
Setelah selesai, mengantarkan Nona Caca susu sambil menunggunya menghabiskan susunya. Setelah itu Lea pamit, dan tak lupa menyuruh Caca segera tidur karena sudah jauh malam.
Setelah selesai, Lea segera turun dan mengganti nampan yang lainnya. Yang sudah ia siapkan, berisikan sepiring makanan dan juga segelas teh hijau untuk Tuan Muda Claude. Lea dengan semangat, mengantarnya, pelan-pelan Lea membuka pintu kamar milik Claude.
Ternyata pria itu belum tidur, Pak Jang dan kedua pria tadi sudah pergi ternyata. Dengan cepat, Lea menutup pintu menggunakan bantuan kakinya sebab, kedua tangannya sudah menjadi tempat penahan nampan tersebut. Dilihatnya kamar, Tuan Muda yang terlihat bak kapal pecah dimalam hari.
Semua barang-barangnya, terlihat tidak pada tempatnya dan tak beraturan. Membuat Lea geli sendiri, sepertinya Claude habis mengamuk. Orang mabuk memang begitu, gumamnya. Mendekati pria yang berstatus sebagai Tuan Mudanya, tersebut.
"Tuan, selamat malam. Kepala Anda masih pusing?" tanya Lea seraya, menaruh nampan yang ia bawa di atas meja tepat di samping kasur milik Claude.
"Hem."
"Anda, masih mabuk? Atau sudah sadar? Mau aku buatkan sesuatu?"
"Tidak Kak, aku sudah sadar." Sahutnya, sembari tersenyum kepada Lea agar wanita itu tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.
"Ehem! Apakah, kau minum-minum? Berapa lama, dan berapa kali kau minum-minum, minuman yang beralkohol?!" tanya Lea dengan nada terdengar tercekat, menahan amarah yang bergejolak di dadanya.
Claude terlihat diam, dengan menunduk. Ia merasa sangat bersalah karena telah minum-minum yang seharusnya, tidak dianjurkan untuk dirinya. Sebab Claude sangat frustasi, sebab mommynya akan kembali menjodohkannya dan kali ini, dengan anak dari sahabat mommynya. Yang Claude kenal, bernama Camelia, wanita cantik yang memiliki mata indah. Dan tentunya Claude menolaknya, sebab dia tidak menyukai siapapun selain Lea seorang.
"Kau tahu, itu akan sangat berdampak! Bukan hanya kepadamu. Tetapi kepadaku juga, jika sampai Nyonya besar dan Tuan besar tahu, mereka pasti akan sangat marah, mengetahui putra mereka ternyata mengonsumsi alkohol." Sambung Lea, terdengar sangat gusar memandang Claude yang terlihat diam seperti sangat menyesali perbuatannya tersebut.
Perkataan Kak Lea, ada benarnya.
"Maaf, Kak. Tolong maafkan aku," lirihnya dengan sangat tulus membuat Lea seketika terdiam, tidak tega memarahi Claude tapi mau bagaimana lagi karena ini adalah tanggungjawabnya. Lea tidak mungkin membiarkan Claude mabuk-mabukan.
__ADS_1
"Maafkan, Kak Lea jika menyakitimu. Kakak pamit pergi karen--" balas Lea hendak pergi namun Claude segera menarik tangannya hingga jatuh di atas tubuh kekar pria tersebut. Lalu mendekapnya erat, membuat Lea seketika berteriak, namun Claude segera menyuruhnya untuk diam. Agar tidak membangunkan orang rumah yang sudah, beristirahat karena suara mereka yang gaduh.
Walaupun sebenarnya, kamar milik pria itu kedap suara.
"Lepas! Ja--jangan begini!"
"Kakak, maafkan aku. Maaf jika selama ini, aku menyusahkanmu," bisiknya mendekap erat tubuh Lea hingga membuat, wanita itu meronta-ronta didalam dekapan Claude.
"Kakak, biarkan aku memelukmu seperti ini." Lirihnya membuat Lea, seketika terdiam dengan bulu kuduk yang merinding.
"Cl--claude, lepaslah dulu! Kau harus makan, perut mu pasti kelaparan!" imbuh Lea. Namun Claude tidak, mempedulikannya ia asik memeluk tubuh wanita itu.
"Kakak, biarkan seperti ini dulu. Lagian Kakak akan tidur bersamaku? Tidurlah Kak, ayolah. Temani aku, untuk malam ini saja," pintanya dengan wajah memelas namun Lea tidak menanggapinya. Wanita itu mendengus kesal, ia meraih nampan yang ia bawa tadi, dengan penuh cekatan sebab Claude, sedang dalam mode manja kepadanya, membuat kondisi jantung Lea seketika tidak baik-baik saja dibuatnya.
"Suapi, aku!"
"Tidak! Anda, kan punya tangan. Makanlah sendiri, Kakak sibuk Kakak tinggal ya, Caca tidak bisa tidur kalau Kakak tidak temani. Lepaslah!" pinta Lea dengan memohon, menggoyangkan tubuhnya agar Claude melepaskan dirinya.
Namun Claude, tetap mempertahankan Lea agar tidak pergi kemana-mana dengan memeluk tubuh wanita itu, dengan sangat erat hingga mengikis jarak diantara mereka.
"Tidak mau, Kan Caca ada Bibi yang temani. Satu malam saja Kak, aku mohon, temani aku please. Aku tidak akan berbuat macam-macam kepada Kakak, ada bantal guling yang akan menjadi pembatas diantara kita!" jelasnya, mengambil guling yang kebetulan berada di samping tubuhnya. Lalu memperlihatkannya kepada Lea.
Berharap, wanita itu mau tidur bersamanya untuk menemaninya. Hanya satu malam saja, karena Claude ingin sekali bercerita banyak, namun ia melihat Lea yang beberapa hari ini sibuk ikut mengurusi persiapan pesta Caca. Ia pun terpaksa mengurungkan niatnya tersebut, karena tahu Lea pasti kecapean apalagi mengurusi segala kebutuhan mereka. Membuatnya harus berpikir dua kali, untuk mengajaknya berbicara bersama dengan waktu yang lama.
"Tuan jangan begini, kita bukanlah sepasang suami istri. Tidak ada ikatan, yang mengikat kita! Saya menghormati Anda, karena Anda adalah majikan saya yang patut saya hormati. Tetapi kali ini, permintaan Anda harus saya tolak! Maafkan saya!" imbuhnya membuat Claude, seketika kesal. Karena Lea, lagi dan lagi memakai bahasa formal kepadanya.
__ADS_1
Claude jadi kesal sendiri, dan ingin sekali mencium bibir milik sang wanita karena telah berbicara menggunakan bahasa formal kepadanya. Padahal dia sudah melarang, sang wanita untuk tidak menggunakan bahasa formal jika berbicara kepadanya. Di manapun mereka berada.
"Kakak, lupa? Kita ini sepasang kekasih Kak! Kakak jangan melupakan itu. Dan ya, jangan berbicara menggunakan bahas formal seperti itu lagi, aku tidak menyukainya."
"Maaf, tapi tidak seperti ini juga!"
"Kenapa kau, menjadi manja begini? Kau menjadi kekanak-kanakan! Dimana Claude, yang tegas dan dingin itu? Kemana perginya dia?"
"Dia tidak pergi kemana-mana! Asal Kakak tahu, ini semua karena Kakak." Balas Claude,
"Karena aku? Ada apa denganku?" tanyanya dengan kening berkerut, ia tidak Terima Claude menyalahkannya atas sikap manja yang tiba-tiba muncul kepada pria muda itu. Walaupun Lea tahu sendiri, Claude itu seperti apa dia selalu bersikap manja kepada Lea. Namun kali ini, sikap manjanya itu sudah diluar dugaan Lea sendiri.
Claude, mengajak Lea untuk tidur berdua di kamarnya. Lalu apa jawaban Lea? Tentu saja ia menolaknya, sebab Lea tidak mau terjadi kesalahpahaman diantara mereka. Ia tidak mau, kena fitnah Nyonya Besarnya itu lagi, karena menggoda Claude lalu mengajak putranya tidur berdua dengannya. Tentu saja Lea tidak mau. Apalagi dia sangat menghormati Claude sebagai majikannya.
"Karena Kakak, aku jadi manja seperti ini!" imbuhnya dengan nada terdengar berat di indra pendengaran Lea.
"Aku gila Kak! Aku takut, Kakak pergi menghilang dariku. Aku takut Kak ... Benar-benar takut, bisa tidak Kakak menyetujui permintaanku ini? Aku benar-benar mencintaimu Kak."
"Bukannya, Kakak pernah bilang cinta harus diungkapkan? Kakak juga pernah mengatakan kepadaku, jika aku mencintai seseorang, maka aku harus memberitahunya dan melamarnya sebelum terlambat? Kakak juga bilang, cinta bisa hadir tanpa dimintai, kita bisa mencintai seseorang, dengan tulus tanpa suatu alasan. Sama halnya dengan diriku Kak, aku mencintaimu Lea ... Aku benar-benar mencintaimu."
"Kak ... Maukah, kau berjuang bersamaku? Maukah kau menikah denganku?"
***
Note : mohon dukungannya, buat karya author ini. Jika kalian suka, mohon didukung ya. Terimakasih 😍
__ADS_1