Babysitter Kesayangan Tuan Muda

Babysitter Kesayangan Tuan Muda
Bab 44. Cemburu


__ADS_3

"Em ... Claude, apakah boleh mengantar Kakak ke Central Park? Kakak lupa membelikan kado, buat Caca!" ungkap Lea, ketika mereka sudah berada didalam mobil. Setelah beberapa menit yang lalu, ia bersitegang dengan pria tersebut lantaran kesal karena Claude, terlalu banyak membuang uang untuk kencan mereka.


Padahal Lea, lebih menyukai kencan ala rakyat jelata. Dia ingin merasakan, jajanan kaki lima terutama makanan favoritnya batagor, namun sayangnya Claude malah, mengajaknya kencan ditempat-tempat mahal dan terkenal. Lea merasa tidak enak hati, walaupun sejujurnya dia ingin merasakan kencan ala orang kaya, tetapi dia harus menahannya.


Bagaimanapun, Claude tidak boleh sampai mengeluarkan uang banyak hanya untuk dirinya. Walaupun atas dasar, keinginan pria tersebut sendiri tetapi Lea cukup sadar diri. Jauh di lubuk hatinya yang paling terdalam, dia merasa terharu akan perlakuan Claude. Namun kelakuan, Claude yang satu ini benar-benar membuatnya kesal setengah mati.


Bisa-bisanya dia menghabiskan, banyak uang hanya untuk membeli sebuah restoran, yang akan menjadi tempat mereka berdua berkencan. Lea sampai menganga, ketika mengetahuinya dan pastinya Claude mengucapkannya sendiri.


Awalnya pria tersebut, mengucapkannya dengan penuh semangat yang membara, berharap sang wanita luluh akan perbuatannya tersebut. Namun sangat disayangkan, sang wanita bukannya luluh malah kesal kepadanya karena telah membeli sebuah restoran hanya untuk, berkencan berdua saja. Dengan alasan, jika dia sudah banyak sekali mengeluarkan uang.


Padahal setahu Claude, dia sudah menyiapkan segalanya. Uang yang keluar pun memang, bukanlah nominal yang sedikit tetapi Claude sudah menghitungnya sendiri, berapa yang akan dia keluarkan. Baginya, nominal yang ia keluarkan hanyalah sedikit, tidak sama halnya dengan Lea.


Baginya berapapun nominalnya, tetaplah berharga bagi Lea. Karena uang sebanyak itu, bisa membiayai kebutuhan lain yang lebih penting.


"Hem." Balasnya singkat, tanpa menoleh kepada Lea karena masih kesal karena Lea tidak, mau mengindahkan keinginannya tersebut.


Sementara Lea, terlihat sedang duduk sembari mengerucutkan kedua alisnya menatap kepada Claude yang terlihat, cuek kepadanya. Padahal tadi pria itu sangat manja kepadanya bahkan Lea sampai tidak bisa berkata-kata lagi.


Berbanding terbalik dengan sekarang, ia tampak sangat dingin menoleh kepada Lea saja enggan. Dan Lea tahu, jika saat ini Claude sedang ngambek kepadanya, namun ia memilih diam saja tanpa ada niatan ingin merayunya.


Karena Lea tahu, kemarahan pria tersebut tidak akan bertahan lama.


Beberapa menit kemudian ... Tidak membutuhkan waktu yang banyak, merekapun sampai didepan Central Park. Mark pun segera memarkirkan mobil, diparkiran yang sudah disediakan.


Lea pun keluar, dari dalam mobil tanpa menunggu komando lagi dari Claude, ketika tahu pria tersebut sedang marah kepadanya. Dan Lea tidak ingin, menganggu Claude ataupun mengajaknya masuk kedalam Central Park, karena Lea bisa pergi sendiri karena dia memiliki dua kaki tanpa ditemani pun dia tidak akan tersesat.

__ADS_1


Dengan perasaan kesal, Lea masuk kedalam gedung tinggi tersebut sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Lea sesekali melihat kebelakang, berharap Claude datang namun ternyata pria tersebut benar-benar tidak, datang Lea menyesal karena tidak mengajaknya tadi.


Jujur saja dia takut, bukan untuk pertama kalinya dia datang dan menginjakkan kaki disini, tetapi Lea tidaklah sendiri. Karena Nona Caca selalu menemaninya, Lea pernah pergi sendiri ke Central Park tapi dia tidak benar-benar sendiri saat itu.


'Kemana dia? Jangan bilang dia meninggalkan aku,' gumamnya ketakutan, jika Claude meninggalkannya. Karena pria tersebut tidak terlihat sedari tadi, Lea jadi takut sendiri.


Disaat Lea tengah dilanda rasa takut, tiba-tiba saja seseorang muncul secara tiba-tiba mengagetkan Lea yang tengah khawatir.


"Hello, Girl!" ujarnya dengan nada sedikit meninggi sembari menepuk bahu Lea yang tengah, dilanda rasa takut dan khawatir jika Claude meninggalkannya.


Ah!


Lea memekik, sangat terkejut ketika tiba-tiba saja seseorang menepuk bahunya. Bahkan ia terlihat, sampai panas dingin, keringat dingin tampak keluar di pelipisnya. Wajahnya pun berubah pucat pasi.


"Siapa kau? Kenapa menepuk bahuku hah?!" bentaknya dengan sangat geram, memandang pria asing tersebut yang entah datang darimana, tiba-tiba saja menepuk bahunya.


"Namamu Lea 'kan? Kau pasti Lea ku," sahutnya dengan penuh percaya diri dengan berani, meraih tangan Lea, namun Lea cepat-cepat menepisnya. Lea sampai ingin menampar wajah pria tersebut karena telah berani, menyentuh tangannya tanpa seizinnya.


"Jangan lancang, ya Anda!" ketusnya, sembari mundur beberapa langkah.


"Lea, kenapa kau jadi galak seperti ini? Padahal aku hanya menyentuh tanganmu saja loh, kau sudah segalak ini seperti singa betina saja." Tawanya pecah, memandang wanita yang saat ini berada dihadapannya yang tampak sedang menahan amarahnya. Terlihat dari tatapan matanya, yang tertuju kepadanya saat ini. Dia sudah bisa menebaknya sendiri.


"Jangan tertawa! Anda mengira, perbuatan Anda ini baik!" marahnya, seraya mengepalkan kedua tangannya. Lea mencoba menahan emosinya, apalagi saat ini tatapan semua orang sedang tertuju kepadanya dan pria asing tersebut.


"Lea, maafkan aku. Aku merasa kau benar-benar lucu tadi, kau benar-benar tidak pernah berubah ya. Kau masih sama seperti dulu," ucapnya, membuat Lea semakin emosi. Karena pria tersebut, benar-benar seakan kenal kepadanya padahal Lea benar-benar tidak tahu, siapa pria asing tersebut.

__ADS_1


"Maaf, kenapa Anda bisa tahu namaku? Dan apa Anda bilang tadi, tidak pernah berubah? Apakah Anda mengenal aku?" tanyanya, sembari memasang wajah bingungnya. Dia benar-benar tidak mengenali, pria tersebut dari wajahnya dan auranya pun Lea tidak tahu.


Teman SMA pun tidak mungkin, karena Lea sudah lama putus kontak dengan teman-temannya tersebut.


"Really? Kau tidak mengenali aku?" Lea menggelengkan kepalanya. Pria asing itu pun diam, ada rasa kecewa dihatinya ketika tahu wanita yang ingin dia temui, dan ia cari selama bertahun-tahun lamanya yang menghilang entah kemana, ternyata tidak mengenalinya. Padahal dia sangat mengenali wanita tersebut, walaupun tampilannya, yang sekarang sudah sangat berubah tidak sama seperti dulu lagi.


Pria itu, hanya bisa tersenyum getir. Apakah dia harus berkenalan kembali lagi, padahal dia sudah berekspektasi sangat jauh. Jika Lea mengenalinya tanpa ia, memberitahu lagi karena dia tahu jelas, seperti apa Lea.


"Amar, namaku Amar!" ujarnya, sembari menyodorkan tangannya tepat dihadapan Lea. Berharap Lea menyambutnya namun sangat disayangkan olehnya, Lea hanya berdiam diri tanpa mau membalasnya.


Membuat pria yang bernama Amar, segera menarik tangannya kembali sembari tersenyum getir. Sepertinya wanita yang ia rindukan itu, benar-benar melupakan dirinya.


"Lea, namaku Lea," ucap Lea memperkenalkan diri. Amar tersenyum menanggapinya, ada rasa tersendiri dihatinya ketika Lea kembali memperkenalkan dirinya, sama seperti dulu saat untuk pertama kalinya mereka berdua berkenalan.


"Lea masih ingatkah kau dulu? Aku ini Amar, pria cupu yang dulu kau selamatkan dari para murid berandalan itu loh, kau sampai memukuli mereka hanya untuk menyelamatkan aku. Karena dulu, kau memang ahlinya bela diri, aku bahkan sampai belajar bela diri agar bisa menyamakan dirimu." Ucapnya lirih, berharap Lea ingat akan kejadian dua puluh tahun yang lalu.


Sementara Lea, wanita itu terlihat sedang berpikir keras mencoba mengingat kembali kejadian yang sudah lewat dua puluh tahun yang lalu. Hingga pada akhirnya, diapun kembali mengingatnya, ia tahu sekarang siapa pria yang dulu dia tolong dari para murid berandalan tersebut. Ternyata murid cupu itu, adalah Amar Sebastian yang dulunya terkenal sebagai murid paling cupu, diantara murid yang lainnya.


Lea bahkan sampai tertawa, mengingatnya tanpa disangka-sangka olehnya mereka berdua dipertemukan kembali dalam bentuk yang berbeda. Amar benar-benar berubah drastis, dia bahkan semakin tinggi dan tidak memakai kacamata, kulitnya pun terlihat putih dan mulus tidak seperti dulu. Dia terlihat manis, dimata Lea apalagi dia memiliki lesung pipi dikedua pipinya.


Lea jadi kagum, dia benar-benar tidak sedang bermimpi bukan? Dia bertemu dengan, Amar murid cupu yang dahulunya dia tolong sampai mereka berdua jadi berteman dekat dulu, Amar bahkan sampai menolong Lea yang dulunya adalah Kakak kelasnya.


Tanpa Lea dan Amar sadari, seseorang tampak menatap mereka dari kejauhan dengan raut tak suka ketika melihat bagaimana Lea merangkul, pria asing tersebut. Lea bahkan sampai, berjabat tangan dan bercanda ria bersama pria asing itu, dia bahkan sampai lupa akan tujuannya yang datang kemari untuk, membelikan kado buat Nona Caca.


Guratan amarah, benar-benar terlihat jelas di wajah tampan pria itu, kedua tangannya pun terlihat mengepal kuat. Membuat sang asisten yang kebetulan berada disisi Tuan Mudanya itu, seketika diam karena tahu suasana hati Tuan Mudanya yang sedang, dalam mode marah.

__ADS_1


Tatapan kecemburuan pun, terlihat sangat jelas. Membuat Mark mengerucutkan kedua keningnya bingung.


***


__ADS_2