Babysitter Kesayangan Tuan Muda

Babysitter Kesayangan Tuan Muda
Bab 43. Tagihan makanan


__ADS_3

"Jangan! Biar Kakak makan, sayang kalau dibuang." Ujar Lea, sembari tersenyum paksa segera meraih piring yang berisi tiramisu milik Claude. Dan segera memakannya, hingga habis tak bersisa Claude tampak mengulum senyumannya sendiri.


Lea benar-benar kelaparan, ketika melihat makanan yang mengunggah selera tersebut, padahal baru beberapa menit yang lalu, dia selesai menghabiskan Spaghetti Bolognese dan Creme Brulee.


"Kakak, ingin minum sesuatu sebelum kita pergi?" tanyanya kepada Lea. Lea tampak memejamkan matanya rasanya, dia susah bergerak karena terlalu kenyang. Hanya bisa menjawab sebisanya saja.


"Em ... Lychee tea," sahutnya pelan. Tanpa banyak basa-basi lagi Claude pun segera memanggil Waitress, yang melayani mereka tadi lalu memberitahukan pesanan Lea kepada Waitress tersebut.


Beberapa menit kemudian ... Tidak menunggu waktu yang lama, seorang waitress pun datang membawa pesanan Lea. Lea tampak sangat takjub menatap Lychee tea, pesanannya lalu tatapannya beralih pada Claude yang sedang menatapnya dengan begitu intens. Membuat Lea seketika gugup, dan gemetaran pria itu memanglah sangat tampan.


Apalagi saat ini, dia tengah memakai pakaian santai. Membuat tingkat ketampanannya, semakin bertambah. Dengan gugup, dan gemetaran Lea segera menyeruput Lychee Tea hingga kandas, karena saking kehausannya dia bahkan sampai menghabiskannya hingga tidak bersisa.


Masih dengan Claude, pria tersebut terus saja menatap pada Lea. Tanpa melewatkannya sedikitpun. Lea menjadi risih, dan gugup dibuatnya dengan segera dia memalingkan wajahnya.


"Kakak, sudah selesai? Sekarang kita pergi," ucapnya kepada Lea. Claude pun berdiri, meraih tangan Lea lalu menggenggamnya dengan erat sembari tersenyum kepada Lea.


"Tunggu, kita belum membayar makanannya Choel!" Lea tersadar, mereka belum membayar tagihan makanan. Namun Claude hanya diam, dengan santainya dia menatap pada Lea.


Lea terlihat, khawatir karena mereka belum membayar tagihan makanan yang tadi mereka makan, yang nominalnya tidaklah sedikit. Claude tampak menanggapinya, dengan tersenyum geli. Sebegitu takutnya Lea, akan tagihan makanan tersebut.


Padahal bagi Claude, jumlahnya tidaklah banyak. Dan Lea sampai sekhawatir seperti itu, Claude jadi tertawa sendiri melihatnya.


"Kakak, tidak perlu takut. Semuanya gratis kok!" ujarnya tertawa geli, ketika melihat perubahan di wajah Lea.


Apa!

__ADS_1


"Gratis? Maksudnya, semua makanan yang tadi kita makan semuanya gratis?" Lea tampak kebingungan, akan perkataan Claude barusan. Otaknya tiba-tiba saja, tidak bisa menanggapi perkataan pria tersebut barusan.


Claude tergelak, menahan tawanya yang ingin meledak. Ketika melihat ekspresi wajah Lea, yang tampak polos menatap kepadanya.


"Seperti yang Kakak ucapkan barusan, makanan gratis." Sahutnya lagi sembari tertawa, membuat Lea seketika kesal dan memilih diam sampai akhirnya Claude pun mulai berdeham kembali.


Ketika melihat, ekspresi datar dari wajah Kak Lea.


Ekhem!


"Kak, lupakan yang tadi. Tagihannya sudah dibayar, Kakak tidak perlu khawatir, kencan hari ini aku yang bayar semuanya," ucapnya membuat Lea seketika lega. Namun kelegaan tersebut, tidak dia perlihatkan secara terang-terangan.


"Kakak, ayo kita pergi, aku akan membawa Kakak ke suatu tempat!" ajaknya meraih kembali, tangan Kak Lea lalu menggenggamnya dengan sangat erat. Lea pun menganggukkan kepalanya, tidak masalah jika malam ini, dia habiskan dengan bersenang-senang bersama Tuan Muda, yang kini berstatus sebagai kekasihnya.


Kesempatan ini, tidak akan datang dua kali lagi bukan. Jadi tidak masalah jika dia mengabadikannya, didalam memorinya. Semuanya yang terjadi, tidak dapat terulang kembali lagi.


Sesampainya mereka di parkiran, tampak Mark asisten perdana, Tuan Muda Claude sedang berdiri tepat dihadapan mereka. Dengan sopan, Mark hendak membukakan pintu mobil untuk Lea namun, gerakkan tangannya segera terhenti ketika suara dingin Claude terdengar datar.


"Masuklah duluan, Mark. Tinggalkan kami berdua," titahnya dingin Mark mengangguk sopan, segera masuk kedalam mobil meninggalkan majikannya dengan seorang wanita asing, yang tidak dia ketahui asal-usulnya bisa bersama seorang pria, yang sudah memiliki seorang tunangan.


Seperginya Mark, Claude pun langsung menampakkan senyumnya kepada Lea. Hingga membuat Lea bergidik ngeri, padahal tadi wajah Claude terlihat datar tanpa ekspresi apapun. Dan kini wajah tersebut, telah menghilang entah kemana perginya.


"Kakak ... " Panggilnya lirih, terdengar merdu merdu di pendengaran Lea. Tatapannya begitu teduh, seakan mengajak Lea untuk bisa mengartikannya.


"Kau tampak cantik, aku mencintaimu Lea!"

__ADS_1


"Tetaplah di sampingku, tunggulah aku. Aku mencintaimu, jangan pernah melepaskan aku walaupun kau belum punya perasaan apa-apa kepadaku, aku mohon, berjanjilah untuk tetap tinggal!"


Deg!


Hati Lea, seketika terenyuh mendengarnya, sebegitunya Claude mencintainya. Walaupun ia belum bisa membalas perasaannya, tetapi dia tetap menyuruh Lea untuk berada terus disisinya dan, berangan-angan ingin membuat Lea luluh kepadanya. Namun saat ini, Lea masih belum bisa mengartikan perasaannya karena kekhawatirannya akan hubungan yang tengah mereka jalani ini, akan bertahan hingga kapan.


Cepat atau lambat, semuanya akan berakhir. Lea tidak mau menaruh perasaan apapun, akan hubungan mereka saat ini. Dia takut kejadian masa lalu, akan terjadi kembali kepadanya.


"Kak ... Aku tidak meminta apapun, kepada Kakak. Yang aku minta hanya satu, tolong jangan pernah melepaskan aku, hanya karena suatu hal. Aku percaya kepada Kakak. Aku tahu, Kakak pun percaya kepadaku? Aku tahu itu!" ucapnya kepada Lea, sembari meraih tangan Lea lalu mendekatkannya kearah dada bidangnya.


Dia membiarkan Lea, menyentuh dada bidangnya agar bisa merasakan debaran jantungnya, saat ini. Yang tengah berdebar karena, wanita yang saat ini tengah berdiri dihadapannya dan sedang, menyentuh dada bidangnya.


Lea terkesiap, dia bisa merasakan debaran jantung Claude yang terasa berdebar dengan sangat kuat. Ingin rasanya, Lea menarik tangannya namun Claude sudah lebih dahulu menggenggamnya dengan sangat erat.


Lea hanya bisa mendengus kesal, memandang Claude dengan tatapan kesalnya.


"Tuan Muda! Jangan seperti ini, lepaslah. Anda tidak lihat, bukan cuman, ada kita berdua disini?!" bentaknya mengingatkan kepada Claude, jika saat ini mereka sedang tidak berdua saja. Melainkan bertiga, karena Mark ada didalam mobil pasti dia bisa melihat dengan jelas, apa yang mereka lakukan saat ini.


Claude tertawa kecil, menanggapinya. Walaupun Mark ada, dan melihat mereka berdua tetapi pria itu tidak akan pernah berani, mengganggu mereka berdua.


"Kak, walaupun ada Mark. Dia hanya bisa melihat bukan mendengar," ujarnya sembari tertawa. Lea tampak kesal, pipinya merah padam dia segera menepis tangan Claude yang memegang tangannya tadi.


Lalu memberikan jarak diantara mereka beberapa senti. Wajah Claude seketika berubah masam, ketika melihat Lea memberikan jarak diantara mereka berdua.


Padahal Claude hanya berbicara saja, memang benar kenyataannya. Bahwa Mark hanya bisa melihat mereka saja, untuk mendengar mana mungkin karena Claude, menyuruhnya agar bungkam selama menjadi asistennya.

__ADS_1


***


__ADS_2