
Sementara ditempat lain ... Seorang, wanita tampak diam, dengan keringat dingin mengalir deras membasahi pelipisnya. Wanita itu, tidaklah lain adalah Lea. Sedari tadi, ia menunggu Nyonya Veronica berbicara kepadanya, namun wanita parubaya itu sedang berbicara dengan seorang Dokter yang menangani suaminya. Dan Lea, dapat mendengar pembicaraan keduanya dengan sangat jelas sebab Nyonya besar, sedang berada didalam ruangan yang sama dengan suaminya saat ini.
"Ya ampun, rasanya jantungku mau copot saja, huh ya Tuhan kenapa aku jadi berkeringat dingin seperti ini." Gumamnya, sembari mengusap pelipisnya yang basah.
Terdengar, helaan napas Lea. Wanita itu menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya, dengan perlahan.
"Lea!" panggil seseorang, membuat Lea seketika gelagapan menjawabnya. Yang memanggilnya adalah Nyonya Besar, terdengar nada lirih dari Nyonya Besar, membuat Lea seketika terdiam.
"Bolehkah, aku meminta tolong kepadamu? Kau tahu sendiri suamiku sedang tidak baik-baik saja, bahkan aku sendiri tidak bisa berbuat apa-apa," sahutnya terdengar lirih dari sambungan telepon.
Lea diam, mendengarnya. "I--iya," balas Lea cepat dengan nada terdengar gugup dengan jantung, berdebar kuat tanpa ampun. Rasanya biji durian berukuran besar, tengah nyangkut di tenggorokannya hingga membuatnya sulit, untuk berbicara apalagi bernapas. Suhu disekitarnya pun, seakan berubah drastis dari suhu sebelumnya.
"Tolong, jaga Caca! Jaga Putriku, hari ini adalah ulang tahunnya yang ke sepuluh tahun. Aku benar-benar, sedih tidak bisa menghadirinya apalagi daddy tersayangnya, dia tidak bisa Lea, bahkan suamiku tidak bisa membuka kedua matanya lagi.
Aku benar-benar sedih, tolong jangan memberitahukannya kepada Caca, dia akan benar-benar sedih nantinya. Aku akan membayar mu lima kali lipat, tolong jaga dia, dia adalah Putri kesayangan suamiku!" sahutnya sendu, terdengar agak ketus di pendengaran Lea.
Ia mengerti, sekarang. Sebenarnya Lea, tidak mau menyetujuinya namun ketika mendengar nama, Tuan Besar orang yang paling berjasa kepadanya dan hidupnya, seketika juga Lea menyetujuinya dengan senang hati.
Walaupun ada sedikit, kebimbangan dihatinya untuk menyetujui hal tersebut. Apalagi Nyonya Besar, bilang akan membayarnya lima kali lipat. Dan Lea, tidak membutuhkannya, mau sebesar apa pun Nyonya besar membayar dirinya. Ia bukanlah orang, yang gila akan uang, dia bekerja sesuai porsinya saja.
"Baiklah Nyonya, tanpa Anda memberikan imbalan pun aku akan menyetujuinya! Karena ini, adalah permintaan Tuan Besar. Terimakasih, karena telah memberikan amanah ini kepadaku, sayangnya aku tidak berminat uang Anda. Lebih baik Anda simpan saja, uang itu!" perkataan Lea terdengar, menyindir Nyonya Besar.
Wanita parubaya itu, terdengar berdecak kesal dari balik sambungan telepon. Ketika mendengar ucapan Lea, yang seakan menjatuhkan harga dirinya, ia tidak menyangka wanita itu akan berkata seperti itu kepadanya.
"Dasar wanita tidak, tahu diri."
__ADS_1
Makinya namun, Lea tidak menggubrisnya sama sekali ia berpura-pura tidak mendengar umpatan tersebut, yang tertuju kepadanya.
"Baiklah, Nyonya besar Terimakasih banyak telah mempercayaiku. Aku janji akan menggunakan, kesempatan ini dengan sangat baik," sambungnya lagi tertawa sinis membuat Nyonya besar, bertambah emosi mendengarnya.
"Aku akan, menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Tuan Muda. Puas sekarang." Dengan berani Lea mematikan, telepon tersebut dengan senyum penuh kemenangan. Entah darimana datangnya keberanian tersebut, hingga membuatnya tanpa beban dan rasa takut, mengatakan hal tersebut kepada wanita yang masih berstatus sebagai majikannya itu.
"Baiklah, seperti yang Anda bilang. Aku wanita tidak tahu diri, akan membuat Putramu jatuh kedalam pelukanku puas sekarang." Sahutnya, dengan lemas menjatuhkan diri di atas sofa, yang berada di dalam ruangan yang saat ini ia berada.
"Huh, lelah sekali ya ampun!" imbuhnya, memejamkan matanya mencoba untuk terlelap. Namun tiba-tiba saja, Lea merasakan tangan hangat seseorang menyentuh kepalanya. Membuatnya seketika terbangun.
"Kau!"
"Eh, ma--maksudku Tuan Muda!" deliknya, melotot kan kedua matanya. Claude terlihat diam tanpa menanggapi perkataan Lea, pria itu terlihat duduk di samping Lea lalu meraih tangan Lea, dan menggenggamnya dengan erat. Membuat Lea terkejut.
"Kakak!" panggilnya, lalu.
Grep!
Deg!
"Terimakasih, sudah mau menungguku Kak." Imbuhnya sembari memeluk, Lea dengan sangat erat hingga membuat wanita itu kesulitan untuk bernapas.
"Le--lepas, aku ti--tidak bisa ber--bernapas tahu!" ujarnya sembari mendorong dada kekar, milik pria tersebut walaupun rasanya telapak tangannya ingin patah ketika mencoba mendorong dada bidang, tersebut.
Hingga akhirnya, pelukan tersebut terlepas karena Claude melepaskannya. Namun kedua tangannya kini, beralih menarik tubuh sang wanita agar duduk di atas pangkuannya. Lea ingin menolak, untuk duduk di atas pangkuan seorang pria tanpa terkecuali ayahnya. Tetapi Claude, malah menahannya agar tidak turun dari atas pangkuan Tuan Mudanya tersebut.
__ADS_1
Kini keduanya, saling adu pandang. Tangan Claude terlihat terulur, ia menautkan beberapa helaian rambut yang menutupi wajah cantik Lea, di belakang daun telinga milik sang wanita. Lalu memandangi wajah cantik tersebut, yang selalu saja membuat jantungnya berdebar dengan sangat kuat, hanya dengan memandangnya saja.
"Kakak ... Aku mencintaimu," ujarnya, membuat Lea seketika bungkam dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan. Ada rasa tersendiri, dihatinya ketika mendengar kalimat cinta dari Tuan Muda. Namun ia sendiri, belum bisa mengartikan rasa tersebut yang terpenting saat ini, dia merasa nyaman di samping Tuan Muda.
"Walaupun, Kakak belum mencintaiku tetapi aku sangat mencintai Kakak. Pelan-pelan bukalah, hati Kakak kepadaku percayalah kata-kataku ini Kak, aku yakin suatu hari nanti Kakak pasti akan mencintaiku!" perkataan Claude sungguh, membuat Lea terenyuh tanpa sadar, jari lentiknya terulur meraih wajah tampan Tuan Mudanya itu.
"Terimakasih," lirihnya, terdengar kecil. Membuat Claude bingung apa yang Kak Lea, ucapkan tadi kepadanya. Ia ingin bertanya ulang tentang apa, yang Lea ucapkan barusan namun, tiba-tiba saja suara keributan terdengar, membuat keduanya seketika teralihkan oleh suara keributan tersebut. Yang mengarah dari pintu yang sedikit terbuka.
Sialannya, Claude lupa mengunci pintu ruangan setelah ia masuk tadi. Benar-benar kesialan. Dengan kesal, Claude menurunkan Lea secara perlahan di atas sofa lalu, pamit kepada Lea untuk mengecek sesuatu yang sedang terjadi diluar ruangan ketika, mendengar suara keributan tersebut.
"Apa yang seda--"
"Claude!" pekik seorang gadis cantik, berlari kearah Claude lalu memeluk tubuh kekar pria tersebut sambil terisak.
Claude tampak mematung, seketika ia murka dibuat oleh seorang gadis yang tidak tahu diri, tiba-tiba saja memeluk dirinya. Claude benar-benar tidak menyukai hal tersebut, ia segera mendorong kasar tubuh gadis yang tengah memeluknya itu hingga, mundur beberapa langkah ke belakang.
"Kau! Beraninya, memelukku?!" bentaknya dengan suara tercekat di udara, memandang tajam seorang gadis cantik yang tidaklah lain adalah Kimberly. Entah darimananya gadis itu datang, dan tahu dimana saat ini ia berada. Claude tak habis pikir, mengapa susah sekali membuat gadis itu menyerah untuk mengejarnya. Padahal Kimberly sudah tahu betul, bahwa Claude tidak pernah menginginkan keberadaan dirinya.
Tetapi ia masih saja, berani menampakkan dirinya setelah hari itu Claude memutuskan hubungan mereka lalu mempermalukan gadis itu, benar-benar bukan gadis biasa. Sudah dipermalukan, masih juga berani menampakkan dirinya dihadapan Claude.
Andai saja, Kimberly bukanlah seorang wanita sudah lama Claude memukulinya habis-habisan.
***
Lalu meminta dukungan, kepada pembaca. Jangan lupa vote, like, dan komen ya 😄
__ADS_1