
"Lea! Kau pasti Lea bukan? Lea Anggara!" sahutnya terkejut, sambil memegang tangan Lea. Lea tampak terkejut, tiba-tiba saja laki-laki asing itu menyentuh tangannya sambil berbicara, seakan dia mengenal Lea.
Padahal tidak mengenal lelaki tersebut.
"Maaf, sepertinya tangan Anda sangat lancang!" Claude tampak marah, menghempaskan tangan pria asing tersebut, yang telah berani menyentuh wanitanya tanpa izin. Laki-laki asing itu, tampak heran pria muda yang sedang berdiri di hadapannya ini, sepertinya dia mengenal pria tersebut tetapi dimana? Bisa dipastikan, dia pernah berpapasan dengan pria tersebut tapi entah dimana.
Yang pastinya, dia pernah bertemu.
"Maaf, Anda siapa ya? Kenapa bisa tahu nama asli saya?" tanya Lea. Lea saja yang hampir melupakan nama aslinya tersebut, untung saja ada Tuan Muda yang kembali mengingatkannya, pada nama tersebut.
Ya ampun, Tuan Muda tolong kondisikan tanganmu! Aku kesakitan tahu!
Lea bergumam, sambil menahan sakit di pergelangan tangannya. Claude tampak mencengkram erat, tangan Lea menarik tubuh ramping Lea agar semakin dekat kepadanya. Lea tahu, tuannya itu sedang marah, jadi Lea memilih diam tanpa berkomentar apapun.
"Namaku Amar Sanjaya, kakak kelas mu dulu waktu di SMA." Ungkap pria bernama Amar tersebut, mengulurkan tangannya ke depan, kepada Lea.
Lea tampak diam, sambil berpikir apakah dia dulu mempunyai kakak kelas bernama Amar Sanjaya. Sepertinya dia pernah mendengar nama tersebut, tetapi tidak terlalu mengenal sosoknya. Yang Lea tahu hanya namanya saja, untuk wujud dia tidak terlalu tahu. Jadi akan sangat susah, untuk membuat Lea percaya, Lea bahkan melupakan teman-temannya yang dulu sat di duduk di bangku SMA, dan kini seseorang tiba-tiba saja datang dengan mengaku sebagai mengenal Lea.
Padahal Lea tidak mengenalinya. Lea berusaha bersikap biasa saja, apalagi Tuan Claude berada di sampingnya sekarang, mana wajah datar tersebut, terlihat sangat menakutkan hingga membuat siapa saja, yang melihatnya seketika akan dibuat merinding terutama Lea.
"Bagaimana Lea? Apakah sudah kenal aku? Jangan bilang kau, melupakan aku!" Amar tampak memasang, ekspresi wajah kecewa membuat Lea terdiam. Merasa sangat gemas, laki-laki asing yang tak tahu malu gumamnya.
Bukan hanya Lea yang kesal, Claude pun ikutan kesal dia bahkan tanpa sadar menarik Lea ke belakangnya untuk melindungi sang wanita, dari seorang pria asing yang gila. Tapi lumayan tampan, Lea sempat-sempatnya memberi pujian padahal suasananya sedang sangat serius.
"Tapi, Maaf ya. Aku benar-benar tidak mengenal siapa Anda!" ujar Lea dengan tegas. Membuat pria bernama Amar tersebut terdiam, dia sedang meraba saku celana yang dia gunakan. Claude tampak memperhatikan itu, dia bahkan memicingkan matanya sambil berkacak pinggang. Lea jadi ingin tertawa dibuatnya, apalagi tatapan tak suka Claude kepada Amar pria yang mengaku mengenal Lea, dan mengakui diri bahwa dia adalah mantan kakak kelas Lea dahulu. Dan tentu saja Lea kaget, akan hal tersebut.
__ADS_1
Karena setahunya, dia tidak pernah melihat kakak kelasnya yang bernama Amar tersebut saat di SMA. Padahal satu sekolah, Lea hanya tahu beberapa dan untuk Amar harap memaklumi hal tersebut karena Lea, orangnya gampang pelupa bahkan dia sendiri sampai melupakan nama aslinya. Apalagi melupakan, orang sekitarnya yang entah kemana perginya itu sangat mudah bagi Lea.
"Kakak ... Jangan menatapnya! Aku gak suka tahu!" tekan Claude, sembari memberi kode keras kepada Lea agar segera menundukkan kepalanya. Lea tampak diam, dia merasa sikap Claude kepadanya benar-benar posesif padahal, mereka belum ada hubungan apa-apa. Lea merasa risih loh Claude! (Lea minta di halalin kali 🤣)
"Gak mau!" tolak Lea. Lea berpura-pura menolak, ingin memancing kesabaran Claude tanpa sadar dia benar-benar telah, membangunkan singa yang sedang tertidur nyenyak di kandangnya.
"Kakak ... " Panggil Claude dengan pelan, menarik tubuh tersebut kearahnya, sambil membisikkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Lea seketika meremang, wanita tersebut tampak sangat menyesal karena telah membangunkan singa yang sedang tertidur tadi, padahal dia hanya ingin bercanda, untuk menghilangkan rasa tegang mereka tadi. Dan Claude malah, membisikkan kata-kata keramat nya kepada Lea.
Lea sempat, memukul dada bidang Claude. Darimana lagi dia mendapatkan, kata-kata jelek seperti itu lalu membisikkannya kepada Lea. Padahal Lea hanya becanda tadi loh. Lea benar-benar kesal.
Claude tersenyum, menatap pada Lea yang sedang kesal. Padahal niat Claude, melontari kata-kata tersebut hanya ingin menjahili wanita tersebut.
"Halo permisi, aku sudah dapat sekarang. Lea coba liha--"
Aish ... Dasar bocah ingusan! Dia siapa sih! Kok Lea tidak marah k**epadanya.
Batin Amar, dengan geram dia memandang sekilas kearah Lea yang tampak diam, menatap pada Amar.
"Tutup matamu! Jangan melihat, kearahnya atau aku akan mencungkil matamu itu!" ancam Claude lagi, dengan penuh penekanan. Merasa sangat marah, jika Kak Lea dilirik oleh orang lain. Claude beranggapan, Kak Lea itu adalah miliknya! Hanya dia yang pantas memiliki Kak Lea.
Lea tampak terkejut, dengan segera dia menundukkan kepalanya. Pria bernama Amar tersebut, tampak kesal wajahnya sudah berubah pias dia benar-benar emosi sekarang, Claude tersenyum menatapnya tetapi itu adalah senyuman sinis untuknya. Dia merasa malu sekarang, menyapa Lea tetapi Lea malah tidak mengenalinya, dia ingin menunjukan sesuatu yang bisa membuat Lea percaya dan mengenalinya, tetapi Lea malah tidak mempercayainya.
Entahlah Lea sedang berpura-pura, atau memang dia sudah melupakan segalanya. Amar jadi kesal sendirinya, dia benar-benar merindukan wanita itu. Sudah lama dia mencari-cari keberadaan Lea, dan sekarang wanita itu malah berada dihadapannya bersama seorang pria ingusan, yang umurnya beda jauh dengannya.
Selera Lea benar-benar buruk! Masih tampanan juga aku, aish ... Lebih baik aku pergi! Kapan-kapan aku akan datang Lea, aku akan membuatmu mengingatku kembali.
__ADS_1
Batin Amar, melangkahkan kakinya mendekati Claude lalu menengadahkan kedua tangannya, meminta ponselnya. Claude tampak acuh, dia segera memberi ponsel Amar tetapi sebelum jatuh ke tangan Amar, ponsel tersebut malah jatuh ke lantai mall dengan sengajanya.
Amar berteriak dalam hati, menatap nanar ponselnya yang mempunyai sejuta kenangannya didalamnya, kini jatuh ke lantai bahkan layar ponselnya menjadi retak sedikit. Amar benar-benar emosi, dengan penuh kesabaran dia berjongkok meraih benda pipih tersebut lalu menangis dalam hati.
Ingin sekali dia marah, dan memaki bocah ingusan tadi, baru saja dia berbalik dua sejoli tadi sudah tidak ada ditempatnya. Benar-benar mengejutkan, entah pergi kemana kedua sejoli tadi meninggalkan Amar yang sedang, meratapi nasib. Ponsel keluaran baru, yang baru saja dia beli kini lecet padahal baru empat hari dia memakainya. Benar-benar sial!
Sementara ditempat lain, tampak seorang wanita cantik tengah duduk sambil mengerucutkan bibirnya sebal. Dia sedang perang dingin, dengan seorang pria muda yang berada di sampingnya yang sedang menyetir.
Padahal dia masih ingin berkeliling di mall, tetapi sudah dipaksa untuk pulang. Dengan alasan cemburu, Lea tidak terlalu mempedulikan hal tersebut. Karena dia sedang, memikirkan persiapan pesta ulang tahun Nona mudanya, yang akan dilaksanakan dua hari lagi. Ya mereka baru dapat informasi dari Nyonya besar, bahwa pesta ulang tahun Nona Muda Caca diundur dulu dari hari yang sudah ditentukan akibat adanya kendala, Tuan Besar yang masih membutuhkan perawatan dari Dokter.
Dan Nyonya besar, sudah berangkat ke luar negeri setengah menit yang lalu saat Lea mendapatkan informasi tersebut. Sepertinya malam ini, Lea tidak akan tenang dalam tidurnya, sebab pria muda yang sedang duduk di sampingnya itu tengah tersenyum kepadanya.
Senyuman yang dapat Lea artikan, bahwa malam ini dia tidak akan selamat.
Tamatlah aku
***
Bersambung...
Jangan lupa dukungannya ya, Kira-kira mereka mau ngapain 🤣 Tagihan listrik pasti.
***
Bersambung ...
__ADS_1