
"Ba--baiklah, jika Tuan Muda memaksa." Lea tampak menelan salivanya dengan sangat susah payah. Claude tampak tersenyum bahagia, dia segera menarik tangan Lea untuk mengikuti langkahnya, menuju salah satu butik didekat Grand Mall.
Lea hanya bisa pasrah, diam tak berkutik. Biarkan Claude berbuat sesuka hatinya, anggap saja kencan terakhir dan pertama mereka sebagai seorang kekasih?! Karena setelah semuanya berakhir, Lea akan benar-benar pergi. Biarkan Claude mengabadikan momen mereka, walaupun Lea merasa tak pantas mendapatkan cinta dari Tuan Muda Claude.
"Please madam ..." Panggilnya, kepada salah satu karyawati butik yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan salah satu, pembeli.
"Selamat datang, Tuan dan Nona. Silakan pilih sesuatu yang Anda sukai," ujarnya ramah, menatap takjub akan sosok tampan yang berada dihadapannya saat ini tengah menggenggam tangan, seorang wanita cantik di sampingnya.
Lea tampak tak enak, ketika tatapan karyawati butik mengarah kepadanya sambil menunduk. Ditambah, para pengunjung di butik tersebut sedang melihat kearah mereka berdua saat ini. Pasti mereka sedang, berbisik-bisik siapa wanita yang sedang digandeng seorang Claude Ricchan.
'Hei lepaskan, tanganku dungu! Jangan lakukan itu tolonglah Tuan Muda,' Batin Lea.
Wanita itu terlihat, ingin sekali berteriak jika tidak mengingat dimana mereka saat ini. Claude tiba-tiba saja, merangkul dirinya sambil memperlihatkan senyuman jenakanya, dengan sorot tajam menatap semua pengunjung di butik.
Semua pengunjung di butik, tampak ketakutan ketika Claude menatap mereka dengan tatapan tajam tersebut. Lebih baik pergi, secepat mungkin sebelum kena amuk singa yang sedang diam.
"Aku harap, tidak ada gosip jelek beredar setelah ini! Diam dan jangan menatap kesini, nikmati waktu kalian dengan bagus." Ucapnya dingin. Seketika, semua pengunjung dibuat diam tanpa ada yang mau menengok lagi, apalagi mencuri pandang kearah mereka sambil memotret pemandangan tersebut, dan mengabadikannya.
Jika dihari yang cerah, dan agak mendung ini. Salah satu, putra tunggal sekaligus pewaris keluarga Ricchan tengah berkencan bersama seorang wanita secara terang-terangan sambil menggenggam tangan wanita tersebut. Padahal, Claude Ricchan adalah pria berhati dingin, dengan sikap cuek yang mendarah daging, dan jangan lupakan sikap arogannya yang membuat semua orang seketika menjauh, tanpa dikomando lagi.
Dia bahkan, bersikap dingin kepada semua orang yang dia temui jarang-jarang dia sebegitu dekat dengan seseorang, apalagi seorang wanita. Benar-benar sebuah pemandangan, yang mengejutkan semua orang, pria yang terkenal tampan dengan sikap tak tersentuhnya kepada semua orang, kini terlihat mesra tanpa ada tatapan dibuat-buat tengah menggenggam tangan seorang wanita asing, yang mereka tidak ketahui latar belakangnya.
Karena setahu semua orang. Claude Ricchan tengah dirumorkan, menjalin kasih dengan seorang gadis dari keluarga Kyung. Bahkan mereka akan, bertunangan loh, dan gadis beruntung tersebut yang bisa menjadi tunangan dari seorang Claude Ricchan, adalah Kimberly Kyung. Banyak wanita yang iri, kepadanya karena bisa menjadi tunangan dari seorang Tuan Claude Ricchan.
__ADS_1
Lalu wanita yang sekarang, tengah digandeng Claude? Dia bukanlah, Kimberly Kyung tunangan dari pria tersebut. Melainkan wanita asing, yang tidak tahu malu bergandengan tangan dengan tunangan orang.
"Kak ... "
"Ya, Tu--tuan Muda, sebaiknya kita pulang saja, lain kali kita bisa mela--"
"Tidak! Aku mau sekarang!" ketusnya. Membuat Lea menghela napas dalam-dalam, sembari mengontrol emosinya.
'Sadarlah, Tuan Muda mereka tidak menyukai aku! Maksudnya keberadaan aku didekat Anda, apalagi kita sedekat ini,'
"Please madam, tolong bawa nona ini, keluarkan semua pakaian dari brand termahal kalian!" ujar Claude dingin, menatap pada Kak Lea yang terlihat melototkan matanya menatap kepadanya.
"Tu--tuan ini--"
Karyawati tadi pun, menganggukkan kepalanya dia segera mempersilakan kepada nona tadi untuk mengikutinya diruang ganti. Sesuai perkataan, Tuan Claude tadi, mereka akan mengeluarkan semua pakaian terkenal dari brand mahal.
Sementara Lea, wanita itu tampak diam sambil sesekali mengusap pelipisnya yang basah akan keringat dingin. Antara takut, dan khawatir. Khawatir jika gosip tentang mereka tadi, akan beredar luas, walaupun mustahil terjadi karena mereka akan benar-benar berhadapan langsung dengan keluarga Ricchan.
Apalagi Claude, bisa habis mereka. Jika berhadapan langsung, dengan pria muda tersebut. Walaupun usianya masih sangat muda, dan berstatus anak sekolahan tetapi pemikirannya sudah sangat matang layaknya orang dewasa, siapapun akan kalah dengannya. Lea saja, seketika langsung tunduk hanya digertak dengan ancaman saja.
...'Ya Tuhan, tolong selamatkan aku,' batinnya lirih, segera melangkahkan kakinya memasuki ruangan ganti, dengan ditemani karyawati tadi....
Beberapa menit kemudian ...
__ADS_1
Sementara di tempat lain, seorang pria muda dan tampan tampak tengah duduk sambil mematikan ponselnya. Sepertinya dia habis, menelpon seseorang tatapannya benar-benar dingin, dia menatap tajam kepada semua orang yang dia lihat.
Sambil sesekali, menatap kearah jam rolex yang terpasang di pergelangan tangannya. Pria tersebut tidaklah lain adalah Claude, dia tampak tampan dengan stelan baju santai. Sepertinya dia habis, gantian.
Tab ... Tab ... Tab
Suara langkah kaki seseorang, terdengar nyaring. Claude bisa melihat dengan jelas, siapa orang tersebut. Matanya pun, langsung berbinar menatap sosok tersebut tanpa sadar dia berdiri dari atas sofa.
"Bagaimana Tuan? Apakah sudah pas, dengan selera Anda?" tanya Lea, dengan bahasa formal. Claude tampak berdecak sebal, sepertinya dia tidak menyukai embel-embel panggilan 'Tuan' dari Lea. Dia lebih menyukai, ketika Lea memanggilnya dengan sebutan 'Choel' memang awalnya, menggelikan namun panggilan tersebut terasa candu untuknya.
Dan Lea, sepertinya dia tahu jika Claude, tidak suka jika dia memakai bahasa formal ketika berbicara dengan pria tersebut. Tapi Lea harus berbuat apa lagi, lebih baik seperti ini dulu.
Tatapan orang-orang kepadanya, begitu menusuk Lea jadi merasa orang paling bersalah dimuka bumi. Maafkan dia, yang telah dekat dengan pria kesukaan mereka tapi apa boleh buat, pria itu yang duluan mengaku menyukainya dan memaksanya untuk, menjadi kekasih dari pria tersebut.
"Kakak ... Kenapa berbahasa formal, hem? Apakah karena orang-orang itu!" tunjuknya kepada semua pengunjung yang datang. Membuat mereka semua, seketika kalang-kabut melindungi diri dari tatapan Claude. Lea yang melihatnya, bagaimana orang-orang tersebut takut akan tatapan dari Claude. Segera meraih, wajah tampan tersebut agar hanya menatap kepadanya.
Deg!
'Kenapa dia jadi, tampan begini! Ya ampun aaaa ... Jantungku berdebar lagi,' gumamnya dengan tersipu malu. Mencoba terlihat biasa-biasa saja.
Tanpa Lea sadari, bukan hanya jantungnya saja yang berdebar dengan kuat. Claude pun, seperti itu, rasanya emosi dihatinya seketika menghilang entah kemana, ketika wanitanya memegang wajahnya dan tatapan mereka saling beradu dalam diam menatap satu sama lainnya.
Dan tidak, mempedulikan sekitarnya sama sekali. Tanpa keduanya sadari, diam-diam seseorang memotret adegan mereka tadi.
__ADS_1
***