
Mansion Utama Ricchan
Sesampainya mereka, lima orang pelayan datang segera membantu mengeluarkan barang belanja yang Nona Lea beli, untuk persiapan ulang tahun Nona Caca. Lea tampak sangat capek, dia bahkan sampai hampir terjatuh tadi, untungnya ada Claude yang setia membantunya untuk tetap berdiri.
"Melelahkan sekali!" sahutnya, melangkah masuk kedalam Mansion, dengan membawa satu kantong somay yang baru saja dia beli tadi didepan jalan, menuju ke Mansion. Dia membeli somay tersebut, penuh dengan paksaan loh, dan pada akhirnya Claude pun luluh dan dia sendiri yang turun dari mobil, untuk membelikan Lea somay sesuai keinginannya Lea, yang menginginkan somay pedas.
Lea sudah sampai didalam Mansion, dia menatap sekitarnya dengan sangat intens. Mansion tampak sangat sepi, sepertinya sebagian penghuni di dalamnya sudah tertidur termasuk Nona muda Caca. Beginilah kehidupan orang kaya, mereka diatur dengan waktu, dan selalu tepat waktu tidak seperti dirinya yang selalu membuang-buang waktu.
"Eh, suara siapa itu?" gumam Lea, tak sengaja mendengar suara wanita dari lantai atas.Dia sempat berpikir jika, suara tersebut berasal dari para pelayan wanita yang belum tidur. Tetapi dugaannya itu salah, suara wanita itu terdengar semakin besar dan terdengar lirih bahkan dia mendengar suara tangisan. Dengan tergesa-gesa Lea berlari ke lantai atas, menaiki tangga dengan wajah yang sangat khawatir. Takut saja, Caca yang menangis sambil mencari-cari dia.
Sesampainya Lea di atas, dia tidak menemukan siapapun. Sepertinya ada yang salah, bukannya tadi dia mendengar suara tangisan wanita? Tetapi kenapa dia tidak mendengarnya lagi.
"Huh, mengagetkan aku saja," gumamnya membalikkan tubuh, hendak melangkah pergi, tetapi suara seseorang membuatnya berhenti dan segera berbalik. Sepertinya dia mendengar suara seseorang, berada didalam suatu ruangan Lea menjadi semakin penasaran dia segera mencari arah sumber suara tersebut.
*Hah!
Mengapa suaranya menjadi, semakin menjadi-jadi? Apa jangan-jangan, dengan penuh kekhawatiran Lea membuka satu ruangan yang menjadi sumber arah, suara wanita tadi*.
Pelan-pelan Lea meraih gagang pintu, lalu membukanya dengan sangat hati-hati.
Ceklek!
Deg!
Betapa terkejutnya, Lea ketika membuka pintu ruangan tiba-tiba saja dia mendapatkan sebuah kejutan. Seseorang yang dia kenali, adalah Tuan Mudanya tengah berpelukan dengan seorang gadis yang dia ketahui, siapa gadis tersebut. Kimberly, kekasih Tuan Claude. Lea hanya bisa tersenyum getir, memandang pemandangan yang tiba-tiba saja membuat hatinya sesak, padahal dia tidak merasakan apa-apa.
__ADS_1
Apakah dia cemburu? Tentu saja tidak, Lea cukup tahu diri kok. Sepertinya dia harus membiasakan, pemandangan seperti itu kedepannya.
Dengan lesuh, Lea menutup pintu ruangan tersebut dengan sangat hati-hati hingga tertutup rapat, dia tidak mau menganggu sepasang kekasih, yang tengah melepas rindu tersebut. Untuk ungkapan cinta Claude beberapa jam yang lalu, cukup Lea maklumi saja pria muda itu tengah puber. Claude menyukainya, bukan mencintainya. Claude menyukainya, karena dia mempunyai jiwa keibuan yang bisa membuat siapapun nyaman kepadanya.
Claude menyukainya, karena dia selalu baik kepadanya. Lea selalu beranggapan seperti itu, untuk tidak termakan oleh omongan Tuan Muda Claude yang, mengaku mencintainya dengan tulus. Lea tidak pernah percaya akan hal tersebut, karena dia cukup sadar diri.
Mustahil, Claude mencintainya. Tanpa diperjelas pun, orang-orang bisa tahu bahwa Claude menyukainya karena dia memiliki, sifat yang selalu membuat orang disekitarnya nyaman tidak akan pernah lebih dari itu.
Dan Lea, akan mengubur dalam-dalam kenangan mereka itu, foto mereka saat di grand Mall dia menghapusnya. Padahal Lea, ingin sekali mengabadikan momen tersebut, dia bahkan sampai memaksa orang introvert seperti Claude untuk berfoto bersamanya. Dan Claude yang awalnya menolak, berakhir pasrah karena Lea yang terus memaksanya.
Aku ini kenapa sih? Kenapa jadi sedih begini? Seharusnya aku senang, karena Tuan Muda bisa mendapatkan orang yang pantas baginya. Setara dengan dia, lagian aku ini hanyalah remahan rengginang diantara mereka. Oh ayolah Lea, kau harus semangat! Jadikan semuanya pelajaran. Kedepannya aku harus berhati-hati.
Lea membuang napas secara perlahan, melangkahkan kakinya memasuki kamarnya yang berada di lantai bawah. Dia segera membuang diri di atas kasur, sambil memainkan ponselnya mengotak-atik isinya, tanpa sadar waktu berlalu begitu cepat Lea bahkan belum membersihkan diri.
empat puluh lima menit kemudian, kini Lea telah siap dengan menggunakan piyama tidur lengan panjang, dengan rambut yang dia lilitkan handuk berwarna putih, Lea duduk menghadap cermin sambil menjalankan rutinitasnya setiap malam. Setelahnya, dia segera membuang diri di atas kasur menutup tubuh dengan selimut tebal hingga menutupi, seluruh tubuhnya.
Rasanya malam ini, hawanya sangat dingin. Padahal cuacanya lumayan panas siang tadi, Lea segera mematikan lampunya sambil memasang alarm jam bangunnya besok pagi. Dia pun mulai menutup kedua matanya, rasanya kantuk mulai menyerang dia tidak sadar apa-apa lagi. Sudah masuk ke alam bawah mimpi.
Dia tersenyum-senyum sendiri, inilah kebiasaan aneh Lea setiap tidur. Dia akan senyum-senyum sendiri, seperti orang yang tidak waras jika orang lain melihat. Padahal dia sedang bermimpi indah, membayangkan dirinya menikah dengan seorang Pangeran tampan dari kerajaan ... Bla .... Bla
Lea tampak menggeliat, dia sangat nyenyak tidur. Sampai melupakan sesuatu, dia lupa mengunci pintu kamarnya. Saking capeknya dia, sampai lupa mengunci pintunya.
Hingga suara langkah kaki seseorang terdengar, Lea yang saat itu tengah nyenyak bermimpi, tidak merasakan apapun saking nyenyaknya tertidur.
Tab ... Tab ... Tab
__ADS_1
Langkah kaki seseorang terdengar, meraih gagang pintu lalu membukanya dengan sangat berhati-hati, takut seseorang yang sedang terlelap terganggu.
Ditatapnya wajah tenang, yang sedang tertidur tersebut dengan tatapan penuh cinta. Sambil mengulurkan tangannya, mengusap wajah tersebut dengan lembut. Tadinya dia sangat marah! Cemburu! Dia bahkan, sampai mendiamkan wanita tersebut, karena tidak peka terhadap perasaannya.
Wajah cantik itu, sangat tenang ketika sedang tidur bahkan dia dapat merasakan terpaan napas menghantam wajahnya. Rasanya dia ingin, menculik sang wanita lalu menariknya paksa ke KUA. Benar-benar rencana gila! Batinnya menjerit.
Wanita tersebut benar-benar menggoda dirinya, rasanya dia ingin menyudutkannya ke tembok lalu dengan penuh cinta mencumbu setiap inci wajah tersebut, tetapi dia tidak bisa melakukannya sekarang. Tetapi suatu saat nanti, wanita itu menjadi miliknya jangan harap bisa lepas dari dirinya.
Aku mencintai Kakak, bahkan ketika kakak tidak mau mengakuinya pun aku tetap mencintai dan menunggu kakak siap. Ketika waktunya tiba, izinkan aku menikahi kakak, kita akan bersama-sama menghadapi segalanya. Walaupun banyak larangan yang tidak bisa menyatukan kita. Tetapi aku percaya pada kakak, bahwa kakak sama sepertiku. Aku mencintai kakak, dan kakak pasti mencintaiku juga! Akan aku buktikan, bahwa kakak melihatku seorang saja.
Claude bermonolog dalam hati, memandang sang wanita yang sedang terlelap dengan gemas dia mencubit pipi tersebut. Hingga membuat sang empu yang sedang nyenyak tidur, langsung terbangun membuka mata mendapati seseorang tengah tersenyum kearah.
Kesadarannya belum sepenuhnya, tetapi dia bisa menebak siapa orang tersebut yang berani masuk kedalam kamarnya, seperti seorang maling yang tidaklah lain adalah Tuan Muda Claude. Dan Lea hafal sekali, bau farfumnya yang harum menyengat di hidung Lea. Lea merasa sangat, segar dia merasakan tangan seseorang memeluknya dengan erat. Lea belum sepenuhnya sadar, dia membiarkan Claude memeluknya. Karena dia masih beranggapan ini adalah mimpi!
"*Aku merindukan Kakak! Malam ini jangan harap, kakak bisa lari dariku ya!"
Deg!
Bersambung*...
Dari Lea, untuk pembaca.
"Dalam mimpiku aku milikmu, secara nyata kau bukanlah milikku. Biarkan aku tertidur, karena dalam mimpi kau hanyalah milikku."
***
__ADS_1