
"Kakak, mau pesan apa? Katakan saja kepadaku," ujarnya. Lea segera melihat-lihat, daftar menu yang telah tersedia di atas meja. Seperti tebakannya, sebelum mereka datang kemari Claude sudah lebih dahulu mempersiapkan segalanya. Bahkan mereka duduk, ditempat yang sepi dan menjadi tempat khusus.
Tidak ada orang lain, selain mereka berdua didalam. Sepertinya mereka akan benar-benar berkencan, Lea benar-benar gugup sekarang.
"Spaghetti Bolognese," ucap Lea. Ketika melihat daftar menu, terdapat spaghetti dengan saus yang berbeda-beda. Dan Lea ingin sekali mencoba salah satunya, spaghetti yang menjadi kesukaan orang-orang yaitu Spaghetti Bolognese Lea penasaran akan rasanya.
Sepertinya akan enak, begitu gumamnya.
"Baiklah, Spaghetti Bolognese dan Spaghetti Carbonara. Makanan penutupnya, biar aku saja yang memilih? Atau Kakak?" tanya Claude, menatap pada Lea.
Sementara Lea, tampak diam sembari membaca kembali daftar menu. Terdapat banyak sekali, hidangan menu pengunggah selera di sana selain ingin mencoba Spaghetti bolognese, Lea ingin sekali mencoba Creme Brulee makanan yang berasal dari negara Prancis.
"Em ... Aku, ingin Creme Brulee apa bo--boleh?" tanya Lea pada Claude.
"Iya Kak, Kakak boleh memilih apapun yang Kakak mau!" terangnya sembari tersenyum, membuat Lea tersipu malu, bahkan sampai membuang wajahnya kesamping untuk menutupi rona di wajahnya. Namun siapa sangka, Claude seakan tahu gerak-geriknya, dia tahu jika Lea tengah salah tingkah dibuatnya. Tetapi Claude memilih diam, sambil sesekali menggoda Lea.
Dia tidak pandai, merayu ataupun melontari kata-kata manis. Tetapi hanya dengan tersenyum saja, sudah membuat para wanita berteriak-teriak. Claude bukanlah tipe pria, yang hanya suka berkata-kata tanpa sebuah pembuktian. Itu bukanlah keahliannya, dia lebih suka pembuktian dibandingkan hanya lewat perkataan. Disaat keduanya terlarut dalam, pikiran masing-masing.
Tampak seorang pelayan wanita, tengah berdiri menatap kedua sejoli yang tengah saling memandang satu sama lainnya. Pelayan itu jadi mengulum senyum sendiri, ketika melihat betapa jahilnya si pria kepada wanitanya, bahkan wajah wanitanya sampai memerah.
"Waitress ... Aku pesan, spaghetti Bolognese dua dan Creme Brulee, Tiramisu, dan jus apel dua secepatnya karena kekasihku kelaparan! Aku takut dia mati kelaparan karena terlalu menunggu lama!" ujarnya tanpa ekspresi apapun. Membuat Lea spontan menoleh, lalu dengan penuh keberanian memukul lengan Claude kuat.
Membuatnya seketika menjerit kesakitan, padahal tidak seberapa dengan tenaga yang dia miliki. Lea tampak sangat geram, dan malu karena waitress tadi tampak tertawa sebelum dia pergi. Benar-benar memalukan!
Andai saja, pria yang sedang duduk dihadapannya saat ini bukanlah majikan sekaligus kekasihnya, Lea tidak akan segan-segan memukulnya habis-habisan.
"Kakak, kau tampak cantik. Aku jadi semakin mencintaimu!" ungkapnya membuat Lea, sontak menatapnya tajam, sambil memperlihatkan kepalan tangannya kepada Claude.
Pria muda tersebut, tampak tertawa sambil tersenyum puas ketika melihat wajah sang wanita tampak setengah mati menahan kekesalannya. Lea tampak cantik, dan anggun ketika menggunakan dress yang ia pilih. Claude jadi, tidak enggan menatap kearah yang lain, tatapannya selalu tertuju kepada sang wanita hingga membuatnya risih setengah mati.
__ADS_1
"Ya ampun, kenapa dia selalu saja menatapku seperti itu. Aaaa ... Jantungku," gumamnya diam-diam mengusap dadanya, Lea bisa mendengar, dengan sangat jelas debaran jantungnya yang berdetak begitu kencang.
"Diamlah! Atau kita pulang saja!" ketus Lea, dengan nada terdengar mengancam. Membuat Claude yang tadinya, ingin kembali berbicara lagi segera mengurungkan niatnya tersebut, ketika mendengar ancaman dari Lea, seketika juga ia bungkam. Padahal dari dulu hingga sekarang, Claude tidak pernah tunduk kepada siapapun termasuk pada keluarganya.
Dua menit kemudian ...
Dua orang Waitress datang, dengan membawa nampan berukuran besar. Merekapun segera, menghidangkan makanan tersebut, dengan sangat berhati-hati apalagi hawa disekitar mereka terasa dingin. Padahal AC didalam ruangan tersebut, mati.
Tampak dua orang sejoli, duduk dengan begitu canggung. Mereka bahkan tidak tampak, seperti pasangan lainnya, pasangan ini sangat berbeda dengan pasangan pada umumnya yang selalu memperlihatkan kemesraan mereka.
"Selamat makan, Tuan dan Nona." Ucap waitress tersebut serentak setelah itu, merekapun pergi meninggalkan kedua sejoli yang tadi, sedang berperang dingin.
*Hening!
Dua puluh detik
Ekhem*!
"Selamat makan Lea!"
Deg!
Rasanya, jantung Lea berhenti berdetak ketika mendengar perkataan Claude barusan. Tak disangka-sangka olehnya, pria itu bisa dengan mudahnya memanggilnya tanpa embel-embel 'kakak'
"I--iya, Terimakasih selamat makan Choel," balasnya langsung tersenyum. Membuat Claude seketika terpanah, akan senyuman Lea tampak Lea mengunyah makanannya dengan begitu lahap.
Uhuk!
"Kak, pelan-pelan." Dengan sigap, Claude menyodorkan segelas jus apel kepada Lea dan langsung diambil oleh Lea, tanpa berpikiran panjang. Rasanya tenggorokannya terasa panas.
__ADS_1
"Apakah makanannya seenak itu, sampai Kakak tersedak?" tampak Claude menyinggungkan senyumannya. Membuat Lea seketika kesal.
"Bukan!"
"Lalu?"
"Makanlah Tuan Muda, jangan banyak bertanya lagi!" gertaknya. Membuat Claude seketika diam, segera mengunyah makanan miliknya, hingga habis tak bersisa. Spaghetti carbonara adalah, spaghetti kesukaan Claude, setiap dia mampir di restoran manapun yang menjual spaghetti dengan saus beragam, maka Claude akan memilih spaghetti carbonara.
Jujur saja dia tidak menyukai, cabai. Dia alergi terhadap cabai, sama halnya dengan Caca mereka berdua tidak suka dengan cabai. Dan Lea tahu itu.
Beberapa menit kemudian ...
"Kenyangnya," lirih Lea sembari bersandar, di kursi memerhatikan Claude yang sedang berbicara serius dengan seseorang dibalik telepon.
Lea bisa dengar, apa yang sedang mereka bahas.
'Makanannya enak sekali, kapan-kapan aku mampir kesini lagi. Aaaa aku ingin tiramisu itu,' batinnya menatap pada piring yang berisi tiramisu milik Claude, yang belum sempat dia makan. Karena sedang menelepon dengan seseorang.
Lea, tampak memerhatikan piring tersebut dengan sesekali menelan salivanya. Ingin rasanya dia menarik piring tersebut.
Tanpa Lea sadari, diam-diam seseorang menatapnya. Sembari menahan senyumnya, wanita itu tampak sangat menggemaskan Claude jadi ingin menggigit pipi tersebut, dibandingkan tiramisu miliknya.
"Kak, jika Kakak mau makanlah. Aku bisa memesannya lagi nanti," ujarnya sembari tersenyum tipis. Lea tampak girang, namun kegirangan tersebut tidak bertahan lama.
"Tidak! Aku sudah kenyang!" tolaknya, sembari membuang muka. Claude tersenyum menanggapinya, dia tahu bahwa Lea menginginkan Tiramisu miliknya namun gengsi wanita tersebut, lebih besar dibandingkan keinginannya.
Benar-benar menggemaskan, begitu batinnya. Ingin rasanya dia mendekap tubuh mungil milik Kak Lea. Namun keinginan tersebut segera dia hilangkan, karena tahu Lea pasti tidak akan membiarkannya memeluknya secara terang-terangan.
"Kakak, makanlah aku sudah kenyang tahu. Jika Kakak tidak mau, ya sudah aku suruh saja waitress tadi membuangnya ke tempat sampah." Ujarnya tanpa beban, seraya tersenyum menyimpan kembali ponselnya kedalam saku celananya.
__ADS_1
Lea bahkan, tidak sadar kapan Claude selesai berbicara dengan seseorang dari balik telepon. Karena terlalu, terlarut dalam lamunannya. Ia bahkan sampai tertegun, mendengar ucapan Claude barusan bisa-bisanya pria itu dengan mudahnya ingin membuang makanan, yang jelas-jelas harganya tidaklah murah. Lea yang mendengar sampai melototkan matanya kearah Claude yang tampak tersenyum tanpa dosa sekalipun.
***