
"Kak ..." Claude menggapai tangan tersebut, lalu menggenggamnya membuat Lea terkejut dan reflek menepis, tangan Claude dari tangannya. Membuat Claude seketika cemberut, karena Lea menepis tangannya.
"Jangan kelewatan, kamu!" ucap Lea dengan tegas. Claude tertegun seketika, dengan panggilan yang Kak Lea lontarkan kepadanya. 'Kamu' gumam Claude tersenyum tipis, menanggapi embel-embel panggilan Lea kepadanya tadi.
Ternyata, tidak ada yang berubah dari Kak Lea. Dan itu membuat Claude bahagia, karena Lea tidak pernah berubah dia tetap menjadi dirinya seorang.
'Tuan Muda, tolong pergilah jauh-jauh kemanapun tolong. Jangan sampai kita dipergoki! Bisa panjang urusannya nanti,' batin Lea, sembari menatap jengah pria yang tengah menatap dirinya dengan tatapan yang Lea sendiri tidak tahu.
"Kak ... "
"Claude, kalau mau ngomong cepat ya. Kak Lea mau pergi, masih banyak pekerjaan yang harus Kakak selesaikan," sahut Lea tersenyum paksa. Mencoba menghilangkan, rasa gugupnya yang tiba-tiba saja datang.
'Ya Tuhan, anak ini kenapa sih? Lama amat bicaranya,' batin Lea lagi. Menahan rasa kesal dihatinya, sambil menengok kanan-kiri memastikan jika, ada satupun orang yang lewat. Dan Claude tahu itu, jika Lea sedang berjaga-jaga jika ada orang yang melihat mereka berdua sedang berdua.
Sementara Lea, tampak sangat serius. Membuat Claude tersenyum mendekatkan wajahnya tepat kehadapan Lea yang tampak masih serius, sampai tak menyadari jika wajah mereka berdua sudah sangat dekat.
"Kak, berusahalah lebih keras lagi."
"Apa?"
Deg!
Seer!
Seperti disambar kilat, seketika Lea memundurkan kepalanya kebelakang hingga terpukul oleh tembok dibelakangnya. Tidak terdengar bunyi, tetapi suara ringisan kesakitan, sudah bisa membuat kita menebak betapa sakitnya kepala yang habis terpukul oleh tembok tersebut.
"Astaga, Kak. Kakak tidak apa-apa?" Claude terlihat ingin, menolong. Tetapi Lea segera menolak, lalu pergi terbirit-birit sembari menyembunyikan wajahnya yang sudah merah merona, sambil menahan sakit serta malu yang dia alami.
'Sakit sih, sakit. Tapi tak seberapa, dengan rasa malu, aaaa ... Aku ingin menghilang, bagaimana bisa aku sekaget itu padahal dia hanya mengatakan kata-kata, yang tidak aku mengerti. Tapi kenapa sampai aku sekaget itu ya,'
Lea segera masuk kedalam kamarnya, membuang diri dengan lelah ke atas kasur king zee miliknya yang berukuran kecil hanya muat, untuk dia tiduri sendiri. Sementara ditempat lain Claude tampak terdiam, dengan wajah datar menatap sekitarnya.
__ADS_1
Tetapi hati tidak bisa berbohong, betapa lucunya kejadian hari ini. Dan Claude begitu bersemangat, mengikuti permainan Lea ketika melihat betapa polos dan cerobohnya wanita tersebut. Claude sudah bisa menebak, akan bisa mengalahkan Lea dengan cepat.
Walaupun, momnya itu punya banyak cara. Tetapi Claude begitu menghafal, sifat serta gerak-gerik yang dilakukan mommnya. Mulai dari rencana perjodohannya, dengan seorang gadis yang baru saja dia pacari tetapi tidak akan pernah bisa, mendapatkan ruang dihatinya. Karena seluruh ruang dihatinya sudah, dipenuhi oleh satu nama. Dan pemiliknya sendiri, sedang berusaha untuk menjauh walaupun mustahil terjadi.
Apalagi yang dia hadapi, adalah pria muda yang tidak gampang untuk dibodohi walaupun hanya dengan sebuah, perlakuan manis dan perkataan manis. Tidak akan pernah bisa, membohongi apalagi mencoba untuk pergi dan berpaling.
Claude, akan berusaha keras, untuk bisa meluluhkan hati Kak Lea. Bagaimanapun caranya, dan konsekuensi yang akan dia hadapi.
…
Keesokan harinya.
Mentari pagi mulai menyapa, yang tadinya malam kini telah berganti pagi. Waktunya untuk beraktivitas seperti biasa, Lea tampak sedang serius mengetikkan pesan kepada seseorang. Sudah menjadi rutinitas Lea sendiri, setelah beberes menyiapkan segala keperluan nona kecilnya, kini dia akan beristirahat beberapa menit lalu mengirimi seseorang sebuah pesan.
Entah kepada siapa, yang pastinya rahasia.
Tok ... Tok ... Tok
Ceklek!
"Kak Lea! Caca rindu!" girang Caca, padahal baru beberapa menit berpisah. Caca sudah serindu itu kepadanya, apalagi berpisah selama-lamanya, kira-kira Caca akan bagaimana ya? Lea mulai menerka-nerka hal tersebut, apakah Caca akan bahagia jika Lea tidak ada?
"Kak Lea ..." Panggil Caca, membuyarkan lamunan Lea. Lea terkejut, reflek menetap kepada Caca gadis kecil itu tampak sangat cantik dengan rambut panjang, yang di kuncir dua menggunakan pita rambut.
"Ya, princess." Sahut Lea, tersenyum kegirangan. Dia tidak boleh terlihat sedih dihadapan Caca, takutnya Caca curiga kepadanya." Kak Lea, Caca mau curhat! Caca benci banget, kakak yang sok akrab itu loh!" kata Caca, nada bicara gadis kecil itu terdengar kesal.
Membuat Lea terkekeh pelan, sudah tahu arah bicara Caca yang mengatakan jika dia membenci seseorang. Dan Lea tahu, siapa orang yang telah Caca benci sampai dia sekesal itu.
Tidaklah lain, adalah Kimberly. "Kak Lea tahu, kenapa Caca datang kesini?" Lea tampak diam, sambil menggelengkan kepalanya karena benar-benar tidak tahu, kenapa Caca tiba-tiba mendatanginya sampai ke kamarnya.
"Lah, Caca kira Kak Lea tahu," ungkap Caca. Lea benar-benar tidak tahu apa yang, terjadi di bawah selama dia tidak ada beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Karena selepas semaunya selesai, Lea pun bergegas menuju kamarnya.
"Memangnya kenapa? Apa terjadi, suatu hal?"
"Tidak Kak, itu perempuan gak tahu malu datang. Mana manja banget sama Mommy, Caca kan jadi tersisihkan!" Caca tampak kesal, berucap dengan berapi-api sembari mengepalkan kedua tangannya.
Membuat Lea terdiam. Sepertinya suhu udara di kamarnya, mulai panas padahal udara sekarang dingin apalagi Lea lupa mematikan kipas anginnya, otomatis udara semakin dingin tetapi kenapa sekarang menjadi sangat panas?
"Kak, muka Kak Lea kok tampak merah gitu? Kak Lea baik-baik aja 'kan?" tanya Caca. Lea hanya diam tak menggubris, tiba-tiba saja dia merasa kesal.
Entah apa yang dia kesalkan, padahal tadi dia biasa-biasa saja. Tetapi ketika Caca datang, dan mengatakan jika seseorang datang ke Mansion membuat Lea kesal bahkan wajahnya tampak merah padam. Cemburu? Tidak mungkin, Lea bukan tipe orang yang pencemburu.
*Aaaa
Apa Kak, Lea cemburu?
Senangnya, kalau Kak Lea benar-benar cemburu kan bagus biar Kak Lea dan Kakak bisa bersama*.
Caca tampak girang, tanpa sadar telah membuat seseorang menahan kesal dengan setengah matinya. Tengah melawan rasa aneh, yang tiba-tiba saja bermunculan.
Cemburu? Cih, tidak mungkin?! Sepertinya aku kesal karena Caca membencinya. Mustahil aku cemburu, aku dan Tuan Muda tidak ada hubungan apa-apa. Aku sadar diri kok
Lea bermonolog dalam hati, tidak terbayangkan olehnya jika dia cemburu. Karena itu sangat mustahil, Lea tidak mencintai Tuan Muda! Dia tahu tempatnya dimana, siapa dia.
Jika dibandingkan dengan mereka semua, terutama Kimberly. Lea hanyalah remahan rengginang, bahkan dia bisa dianggap debu yang bertebaran tak menentu arah.
***
Maaf baru bisa update 🙏
Jangan lupa dukungannya, Terimakasih 🙏
__ADS_1