
"Apa? Apakah aku salah dengar? Sepertinya, aku salah dengar!" ungkap Lea, sembari memasang wajah acuhnya yang tadinya khawatir karena Claude tiba-tiba saja mendiamkan dirinya karena kejadian tadi. Namun rasa khawatir tersebut, berganti dengan rasa kesal mengingat kembali kejadian yang telah terjadi tadi.
Ingin rasanya Lea tertawa, namun ia harus menahan tawanya tersebut. Lea berpura-pura marah kepada Claude, ia ingin membalas kekesalan hatinya tadi karena Claude telah berani membuatnya malu dihadapan semua orang.
Sementara Claude, pria itu tampak sangat kusut keringat dingin terlihat membasahi pelipisnya. Dia merasa gugup, entah mengapa tiba-tiba saja ia berkeringat dingin bahkan, Claude merasa dirinya tiba-tiba saja menjadi gugup dan salah tingkah.
Lea yang menyadarinya, hanya bisa menahan rasa ingin tawanya ketika menyadari bahwa Tuan Claude menjadi salah tingkah, bahkan Lea bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Claude mengusap buliran-buliran, keringat yang membasahi pelipisnya saat ini.
Jarang-jarang, ia melihat Tuan Muda Claude sampai mengeluarkan keringat dingin seperti saat ini.
"Maafkan, aku Kak." Lirihnya lagi, tiba-tiba saja berbalik menghadap kearah Lea sembari menggeser tubuhnya mendekat kepada Lea, yang terlihat tegang, tiba-tiba saja Lea merasa jantungnya berdebar dengan sangat kencang didalam sana.
Semakin Claude mendekat, semakin membuat Lea tak tahan sebab jantungnya saat ini berdebar dengan sangat kuat bahkan lebih, kuat dari yang sebelumnya. Lea tidak pernah berdebar seperti ini, untuk pertama kalinya ia merasakan debaran sekuat dan sekencang yang saat ini ia rasakan.
"Tuan Muda, stop! Jangan mendekat!" pekiknya ketika melihat Claude, hendak menggapai tangannya sembari memasang wajah sendunya, kepada Lea, membuat perasaan Lea benar-benar tak karuan dibuatnya.
Lea pun, segera menggeser tubuhnya sedikit menjauh. Namun pada akhirnya diapun pasrah, ketika Claude menarik pinggang rampingnya lalu memegang pinggang ramping tersebut yang terbalut oleh dress yang ia kenakan. Tatapan keduanya beradu pandang, mencoba menyelami yang berada didalamnya. Mereka seakan, tengah berbicara, mengeluarkan semua uneg-uneg yang mereka tahan sedari tadi, hanya lewat tatapan saja.
__ADS_1
Terpaan napas segar berbau harum mint, dapat Lea rasakan menyapu lembut wajahnya. Lea benar-benar sudah tidak berdaya, apalagi ia ingin memaksa Claude untuk melepaskan tangan kekar, milik pria tersebut, yang saat ini sedang memeluk pinggang miliknya. Namun semuanya tidak ada, apa-apanya lagi sebab Claude bukannya melepaskan ia malah, semakin erat memeluk pinggang Lea lalu menarik Lea agar lebih mendekat kepadanya.
Membuat hidung mancung keduanya, saling bersentuhan.
"Maafkan Aku Kak, aku tidak bisa mengontrol emosiku. Laki-laki tadi berani sekali, merangkul Kakak dan Kakak juga, telah berani merangkulnya! Kakak ingin memancing ku ya?!" geramnya, sembari mengusap wajah Lea, secara perlahan. Lea tidak menolak, dia memilih diam saja membiarkan Claude berbuat sesukanya, selagi tidak berbuat lebih jauh.
Jika singa sedang dalam mode marah, jangan sekali-kali memancingnya. Bisa saja kau dilahap hidup-hidup olehnya, terlebih lagi singa modelan pria yang satu ini pastinya semua orang akan menghilang entah kemana, hanya mendengar namanya saja.
Lea saja, sampai menyesal karena telah ikut bersama pria tersebut jika tahu akan terjadi hal seperti ini. Jika Lea tahu, mana mungkin dia akan ikut bersama Claude lebih baik dia naik taksi saja atau tidak, menyuruh salah satu bodyguard di Mansion untuk mengantarnya.
'Jauhkan tanganmu, monster gila,' pekiknya membatin menatap tangan kekar Claude, yang tiba-tiba saja meraih kedua bahunya. Lea benar-benar gemetaran sekarang, apalagi merasakan seseorang tengah menenggelamkan kepalanya, diceruk leher miliknya. Ingin rasanya Lea berteriak, lalu menangis dia merasa dirinya bagaikan seorang wanita malang, yang tengah menjual diri kepada seorang pemuda muda kaya raya.
"Lea kau tidak boleh lemah, jangan lemah aku mohon jangan lemah!" gumamnya lirih, menahan sesuatu yang ingin jatuh dari pelupuk matanya. Ketika merasakan Tuan Muda, memeluknya lebih erat Lea bahkan sampai meringis kesakitan ketika merasakan bukan hanya pelukan saja, yang ia rasakan.
Sesuatu yang kenyal dan basah, dapat ia rasakan menyentuh bagian da*anya meninggalkan, sesuatu hal yang Lea tidak tahu. Karena ini pertama baginya, dia bisa sedekat ini dengan seorang pria.
Ingin rasanya dia berteriak, dan memaki pria tersebut. Namun rasanya bibirnya seketika, tidak dapat ia gerakan. Hatinya memintanya, untuk menghentikan segalanya, namun berbeda dengan tubuhnya yang merespon segalanya. Lea benar-benar merasa, seperti kehilangan akal saat ini, apalagi Claude terus saja melancarkan aksinya memberikan sebuah jejak kepemilikannya.
__ADS_1
Hingga pada akhirnya, suara tangisan seseorang dapat menghentikan aksinya tersebut. Claude menoleh, mendongakkan kepalanya menatap, wajah Lea yang saat ini basah akan buliran-buliran air mata yang menggenanginya, dengan kedua mata yang terpejam erat.
Membuatnya seketika merasa sangat bersalah, ia benar-benar hilang kendali tadi. Saking emosinya mengingat kejadian yang sudah satu jam, terjadi. Ada rasa takut tersendiri dihatinya, Claude takut jika Lea berpaling darinya.
Dia takut, Lea benar-benar pergi darinya, bolehkah Claude egois dia benar-benar menginginkan Lea, selalu berada di sampingnya, dia benar-benar mencintai wanita itu.
Wanita yang jauh, lebih tua dibandingkannya. Orang-orang mungkin, berpikiran jika cintanya hanyalah cinta monyet karena mengingat usianya yang masih sangat muda, dan masih bersekolah tersebut. Membuat orang-orang pasti, berpikiran yang negatif namun Claude tidak pernah peduli akan hal tersebut, ada orang pernah mengatakan jika umur hanyalah angka. Tidak akan menjadi sebuah hambatan untuk seseorang, yang ingin bersama dengan kekasih hatinya walaupun umur mereka berdua berbeda.
"Maafkan Aku, Kak ... Aku--" Claude hendak mengusap air mata yang membasahi wajah cantik tersebut. Namun Lea, dengan kasar menepis tangannya yang hampir saja menyentuh kembali wajah cantik milik Lea.
Tatapan Lea benar-benar terluka, aksi Claude tadi benar-benar tercela baginya! Bagaimanapun dia bukanlah, wanita yang seenaknya bisa diperlakukan seperti itu. Walaupun dalam keadaan marah, seharusnya Claude tidak melakukan hal tersebut bagaimanapun Lea adalah seorang wanita.
Lea benar-benar kecewa, dia benar-benar marah. Claude terlihat sangat terkejut, ketika merasakan tangannya ditepis dengan kasar oleh Lea. Hatinya benar-benar terluka, hanya ada rasa sesal dihatinya seharusnya ia bisa mengontrol kemarahannya tadi agar tidak berbuat yang lebih, kepada Lea.
Ditatapnya wajah cantik tersebut, yang terlihat menatapnya dengan guratan penuh akan kekecewaan serta kesedihan. Claude tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena Lea tidak mau mendengar sebuah penjelasan lagi darinya.
'Argh! Bodohnya aku, andai semuanya tidak terjadi. Mungkin kami akan berkencan saat ini,' batinnya menyesal, seraya menjambak rambutnya kasar menatap pada Lea yang membelakanginya enggan menatapnya lagi.
__ADS_1
***