
"Kakak--"
"Diamlah! Berikan saya waktu, untuk memikirkannya Tuan Muda. Sebaiknya Anda kembali ke kamar Anda. Karena ini sudah larut malam!" ucap Lea. Claude tampak pasrah, dengan ucapan Kak Lea, padahal dia sangat menantikan hal tersebut.
Tetapi Kak Lea, malah menunda-nundanya. Claude menjadi sangat geram. Baru kali ini, dia dibuat menunggu seperti itu saat ini. Padahal dia sudah sangat bersemangat, ingin mendengarkan jawaban dari sang wanita. Tetapi wanita yang dia sukai itu, malah menundanya lagi menyuruh Claude memberikan waktu, untuknya bisa berpikir.
Claude adalah tipe orang, yang tidak sabaran. Sebelum mendengarkan apa yang dia inginkan, maka jangan harap bisa lari darinya. Dia akan selalu mengikuti, kemana orang tersebut pergi dan menagihnya selalu.
"Kakak ... Aku tidak mau pergi! Aku akan tidur disini!" ketusnya.
Ya Tuhan, Tuan Muda tolong jangan membuatkan masalah baru untukku. Nyawaku hanya satu loh, bukan dua.
Lea menghela napasnya kasar, menatap Claude dengan tatapan marah. Apakah ada solusi, lain untuk mengusir pria itu keluar dari kamarnya tanpa harus melukai hatinya yang sedang gembira? Lea sedang bimbang, dia tidak boleh mengambil langkah yang salah.
Dia cukup sadar diri, dimana tempat dan posisinya. Dia bagaikan debu, diantara mereka semua tidak ada yang spesial darinya tetapi mengapa Tuan Muda bisa jatuh hati kepadanya? Wajahnya pun dibawah standar kecantikan. Berbanding terbalik, dengan Kimberly gadis periang cantik dan modis bahkan dia adalah, anak orang kaya. Derajatnya setara, dengan Claude walaupun lebih kaya dan terkenal Claude.
Tetapi mereka bisa, dikategorikan sebagai pasangan yang cocok. Sama-sama memiliki segalanya, terkenal dan sangat populer. Dan Lea? Apa yang harus, dibanggakan dengannya? Lea tak mengerti, mengapa Tuan Muda bisa jatuh hati kepadanya?
Lea cukup sadar diri, selain status yang membuat mereka berbeda sangat jauh.
Adalah umur, Claude lebih muda darinya, mereka berbeda lima tahun. Sangat jauh, bedanya. Jika tentang fisik, pria itu jauh lebih besar darinya, kekar dan tinggi. Bahkan Lea hanya sebatas dada Tuan Muda saja.
"Jangan! Anda harus segera pergi, aku mohon. Pergilah Tuan Muda, apakah Anda tidak takut jika kita sampai dipergoki? Anda tidak takut, jika Nyonya besar tahu?" tanya Lea, dengan mimik serius. Sementara Claude hanya diam, menanggapinya sambil berdecak sebal. Sepertinya Kak Lea, masih terpengaruh oleh mommynya. Hingga selalu saja menolaknya, walaupun tidak secara terang-terangan tetapi Claude bisa melihat dari, setiap gerak-gerik Kak Lea ketika menghindarinya.
__ADS_1
"Kakak ... Kenapa harus takut? Hem? Bukankah bagus, jika kita ketahuan." Suara Claude terdengar parau menyudutkan Lea kedinding. Menatap bola mata indah, berwarna hitam pekat tersebut dengan sangat intens.
Sementara Lea, wanita itu tampak diam. Dia sudah berusaha untuk menjauh, namun tenaga Claude tidak sebanding dengannya. Ketika dia ingin memberi jarak diantara mereka, Claude selalu saja menariknya. Lea merasa, dirinya ini bagaikan tali yang dapat ditarik ulur seenaknya.
Lea ingin marah, tetapi rasanya dia tidak cukup berani untuk marah, apalagi dengan pria yang sedang menyudutkannya didinding saat ini begitu tak sabaran, menunggu jawaban darinya. Bibirnya saja sampai tidak bisa, dia gerakkan rasanya sangat sulit.
Kondisi jantungnya saat ini pun, sedang tidak baik-baik saja. Jantungnya berdebar dengan sangat kuat, apalagi ketika Claude mendekatkan wajah mereka. Membuat sesuatu yang aneh, muncul dihatinya. Dan Lea tidak bisa, mengutarakan perasaan yang tiba-tiba saja muncul begitu saja.
Astaga! Kenapa jantungku jadi berdebar seperti ini? Bukannya tadi aku mengantuk, dan sekarang aku malah tidak mengantuk lagi.
Gumamnya. Segera mendorong, dada bidang Claude dengan sekuat tenaga agar menjauh dari dirinya. Karena kondisi jantungnya, sedang tidak baik-baik saja, Lea merasa sangat gugup dia sampai menundukkan kepalanya. Sambil menggigit, bibir bawahnya mencoba tidak terlihat gugup dihadapan Tuan Muda.
"Kakak, Terimalah aku! Atau tidak, aku tidak akan pergi dari sini. Sebelum Kakak menerimaku," ucap Claude.
Bagaimana ini? Aku harus menjawab apa? Masa aku mau bilang iya ... Gak mungkin, sadarlah Lea. Kalau aku bilang, tidak Tuan Muda pasti akan membenciku! Huh, kenapa jadi begini sekarang? Aku benar-benar terjebak!
Lea mencoba, mencari jalan keluar. Tetapi rasanya sangat mustahil, karena dia tidak memiliki tenaga super untuk melawan pria yang berada dihadapannya saat ini.
"Kakak ... Cepatlah, memilih! Atau aku--"
"Oke! Aku akan menjawabnya, tapi tolong beri aku waktu ya lima belas menit! Kalau bisa satu jam, juga gak apa-apa." Sahut Lea cengegesan mencoba, bersikap biasa saja walaupun jantungnya berdebar dengan kencang saat ini.
Claude tampak berdecak sebal, menatap dingin kepada Lea. Tadinya dia tersenyum kepada Lea, tetapi Lea hanya mengacuhkannya dan kini, wanita itu malah meminta, waktu untuk berpikir. Claude benar-benar tak habis pikir, dengan isi hati Kak Lea kepadanya. Padahal dia bisa melihat, bagaimana Kak Lea saat melihatnya, dan tersenyum kepadanya.
__ADS_1
Claude sudah bisa tahu, jika Kak Lea mempunyai perasaan yang sama kepadanya. Tetapi wanita itu, tidak menyadari perasaannya, dia malah mencoba menghilangkan perasaannya tersebut. Menutupi perasaannya, dengan membandingkan mereka berdua. Padahal Claude, tidak pernah membandingkan dirinya dan Kak Lea. Dia malah mencintai wanita yang lebih tua darinya, karena wanita itu pantas untuk dia cintai.
Karena Kak Lea memiliki, sebuah sifat yang unik. Dia pantas dicintai oleh semua orang disekitarnya, Claude bisa melihat bagaimana sikap Lea kepada adiknya Caca, wanita itu benar-benar menyayangi Caca. Dan Claude bahagia, akan hal tersebut. Dia berharap suatu saat nanti, dialah yang akan disayangi oleh Kak Lea. Dan Kak Lea, hanya melihatnya seorang.
Claude menanti, saat itu tiba. Dia adalah orang yang paling bahagia saat itu tiba.
"Lima menit! Aku beri Kakak, waktu berpikir selama lima menit. Jika lewat dari lima menit, maka aku anggap Kakak menerimaku!" seringai terpancar di wajah tampan Claude, membuat Lea seketika bergidik ngeri membalasnya.
"Ah, kenapa jadi lima menit sih? Kakak, kan meminta lima belas menit! Lima belas, bukan lima menit tahu!" gerutu Lea mengerucutkan bibirnya sebal. Menatap jengah, kepada Tuan Muda Claude. Sepertinya dia akan benar-benar, kalah dari pria tersebut.
"Lima menit, atau tidak sama sekali!" Claude terdengar sangat tegas, menekan perkataannya. Membuat Lea seketika diam, dan segera mendorong kembali tubuh kekar, yang ingin menyudutkannya kembali ke dinding.
"Baiklah, lima menit tidak apa-apa bukan? Aku pergi dulu--"
Lea hendak melangkahkan kakinya, untuk pergi. Namun tangan kekar seseorang tiba-tiba saja menariknya, hingga membuat Lea tak sengaja menabrak dada bidang tersebut karena tidak bisa, mengimbangi tubuhnya.
"Kakak mau kemana? Aku menyuruh Kakak, untuk berpikir bukan pergi!" ucap Claude. Lea pun langsung terdiam, tak lama kemudian dia langsung tertawa mencoba, menghilangkan suasana tegang yang, sedang terjadi diantara mereka berdua.
Aaaa ... Memalukan sekali!
Gerutunya.
***
__ADS_1