
Lima menit kemudian ...
Baik Lea dan Claude, tampak diam sedang terlarut dalam pikiran masing-masing. Lea sedang, khawatir dengan janji yang telah dia sepakati dengan nyonya Veronica. Sementara Claude, pria muda dan tampan itu terlihat diam dengan ekspresi wajah yang datar, dia tengah sabar menunggu jawaban.
Dia bisa saja memaksa Lea, tapi dia tidak mungkin memaksa seseorang jika orang tersebut tidak mencintainya. Cinta tidak harus dipaksakan, dia hanya menunggu saja, suatu saat nanti Kak Lea pasti akan mencintainya. Dia percaya itu.
"Waktu habis ..." Ucapnya. Lea tergelak, segera memberi jarak antara mereka, karena Claude tampak ingin mendekatinya. Dan Lea tidak bisa berbicara, jika Claude terlalu dekat kepadanya.
Lea tampak menarik napas dalam-dalam. Claude pria itu, sudah sangat tidak sabaran sedari tadi dia menunggu. Tetapi tak kunjung, Lea ucapkan dan pada akhirnya, Claude memilih untuk menggunakan paksaan saja. Tanpa bertindak, Lea tidak akan pernah mau menjawabnya.
"Tu--tuan Muda! Sebagai, orang yang tertua. Aku punya satu pertanyaan untuk Anda!" Lea tampak menarik napasnya lagi, lalu membuangnya secara perlahan. Rasanya antara takut, dan khawatir. Bisakah seseorang, datang menyelamatkannya dari manusia pemaksa itu? Dia benar-benar seperti sedang diteror saat ini.
"Silakan."
Lea tampak emosi, bisa-bisanya disaat-saat tegang seperti ini. Pria itu hanya bisa, membalas dengan singkat benar-benar Claude gerutunya dalam hati.
Apa! Sesingkat itu, ya ampun benar-benar the real manusia es. Sabar Lea, dia bukan manusia seperti kebanyakan manusia.
Batinnya, memang benar. Tuannya itu, tidak seperti manusia lainnya, dia hanya menjawab seperlunya selebihnya dia diam seperti patung hidup.
__ADS_1
"Jika Kak Lea masih, meragukan aku. Coba saja Kakak bertanya kepada Caca, apa yang ingin Kakak dengarkan dari dia, tanya saja dia akan menjawab dengan benar kok." Sambungnya.
Kok jadi bawa-bawa, Caca? Huft ... Benar-benar Kakak beradik, yang kompak. Walaupun terkadang seperti kucing dan tikus, tetapi sebenarnya mereka saling sayang dan mengerti satu sama lain.
Lea tampak kagum, walaupun terkadang dia melihat Nona Caca dan Tuan Muda Claude, saling ejek dan berkelahi satu sama lain. Tetapi mereka saling sayang, Claude begitu menjaga adiknya itu dia selalu menasehati Caca. Dan Caca adalah tipe, orang yang keras kepala, tidak mau diatur kecuali Lea yang mengaturnya. Dan tidak mau, mendengar nasehat siapapun terkecuali Lea, dan mommynya. Claude bahkan, sampai menaikan nada bicaranya ketika berbicara dengan adik kecilnya yang akan hanya, memancing emosinya.
Walaupun masih berumuran belasan tahun, tetapi Caca sudah mempunyai jiwa dan pola berpikir dewasa walaupun terkadang, dia sangat manja dan keras kepala. Tetapi gadis kecil itu, sangat pintar dan cerdas, Lea saja sampai kagum kepadanya.
Mereka dididik, sedari kecil. Diajari bagaimana, tata cara menjadi seorang yang kuat, dan berpola pikir layaknya orang dewasa. Karena kedepannya, mereka akan bergaul, diantara orang-orang kalangan atas lainnya maupun masyarakat sekitar. Makanya didikan mereka semenjak kecil, begitu ketat Lea tidak bisa membayangkannya mereka mampu membaca dan memahami setumpuk buku dalam seminggu.
Lea pernah berpikir, kehidupan anak konglomerat sangat indah dan bahagia sama seperti cerita novel dan drama di stasiun TV terkenal, tetapi kenyataannya adalah, tidak semuanya bahagia. Mereka begitu dikekang, dan dituntut untuk pintar dalam segala hal. Apalagi mereka adalah, penerus keluarganya kelak nanti.
Patut dimaklumi, jika Tuan Muda dan Nona muda, tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berjiwa seorang pemimpin. Lea saja, kalah dengan Caca yang baru berusia dini tersebut.
Bagaimana ini? Aku harus menjawab apa? Aaaa ... Rasanya lelah sekali, kenapa sih aku bisa lupa kunci pintu!
Gerutu Lea, memaki kebodohannya sendiri yang lupa mengunci pintu. Karena terlanjur, terbaring di atas kasur Lea jadi lupa sekitarnya. Jujur saja, malam ini dia sangat lelah, tubuhnya rasanya remuk. Lea ingin beristirahat, dengan cukup tetapi seseorang datang dan mengganggunya. Benar-benar menyebalkan bukan!
"Kakak, jangan menunda-nunda lagi! Atau aku akan tidur disini menemani Kakak!" ucapnya tanpa adanya beban, menatap Lea dengan senyum penuh arti. Lea tampak bergidik ngeri, membayangkan Claude tidur di kamarnya berbagi kasur, sudah membuat Lea merinding dengan segera dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tidak bisa dibayangkan olehnya, tidur berdua dengan seorang pria asing sekalipun dia adalah majikannya tetap saja, mereka tidak mempunyai sebuah hubungan.
"Kakak, jangan berpikiran yang aneh ya. Aku hanya main-main kok," balasnya. Lea tergelak, laki-laki ini benar-benar tahu isi kepalanya saat ini, padahal Lea tidak mengatakannya.
Apakah dia seorang cenayang? Benar-benar aneh, aaaa ... Aku jadi ingin menangis, Ya Tuhan apakah ini yang dinamakan majikan naksir pembantu? Doamu benar-benar terkabul, loh Ana.
Batin Lea. Perkataan, temannya tempo dulu benar-benar menjadi kenyataan. Lea tidak menyangka, dirinya disukai oleh seorang pria muda dan kaya raya. Kapan-kapan Lea, ingin bertemu dengan teman lamanya itu. Karena doanya, Lea jadi terjebak dalam hubungan rumit ini. Padahal Lea, hanya menganggap pria itu seperti seorang adik, karena Lea mempunyai seorang adik yang usianya sama dengan Claude.
Makanya dia memperlakukan Claude dengan, sangat baik. Bagaimanapun dia adalah, majikannya dan juga Lea pernah merawat Claide sejak kecil sebelum dia memegang alih, sebagai Babysitter Caca saat itu.
"Ti--tidak! Aku gak lagi, mikirin yang aneh-aneh kok. Tuan Muda Kakak benar-benar minta maaf ya, karena Kakak ga--" perkataan Lea menggantung ke udara, tiba-tiba saja Claude mendorong tubuhnya hingga terjerembab di atas kasur.
Lea tampak terkejut, untung saja dia memakai piyama tidur berlengan panjang. Bukan yang pendek, karena malam ini udara terasa dingin. Saat ini Claude tengah, berada di atas tubuh Kak Lea, dia memandang wajah tersebut dengan sangat intens membuat Lea seketika, diam sambil menutup bagian dadanya, dengan kedua tangannya. Benar-benar diluar dugaannya, tidak sampai dua kali Claude melakukan ini kepadanya bahkan sudah lebih.
Dan Lea hanya, menganggapnya biasa saja. Karena dia tidak peka terhadap perasaan Tuan Muda Claude!
Dan dimalam yang gelap, dan dingin ini. Lea sudah mengetahui segalanya, hatinya benar-benar bimbang sekarang. Dia sedang mengutarakan sesuatu, yang sedang berdebar kencang ketika kedua matanya saling beradu tatap, dengan sorot tajam milik Tuan Muda Claude. Membuat Lea, merasakan desiran aneh dihatinya.
Sementara Claude, dia tampak memberanikan diri menyatukan kening mereka lalu beralih, membisikkan sesuatu ditelinga Lea hingga membuat wanita itu, terlonjak kaget.
__ADS_1
"Kakak kekasihku sekarang, mari kita berhubungan Kak! Percayakan segalanya kepadaku. Kakak adalah satu-satunya, yang berada di hatiku jangan pernah mengecewakanku, tolong mulai sekarang bukalah hati Kakak untukku. Untuk sekarang, biarkan aku yang mencintai Kakak dengan separuh jiwaku."