
"Aku akan pergi, menemani Kak Lea! Puas sekarang!" seru Claude dengan datar. Membuat Caca terdiam, mendengarnya.
Sementara Alfa, pria muda itu hanya bisa tersenyum menanggapi kelakuan mereka berdua, kakak beradik yang tidak pernah akur jika bertemu. Namun saling rindu, jika tidak bertemu.
"Really? Kakak apakah kalian berdua--" Caca tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Bibirnya dibungkam oleh, tangan kekar seseorang lalu ditarik menuju ke meja makan.
"Eum ... Aish! Kak Al, aku belum selesai berbicara tahu!" ketusnya. Al tertawa kecil menanggapinya, Caca tampak menatapnya yang sedang tertawa. Seketika hati gadis kecil itu, menghangat ketika melihat seorang pria yang terkesan dingin, dan selalu tegas tersebut tak pernah memperlihatkan senyumannya, itu tertawa karena dirinya.
Bukan hanya satu kali ini saja, Caca melihat Kak Al tertawa. Bahkan sudah banyak kali, namun dia merasa Kak Al, tidak pernah tertawa jika bukan karena dirinya. Tapi entahlah, Caca beranggapan seperti itu karena dia tidak pernah melihat, Kak Al tersenyum ataupun tertawa kepadanya kepada orang lain yang dia jumpai. Termasuk Claude, pria itu selalu saja terlihat datar dan tidak pernah menampakkan senyumnya.
Dan Caca merasa sangat bahagia. Karena hanya kepada dia saja, Al tersenyum dan tertawa walaupun tidak tahu, apa yang sedang pria tersebut tertawai.
"Kak Al, aku pengen sandwich itu boleh tolong ambilkan untukku?" rengek Caca. Al terlihat, menghentikan tawanya dia segera mengambilkan Caca, sandwich yang sudah tersaji dimeja makan.
Caca tampak sangat lahap, memakannya apalagi Kak Al, ada dihadapannya saat ini. Menemaninya makan, walaupun pria tersebut tidak ikut makan karena tengah sibuk, mengetik pesan untuk seseorang. Sesekali Caca mencuri pandang, penasaran dengan siapa dia sedang bertukar pesan.
"Kak ... " Panggilnya. Al menoleh, melempar secuil senyum kepada Caca lalu mengusap rambut milik gadis kecil tersebut yang telah dia anggap adik.
"Kakak sedang apa? Kok, seserius itu!" ucap Caca. Mulai menggoda Alfa, yang terlihat kembali fokus memainkan gadgetnya.
"Anu, lagi kirim pesan buat seseorang." Balas Alfa. Membuat Caca, makin penasaran dengan orang tersebut.
"Benarkah? Caca kepo nih, pengen tahu siapa orangnya yang kakak lagi kirimin pesan, boleh beritahu Caca?" tanya Caca. Al tersenyum, segera menarik Caca ke atas pangkuannya.
Caca tampak terkejut, namun dia segera memasang wajah biasanya. Entah mengapa, dia merasa gelisah saat Kak Alfa memangku nya. Padahal biasanya, dia sering minta dipangku oleh pria tampan tersebut. Namun entah mengapa, pangkuan yang satu ini terasa aneh padahal mereka baru bisa bertemu lagi.
__ADS_1
Karena Kak Alfa, adalah orang yang super sibuk bolak-balik keluar kota, bahkan keluar negeri, untuk bertemu para pengusaha terkenal untuk bekerjasama dalam menguntungkan perusahaan masing-masing.
"Kak Alfa, tidak sedang menjalin hubungan dengan seorang gadis 'kan ? Seperti Kak Claude itu loh." Sungut Caca, membuat Al tertawa kecil.
"Ups ... Caca hampir lupa, siapa juga yang mau sama Kak Al. Orang Kak Al menakutkan begitu, gak pernah senyum! Mana ada yang mau, menjadi kekasih Kakak!" ejek Caca sumringah.
Alfa tampak kesal, segera mencubit pipi Caca. Walaupun dia masih sangat kecil, untuk anak seusianya. Tetapi Caca sangat pintar berbicara, dan tidak pernah malu mengeluarkan apa yang sedang dia rasakan. Bahkan Alfa saja sampai kalah. Bukan hanya itu, Caca sangat pintar memprovokasi orang! Al ingat sekali, bagaimana dengan mudahnya Caca memprovokasi Claude hanya untuk, membuatnya memarahi Alfa. Padahal Alfa tidak salah apa-apa, tiba-tiba saja dia kena amukkan dari Claude.
"Ih ... Sakit tahu, Kak Al!" pekik Caca, mengusap pipinya pelan. Al tampak mengulum senyum, segera menoel-noel pipi Caca dengan gemas. Caca selalu menggemaskan, mau dia memasang ekspresi sejelek apapun akan tetap sama, menggemaskan.
"Sorry ... Ca, Kak Al boleh tanya? Perempuan tadi siapa ya? Kok Kak Al, baru lihat dia ada di Mansion?"
"Oh Kak Lea? Masa Kakak gak ingat, dia Babysitter Ca saat masih kecil loh. Usianya beda satu tahun ama Kakak," sahut Caca. Alfa tampak diam, kembali siapa sosok Lea tersebut.
"Lea ya? Lea itu--"
"Baguslah kalau Kakak ingat. Kak, Caca udah selesai Caca mau main barbie mau ikut gak?" tanya Caca dengan antusias membuat Alfa, tertegun reflek tertawa kecil. Dia baru ingat anak kecil, yang sedang dia ajak berbicara yang layaknya orang dewasa tersebut.
Baru saja berusia sepuluh tahun, tetapi perkataan serta kelakuannya layaknya orang dewasa. Alfa baru ingat, karena yang sejak tadi dia ajak berbicaralah adalah anak-anak.
"Maaf Ca, Kakak gak bisa ikutan. Kakak pria dewasa masa mau diajak main boneka-boneka." Tawa Alfa. Caca tampak cemberut.
"Okelah, kalau begitu. Da, Kak Al sampai jumpa besok ya!" ucap Caca sebelum pergi. Alfa hanya bisa melihatnya pergi, sambil tertawa geli. Dia baru menyadari, bahwa sedari tadi dia berbicara bukanlah bersama orang dewasa sepertinya. Melainkan bersama seorang, anak kecil yang gaya berbicaranya layaknya orang dewasa.
'Caca' gumamnya.
__ADS_1
***
Grand Mall
Setelah menempuh, jarak yang cukup jauh. Dari kedai satu ke, kedai lainnya. Kini Lea sudah bisa bernapas dengan tenang saat ini, Caca meminta dibelikan chicken crispy di kedai Pak Jono. Namun Kedai Pak Jono tutup, padahal ini bukan hari minggu loh.
Lea bahkan, sampai pergi mondar-mandir keluar kedai untuk mencari chicken Crispy kesukaan Caca sang majikan. Dan pada akhirnya, diapun mendapatkannya, segera memborong chicken crispy tersebut.
Claude bahkan, sampai terkejut melihat banyak kantung keresek memenuhi bagasi mobilnya. Dapat dilihatnya, bagaimana penampilan Kak Lea saat ini. Yang tadinya wanita itu tampak, sangat rapi kini penampilannya telah berubah acak-acakan.
Claude, sampai tertawa geli melihatnya.
"Bagaimana Kak?"
"Bagaimana, apanya?" tanya balik Lea, dengan nada kesal. Bukannya menolongnya, pria muda itu justru menertawakannya.
"Mau berjalan-jalan dulu? Atau langsung, pulang?" tanya Claude. Lea tampak diam, sambil memikirkan Caca yang pasti sudah sangat lama menunggu kedatangan mereka.
"Kakak tidak, perlu khawatir. Caca sudah selesai sarapan dan sekarang, dia sedang bermain bersama Kak Al," sahutnya. Lea seketika melongo, dibuatnya. Apakah Tuan Muda Claude seorang cenayang? Sehingga bisa membaca pikirannya saat ini? Lea benar-benar dibuat takjub, oleh pria muda yang kini berstatus sebagai kekasih kencannya?!
Benar-benar hal, yang mengejutkan. Dia bahkan hampir lupa, jika sekarang dia dan Tuan Claude selayaknya pasangan seperti di luaran sana.
"Tapi--"
"Ayo Kak, jangan membuang-buang kesempatan yang bagus ini. Aku ingin, membuat momen terindah kita berdua lalu mengingatnya sepanjang hidupku, jika suatu saat kita tidak bisa bersama, aku ..." Claude menghentikan ucapannya sejenak sambil memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Dia terlihat sedih, dan Lea melihatnya. Sangat jelas, bahkan Lea sampai terkejut ketika melihat sesuatu tampak membasahi bawah mata pria tersebut.
***