
Mansion Utama Ricchan
Gagal sudah rencana kencan mereka, Claude benar-benar telah menyesali segalanya yang telah terjadi. Lea benar-benar marah kepadanya, setelah kejadian yang telah terjadi satu jam yang lalu. Claude benar-benar menyesal, saat ini ia hanya bisa menatap punggung Kak Lea yang mulai menjauh dari pandangannya dengan tatapan sendu.
Pak Jang, sang kepala pelayan tampak ikut membantu Mark membawa masuk, beberapa kantung plastik berwarna hitam yang lumayan berat kedalam Mansion dengan ditemani oleh beberapa pelayan.
Mark beberapa kali, mengajak Tuan mudanya itu untuk masuk kedalam namun, ia menolak tatapan Tuannya itu, benar-benar sendu bahkan tampilannya saat ini sudah sangat kacau, beberapa kancing pakaiannya tampak terlepas dari tempatnya. Mark jadi turut prihatin, sekarang dia tahu siapa wanita yang saat ini telah membuat Tuan mudanya itu, menjadi badmood saat ini.
Wanita itu adalah Lea, Mark baru tahu namanya setelah berbicara dengan Pak Jang kepala pelayan Mansion Ricchan. Mark begitu terkejut, ketika mendengar kejujuran dari Pak Jang jika Lea bukanlah orang biasa bagi Tuan Muda. Dia adalah wanita istimewa, dan paling berharga bagi Tuan Muda Claude. Bukan hanya cuman Tuan Muda, dia bahkan menjadi kesayangan Nona Caca adik Claude Ricchan.
Mereka adalah Duo C, yang sangat bucin kepada Lea. Mark perlu memaklumi hal tersebut, karena semenjak kecil Claude hanya melihat Lea sebagai seorang wanita dan semenjak kecil pun Claude menyukai Lea, namun seiring berjalannya waktu rasa suka atau kagum itupun berubah menjadi rasa cinta yang benar-benar tulus, dan ingin memiliki wanita itu.
Mark yang awalnya tidak suka, akan kehadiran Lea yang ia kira menjadi orang ketiga diantara hubungan Nona Kimberly dan Tuan Muda Claude. Langsung menyesal, karena telah berprasangka buruk tentang Lea, padahal yang sebenarnya terjadi disini adalah Claude terpaksa bertunangan dengan Kimberly karena adanya kesepakatan saling untung, antara kedua bela pihak keluarga besar mereka.
Mark turun prihatin, padahal jelas-jelas Tuan Muda menginginkan Lea wanita dewasa yang periang dan murah senyum. Bisa disebut Lea, adalah orang yang ramah dan asik, dia keliatan wanita baik-baik yang tidak haus akan harta. Tidak seperti wanita-wanita, yang Mark temui dan pernah menjadi atasannya tersebut.
"Mark!" panggil Claude. Mark pun menoleh, menghentikan langkahnya yang hendak masuk kedalam Mansion sambil memikul dua kantung besar ditangannya. Ia pun segera, memanggil Pak Jang kepala pelayan untuk mengambil alih, kantung yang ia pegang.
Berjalan mendekati Tuan Muda, yang terlihat tak bersemangat sedang menatap langit malam yang tampak mendung.
"Pulanglah, aku sudah tidak membutuhkanmu lagi. Besok kau bisa kembali ke perusahaan terlebih dahulu, bantu Kak Alfa untuk sementara waktu, aku belum bergairah untuk belajar berbisnis beberapa waktu kedepannya jangan datang tanpa aku menyuruhmu." Jelasnya kepada Mark.
Mark pun diam, sembari menganggukkan kepalanya dia harus mengerti sekarang. Karena keadaan Tuan Mudanya saat ini, benar-benar sedang tidak baik-baik saja dan tidak boleh diganggu.
"Baiklah, pulanglah! Biarkan Pak Jang, dan pelayan-pelayan itu yang membawa kantung-kantung itu masuk!" ucapnya, Mark pun kembali menganggukkan kepalanya mengerti ia pun segera membalikkan tubuhnya hendak melangkahkan kakinya menuju ke mobilnya yang terparkir di samping mobil, milik Tuan Claude.
__ADS_1
"Mark tunggu, sebentar!" ujarnya, menghentikan langkah Mark yang hendak pergi. Mark pun kembali berbalik arah, mendekati Tuan Muda Claude. Terlihat Pak Jang, berdiri di sampingnya sedang memegang dua kantung plastik hitam yang baru beberapa saat, ia berikan kepada Pak Jang untuk mengambil alih.
"Pak Jang, berikan!" perintahnya. Pak Jang pun menganggukkan kepalanya, ia segera memberikan satu kantung plastik besar berwarna hitam tersebut, kepada Mark. Lelaki itu, tampak bingung menerima kantung tersebut yang telah diberikan Pak Jang kepadanya.
Ia menatap Tuan Muda, dengan tatapan kebingungan. Bukannya itu adalah, barang belanjaan Nona Lea lalu mengapa Tuan Muda, malah memberikannya kepadanya.
"Ambilah, bawa dan berbagilah Kak kepada adikmu. Ucapkan salamku kepada Zoya dan Zen!" tukasnya tersenyum. Membuat Mark seketika terkejut, mendengar perkataan Tuan Muda barusan.
'Apa? Bagaimana Tuan Muda, bisa mengetahui jika aku mempunyai seorang adik? Bukankah dia tidak tahu apa-apa, katanya dia adalah remaja yang tidak penasaran. Lalu mengapa dia bisa mengetahui segalanya,' batin Mark penuh keterkejutan.
"Tu--tuan bagaimana, Anda bisa tahu jika aku memiliki dua orang adik?" tanyanya.
Claude tertawa mendengar pertanyaan, dari lelaki muda tersebut. Yang umurnya terpaut enam tahun, jauh lebih tua dibandingkan dirinya.
"Tentu saja, aku tahu Kak. Kakak mengira aku tidak akan menyelidiki Kakak?" ucapnya. Membuat Mark menggelengkan kepalanya pelan, ia merasa tidak percaya jika remaja ingusan yang akan menginjak masa dewasa pertamanya itu, bisa mengetahui informasi tentang dirinya hanya dengan waktu, satu hari saja.
Mark jadi, semakin bersemangat bekerja dengan Tuan barunya itu. Walaupun usia keduanya, jauh berbeda, namun itu tidak akan menjadi masalah bukan. Lagian Mark sudah menandatangani kontrak kerja, selama beberapa tahun ke depan dengan Tuan Alfa, untuk menjadi seorang asisten pribadi Tuan Claude yang akan membantunya kedepannya.
Mark dan Alfa, akan membantu Tuan Muda dalam mempelajari bisnis agar kedepannya, ia bisa meng-handle perusahaan Ricchan sendiri, agar berkembang dengan pesat, apalagi Claude memiliki kecerdasan yang tidak terkira. Ia bisa saja, mengembangkan perusahaan keluarganya itu tanpa bantuan Mark dan Alfa. Namun Alfa berpikir, Claude masih sangat muda otaknya masih sangat labil, jadi sebaiknya ia membantu Claude terlebih dahulu untuk mempelajari tentang berbisnis.
Agar kedepannya, ketika Alfa sudah memiliki seorang pendamping hidup ia tidak akan merasa khawatir, ketika harus meninggalkan perusahaan Ricchan ketika semuanya dirasanya selesai. Apalagi Claude, adalah pewaris satu-satunya Ricchan darah Ricchan, mengalir deras di tubuhnya. Dia adalah harapan semua orang, termasuk Tuan Besar dan Nyonya Besar.
Bukan hanya Claude saja, Caca pun dituntun untuk bisa mempelajari bisnis agar kedepannya dia bisa membantu Claude sekalian menjadi pewaris tunggal dari keluarga ibunya tersebut. Karena satu-satunya harapan, Nyonya Veronica saat ini ada kepada Caca putri semata wayangnya setelah Claude yang telah memikul Ricchan di pundaknya. Sama halnya dengan Caca, ia pun harus sama seperti Kakaknya.
"Terimakasih banyak Tuan Muda, tapi bukankah ini belanjaan Nona Lea? Lalu mengapa saya diberikan juga ya?" tanya Mark, kebingungan. Setahunya, barang-barang tadi adalah belanjaan Nona Lea lalu apa hubungannya dengannya.
__ADS_1
"Ambilah Kak, itu memang belanjaan Kak Lea. Tetapi isinya adalah makanan bukanlah seperti hal, yang saat ini kakak pikirkan." Lanjutnya kembali disertai gelak tawa, Mark jadi bernapas lega ketika melihat Tuan Muda kembali tertawa setelah beberapa jam berdiam diri dengan wajah, ditekuk.
Beberapa menit kemudian ... Setelah berbincang ringan, dengan Tuan Muda akhirnya Mark pun pamit pulang karena adiknya beberapa kali menelepon. Dan kini, hanya tersisa Claude dan Pak Jang kepala pelayan.
Terdengar beberapa kali helaan napas, penuh kesabaran seorang pria parubaya. Sudah beberapa kali ia, membujuk Tuan Mudanya agar segera masuk kedalam Mansion. Namun Tuan Mudanya itu menolak, dengan keras karena ia takut Kak Lea tidak mau melihat dirinya.
Pak Jang, benar-benar dibuat pusing. Tuan Muda benar-benar keras kepala, Pak Jang sudah pergi memanggil Lea dan menyampaikan keluhannya tersebut kepada wanita itu karena Lea tidak ingin melihat Tuan Muda, sehingga membuat Tuan Muda enggan masuk kedalam Mansion padahal, udara saat ini terasa dingin.
Pak Jang, sampai memakai kaus tangan karena kedinginan bahkan mantel tebal, tampak terpasang di tubuhnya yang terlihat sudah agak bungkuk tersebut. Dan Claude, pria itu masih sama enggan masuk sebelum Lea datang dan memanggilnya untuk masuk.
Pak Jang, benar-benar dibuat kelimpungan bolak-balik melihat, dan memanggil Lea didalam sana. Awalnya Lea menolak, ajakan Pak Jang untuk membujuk Tuan Muda.
Namun wanita itu tampak berubah pikiran, ketika melihat Pak Jang pria parubaya yang tampak kedinginan menemani Tuan Muda yang keras kepala, diluar Mansion dengan keadaan suhu yang dingin diluar sana. Lea kasihan, kepada Pak Jang ia benar-benar direpotkan dengan sikap majikannya yang keras kepala tersebut.
Awalnya Lea, akan mengikuti Pak Jang keluar untuk memanggil Tuan Muda, agar segera masuk kedalam, karena suhu udara diluar semakin dingin. Membuatnya agak khawatir, dengan kesehatan kedua pria tersebut. Namun baru satu langkah ia melangkah, tiba-tiba saja Lea mendengar teriakan dari Caca yang memanggil namanya.
Membuatnya, mau tak mau harus pergi menemui Caca.
Dan sialnya, Claude sudah menunggunya hampir setengah jam. Namun orang yang ia tunggu, sedari tadi tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali dilihatnya, jam rolex yang melingkar di pergelangan tangannya.
Sudah menunjukkan pukul, sebelas malam. Benar-benar sial nasibnya malam ini, Lea benar-benar tidak datang. Bahkan Pak Jang, pria tua itu sudah ia suruh pergi beberapa menit yang lalu, setelah menyampaikan sesuatu yang ingin ia dengar.
'Sial! Kenapa Kak, Lea belum datang-datang juga,' batinnya memekik dengan kesal, menjambak rambutnya sendiri.
Claude hendak, menggerutu kembali nasib sialnya malam ini. Namun suara ketus seseorang, mampu menghentikan pergerakannya tersebut, Claude benar-benar bahagia ia segera mendongakkan kepalanya menatap sosok tersebut dengan perasaan, campur aduk. Ingin rasanya, ia berlari dan mendekap tubuh ramping tersebut kedalam pelukannya, namun rasanya mustahil sebab sang empu pasti akan menolaknya setelah kejadian tidak menyenangkan, telah terjadi kepada mereka berdua.
__ADS_1
Dan Claude sangat menyesali hal tersebut, andai saja ia dapat mengontrol emosinya dan birahinya tersebut pastinya, dirinya tidak akan dibenci oleh Lea saat ini.
***