
"Ini Kak Le--"
"Astaga! Claude kau mengagetkan saja!" pekik Lea, ketika merasakan tangan kekar seseorang tiba-tiba saja menariknya masuk dengan begitu saja.
"Maaf, abisnya Kakak begitu menggemaskan," puji Claude.
Membuat Lea kesal, reflek memukul pria tersebut.
"Jangan berbicara seperti itu, bagaimanapun aku lebih tua darimu tahu." Celetuk Lea.
"Maaf, ini cuman candaan Kak. Ngomong-ngomong Kakak mengapa, datang ke kamarku?"
"Kimberly! Katakan, kau melakukan sesuatu hal yang membuat Kimberly kecewa dan pergi?" tanya Lea dengan nada mengintimidasi.
"Tidak, memangnya kenapa?" tanya Claude balik, dengan sangat acuh. Rasanya begitu menyebalkan jika Kak Lea, membawa nama gadis lain ketika mereka sedang berdua.
Semuanya membuat mood, Claude yang tadinya baik karena perempuan pujaannya datang ke kamarnya seperti katanya, tetapi yang membuatnya kembali badmood wanitanya malah membicarakan gadis lain. Benar-benar Kak Lea, tidak peka terhadap perasaannya membuat Claude gemas sendiri.
"Really? Jangan berbohong Claude, Kakak tahu sekali bagaimana sikapmu itu." Balas Lea balik.
Membuat Claude, semakin badmood dan memutuskan untuk melakukan hal diluar dugaan Lea. Karena wanita itu terlalu, banyak bicara sedari tadi.
"Clau--"
Bruk!
Deg!
"Kak Lea, bisa tidak diam? Aku jadi ingin memakan, kakak hidup-hidup!" bisik Claude. Membuat Lea seketika merinding.
Apalagi dengan Claude, yang saat ini menyudutkan tubuh keduanya didinding. Membuat Lea panas dingin sendirinya.
"Claude! Menjauhlah!" pekik Lea. Membuat Claude semakin gemas untuk mengerjai Lea, bahkan saat tangan pria itu sudah berada di bahu Lea.
"Ya ampun, anak ini! Cepat menjauh, Kakak harus segera pergi takutnya Caca sendirian!" ucap Lea. Tetapi Claude tak mengindahkannya, dia malah sibuk dengan kegiatannya sendiri.
"Claude! Dengar Kakak tidak?" tanya Lea kesal. Lea merasa kesal sendiri, rasanya dirinya tengah berbicara dengan patung sedari tadi, dan bukan Tuan Muda.
__ADS_1
"Kak Lea, jangan marah ya. Ta da, sudah Kakak sudah bisa keluar sekarang!" tukas Claude.
Membuat Lea diam, lalu menatap kearah tubuhnya. Tampak pakaiannya, menjadi tak bermodel usai diganggu oleh Claude.
"Oh ya ampun, pakaian Kak Lea kenapa jadi begini? Claude!" pekik Lea lagi. Kali ini dia benar-benar sangat marah, pakaiannya benar-benar tak bermodel lagi. Padahal Lea begitu menyayangi pakai yang tengah dia pakai itu.
"Maaf Kak, aku hanya mengubahnya sedikit. Biar tidak membuat orang sakit mata jika melihatnya," ungkap Claude cengengesan. Membuat Lea semakin geram.
"Apanya yang sakit mata!" kesal Lea, mencubit gemas kedua pipi Claude.
Membuat Claude, membalas cubitan Kak Lea dengan menarik tangan Kak Lea lalu mengecupnya. Membuat Lea kaget, dan reflek menarik tangannya segera.
"Jangan seperti itu, lagi oke! Kakak tidak ingin, kesalahan pahaman terjadi disini!" tegas Lea segera pergi.
Membuat Claude diam, dengan frustasi. Mengapa Kak Lea, selalu menolak dirinya padahal cukup apa lagi Claude. Walaupun warisan keluarganya, belum menjadi miliknya tetapi sudah sangat jelas namanya sudah tertera di sana.
'Kak Lea! Bagaimanapun caranya, aku akan membuat Kakak menjadi milikku selamanya, Kakak harus berada di sampingku, kita bersama-sama akan bersatu menjadi sebuah hubungan yang tidak akan pernah usai,'
Tampak Claude, mengepalkan kedua tangannya. Itulah ambisinya saat ini, menjadikan Lea sebagai istri sebuah tekat, yang tidak tahu akan terjadi atau tidak. Yang pastinya Claude, tidak akan pernah mau menikah jika pengantin wanitanya bukanlah Lea seorang.
***
Tampak seorang wanita, sedang menangis sesegukan didalam kamar miliknya. Sambil memeluk sebuah bingkai foto, yang memperlihatkan sebuah keluarga yang dulunya sangat harmonis. Dan tampak senyum, mengembang seorang gadis kecil, yang dulunya adalah orang paling bahagia sedunia. Perlahan-lahan, dunia tersebut hancur berkeping-keping menyisakan gadis malang.
"Tiga hari lagi! Kita akan berpisah, rasanya aku tidak sanggup. Mereka adalah duniaku, aku tidak ingin berpisah dengan mereka tapi apalah daya kontrak ku sudah habis. Apa aku memperbaruinya saja? Tidak! Rasanya tidak mungkin, nyonya besar pasti akan menentang apalagi dia sudah mengetahui segalanya." Lirihnya, dengan sendu.
Segera membersihkan wajahnya, yang terlihat sembab akibat menangis.
"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi aku masih ingin berada disini. Rasanya sangat berat untuk meninggalkan semuanya, apalagi aku sudah sangat nyaman bekerja di profesi ini. Rasanya sedih sekali, tapi mau bagaimana lagi!" lirih Lea.
Ya wanita itu, adalah Lea. Sedari tadi, dia menangis merenungi segalanya. Sudah usai masa kontraknya, tinggal menghitung hari lagi tepatnya dihari ulang tahun Nona Caca, diusianya yang sudah sepuluh tahun. Artinya gadis kecil itu, sebentar lagi akan bertumbuh dewasa dan sudah saatnya Lea berhenti, karena tugasnya telah selesai.
Lea pun, bekerja di dalam keluarga konglomerat ini sudah sangat lama. Waktu Caca masih telungkup dulu, Lea ditawari untuk bekerja sebagai Babysitter untuk merawat Bayi kecil keluarga Ricchan. Dan Lea menerimanya, pas sekali penawaran tersebut datang disaat dirinya sedang membutuhkan uang. Gajinya pun, sangat besar apalagi yang akan dia jaga adalah dua orang penerus keluarga Ricchan dan Gabriella.
Dan pada saat itulah, Lea untuk pertama kalinya bertemu seorang bocah kecil yang sangat tampan, dan pendiam. Apalagi kedua bola mata, milik bocah itu menatapnya dengan begitu intens. Membuat Lea gemas sendiri, jika mengingatnya.
"Ya ampun, berapa lama aku menangis? Huh mataku sepertinya bengkak. Bagaimana ini?" gumam Lea.
__ADS_1
Tiba-tiba saja, terlintas dibenak Lea ingin memakai makeup untuk menutupi matanya yang bengkak, tetapi baru saja ingin mencuci muka tiba-tiba saja, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Membuat Lea segera membukanya, apalagi ketukan tersebut terdengar sangat keras.
Sehingga membuat Lea ingin sekali marah, tetapi ketika melihat siapa orang yang mengetuk pintu tersebut. Membuat Lea langsung membuang jauh-jauh, keinginannya.
"Ny--nyonya besar!" pekik Lea dengan suara tertahan. Melihat sosok tersebut, rasanya Lea seperti ingin cepat-cepat menghilang dari muka bumi. Apalagi wajah wanita parubaya itu, yang jutek membuat Lea seketika menunduk.
Sudah cukup, harga dirinya dijatuhkan pada saat itu. Lea sadar diri, untuk bersanding dengan mereka jadi tidak usah lagi menjatuhkan harga dirinya tanpa disuruh pun, Lea akan menjauhi keluarga ini.
"Kita perlu bicara berdua, ini menyangkut Claude!" tekannya. Membuat Lea seketika menelan salivanya dengan sangat susah payah.
Dengan terburu-buru Lea, segera memakai cardigan miliknya lalu mengikuti langkah nyonya besarnya. Dan tak sengaja berpapasan, dengan Tuan Muda Claude.
Claude tampak tampan, dengan balutan switer dikenakannya, dan tanpa kenal tempat menyapa Lea tanpa canggung. Membuat Lea, baik Nyonya Veronica menatap kepadanya.
"Hai, Kak. Kenapa terburu-buru? Ingat tangan Kakak masih belum sembuh," ucap Claude. Lea hanya menanggapinya dengan secuil senyum, lalu segera menunduk. Sementara Nyonya Veronica, segera pergi dengan diikuti para pengawalnya.
Lea pun segera menyusul, tetapi Claude malah menghentikannya.
"Kakak, mengapa mengikuti dia?" tanya Claude.
"Dia siapa?"
"Mommy ku, apakah Kakak punya masalah sama dia?" tanya Claude.
"Tidak, memangnya salah jika aku mengikuti majikan ku?" tanya Lea balik, sembari melepaskan tangan Claude yang sedang menggenggam tangannya.
"Tapi rasanya sangat aneh, kenapa tiba-tiba mom pulang. Bahkan wajahnya, seperti sedang menahan emosi? Tunggu sebentar, jangan bilang jika mom ingin memecat Kak Lea!" geram Claude.
Membuat Lea, serasa ingin menyumpal mulut pria tersebut.
"Anak ini, pergilah! Dan jangan, ganggu Kak Lea dulu ya." Ujar Lea.
Dengan tergesa-gesa, segera menyusul Nyonya Veronica menuju ruangannya. Meninggalkan Claude yang diam, dengan kedua tangan mengepal erat. Claude tahu, jika Lea sedang menyembunyikan sesuatu hal darinya terlihat dari gerak-geriknya membuat Claude curiga.
Dan memutuskan, untuk diam-diam menyusul sembari mendengarkan. Dia tahu betul, watak mommynya bagaimana.
Mommynya, adalah perempuan baik. Tetapi mommynya tidak pernah, mau jika Claude berhubungan dengan orang lain dia hanya ingin, Claude berhubungan dengan perempuan pilihannya. Dan Claude tidak suka itu, apalagi jika dijodoh-jodohkan, Claude tidak akan segan-segan menghancurkan perjodohan tersebut.
__ADS_1
Baginya, dia tidak akan mau menikah dengan perempuan yang tidak dia cintai. Mau secantik, sebaik apapun perempuan tersebut.
***