
"Pak Jang!" panggil Lea, ketika melihat pria parubaya itu masuk ke area dapur.
"Ya Nona, ada apa?" tanyanya.
"Pak, bisakah aku meminta tolong? Tolong antarkan kopi ini kepada Tuan Muda," pintanya dengan wajah memelas. Membuat pria parubaya itu tertawa kecil, sepertinya masalah mereka belum selesai pikirnya.
"Baiklah, tapi Anda harus ikut juga Nona." Sahutnya seketika melunturkan senyum di wajah Lea.
"Lah, bukannya sudah ada Pak Jang? Lalu kenapa Lea harus ikut juga? Ayolah Pak!" rengek Lea, kembali memelas. Pak Jang semakin tersudutkan, sebenarnya ia bisa saja pergi mengantarkan kopi itu kepada Tuan Muda.
Namun Tuan Muda, pasti akan mencari Lea. Orang yang membuatkan kopi untuknya.
"Pak Jang!"
"Ayolah, sekali ini saja! Ya. Tolong kerjasamanya Pak!" sahut Lea terus memaksa Pak Jang, yang tampak sedang berpikir mau mengindahkan permintaan tersebut atau tidak.
"Pak Jang, ayolah satu kali ini saja," paksanya lagi. Karena ia sangat malas, mengantarkan kopi hangat kepada Tuan Muda jika penampilannya saat ini sedang tidak baik-baik saja.
"Pak ayolah!" Lea semakin memaksa, hingga menarik pakaian yang digunakan oleh Pak Jang. Pria parubaya itu, terlihat terkejut akan aksi Lea yang tiba-tiba saja menarik pakaiannya. Tanpa sadar, seseorang sedang menatap dirinya dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Pak ayo--"
"Kakak!" pekik seorang pria, tampak berkacak-kacak pinggang dengan kesal segera menarik tangan sang wanita lalu menggenggamnya dengan erat.
Deg!
Lea seketika terkejut, ia tidak menyangka Tuan Muda berada disini. Ia pun segera, mengambil ancang-ancang ingin kabur dari sini, namun sangat disayangkan Lea tidak menyadari sesuatu, tangannya sudah digenggaman sejak tadi oleh Claude.
Dan Lea tidak merasakan hal tersebut, bahkan merasakan keberadaan Claude pun ia tidak tahu. Benar-benar menyebalkan, menggerutu kebodohannya dalam hati. Claude tersenyum penuh kemenangan, segera memberi aba-aba kepada Pak Jang agar segera pergi meninggalkan mereka berdua.
Sementara Pak Jang, tanpa dikomando lagi oleh Tuan Claude ia pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan kedua sejoli tersebut, Lea tampak memanggilnya namun Pak Jang berpura-pura tidak mendengarnya. Membuat Lea seketika kesal, dan frustasi karena harus berhadapan dengan pria ini lagi.
"Kakak, kenapa menolak? Aku tidak berbuat macam-macam loh." Lirihnya, melirik Lea yang tampak acuh kepadanya.
"Tuan Muda, jangan seperti ini. Aku belum sepenuhnya memaafkan mu, kau kan sudah memberiku waktu sampai besok! Jadi bersabarlah!" ungkap Lea. Membuat wajah Claude, semakin masam dan muram.
"Baiklah, terserah Kakak saja!" pasrahnya, atas keinginan Lea itu. Claude pun angkat tangan, dengan kesal pria itu mengambil kopi yang telah Lea buatkan untuk dirinya, lalu pergi begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah katapun kepada Lea.
Lea hanya bisa menghela napasnya saja, memandangi punggung Tuan Muda yang perlahan hilang dari pandangannya.
__ADS_1
"Huh, sungguh keras kepala. Mengapa semuanya harus jadi seperti ini," lirihnya meremas tangannya sendiri menahan sesak di dadanya. Perkataan Nyonya besar tempo hari itu, sungguh membuat Lea tidak tenang dan selalu kepikiran. Kata-kata merendahkan itu, terus terngiang-ngiang di benaknya hingga membuat Lea tidak konsentrasi.
Dan sampai melupakan suatu hal, ia lupa panggilan pelayan tadi yang mengatakan jika Caca, sudah bangun dan mencarinya. Lea pun segera melangkahkan kakinya, menuju ke kamar Nona Caca dengan perasaan yang tidak enak sedari tadi.
Keringat dingin pun, sampai membasahi pelipisnya. Sangat jarang ia berkeringat dingin seperti ini, dan Lea tidak mengerti tiba-tiba saja keringat dingin membasahi pelipisnya. Perasaannya pun, jadi tidak enak dan gelisah sedari tadi.
Dengan perlahan, dan berhati-hati ia menaiki tangga menuju ke kamar Nona Caca yang terletak di lantai dua bersampingan dengan kamar, milik Tuan Muda.
Sesampainya pun, Lea segera memutar knock pintu tersebut dengan sangat berhati-hati.
"Caca, sudah tidur?" tanyanya, sembari mendekati kasur besar yang di atasnya tampak seseorang yang tengah tidur dan menutupi diri dengan selimut besar, dan berat. Orang tersebut tak bergeming.
Tidak seperti biasanya, pikir Lea. Segera duduk di sofa yang kebetulan berada dekat dengan letak kasur milik Nona Caca.
"Sepertinya dia marah," gumam Lea, tertawa kecil.
***
Maaf, banget ya jika alurnya tambah membosankan memang sudah seperti ini. Harap maklum hehe~
__ADS_1
Lagi kehabisan ide, author juga lagi disibukkan dengan ujian besok. Mohon harap maklum jika updatenya lama 🙏