
"Ada apa Kak? Mengapa tiba-tiba," lirihnya sendu, menatap intens pada Kakaknya yang kini duduk bersandar di sofa yang beberapa saat lalu, diduduki oleh Kak Lea.
"Kau benar-benar tidak sabaran ya, baiklah aku mengerti karena besok adalah hari spesial untukmu. Kali ini, kita impas!" sahutnya. Caca mendengus kesal mendengarnya, Kakaknya itu memang selalu menyebalkan.
"Kakak, langsung ke intinya saja! Jangan berbelit-belit aku sudah kelaparan tahu!" kesalnya. Karena sedari tadi, Kakaknya itu telah memancing kemarahannya dengan cara mengalihkan topik mereka. Padahal Caca sudah, menangkap raut ketegangan di wajah tampan Kakaknya tersebut.
"Tapi janji, jangan membuat kegaduhan kau mengerti!" Caca pun menganggukkan kepalanya. Claude tampak diam, menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara.
"Kak cepatlah! Lama sekali huh," cibirnya kepada Claude yang terlihat, diam seperti patung hidup.
"Dengar baik-baik, daddy sedang dirawat di rumah sakit dan kau tahu itu bukan? Pasti mommy sudah memberitahukannya kepadamu. Lalu saat ini, keadaan daddy sedang tidak baik-baik saja, beliau hampir saja dinyatakan meninggal--" Claude terlihat menghentikan ucapannya, ketika melihat tubuh mungil Caca yang mulai lunglai dalam sekejap jatuh lemas ke bawah lantai. Claude pun segera Caca, lalu menaruhnya di atas sofa yang kosong.
Terlihat Alfa, yang tiba-tiba saja masuk tanpa dimintai melangkah dengan cepat, dengan Lea yang mengekorinya dibelakang. Lea terlihat cemas, dan khawatir ia bahkan hampir saja terjatuh karena terlalu terburu-buru berjalan. Saking mengkhawatirkan, keadaan Nona Caca yang saat ini jatuh tak sadarkan diri.
"Nona ..." Lirihnya, menatap wajah cantik tersebut yang selalu ceria dan cerewet kini, untuk pertama kalinya pingsan tak sadarkan diri. Dan Lea tak menyangka hal tersebut, padahal baru beberapa menit ia meninggalkan Caca dan Claude. Karena kedua kakak beradik itu ingin, berbicara empat mata saja. Dan Lea pun mengerti, namun saat ia datang kembali ke kamar Nona Caca tiba-tiba saja ia melihat, Alfa yang tiba-tiba masuk kedalam padahal sudah disuruh untuk tinggal diluar sama seperti dirinya.
Dan betapa terkejutnya Lea, ketika melihat Nona Caca pingsan. Untuk pertama kalinya, Lea melihat Caca pingsan tak sadarkan diri. Selama tinggal di Mansion Ricchan, ia sama sekali tidak pernah melihat Caca sampai pingsan seperti saat ini. Gadis itu selalu saja ceria, dengan segala canda dan penuh tawanya. Ia selalu aktif, dalam belajar bermain.
__ADS_1
"Hati-hati Kak, Kakak jangan seperti itu lagi!" peringat Claude kepada Lea. Karena diam-diam Claude memerhatikan, pergerakan Lea sedari tadi.
Sementara Lea, wanita itu tampak diam tak menggubris sama sekali. Karena perhatiannya, tertuju kepada Nona Caca yang saat ini pingsan.
"Claude ... Bagaimana ini? Apakah akan--"
"Kakak tidak perlu, khawatir. Caca akan baik-baik saja, dia hanya syok palingan sebentar juga sadar!" sahut Claude ketika menangkap raut, kekhawatiran memenuhi wajah cantik Lea. Yang pada saat ini, tampak cantik dan segar menggunakan gaun tanpa lengan, sebatas lutut beserta cardigan senada, dengan warna gaunnya. Serta rambut panjang yang tampak, tergerai indah diterpa angin malam.
"Claude, ini tidak baik. Sebaiknya kita memanggil Dokter!" saran Alfa yang sedari tadi diam, kini mulai buka suara. Raut khawatir terlihat jelas, di wajah tampannya membuat Lea, seketika tanpa sadar tersenyum membuat Claude yang tatapannya masih, terpaku dan mengagumi wanita tersebut kini berubah kesal.
Lea tersenyum, hanya karena ia begitu terharu mendengar perhatian Alfa kepada Nona Muda Caca. Walaupun Lea tahu, perhatian itu hanya sebatas kakak dan adiknya saja. Tetapi setidaknya Alfa mengkhawatirkan Caca, dan mempedulikannya.
"Tidak usah Kak, Caca akan segera sadar! Aku yakin. Dia hanya pingsan sebentar kok." Sahutnya santai seraya berjalan, menuju ke sisi kasur sembari melambaikan tangannya kepada Lea. Agar segera mendekatinya. Wanita itu tampak diam, tak bergeming, namun tatapan pria itu kepadanya benar-benar membuat dirinya seketika patuh. Tanpa sadar, ia melangkahkan kakinya mendekati Claude yang terlihat tersenyum tipis tanpa sepengetahuannya.
'Sial, kenapa aku bisa menurutinya huh, benar-benar menyebalkan,' makinya dalam hati. Mereka bertiga pun, seketika diam sembari menunggu Caca sadar. Sesuai perintah Claude tadi, padahal Alfa baru saja ingin menelepon Dr. Dimas, Dokter pribadi keluarga Ricchan sekaligus teman dekat mereka untuk kemari. Namun Claude, memerintahkan kepadanya agar tidak usah memanggil, Dr. Dimas sebab Caca hanya pingsan bukan sakit ujarnya seperti itu membuat Alfa seketika mendengus kesal.
Apa salahnya, jika ia memanggil Dr. Dimas untuk memeriksa keadaan Nona Caca sekalipun ia pingsan.
__ADS_1
"Da--daddy ..." Lirihnya, perlahan membuka matanya menatap sekelilingnya yang terlihat, masih buram. Hanya suara kekhawatiran orang-orang saja yang ia dengar, mereka memanggil namanya seraya mengucap syukur. Padahal dia hanya pingsan saja, sampai sebegitunya mereka mengkhawatirkannya.
"Daddy, dimana Kakak? Aku ingin bertemu Daddy!" histerisnya membuat Lea, seketika mendekap tubuh mungil itu perlahan. Mengusap jejak-jejak air mata, yang menggenangi bawah mata tersebut.
"Caca, tenanglah sayang. Kau baru sadar loh, jangan terlalu banyak bergerak, mau Kakak buatkan jus? Atau susu?" tanya Lea kepada Caca. Nona kecil itu, terlihat diam dengan tatapan datarnya mengarah ke semua orang. Ia terus saja memanggil nama daddynya sedari tadi, sambil terus terisak membuat Claude mengiba namun ia, tidak memperlihatkannya, secara terang-terangan.
"Kak Lea, bawa aku menemui daddy! Aku ingin menemuinya Kakak," lirihnya memeluk pinggang Lea, dengan erat. Tampak baju yang Lea pakai, seketika basah akibat air mata Nona Caca. Namun Lea tidak mempedulikan hal tersebut, ia harus menenangkan Nona Caca, dan menyakinkannya, bahwa Ayahnya akan baik-baik saja.
"Sabar ya, Caca jangan menangis! Daddy mu akan baik-baik saja percayalah. Sebaiknya Caca sekarang makan, sedari tadi Caca belum makan bukan? Jadi ayo makanlah terlebih dahulu," pintanya meraih mapan yang berisi sepiring makanan, hendak menyuapinya kepada Caca. Namun Caca, tiba-tiba saja mendorong mapan tersebut hingga jatuh ke lantai, hingga nyaris mengenai kaki Lea.
Untungnya Lea, cepat menghindar. Jika tidak kakinya yang mulus itu akan berubah warna, karena terkena pecahan yang berasal dari piring tersebut.
"Aku tidak mau makan, aku mau menemui daddy. Daddy pasti menungguiku Kak! Katamu, daddy baik-baik saja! Tapi kenapa sekarang daddy!" pekiknya lirih, menatap intens kepada kakaknya.
Claude tampak diam, ia memang bersalah disini. Claude tak pernah berpikir, bahwa Caca bukan lagi anak yang berusia tiga tahun yang bisa dengan mudah dibohongi. Anak itu sudah bisa, membedakan yang mana benar dan yang mana sedang berbohong.
Selama ini, Caca selalu diam dengan tingkah polosnya dan manjanya. Namun ia tidak bisa dibohongi begitu saja, ia tahu selama ini Kakaknya itu telah membohonginya tentang keadaan ayahnya yang sedang tidak baik-baik saja. Demi membuat dirinya, tidak khawa
__ADS_1