah Tuannya itu, benar-benar menakutkan, ia saja sampai dibuat bergidik ngeri berkali-kali. Siapa sangka, walaupun tengah dilanda kemarahan yang sudah, sampai di atas ubun-ubun Claude, masih sempat-sempatnya menggoda Lea. Lea tak mengerti, dengan jalan pikiran pria Muda tersebut bisa-bisanya disaat keadaan tengah tegang, dan mencengkam ia masih saja menggoda Lea, lalu membuat wanita itu emosi dibuatnya.
"Ya ampun, orang itu. Huh, benar-benar menyebalkan! Kenapa aku bisa, tidak sadar jika Tuan Claude pergi. Dia memakai mantra, apa kira-kira bisa menghilang secepat itu," gumam Lea sembari terkekeh sendiri.
Ia segera, menyusul Kimberly beserta Jo, keluar Mansion dengan langkah yang tergesa-gesa.Takut Claude, berbuat sesuatu yang tidak-tidak kepada Kimberly. Apalagi mengingat jika pria itu, sedang tersulut emosi dan mengatakan, secara langsung dihadapan mereka jika ia ingin melenyapkan Kimberly. Membuat Lea, seketika kepikiran dan khawatir.
__ADS_1
Ia bahkan, sampai tidak fokus melihat sekitarnya sehingga, tak sengaja menabrak tubuh seseorang, yang terasa seperti sedang menabrak beton.
"Aww ... Ya ampun, maaf aku tidak sengaj--"
"Lea? Kenapa kau disini? Dimana Tuan Muda? Apakah kau tidak, bersamanya? Bukannya tadi kalian pergi bersama?" berbagai pertanyaan pria tersebut, lontarkan kepada Lea yang terlihat diam menatap kearah pria yang, tidak sengaja ia tabrak tersebut.
"Lea, kau kenapa?" tanya Alfa, seraya melambaikan tangannya tepat didepan wajah, wanita itu, yang terlihat melamun tanpa menjawab pertanyaan darinya.
"Eh, ma--maafkan aku." Sahutnya spontan, menahan rasa gugupnya, apalagi ketika melihat tatapan datar Alfa tertuju kearahnya. Lea sedang menyusun, sebuah kalimat yang tepat untuk dia jelaskan kepada Alfa.
"Lea, kenapa kau diam? Apakah Tuan Muda, membuatmu kesal?"
"Ti--tidak! Tidak sama sekali!" sahutnya, dengan cepat. Membuat Alfa terdiam, menautkan kedua alisnya, ia melihat ada sedikit kejanggalan terpancar di wajah Lea, wanita yang diidam-idamkan, dan disukai oleh Tuan Muda Claude. Sepertinya, ada sesuatu yang ganjal di sana menurut, Alfa. Dari gerak-gerik, Lea sudah sangat jelas jika ia menyembunyikan sesuatu. Karena wanita itu, tidak pandai menyembunyikan sesuatu.
"Lea, jawab pertanyaan ku yang tadi!" tegas Alfa, sembari mencengkram kedua bahu Lea, tak lupa tatapan mengintimidasinya yang tertuju kepada Lea. Hingga membuatnya, seketika menelan ludahnya dengan sangat susah payah. Untung saja Claude tidak ada disini, dan menyaksikan secara langsung kelakuan Alfa, yang tengah menyudutkan Lea.
Jika sampai Claude, melihat entah ekspresi apa yang akan ia lontarkan kepada Alfa. Bisa saja, Claude menyumpahinya nantinya karena telah berani menyentuh, wanita idamannya tersebut. Sementara Lea yang bingung, mau menjawab apa, seketika pasrah menceritakan segalanya yang telah terjadi, antara Tuan Muda dan Nona Kimberly tadi. Alfa terlihat diam, mendengarkan Lea berbicara, perlahan cengkramannya pada kedua bahu wanita itu seketika terlepas.
__ADS_1
"Benarkah?! Kenapa kau tidak, bilang sedari tadi!" kesalnya, membuat Lea seketika diam sesaat.
"Ma--maaf, aku ti--"
Perkataan Lea, seketika menggantung ke udara ketika ia melihat Alfa, pergi meninggalkannya. Padahal ia belum selesai berbicara.
"Yah, sudah pergi. Padahal, aku belum selesai berbicara, takutnya Tuan Alfa, salah paham nantinya," sahutnya sembari menatap kepergian Alfa.
"Kenapa aku masih disini? Ya ampun, Tuan Muda!" pekiknya dengan suara tercekat, segera berlari tergesa-gesa menyusul Tuan Alfa yang sudah lebih dahulu pergi meninggalkannya.
***
Sementara ditempat lain, tampak seorang pria muda dengan wajah murkanya, menatap tajam kearah seorang gadis yang terlihat gemetaran menahan ketakutan. Ia hampir saja, terjatuh tadi saking takutnya, pria muda itu benar-benar murka kepadanya, bahkan wajah pria itu terlihat berubah.
"Cl--claude! Aku--" suara Kimberly terdengar, tercekat ketika ia merasakan lehernya dicekik oleh Claude. Hingga membuatnya kesulitan untuk bernapas.
"Akh ... Le--lepas! To--tolong!" pekiknya dengan suara tercekat. Namun Claude, tidak mengindahkannya, karena ia masih dikuasai oleh amarah yang meledak-ledak.
__ADS_1
"Diam! Dasar gadis tak tahu diri! Aku peringatkan kau kembali, jangan pernah berani mendekati Lea! Atau Terima akibatnya! Kau mengerti!"
***