Babysitter Kesayangan Tuan Muda

Babysitter Kesayangan Tuan Muda
Bab 36. Alfa


__ADS_3

"What?! Kakak berkencan!"


Caca tampak terkejut, hampir saja terjungkal kebelakang jika tidak ada seseorang yang menahan tubuh mungilnya agar tidak terjatuh.


"Kak, Al!" pekik Caca, tambah terkejut. Ketika melihat sosok kekar berdiri tepat dibelakangnya, membuatnya tersipu malu. Wajah pria muda itu sama seperti, wajah kakaknya yang menyebalkan cuman bedanya saja Kak Al, adalah pria dewasa dan matang.


Tidak seperti Kakaknya, yang berlagak sok dewasa. Itu membuat Caca, selalu bergidik ngeri setiap Claude melontarkan perkataannya yang layaknya orang dewasa. Tidak sama, seperti Kak Al, yang memang pria dewasa, diapun sangat tampan walaupun lebih tampanan kakaknya Claude.


Gabriel Alfa Atmajaya, pria muda yang berusia dua puluh tahun. Anak Aunty Daniela, dan almarhum uncle Alfaroz yang telah lama meninggal, sejak umur Alfa berusia enam tahun. Alfa adalah anak dari teman, kedua orang tua mereka dan sekarang ditugaskan langsung, oleh Tuan Besar Renan untuk, mengambil alih sementara perusahaan mereka karena beliau sedang dirawat di rumah sakit.


Sebenarnya, Tuan Renan bisa saja menyuruh Putra sulungnya untuk menggantikannya di perusahaan. Tetapi dia khawatir, dia belum bisa mempercayai Claude untuk mengelola perusahaan selama dia tidak ada. Makanya, dia menyuruh Alfa saja yang menggantikannya sementara waktu, apalagi Alfa begitu pintar mengelola perusahaan.


Bahkan diusianya yang masih muda, dia sudah mendirikan perusahaan sendiri yang bergerak dalam bidang, produksi pangan. Dan sekarang perusahaanya sudah berkembang pesat, atas hasil kerja kerasnya sendiri. Dulunya dia begitu terpuruk, atas kepergian ayahnya namun perlahan ketika usianya bertambah Alfa memutuskan untuk menempuh pendidikan di luar negeri, dibantu oleh Tuan Renan langsung.


Dia sudah menganggap, Alfa seperti anak kandungnya sendiri. Dia bahkan, membiayai semua keperluan Alfa hingga pria itu tumbuh dewasa sekarang.


Alfa sangat menghargai Tuan Renan, beserta para anggota keluarganya. Dia bahkan, menganggap Claude sebagai adiknya sendiri, dan memutuskan untuk membantu Claude untuk belajar tentang perusahaan. Alfa merasa, belum cukup puas untuk membayar segala hutang budinya kepada Tuan Renan yang telah dia anggap sebagai seorang ayah sambung baginya.


Diapun memutuskan, untuk menjadi asisten Claude ketika pria muda itu beranjak dewasa nantinya. Lebih tepatnya dia menawarkan diri, dan Tuan Renan begitu terkejut dengan penawarannya tersebut, dan menjadi pertanyaan sekarang apakah Tuan Renan menyetujuinya? Jawabannya tentu saja tidak!


Namun Alfa, selalu bersikeras memaksa, dia selalu bilang. Jika dia berhutang budi kepada Tuan Renan, dan Alfa tidak akan tenang jika keinginannya tersebut tidak disetujui oleh Tuan Renan sendiri. Awalnya Tuan Renan, agak sedikit khawatir ketika Alfa tiba-tiba saja menawarkan diri.

__ADS_1


Dia pasti, harus menimang-nimang keinginan pria tersebut. Karena Tuan Renan pun, sempat berpikir di luaran sana banyak sekali penjilat, dia takut salah pilih sekretaris untuk menemani Claude mengelola perusahaan kelak nanti. Makanya dia mengambil segera mengambil keputusan, diapun menyetujui keinginan baik Alfa.


Dan Alfa, begitu senang. Akhirnya dia lega sekarang dia akan bersungguh-sungguh, membimbing Claude hingga pria itu bisa mengelola perusahaannya sendiri. Karena Alfa, tidak akan selamanya berada di samping pria tersebut.


"Kak Alfa! Kakak kapan datang?! Kenapa, gak bilang-bilang?" tanya Caca, dengan antusias sambil memeluk Alfa tanpa menghiraukan tatapan Kakaknya, kepadanya. Sementara Alfa, pria muda itu hanya berdiam diri, ketika Caca tiba-tiba saja memeluknya.


Dia diam mematung, tanpa membalas pelukan Caca. Caca yang merasa pelukannya, tidak dibalas segera menguraikan pelukannya lalu, menatap wajah tampak tersebut yang terlihat datar, tanpa ekspresi apapun.


Aish ... Kak Alfa, gak pernah berubah selalu saja datar kek tembok. Duplikat Kakak, tapi kakak masih bisa tersenyum walaupun agak kaku, tapi dia--


Caca memaki dalam hati, bibir kecil itu berkomat-kamit. Kesal? Tentu saja!


Rasanya dia ingin sekali berteriak, sekencang-kencangnya. Ketika dia diacuhkan, begitu saja oleh dua orang pria yang satu berstatus sebagai kakaknya, sementara yang satu adalah Alfa. Entah dia menganggap Alfa, sebagai kakak atau tidak, mungkin lebih dari itu. (Canda hehe)


"Kakak, aish ... Kenapa, kalian mengacuhkan aku sih? Mema--"


"Caca, Kak Lea pergi dulu ya. Jangan lupa sarapan da--"


Deg!


Lea tampak menghentikan langkahnya, dia baru sadar jika bukan hanya ada Caca saja di ruangan tersebut. Terlihat dua orang pria muda, sedang berbincang-bincang namun perbincangan merekapun, akhirnya terhenti ketika melihat kedatangannya. Lea tampak sangat cantik, memakai blazer dengan dandanan alami dengan rambut tergerai indah.

__ADS_1


Claude sampai tercengang melihatnya, benar-benar cantik. Tanpa sadar dia melangkah, mendekati Kak Lea yang terlihat, sama terkejutnya dengan mereka bertiga.


"Kakak, apakah kakak dan Kak Lea?" Caca segera menutup mulutnya, sambil melirik keduanya dengan tatapan mengintimidasi.


Lea tampak diam, dengan wajah yang memerah. Sementara Claude tidak menghiraukan, tatapan Caca kepada mereka berdua. Tatapannya hanya terfokuskan kepada Lea, jarang-jarang sekali wanita itu berpenampilan seperti itu.


"Nona Caca, sebaiknya Anda sarapan sekarang, biar aku antar!" ajak Alfa kepada Caca tampak, tubuh mungil itu tidak bergeming sama sekali wajahnya masih sama, terkejut dan penasaran. Dia ingin menanyakan sesuatu, memastikannya secara langsung. Apalagi melihat Kakaknya, yang tiba-tiba saja menggenggam tangan Kak Lea.


Membuat Caca seketika marah, dia marah cemburu tentu saja! Dia cemburu. Ada rasa takut, menghantuinya! Dia takut, Kak Lea membagi kasih sayangnya kepada mereka berdua. Dan melebih-lebihkan kepada Kakaknya itu, lalu Kak Lea tidak akan mempunyai, banyak waktu untuk bersamanya.


Bukan hanya itu, Caca tidak mau Kak Lea berpacaran dengan kakaknya yang menyebalkan itu. Apalagi Kakaknya sudah, mempunyai seorang tunangan, Claude pun mengaku bahwa dia akan pergi berkencan bukan bersama Kimberly gadis yang akan menjadi tunangannya, ataupun bersama Kak Lea.


Caca semakin, curiga jika kakaknya itu diam-diam mempunyai seorang simpanan. Walaupun sifatnya itu, dingin, angkuh dan galak tetapi wanita bodoh mama yang tidak mau dengannya?


"Gak mau! Kakak harus menjawab, pertanyaanku yang tadi. Barulah aku mau pergi!" ketusnya. Membuat Lea semakin menundukkan kepalanya, apalagi ada seorang pria muda sedang menatap kearah mereka berdua.


Claude terlihat sangat santai, tatapannya terus tertuju kepada Lea. Enggan menatap kearah yang lain, sementara Lea? Wanita itu terlihat risih, perasaannya sedang tidak enak sekarang. Bahkan saat ini, tubuhnya panas dingin.


Ingin rasanya, dia menghempaskan tangan kekar, yang tengah menggenggam tangannya dengan sangat erat. Namun semuanya, terbuang dengan sangat sia-sia tenaga Claude benar kuat, bahkan Lea sampai kewalahan meladeninya.


***

__ADS_1


__ADS_2