
"Buat, siapa lagi kalau bukan Tuan Muda," ucap Lea sembari menaruh nampan yang berisikan susu, tepat dihadapan Claude. Pria muda itu tampak acuh, sambil memainkan gadget miliknya tidak mempedulikan sesuatu yang telah Lea sodori kepadanya.
Sementara Caca, tampak diam sambil mengerucutkan bibirnya sebal. Menatap garang kepada Kakaknya sambil, meminum jus wortel yang telah Kak Lea buatkan untuknya hingga habis tak tersisa.
"Kak, pengen nambah!" balas Caca, memberikan gelasnya yang telah kosong kepada Lea. Dia meminta tambah, jus wortel. Lea tertegun, tumben Nona Muda Caca menginginkan jus wortel sampai dua kali.
"Baik, Kak Lea buatkan lagi ya. Caca jangan kemana-mana," ucap Lea, Caca pun mengangguk patuh. Duduk dengan anggun, sambil menatap kepada Kakaknya yang sedari tadi terus fokus, pada gadget yang dia pegang.
Apa dia tidak capek, ngaca terus di hp
gumam Caca
"Kak, gak capek apa? Main hp terus sedari tadi." Cerocos Caca, mendelik tajam kearah Claude yang tampak diam tanpa mempedulikan perkataannya.
"Kakak!" pekik Caca, dengan keras. Membuat Claude seketika menyimpan gadgetnya, lalu menatap pada Caca. Gadis kecil itu, tampak kesal bahkan wajahnya sudah berubah merah.
"Hem ..."
"Kakak!"
"Hem!"
__ADS_1
"Kakak!"
"Caca!"
"Ada apa?" tanya Claude, berusaha mengontrol emosinya kepada adiknya. Caca tergelak, tertawa kecil memandang wajah emosi kakaknya yang selalu datar, bak tembok.
"Kakak menyetujui, pertunangan itu?"
"Hem," balas Claude dengan acuh, membuat Caca melotot tajam. "Kakak benar-benar menyetujui, pertunangan itu? Pertunangan Kakak, dan gadis itu? Gadis tak tahu malu itu?!" Caca terlihat geram, sembari berkacak-kacak pinggang.
Tanpa keduanya sadari, seseorang tengah menguping semua pembicaraan mereka dari awal. Tampak wajah datar, orang tersebut terlihat jelas, segera pergi menuju ke dapur dengan ekspresi wajah yang datar.
"Tuan Muda, menyetujui pertunangannya? Argh ... Kenapa aku jadi sedih begini, oh ya ampun jangan bilang aku menyukainya! Karena itu tidak mungkin, sadarlah Lea," Lea tampak bergumam sembari menunduk memotong wortel segar, lalu memasukkannya, kedalam blender sambil memasukkan susu, air beserta gula.
Kenapa aku jadi kepikiran begini sih?
Oh ayo, fokuslah Lea.
***
Sementara ditempat lain.
__ADS_1
"Apa Kakak, menyetujui pertunangan itu? Aku tanya sekali lagi Kak," sahut Caca. Claude tampak diam tanpa ekspresi apapun terukir di wajah tampannya.
"Kakak!" pekik Caca lagi. Claude tampak diam, masih dengan memasang wajahnya yang datar. Benar-benar manusia tembok, pikir Caca. Claude pantas dinamai manusia tembok, karena selain memiliki wajah tampan. Wajahnya pun pintar, bermain ekspresi bisa datar bak tembok.
Jadi tidak ada salahnya, jika dia dikatai manusia tembok oleh adiknya sendiri.
"Kakak! Kakak!" kali ini Caca, lebih keras meneriaki nama Claude. Claude tergelak kesal memandang Caca, dengan tatapan kesal sepertinya dia harus menjelaskan segalanya kepada Caca walaupun terpaksa daripada gadis kecil itu, membuat kegaduhan dengan suara cemprengnya.
"Baik, dengarkan! Jangan memotong, sebelum aku selesai berbicara." Kali ini Caca mengangguk, dengan mantap memandang Claude dengan intens. Sambil tak sabar, menunggu perkataan selanjutnya dari Claude.
"Aku tidak menyetujui pertunangan itu!" ungkapnya. Kepada Caca, gadis itu tergelak menatap intens kepada Claude berusaha mencari kebohongan, atas perkataan Kakaknya itu.
Ya ampun, dia benar-benar tidak menyetujuinya. Ah bahagianya.
"Aku mencintai, orang lain." Ungkapnya.
Apa!
***
Maaf, malam ini update sedikit. Soalnya lagi sibuk
__ADS_1