
"Kalau begitu, berjuanglah!"
"Maksud, Kakak? Coba katakan ulang, Kak! Aku tidak terlalu jelas mendengarnya."
"Tidak ada, siaran ulang Tuan Muda. Sebaiknya Anda tidur sekarang! Ini sudah sangat jauh malam," ujar Lea. Claude terlihat mengerucutkan bibirnya kesal, sebab Lea malah menyuruhnya untuk segera tidur. Padahal pria itu, sudah tidak mengantuk lagi gara-gara, ingin sekali mendengar jawaban Lea atas dirinya.
"Kak, jangan membuatku tidak bisa tidur malam ini." Kesal Claude, menghentakkan kakinya membuat Lea terkekeh pelan menanggapinya. Perlahan Lea, menggapai tangan kekar Claude lalu menautkannya tangannya dan, tangan Claude hingga membuatnya, terdiam dengan tatapan bingung menatap aneh kearah Lea yang terlihat, tersenyum.
Ketika tangan mereka berdua, menyatu. "Kak, apa maksudnya ini?" tanya Claude, kepada Lea ketika tangan keduanya menyatu.
Lea tersenyum, lalu berkata, "Aku Lea, akan menautkan tanganku seperti ini, hanya dengan Claude Ricchan. Selamanya! Hanya aku yang bisa, menautkan tanganku denganmu, tidak dengan orang lain." Lea terlihat, menatap intens kedua bola mata Claude, yang terlihat teduh menatapnya.
Awalnya Claude, tidak mengerti dengan ucapan Lea namun, ketika ia mencernanya kembali. Seketika juga Claude, tersenyum bahagia! Kini dia sudah tahu, jawabannya!
"I love you, Kak!"
"Love you too." Balas Lea, membuat Claude terkejut mendengarnya. Ia merasa tidak percaya, akan ucapan Lea barusan yang mengatakan jika dia mencintainya balik dalam bahasa Inggris.
"Kakak! Apakah, ini hanya mimpi? Jika benar mimpi maka jangan bangunkan aku Kak!" hardiknya membuat, Lea tersenyum malu.
"Ini nyata Tuan Muda, silakan Anda tidur! Kan Anda sudah tahu, apa jawabannya. Janji harus di tepati!" sungut Lea, membuat Claude terkekeh pelan.
"Baiklah, Nona manis. Tapi ada syaratnya," sahut Claude tersenyum penuh arti. Membuat Lea memutar bola matanya malas.
"Apa? Biar mau tidur, pakai syarat-syarat segala!" cerocos Lea.
"Cium!"
"Apa?!" Lea tampak, membulatkan kedua matanya dengan sempurna ketika mendengar perkataan melantur dari Claude.
Dengan cepat, Lea menolaknya.
"Tidak mau! Tidur kalau tidak, Kakak tidak akan mau berbicara denganmu selamanya!"
"Jangan, Kak. Oke ... Aku tidur! Tapi cium dulu boleh? Disini saja Kak, please." Pintanya dengan wajah memelas, menunjuk pipinya bagian kanan. Lea yang melihatnya hanya bisa diam, dengan menggigit bibir bawahnya sungguh permintaan yang konyol gumamnya.
"Tidak mau! Kalau, begitu selamat malam Kakak per--"
Chup!
__ADS_1
"Claude!" pekik Lea, terdengar sangat nyaring tatkala pipinya di cium, oleh Claude.
"Haha ... Lihatlah, wajah Kakak memerah. Kakak menyukainya?"
"Apanya? Tidak! Siapa, yang akan suka jika kau menciumnya tanpa izin. Sudahlah selamat malam," ucap Lea segera bergegas keluar, dari kamar Claude dengan membawa mapan sembari terbirit-birit.
Membuat Claude, yang melihatnya tertawa kecil.
'Dia wanitaku, yang manis,' batinnya, tersenyum senang melihat punggung Lea yang sudah menghilang dari balik, pintu.
***
Sementara di tempat lain, tampak seorang wanita cantik tengah duduk di atas ranjang, dengan kedua pipi yang merah merona. Wanita itu tidak lah lain, adalah Lea.
Sedari tadi, ia mencoba untuk tidur namun. Lea tidak bisa tertidur sama sekali, dia bahkan sudah memutar banyak lagu agar bisa tertidur namun nyatanya Lea tidak bisa tidur juga.
Bukan hanya itu saja, Lea pun sudah mencoba cara lain agar bisa tidur dengan menghitung domba namun cara itu pun, tidak ada ampuh baginya. Yang ada Lea, malah tidak bisa tertidur memikirkan hari esok.
Dia benar-benar, ingin menghilang besok. Tapi kemana? Apakah dia harus berpura-pura sibuk, agar tidak ketemu hari esok?
Tidak! Bukan hanya hari esok saja, masih banyak hari-hari lainnya yang harus Lea temui. Benar-benar membuatnya pusing memikirkannya. Apalagi, Claude! Oh tidak, pria itu sudah Lea resmikan sebagai teman kencannya!
Lea telah, berkencan dengan seorang pria muda! Lebih tepatnya berondong tampan, yang berstatus sebagai Tuan Mudanya sendiri. Tidak bisa terbayangkan bukan, bagaimana hati Lea saat ini.
"Argh ... Bisa-bisa, aku gila memikirkannya. Ya Tuhan, bagaimana caranya agar aku tidak bisa bertemu dengannya besok? Apakah aku harus, berpura-pura sibuk dulu? Tidak-tidak, Claude pasti akan berpikir jika aku, pembohong. Ya Tuhan ini benar-benar, berat. Aku harus apa ya?!" sahutnya histeris sendiri, memukul bantal yang tak bersalah di hadapannya lalu melemparnya ke bawah lantai dengan, tidak sengajanya.
"Oh my god, aku hampir lupa! Aku sudah berjanji pada Nona Caca. Ya Tuhan, cobaan apa lagi ini." Gumamnya dengan malas, membuang diri ke atas ranjang berharap bisa tertidur seperti biasanya dan bermimpi dengan indah, hingga hari esok tiba dengan sendirinya.
***
Keesokan harinya ...
Pukul 6.00
Lea, bangun lebih pagi karena harus menyiapkan sarapan untuk, Nona Muda dan Tuan Mudanya.
Kebetulan hari ini, adalah hari minggu. Hari dimana semua orang berlibur, walaupun cuman satu hari, tetapi mereka tidak akan melewatkannya dengan begitu saja. Terutama Lea, yang hari ini akan pergi ke taman bermain bersama Nona Caca sesuai janjinya.
Setelah selesai membuat sarapan, Lea pun segera membangunkan Nona Caca terlebih dahulu. Setelah itu barulah, ke kamar Tuan Mudanya.
__ADS_1
Lea seakan lupa, dengan kejadian malam tadi. Hingga membuatnya tidak terlalu, mempedulikannya.
Seperti saat ini, dia masuk ke dalam kamar Claude tanpa beban apapun. Padahal tadi malam, terlihat sangat jelas bagaimana ekspresinya yang gugup, dan takut tersebut.
"Tuan! Bangunlah, ini sudah pagi. Anda harus bangun! Walaupun ini hari minggu," sahutnya seraya memungut, bantal dan bedcover yang terjatuh ke bawah lantai lalu menaruhnya di tempatnya, seperti sedia kala.
"Kakak ... Sudah, jam berapa?" tanya Claude, yang terlihat masih memejamkan kedua matanya dengan posisi masih, terbaring di atas kasurnya.
"Sudah, jam dua belas siang!" bohong Lea, agar Claude cepat bangun dan tidak bermalas-malasan seperti tadi.
"Really?"
"Iya, cepat bangunlah. Setelah itu bersihkan dirimu lalu turun kebawah, sarapan sudah tersedia." Titah Lea, namun Claude masih berbaring tanpa berniat mau bangun.
Lea yang melihatnya, hanya bisa, menggelengkan kepalanya saja. Melihat betapa malasnya, Tuannya itu ketika pagi di hari minggu.
"Bangunlah, Nona Caca sedang menunggumu di bawah! Claude kau mendengarkan aku, atau tida--"
Chup!
Ah!
Pekik, Lea histeris segera mendorong tubuh Claude yang tiba-tiba saja mencium wajahnya tanpa seizin darinya.
"Claude! Apa yang kau, lakukan?!"
"Morning Kiss, Kak! Masa Kakak tidak tahu? Kakak berpura-pura tidak tahu ya?" tanyanya terdengar, kecewa sebab Lea melupakan sesuatu hal yang istimewa baginya.
"Morning Kiss? Maksudmu ap--"
Hap!
'Matilah aku! Kenapa aku, bisa lupa! Ya ampun Lea, mengapa kau pelupa sekali,'
Lea terlihat, diam dengan satu tangan menutup mulutnya. Ia terlihat terkejut, sangat terkejut hampir saja melupakan sesuatu jika dia dan Tuan Mudanya, Claude sudah resmi kencan!
Sementara Claude, pria muda berkaos putih itu terlihat kecewa karena Lea melupakan sesuatu hal yang istimewa baginya hari ini.
***
__ADS_1
Maaf baru, bisa Update 💕 In Syaa Allah, update tiap hari lagi.
Jangan lupa dukungannya, jika menyukai karya ini.