
"Kakak, memaafkan aku? Bukannya tadi, Kakak mendiamkan aku? Lalu kenapa sekarang berbicara kepadaku? Berarti Kakak--"
"Sudahlah, mengapa Anda menjadi cerewet seperti ini? Pergilah ke kamar Anda. Aku akan membuatkan mu Susu, Pak Jang yang akan mengantarnya selamat siang!" ujarnya.
"Tidak usah Kak, mending temani aku saja. Sepertinya Kakak ingin menghindari ku ya?" tebaknya, namun Lea tidak menggubrisnya.
'Ya ampun orang ini, tingkat kepedeannya mencapai rata-rata'
"Kakak, kenapa hem? Kenapa melihatku seperti itu? Aku tampan 'kan?" tanyanya dengan pede sembari mengedipkan sebelah matanya, kepada Lea.
Seketika juga Lea, memutar kedua bola matanya dengan malas, ketika mendengar perkataan pede dari Claude. Yang mengatakan jika dirinya tampan. Kenyataannya, memang begitu, tetapi Lea tidak mau mengakuinya karena pria itu terlalu kepedean. Jika dibalas balik, dia pasti akan besar kepala, jika Lea mengakui secara terang-terangan jika dirinya itu tampan.
"Kakak, kenapa? Apakah Kakak, membenciku? Mau ku cium hem?" godanya dengan telak, membuat Lea seketika melototinya.
"Kau ini, masuklah kedalam jangan banyak bicara! Atau tidak!" ketus Lea, sembari memperlihatkan kepalan tangannya kepada Claude. Membuatnya, cengengesan, dan terpaksa masuk kedalam Mansion daripada membuat singa betina marah. Sebelum masuk ia mendekati Lea, lalu membisikkan sesuatu di telinga wanita itu, hingga membuat kedua pipinya merah merona.
"Kakak, jangan marah-marah nanti cantiknya hilang karena marah-marah. Oh ya aku dengar kalau orang yang suka marah itu, biasanya kena stroke bukan hanya itu, bisa juga memicu kemati--"
"Ya ... Ya ... Ya, kau ini mengapa jadi cerewet sekali! Masuklah sana!" usir Lea, membuat Claude seketika masuk meninggalkan Lea sendirian, yang tengah mengelus dadanya.
Jantungnya terasa berdegup, dengan kencang didalam sana.
"Ya ampun, jantungku." Gumamnya ngeblush sendiri. Sembari meraba dadanya, merasakan debaran yang sangat kuat didalam sana.
***
"Kakak! Kembalikan pitaku!" pekik gadis kecil, yang kini terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna biru, dengan rambut panjang yang sudah dikuncir layaknya seorang princess elsa. Terinspirasi dari film kartun, bernama Frozen. Bahkan gaun yang ia kenakan senada dengan high heels kaca, yang saat ini ia kenakan.
Gadis kecil itu, tidaklah lain adalah Caca. Ia terlihat sangat marah ketika melihat pita miliknya dirampas oleh kakaknya yang tidaklah lain, adalah Claude. Dan kembali meneriaki kakaknya itu yang tiada pernah, henti membuatnya marah. Pita miliknya, yang baru saja pelayan tadi bawakan, kini sudah di rampas oleh Kakak laknatnya.
__ADS_1
Caca benar-benar geram, ia hanya bisa berteriak saja. Untuk berlari mengejar Kakaknya, tidak bisa ia lakukan sebab saat ini dirinya tengah memakai high heels, sayang untuk dilepas sebab pesta ulang tahunnya akan segera dimulai. Untuk tahun ini, ia akan merayakannya tanpa daddy kesayangannya, dan juga mommynya yang sedang berada di luar negeri yang tengah, menjaga dan merawat daddynya.
Caca perlu, memakluminya. Ia bisa merayakan ulang tahunnya, bersama Kakak menyebalkannya, babysitter kesayangannya, dan juga Kak Alfa yang berwajah datar. Caca sungguh tidak sabaran, ia ingin segera meniup lilin, setelah itu memotong kue yang bertingkat-tingkat.
Tidak seperti tahun kemarin, pesta ulang tahunnya kali ini sangat ramai. Karena teman-teman sekolahnya pun ikut hadir, untuk merayakan.
"Kakak! Kembalikan pitaku! Jangan bilang, Kakak ingin memakainya juga." Cerocos Caca menatap tajam, kearah Kakaknya yang sedang berdiri di samping sofa sembari memegang dua pita berwarna pink ditangannya.
"Tidak! Kurang kerjaan apa lagi aku, memakai pita jelek seperti ini? Mana warnanya norak lagi!" ejeknya. Membuat Caca seketika geram, mendengarnya.
"Dasar menyebalkan, lebih baik Kakak keluar sana!"
"Kau mengusirku, ya?! Berani sekali!" keduanya saling pandang, mengibarkan bendera permusuhan. Claude tak mau kalah, dengan Caca, sama halnya pun dengan Caca tidak mau di kalah oleh Kakaknya. Mereka saling melempar tatapan, tajam layaknya singa betina dan singa jantan, sedang bertengkar. Tanpa sadar, seorang wanita cantik masuk kedalam ruangan yang mereka tempati saat ini, dengan membawa nampan berisi dua gelas susu.
"Kakak, kau benar-benar!" pekik Caca, dengan kesal terpaksa membuka high heels miliknya, lalu tanpa aba-aba berlari kearah kakaknya yang terlihat tengah, menatapnya dengan tatapan remeh. Membuat Caca geram, dan greget ingin sekali mencabik-cabik wajah tampan milik Kakaknya itu, jika ia berani melakukannya.
"Kakak kau be--"
Suara pecahan terdengar jelas, beberapa pelayan datang masuk kedalam ruangan tanpa dimintai ketika mendengar suara pecahan yang berasal dari dalam ruangan yang saat ini tengah ditempati oleh dua majikannya.
"Caca! Claude!" pekiknya dengan suara, nyaring. Menatap nanar, dua gelas berisi susu putih yang ia buat tadi, kini sudah tidak berharga lagi. Wanita yang berteriak itu, tidaklah lain adalah Lea ia tampak geram, sudah dari tadi dirinya memperingati keduanya agar tidak, mencari gara-gara dan lebih berhati-hati lagi sebab, orang-orang didalam Mansion tengah sibuk.
Makanya Lea, meminta keduanya untuk pindah ke ruangan yang lebih aman, dan sudah dirinya siapkan jauh-jauh hari.
"Kakak Lea!" pekik keduanya, dengan tergesa-gesa menghampiri Lea yang terlihat tengah menahan emosi.
"Kakak, kau baik-baik saja? Mana yang luka?" tanya Caca dan Claude, dengan pertanyaan yang sama. Tidak mempedulikan, kemarahan Lea. Mereka bahkan, memutari tubuh ramping Lea untuk memastikan jika wanita itu tidak terluka.
Lea terlihat terkejut, ketika melihat keduanya tengah memutarinya dengan melontarkan pertanyaan yang sama kepadanya. Padahal dia sedang marah.
__ADS_1
"Kakak, kau apa ada yang luka?" tanya Claude, menatap intens pada Lea, yang terlihat tengah diam mematung. Dengan nada yang terdengar khawatir.
"Tidak!"
"Lalu, kenapa Kakak hanya diam? Apa ada yang salah?"
"Tidak! Seba--"
"Ya ampun! Kakak kaki, Kak Lea berdarah!" pekik Caca yang kini tengah berjongkok memeriksa kakinya, tanpa Lea sadari.
"Benarkah?!"
"Eh, kalian jangan berlebihan! Lepas! Ya ampun?!" Lea terlihat marah, dan malu bercampur aduk akan tingkah berlebihan kedua majikannya itu kepadanya. Membuatnya seketika malu, ketika melihat beberapa pelayan masuk dengan membawa peralatan kebersihan. Mereka mempunyai mata, tentu saja mereka melihat aksi kedua majikan mereka saat ini.
Yang tengah, melingkari Lea dan berjongkok entah apa yang tengah mereka periksa dibawah sana.
"Claude! Caca! Berdirilah--"
Akh!
Lea seketika berteriak, ketika merasakan tubuhnya melayang ke udara. Ia dengan cepat-cepat, mengalungkan kedua tangannya, leher milik Claude.
Claude dan Caca, keduanya terlihat sangat khawatir dengan sangat berlebihan kepadanya. Ia menjadi kesal sendiri, apalagi saat ini Tuan Claude tengah menggendongnya lalu, membawanya menuju ke atas sofa dan menurunkannya pelan-pelan layaknya dirinya ini tengah sakit keras. Padahal kakinya hanya luka tergores saja, mereka sudah jadi berlebihan seperti saat ini.
Bagaimana jika dirinya, sakit keras? Mungkin dia sudah di bawa menggunakan kursi roda, atau tidak mobil ambulans.
***
Note: Jangan lupa tinggalkan jejaknya~
__ADS_1
Like, vote, dan komen. See you next time