Babysitter Kesayangan Tuan Muda

Babysitter Kesayangan Tuan Muda
Bab 35. Hari Pertama menjadi kekasih Tuan Muda (2 end)


__ADS_3

"Kakak Lea?!"


Lea segera, mendorong tubuh Tuan Claude untuk menjauh dari dirinya. Tampak seorang, anak kecil memasang wajah masamnya, memandang Kak Lea dengan sangat intens. Sebenarnya yang dia lihat tadi, benar-benar nyata atau bukan? Atau hanya sebatas halusinasinya saja?


Dia menatap, dua sejoli tersebut dengan tatapan mengintimidasi dengan apa yang barusan dia lihat tadi.


"Kakak ka--"


"Caca, ayo kita turun yuk. Kak Lea buatin menu, favorit Caca mau? Ayo!" tanpa berpikir panjang Lea segera, menarik Caca mengikutinya turun ke bawah dengan terpaksa. Karena takutnya, Caca mencurigai mereka, Lea tidak mau menambah masalah lagi.


Lagian ini bukan salahnya semua kok, dia dipaksa. Bukan kemauannya sendiri, Tuan Muda memaksanya untuk menjadi kekasih pria tersebut, padahal Lea belum menjawabnya, tetapi Tuan Claude langsung saja mengucapkan jika Lea sekarang adalah kekasihnya. Awalnya Lea mau menolak, dan protes tetapi ketika melihat raut kebahagiaan terpancar dimata pria tersebut.


Seketika Lea, mengurungkan niatnya tersebut tanpa sadar dia tersenyum melihat pria itu bahagia. Entah kenapa, hatinya pun ikut senang karena kini pria ingusan yang selalu dia, sebut 'Bocah ingusan' tersebut telah menjadi kekasihnya. Untuk pertama kalinya, Lea berhubungan dengan seorang pria apalagi pria tersebut, adalah majikannya sendiri.


Usia merekapun sangat jauh bedanya, Lea tak pernah menyangka hal tersebut akan terjadi kepadanya. Padahal dulu, dia selalu mengejek teman-temannya yang berpacaran dengan lelaki yang lebih muda dibandingkan mereka. Dan sekarang, diapun sama memacari anak konglomerat yang usianya jauh dengannya.


Lea masih tak percaya sekarang, jika dia adalah kekasih Tuan Muda Claude. Benar-benar mimpi, yang mengerikan dia sampai tidak tidur semalam karena terlalu, memikirkannya.


"Kak Lea, Caca pengen makan chicken crispy," rengek Caca kepada Lea. Lea tersenyum, mengusap kepala Caca penuh kasih sayang.


Tidak seperti biasanya, Caca merengek meminta makanan seperti itu. Biasanya dia akan merengek, minta dibuatkan sup kesukaannya atau tidak jus kesukaannya kepada Lea.


"Baiklah, Kak Lea buatkan ya!"

__ADS_1


"Tunggu Kak!" cegahnya.


"Ada apa hem? Pengen sesuatu, yang lain?" tanya Lea, Caca menggeleng.


"Itu anu, Caca pengen chicken crispy yang dijual di kedai Pak Jono Kak. Tempat langganan, Kak Lea waktu kita pergi ke swalayan waktu itu!" ujarnya. Membuat Lea terdiam, menatap intens pada Caca. Sementara Caca, hanya diam menelan salivanya dengan sangat susah payah.


Sebenarnya dia sedang, berbohong jika dia menginginkan makanan tersebut. Tetapi karena rasa penasarannya, tentang apa yang dia lihat tadi. Ingin dia buktikan sendirinya, tentu saja dia akan menarik kakaknya masuk kedalam ruangan rahasia mereka tanpa sepengetahuan Lea. Dan Caca, tidak pernah menginginkan Kak Lea pergi ke luar hanya untuk dirinya.


Tetapi sekarang, dia sedang terpaksa. Dia ingin mengetahui segalanya, walaupun orang-orang menganggapnya bocah ingusan yang masih duduk di bangku menengah bawah. Tetapi gadis kecil itu, punya pemikiran yang tidak semua orang percaya. Dia bukanlah, bocah biasa selain cantik dia memiliki kemampuan tersembunyi.


Pemikirannya sangat dewasa, orang-orang mungkin tidak akan percaya. Tetapi Caca, tidak peduli akan hal itu. Dibalik sifat manja, dan keras kepala ada jiwa yang kuat. Didikan keluarga mereka yang ketat, dan keras membuat two C ini tumbuh besar dengan kepintaran dan kecerdasan masing-masing.


Selain memiliki, paras yang cantik dan tampan mereka juga harus mempunyai jiwa yang licik. Layaknya sebuah mawar berduri.


Padahal dia tidak suka, masakan buatan orang lain. Selain Lea sang babysitter.


"Tapi, Caca lagi pengen Kakak. Ayo dong," rengeknya memasang puppy eyesnya, menatap kepada Lea. Mencoba memancing, rasa iba Lea. Dan benar saja, beberapa menit kemudian Lea akhirnya luluh juga, dia segera mengiyakan rengekan Caca yang menginginkan chicken crispy yang dijual di kedai sebrang, tempat langganannya dulu.


Padahal Lea sudah lama tidak ke sana, bahkan dia sudah lupa dengan tempatnya dulu berlangganan. Tetapi mengapa, nona Caca masih mengingatnya? Padahal sudah sangat lama loh. Sepertinya ada yang tidak beres, gumamnya sambil tersenyum.


"Baik, kalau begitu Caca mau ikut Kak Lea ke sana? Atau tinggal di Mansion saja, tunggu sampai Kakak datang?" tanya Lea.


Caca segera menjawab. "Caca tunggu di Mansion aja Kak," sahutnya dengan mantap. Mencoba membuat Lea tidak mencurigai keinginannya yang sekarang.

__ADS_1


"Oke, tunggu Kak Lea ya! Jangan pergi ke mana-mana, kalau Caca udah gak tahan. Makan aja ya, sebelum pergi Kak Lea buatkan jus wortel sama sandwich mau gak?" tanya Lea. Caca tampak berpikir, selanjutnya dia langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat senang.


Lea pun tersenyum, lalu pamit pergi ke dapur untuk membuatkan sandwich kesukaan Caca beserta jus kesukaannya. Selepas Lea pergi, Caca langsung bernapas lega dia segera menatap sekitarnya dengan sangat intens. Mencoba memastikan, jika tidak ada orang namun, ketika dia mau pergi tiba-tiba saja suara berat seseorang mengagetkannya.


Caca segera berbalik.


Deg!


"Ka--kakak! Ya ampun, mengagetkan saja!" pekiknya menatap tajam kearah kakaknya, yang terlihat diam dengan pakaian yang sudah rapi. Sepertinya, Kakaknya akan pergi keluar tumben sekali dia berpakaian rapi seperti itu. Tidak seperti hari biasanya.


"Kakak mau kemana? Kok, berpakaian rapi gitu? Tumben banget." Ejek Caca. Claude hanya menanggapinya dengan senyuman, Caca tampak bergidik ngeri. Jarang sekali senyum sekalinya senyum, orang-orang pun akan berlarian. Lantaran takutnya termasuk dirinya.


"Anak kecil tidak perlu tahu, urusan orang dewasa," tukasnya kepada adiknya. Membuat Caca mengerucutkan bibirnya sebal, dia menarik kembali kata-katanya yang tadi memuji kakaknya. Laki-laki itu, selalu saja membuatnya darah tinggi ketika bertemu.


Tidak ada habisnya bertengkar, dengan sifat keduanya yang saling bertolak belaka tersebut membuat mereka tidak pernah akur. Apalagi Caca, tidak pernah mau di kalah oleh Kakaknya Claude. Dan Claude yang paling tertua, ikut-ikutan tidak mau dikalahkan oleh adiknya sendiri. Sehingga membuat Nyonya besar, dan Tuan besar selalu saja kesusahan melerai mereka berdua.


"Aish ... Aku bukan anak kecil, tahu!" geramnya. Apakah dia sekecil itu, dan umurnya terlalu muda selalu dikatai anak kecil? Memang sih, umurnya masih sangat muda dan bisa dibilang anak-anak. Tetapi Caca, tidak suka jika dipanggil anak kecil walaupun kenyataannya memang begitu. (Serah lu mbak 🤣)


"Anak kecil, dilarang protes. Pergilah ke kamarmu!" usirnya pada adiknya. Caca tampak sangat kesal.


"Kakak, beritahu aku. Kakak mau kemana sih? Aku bertanya tahu! Jangan mengusir ku, kakak kira aku ini putri tidur?!" Caca tampak frustasi, berkata dengan intonasi tinggi membuat para pelayan yang berlalu-lalang seketika, menundukkan kepalanya mereka menatap two C yang sedang, beradu mulut tanpa berani mau melerainya.


"Aku mau pergi berkencan! Puas sekarang!"

__ADS_1


***


__ADS_2