Babysitter Kesayangan Tuan Muda

Babysitter Kesayangan Tuan Muda
Bab 20. Semangkuk Mie (Part 3 end)


__ADS_3

"Kakak! Jangan berbohong!" pekik Caca dengan lantang. Dengan nada mengintimidasi Claude, yang tampak sangat tenang walaupun Caca sudah meneriakinya berkali-kali.


"Hem."


Menyebalkan


"Kakak!"


"Ya!"


"Kakak Claude!"


"Caca!"


Mereka tampak diam, sambil menatap satu sama lainnya.


"Kakak, jangan berani membohongiku ya. Awas saja!" Caca memperlihatkan kepalang tangannya, kepada Claude.


Claude tampak acuh menanggapinya. Membuat Caca semakin kesal, dan berapi-api.


"Kakak?! Jangan lari, dari pertanyaan! Awas saja ya," Cacat tampak sangat kesal. Siapa yang tidak akan kesal, jika pertanyaannya tidak dijawab dan dihiraukan seperti itu, yang hanya akan membangkitkan rasa penasarannya.


"Siapa yang lari?" Claude bertanya, dengan nada terdengar acuh.


Caca tampak emosi, dan ingin sekali mencabik-cabik wajah tampan tersebut. Jika tidak mengingat, siapa pria muda yang sedang duduk dihadapannya itu.


"Kakak!"


"Ikut aku!"


Apa!


"Gak mau! Caca mau tunggu, Kak Lea," tolak Caca. Ketika Claude, menyuruhnya untuk ikut kepadanya entah ikut kemana, yang pastinya Caca tidak mau.


"Cepat! Kalau kau ingin, tahu segalanya." Seringai Claude, berdiri dan langsung melangkahkan kakinya, beberapa langkah. Meninggalkan Caca, yang terdiam dengan wajah bingungnya, tetapi beberapa detik kemudian dia langsung tersadarkan.


Dan segera, mengikuti kakaknya yang sudah pergi menjauh.


"Kakak! Maksudnya apa sih? Jangan permainkan aku ya, awas saja!" pekik Caca dengan malas, mengikuti langkah Claude yang entah kemana akan membawanya.


"Kakak ini real?" tanya Caca, menatap takjub akan apa yang tengah dilihatnya. Sebuah ruangan bawah tanah, yang amat mewah dengan desain interior. Membuatnya takjub, sampai tak bisa berkata-kata. Baru kali ini, dia melihat sebuah ruangan bawah tanah di dalam Mansion mereka. Ternyata, Kakaknya menyembunyikan sesuatu yang tidak dia ketahui. Caca sampai marah, dan ingin memaki-maki pria tampan tersebut.


"Ka--"


"Masuklah! Dan jangan, cerewet!" ujar Claude. Caca pun mengangguk patuh dan segera masuk sebelum, Kakaknya itu marah kepadanya.

__ADS_1


Ceklek!


Wow fantastik! Bisa-bisanya, ada ruangan sebagus ini di Mansion.


Gumam Caca, sangat takjub akan apa yang dia lihat. Sambil masuk kedalam sebuah ruangan, rahasia yang entah hanya dia dan kakaknya saja yang tahu. Claude masuk, sambil membawa sesuatu yang Caca sudah bisa tebak apa isi didalamnya. Hanya dengan melihat, bungkusannya saja.


"Ambil itu, dan tutup semua rahasia yang kau ketahui!" Claude terdengar sangat tegas. Membuat Caca diam, dan mengangguk patuh sambil memperhatikan sesuatu yang Claude sodori kepadanya.


*Deg!


Ya ampun, darimana Kakak tahu jika aku menginginkan tas limited edition itu? Padahal, aku tidak pernah bilang*


Caca tampak sangat terkejut, ketika membuka bungkusan mewah tersebut. Di dalamnya terdapat, tas sekolah bermerk dari brand terkenal yang harganya fantastik bisa membeli satu apartemen mewah. Caca sampai terbungkam, dilihat-lihatnya tas tersebut sambil tersenyum tersenyum.


Padahal, sesuai rencananya dia ingin meminta tas tersebut sebagai hadiah ulang tahunnya kepada mommynya dan bukan Kakaknya. Tetapi sudah terlanjur, Claude sudah mengetahuinya apa yang sedang dia inginkan. Patut di acungin jempol, gumamnya.


"Kakak, ini beneran? Bukan main-main, 'kan?" tanya Caca masih tak percaya. Claude berdecak sebal, memandang Caca dengan sorot datarnya.


"Hem."


"Cepat singkirkan itu, dan mari berbicara!" sahut Claude. Caca pun patuh, menyingkirkan bungkusan yang didalamnya berisi tas mewah, sambil menaruhnya pelan-pelan di atas sofa.


Setelah itu, Claude pun mulai membuka bicara. Dia menjelaskan secara detail, mengapa dia menolak perjodohan antaranya dan Kimberly yang telah, disepakati kedua keluarga besar mereka. Caca pun menyimaknya, dengan sangat serius sambil memasang ekspresi terkejut serta geramnya. Dia tidak pernah menyangka, mommynya akan berbuat seperti itu kepada Kakaknya.


"Kak, mommy benar-benar keterlaluan! Kenapa Kakak tidak membalasnya?" tanya Caca, dengan sangat geram. Bak orang dewasa, yang mengerti segalanya.


"Ini bukan, urusan bocah ingusan seperti mu. Pergilah cuci kakimu lalu tidur," usir Claude dengan halus sambil menyentil kening adiknya.


Caca meringis, meraih tangan Claude hendak menggigitnya, tetapi sebelum itu terjadi Claude sudah lebih dahulu menepis tangan adiknya sambil, menatap tajam kepada Caca.


Gadis kecil itu terdiam. Lalu tertawa, cengengesan menatap kepada kakaknya.


"Kakak, kamu itu lucu tahu! Caca jadi gemas tahu." Ungkap Caca tertawa jahat. Sambil memberanikan diri merangkul, Kakaknya.


Claude berdecak sebal sambil, melepaskan rangkulan Caca. Rasanya sangat risih, ketika adiknya itu menyentuhnya. Dia merasa sangat risih, walaupun yang menyentuhnya adalah adik kandungnya sendiri.


"Kakak." Rengek Caca, dengan cemberut, menatap pada Claude yang diam sedari tadi. Padahal dia ingin mendengar lebih banyak lagi.


"Pergilah, itu saja yang ingin aku katakan, kepadamu. Jangan membocorkan apapun! Kau mengerti! Ini rahasia!" tegas Claude pada Caca.


Sebenarnya, dia tidak ingin membicarakan masalah ini kepada adiknya. Apalagi membiarkan, Caca mengetahuinya karena baginya Caca, masih anak-anak yang tidak mengerti apapun. Tetapi dugaannya salah, Caca begitu dewasa jika menyangkut hal seperti ini. Dia tidak pernah menyangka, adiknya itu akan merespon segalanya.


Bahkan mendukungnya, untuk membatalkan pertunangan tersebut. Yang telah disepakati, dua bela pihak keluarga, Claude tahu konflik apa yang akan terjadi, diantara keluarganya dan keluarga Kimberly. Pertunangan mereka, memang telah direncanakan sejak mereka kecil dahulu.


Dan Claude, tidak pernah menyimpan perasaan sedikitpun kepada Kimberly mau sedekat apapun mereka dulu. Yang Claude tahu, cuman Lea. Saat Lea tersenyum, dan saat Lea tertawa.

__ADS_1


Dirinya sudah dikuasai, akan kehadiran Lea. Apapun yang Lea lakukan, adalah sesuatu yang Claude tunggu. Mau seberapa, lama pun untuk mendapatkan hati wanita itu, Claude akan tetap berjuang sekeras mungkin, walaupun dia bisa saja menarik paksa wanita itu ke KUA sekarang. Bisa dia lakukan, apa yang tidak bisa dia lakukan? Bahkan membeli tas, dari brand terkenal pun bisa. Apalagi membawa Lea ke KUA.


Itu adalah hal paling, gampang menurutnya. Tetapi disini dia berbicara, tentang hati dia tidak ingin menyakiti Lea ataupun semua orang.


"Kakak! Asal Kakak tahu ya, aku punya tips buat bisa mendapatkan hati Kak Lea loh." Perkataan Caca, sontak membuat Claude tersentak. Dia membalikkan tubuhnya, menatap sendu kepada adiknya.


Sepertinya, Caca bisa saja dia manfaatkan sebagai partner kerjanya. Karena Caca, adiknya tahu semua tentang Lea apapun yang Lea suka, Caca tahu karena mereka sangat dekat, dan Caca selalu menanyakan segala sesuatu yang Lea suka. Mulai dari makanan, hobi maupun cita-cita. Mereka bisa disebut, duo bucin Lea.


"Cepat katakan! Jangan ada yang kau sembunyikan, atau aku--"


"Oke! Pertama, Kak Lea tidak menyukai pria yang lemah. Dia menyukai pria, kekar, yang kuat. Bisa mencintainya dengan tulus menerima segala kekurangannya." Ucap Caca, sambil menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan perkataannya.


Padahal aku menerima segala, kekurangan Kak Lea. Aku bahkan menyukainya segala tentangnya. Tetap mengapa Kak, Lea tidak menyukaiku.


gumam Claude.


Lima menit kemudian, sepuluh menit kemudian.


Lama Caca berbicara, memperagakannya sedetail mungkin kepada Kakaknya. Hingga kini, lewat sepuluh menit Caca pun selesai berbicara. Claude puas? Tentu saja tidak, dia masih ingin tahu lebih detail dan lebih banyak. Tetapi Caca, segera angkat tangan, karena dia sudah lelah bicara panjang kali lebar. Kepada Kakaknya yang tidak pernah, puas mau dia bicara sampai tenggorokannya sakit pun.


Segitu bucinnya ya, Kak Lea benar-benar beruntung. Bisa dicintai dengan, pria berwajah tembok seperti Kakak.


"Caca, keluarlah! Istirahatlah sana, besok selesai makan malam. Datanglah kesini dan laporkan segalanya yang kau lakukan dengan Kak Lea!" sahut Claude, membuat Caca seketika mematung.


Apa?!


"Ah, gak mau! Emangnya, Caca ini mata-mata." Tolak Caca dengan sangat acuh. Bisa-bisanya, dia dibuat kerjaan lagi oleh Kakaknya, benar-benar menyebalkan begitu batinnya.


"Caca, kamu partnerku sekarang. Aku akan menggaji mu, dengan biaya mahal loh." Sahut Claude tersenyum, membuat Caca bergidik ngeri. Lebih baik melihat Kakaknya dengan wajah temboknya tanpa tersenyum, daripada melihat kakaknya tersenyum apalagi tertawa.


"Ba--baiklah, Kakak!"


"Kamu memang, adik yang bisa aku andalkan. Pergilah sana, sepertinya Kak Lea sedang menunggumu!" balas Claude, Caca pun dengan cepat menganggukkan kepalanya.


"Ya, baik. Caca pergi dulu," Caca segera pergi meninggalkan Claude sendirian, tanpa berbalik ataupun menengok kebelakang. Dia bahkan terbirit-birit berlari, menuruni anak tangga. Rasanya benar-benar, tegang kakaknya itu benar-benar mengerikan.


"Huh, dasar Kakak--"


Ah!


Caca tampak berteriak, sangat terkejut ketika melihat sosok tersebut yang tengah menatapnya dimeja makan.


***


Kira-kira siapa ya?

__ADS_1


Malam ini, spesial bab Momen Lea-Claude ☺


__ADS_2