
Keesokan harinya ...
Setelah kejadian semalam, Lea tidak bisa tidur lagi. Matanya benar-benar terjaga hingga, pagi hari dia benar-benar tidak bisa tidur, dan sekarang dia tengah sibuk membersihkan diri. Lea bahkan, sampai melupakan segalanya, karena kejadian semalam.
Dia terlambat lima belas menit, menyiapkan sarapan untuk Nona Muda dan Tuan Muda. Selesai membersihkan diri, Lea segera memakai pakaiannya dengan terburu-buru, seseorang sedang mengetuk pintu. Lea tahu siapa yang mengetuk pintunya, pasti Bibi Ja yang ingin memanggilnya untuk segera membuatkan sarapan, Nona Muda beserta Tuan Muda.
Mereka memang, tidak mau memakan makanan apapun itu, terkecuali Lea yang memaksa. Sebenarnya tugas memasak ini, adalah tugas Bibi Ja pelayan rumah belakang. Hanya saja, Nona Muda merengek, ingin Lea yang membuatkannya masakan tiap harinya.
Caca begitu, menyukai masakan Kak Lea, apalagi sup ayamnya benar-benar enak katanya, ketika memakan masakan Lea. Bukan hanya Caca, yang begitu, Tuan Muda pun ikut-ikutan menyukai masakan yang Lea buat. Apalagi nasi gorengnya, benar-benar favorit Tuan Muda Claude.
Terkadang, two C itu memperebutkan menu makanan yang mereka inginkan, ketika Lea menyuruh mereka untuk memilih menu makanan di siang hari ataupun malam hari. Dan Caca yang tidak mau kalah, dan Claude yang berwajah tembok ikut-ikut tak mau mengalah.
Membuat Lea, impas dan terpaksa memasakkan keduanya makanan favorit masing-masing. Dan pastinya, Bibi Ja bersedia membantu walaupun hanya membantu memotong sayuran saja. Masakan Lea, memang selalu enak bahkan Tuan Besar saja, sampai menyukainya apalagi salad yang Lea buat.
Lea tahu, keluarga ini adalah, keluarga pecinta sayuran. Dan setiap Tuan Besar berada di mansion, maka dia ditugaskan langsung oleh Nyonya Veronica untuk membuatkan makanan. Entahlah, Lea sampai tidak berkata-kata, bukan hanya two C saja yang menyukai masakannya, Tuan Besar pun ikut-ikutan.
Lea sempat terharu. Tuan Besarnya itu, sama seperti Tuan Muda Claude mereka selalu terang-terangan, mengatakan jika mereka suka. Dan Lea, perlu memaklumi hal tersebut. Tapi jujur saja, jika masih tersisa satu pemuda seperti Tuan Muda Claude, Lea mungkin akan mengejarnya. Walaupun kadang menyebalkan, tetapi mereka adalah pria yang baik dan setia kepada pasangannya.
Lea sering, melihat kemesraan Tuan Besar dan Nyonyanya itu. Ternyata, dibalik hubungan baik keduanya, dulunya mereka punya masa lalu yang kelam. Tuan besar, adalah pria kaya raya pada saat itu, keluarganya adalah keluarga terpandang. Sementara Nyonya Veronica, adalah seorang gadis penjual bunga. Setiap harinya mereka selalu bertemu, entah itu secara kebetulan atau memang takdir.
Lea sempat terharu, ketika mendengar cerita tersebut. Dan yang menceritakannya adalah, Bibi Ja ternyata usia Bibi Ja, sama dengan Nyonya Besar cuman bedanya Nyonya Veronica adalah orang terpandang. Walaupun usianya sudah tak muda lagi, dia masih terlihat awet muda karena perawatan. Sementara Bibi Ja, dia hanyalah seorang kepala pelayan rumah belakang, dia memiliki banyak anak dan suaminya sudah lama meninggal dunia. Dan sekarang, Bibi Ja yang menjadi kepala keluarganya dia membanting tulang selama bertahun-tahun lamanya, mengabdi pada keluarga besar ini. Gajinya pun, tidaklah main-main dia digaji, tiga kali lipat selama sebulan kerja.
__ADS_1
Lea sempat terkejut, gajinya benar-benar banyak. Pantas saja, dia betah akan pekerjaannya, padahal hanya seorang kepala pelayan rumah belakang. Hanya beda, beberapa saja dengan gaji Lea sebagai seorang Babysitter.
Cerita berlanjut, walaupun dulunya Nyonya Veronica adalah seorang gadis penjual bunga, bahkan hubungannya dengan Tuan besar sempat tidak disetujui oleh keluarga besar Ricchan, akibat latar belakangnya yang tidak menentu dan dia hanyalah seorang, penjual bunga. Cerita cinta mereka bisa disebut, cinta terlarang karena seorang wanita hanyalah gadis penjual bunga.
Tetapi, mereka akhirnya bersama hingga lahirlah Putra kecil mereka, berlanjut Putri kecil mereka. Lea sempat mengeluarkan air mata saat itu, benar-benar terharu dengan perjuangan, Tuan Renan meyakinkan keluarga besarnya walaupun dia sempat diasingkan karena lebih, memilih mempertahankan cintanya dibandingkan martabat keluarganya.
Dan kebenaran, mulai terkuak ternyata gadis penjual bunga tersebut bukanlah gadis biasa. Dia adalah anak orang kaya, yang kabur dari rumah karena terlalu dikekang oleh kehidupan, bak penjara tersebut. Lalu kisah merekapun berlanjut, merekapun menikah, tetapi awalnya ada drama yang mengejutkan.
Hingga pada saat ini, mereka sudah hidup bahagia. Lea tidak bisa membayangkan, bagaimana perjuangan mereka saat itu melawan restu keluarga besar mereka. Tuan Renan, benar-benar sosok yang tidak mau berhenti begitu saja, dia memperjuangkan wanitanya hingga sampai ke depan pelaminan.
Lea terharu, cerita mereka benar-benar seperti di novel yang habis selesai dia baca. Ceritanya sama. Sama-sama cinta terlarang, tetapi bedanya si wanita anak orang kaya, dan si pria hanyalah anak dari seorang guru. Benar-benar cinta yang rumit, Lea tidak bisa membayangkan kisah cintanya akan seperti apa nantinya, dan siapa pria yang mau memperjuangkannya disaat hari itu tiba.
Tok ... Tok ... Tok
Ceklek!
"Kakak!"
Deg!
"Tu--tuan Muda! Anda sedang apa, disini hem?" Lea tampak terkejut, melontari banyak pertanyaan kepada Claude. Karena awalnya, Lea mengira yang mengetuk pintu tanpa bersuara itu adalah Bibi Ja. Tetapi dia salah, ternyata Tuan Muda. Untung saja, Lea sudah memakai baju tadi, jika tidak dia akan benar-benar malu.
__ADS_1
Claude tampak menatapnya, Lea risih. Tentu saja risih, karena bukannya menjawab Claude justru menatapnya.
"Tuan Muda, ada apa? Kenapa diam?" tanya Lea lagi.
"Kakak, rambut kakak basah. Mau aku bantu keringkan? Nanti kakak, demam kalau membiarkan rambut kakak basah seperti itu." Ujarnya.
Lea tercengang mendengarnya, segera menolak. Dia tidak mungkin, membiarkan Claude membantunya mengeringkan rambutnya, karena Lea lupa memakai sampo saat mandi tadi, dia takut rambutnya yang lepek ini dia pegang oleh Tuan Muda Claude.
"Jangan! Sebaiknya, Tuan Muda segera pergi dari sini takutnya--"
"Orang-orang melihat?" sambung Claude. Lea menganggukkan kepalanya.
Claude berdecak sebal, meraih tangan Lea lalu menggenggamnya erat. Membuat Lea terkejut, dan reflek menarik tangannya. Namun, Claude sudah lebih dahulu menggenggamnya dengan sangat erat, menarik tangan Kak Lea hingga tubuh Lea, tak sengaja menabrak dada bidangnya. Tatapan mereka berdua saling adu.
Lea merasakan, jantungnya berdebar dengan sangat kuat sekarang. Bukan hanya Lea saja, yang berdebar Tuan Muda pun ikut berdebar.
"Kakak tidak perlu khawatir, jika mereka melihat. Maka aku akan mencungkil mata mereka masing-masing!" ucapnya datar masih, menggenggam tangan Lea.
Lea tampak kesal, dengan ucapan Claude barusan. Dan dengan penuh keberanian, dia memukul tubuh pria tersebut. Bisa-bisanya berkata seperti itu, sambil memasang wajah datarnya, Lea jadi takut tahu!
"Tuan Anda benar-benar--" perkataan Lea menggantung ke udara, ketika teriakan cempreng seseorang menggelegar ditelinga mereka. Serentak keduanya, menatap kearah sumber suara tersebut.
__ADS_1
"Kakak Lea?!
***