
"Lea, Berhati-hatilah!" peringat As, Lea pun menganggukkan kepalanya segera mendekati brankar rumah sakit. Menatap intens, seorang anak kecil yang sedang terbaring tak sadarkan diri.
Beberapa menit dia terdiam, sambil menatap wajah tampan anak kecil tersebut.
Sepertinya dia anak orang kaya
Gumam Lea. Mendekatkan, wajahnya kearah brankar mencoba menatap lebih dekat lagi wajah anak kecil itu, sapa tahu dia mengenalinya. Anak dari tetangga kaya di desanya.
"Sepertinya, aku tidak mengenalnya. Dari poster wajahnya sepertinya dia bukan, anak orang kaya di desaku." Gumam Lea. Dia merasa anak tersebut familiar, wajahnya sangat berbeda dengan anak-anak orang kaya yang berada di desanya. Sepertinya anak itu, adalah blasteran.
Lea merasa, sangat heran. Bisa-bisanya, seseorang meninggalkan anak kecil di sebuah gang sempit, tanpa berpikir keselamatan anak tersebut. Lea pun geram, dan ingin memanggil As untuk membantunya menelepon kantor polisi terdekat, agar melaporkan anak hilang.
Tetapi, langkah Lea langsung terhentikan. Ketika dia mendengar samar-samar suara, leguhan dari seseorang. Dia pun menoleh, ternyata anak itu sudah bangun dia sedang menatap Lea dengan dalam, kedua bola mata tersebut bertemu. Lea bergetar, anak itu tampak sangat tampan seusianya.
Lea menjadi sangat kagum, tanpa sadar ikut duduk di atas brankar. Anak kecil itu terdiam, memandang Lea dengan sinis, sambil menjaga jarak. Lea menjadi kesal, sembari memaki dalam hati.
Ya ampun, anak ini! Sinis amat sih, padahal baru ditolong. Kalau aku tahu, mana ada aku mau menolong mu dasar gila!
Batin Lea memaki, menatap sebal kepada anak kecil tersebut yang sama sedang menatapnya juga.
"Anda siapa?" tanyanya. Membuat Lea terkejut, dan reflek segera berdiri, benar-benar mengejutkan. Dengan usia seperti itu, dia bisa berbicara seformal itu bahkan Lea kalah. Begitu pikir Lea, seketika juga dia menjadi malu bisa-bisanya dia dikalahkan oleh anak seusia seperti itu dalam berbicara.
"Hei, aku bertanya kepada Anda. Anda siapa? Dan dimana aku? Anda mau menculik ku ya!" dia tampak marah. Wajahnya yang cute, berubah sangar.
Lagi-lagi Lea tergelak, bahkan dia sudah tertawa dengan sangat keras. Bisa-bisanya anak kecil itu, berbicara dengan nada membentak kepadanya. Lea menjadi ketawa, dibuatnya.
"Jangan tertawa!" ketusnya.
"Abisnya, kamu sih kenapa marah-marah gitu? Syukur-syukur loh, aku tolong kamu. Kalau gak udah, diambil orang kamu lantaran imutnya." Dengan beraninya Lea, mencubit gemas pipi chubby anak kecil tersebut hingga membuatnya menjerit kuat, membuat Lea segera menutup kedua telinganya.
"Beraninya!" ketusnya. Sambil mengusap area, yang habis dipegang oleh Lea, sambil membuang wajahnya kesamping yang sudah memerah bak kepiting rebus. Lea tidak menyadari itu, karena terlanjur kaget.
__ADS_1
"Maaf, hehe ... Sekali lagi, saya minta maaf ya dek." Sahut Lea cengengesan. Anak kecil itu tergelak, tak Terima jika dirinya disebut Dek. Memang dia bisa dianggap sebagai bocah ingusan, saat itu. Tetapi dia sudah berusaha, semaksimal mungkin menjadi orang yang dewasa sejak dini. Dengan pendidikan, yang begitu ketat.
Tetapi gadis yang berada dihadapannya saat ini, malah menghancurkan segalanya. Seperti sedang menginjak-injak harga dirinya. Apakah dia terlihat, seperti anak-anak? Dia memang anak-anak, tetapi didikan orang tuanya yang selalu menuntunnya agar dewasa diusianya yang masih sangat muda, bisa dikategorikan dia tidak seperti anak-anak lainnya.
Ketika anak seusianya, sedang menikmati masa kecil mereka dengan bermain bersama teman-temannya sambil tertawa riang. Sementara dia, hanya bisa menikmati masa kecilnya dengan setumpuk buku pembelajaran, dan les ketat yang telah kedua orang tuanya siapkan. Orang-orang pasti, beranggapan dia adalah anak kecil yang lemah dan lembek.
Tetapi semuanya salah, dia bahkan dilatih bela diri sejak dini. Inilah dia, Claude Ricchan. Garis keturunan Ricchan berada padanya, darah Ricchan berada ditubuhnya, dia adalah keturunan Ricchan selanjutnya yang akan mengambil alih waris keluarganya. Dia dididik, dengan sangat ketat sejak dini, diajarkan bagaimana caranya bersikap dengan dewasa dan bijaksana sejak dini. Hingga membuatnya tumbuh, menjadi anak paling pendiam yang pernah ada, dia sangat susah bergaul di sekolahnya banyak anak membullynya dan mengatainya gila, karena selalu diam sambil melamun.
Tetapi anak-anak itu, tidak pernah terselamatkan. Setelah mereka membully Tuan Muda Claude, maka siap-siap saja mereka akan dikeluarkan dari sekolah, dengan secara tak hormat serta membayar denda yang nominalnya sangatlah besar. Dan sekolah itu, adalah sekolah elite milik keluarga besar Ricchan dan anak-anak yang bersekolah di sana, adalah anak-anak dari kalangan atas. Sementara untuk kalangan bawah, bisa masuk ke sana lewat jalur biaya siswa.
Inilah Claude Ricchan, dengan segala kelebihannya. Atas tuntutan keluarganya, yang tidak pernah puas jika ambisi mereka tidak tercapai. Dan Lea sebagai, seorang gadis yang pertama kalinya Claude lihat, dan tanpa sadar jatuh hati pada pandangan pertama kepada Lea. Karena telah menolongnya pada saat itu, membuatnya diam-diam menaruh hati.
Entahlah, secepat itu dia menaruh hati. Padahal mereka baru bertemu, saat usianya masih anak-anak. Dan Lea yang masih remaja saat itu. Mereka bertemu secara tidak langsung. Dan Claude, berharap mereka bertemu lagi.
Orang-orang bisa beranggapan, bahwa cintanya ini adalah cinta monyet. Tetapi dia benar-benar tulus kepada perasaannya, dia benar-benar mencintai Lea sejak kecil. Pertama kali, kedua bola mereka saling adu disitulah getaran muncul dihatinya. Dia menyukai Lea, Lea adalah gadis pertama yang berani menyentuhnya sampai mencubit gemas kedua pipi chubbynya. Bahkan orang tuanya tidak pernah, melakukan itu kepadanya. Kehidupan mereka penuh, ketegangan hingga hadirlah Caca Ricchan adiknya yang penuh dengan keceriaan, merubah kehidupan didalam Mansion mereka.
Hingga suatu hari, mereka kembali bertemu dengan fisik yang berbeda. Entahlah, ini hanyalah sebuah kebetulan, atau memang takdir dari Tuhan. Claude berharap, kepada Lea dia tidak pernah menganggap Lea sebagai Kakak ataupun babysitter adiknya. Dia menganggap Lea, adalah seseorang yang berharga harus dia lindungi, dan dia miliki.
*
"Jangan memanggilku, Dek! Sopan lah sedikit"
Apa!
Lea tergelak, menatap tajam kepada anak kecil tersebut. Benar-benar menyebalkan, kenapa dia harus bertemu dengan anak kecil arogan sepertinya. Walaupun wajahnya tampan, tetapi Lea sangat jengkel kepada anak itu. Dia berdoa kepada Tuhan, agar tidak dipertemukan dengan anak modelan seperti itu lagi. Sudah cukup, untuk hari ini saja.
"Benar-benar menyebalkan, baiklah. Karena kamu sudah sadar, nanti kakak yang membayar administrasinya. Dan kamu cepat, telepon orang tuamu, untuk menjemputmu!" ucap Lea. Dia sedang dalam mode emosi sekarang.
Anak kecil itu, benar-benar seperti sedang meremehkan Lea. Lea jadi ingin cepat-cepat pergi sekarang.
"Tidak perlu, Anda pergilah. Aku bisa bayar sendiri, tidak perlu repot-repot!" ucapnya. Membuat Lea kalah telak, dengan kesal keluar dari dalam ruangan sambil menendang sesuatu yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Lea, ada apa? Kenapa wajahmu merah padam begitu? Bagaimana anak kecil tadi, dia baik-baik saja 'kan?" berbagai macam pertanyaan As, pertanyakan kepada Lea. Tanpa tahu, gadis itu sedang menahan emosi di dadanya yang rasanya ingin segera meledak.
"Dia baik! Kak sebaiknya, kita pulang saja. Dia bisa sendiri kok! Anak itu, anak orang kaya!" sahut Lea, sambil memaksa As mengikutinya.
As tampak diam, menatap dengan bingung kepada Lea.
"Lea, lepas kita tidak boleh pergi seperti ini. Anak itu masih sangat kecil! Dia pasti takut, mana orang tuanya tidak ada lagi, kakak takut tahu. Takutnya dia kenapa-kenapa, dia masih tanggungjawab kita loh!" jelas As.
Lea terdiam. "Seandainya, kakak tahu sifat asli anak kecil sombong itu. Pasti Kakak akan emosi tingkat dewasa, sama sepertiku. Dia lebih sombong, dan angkuh dibandingkan Silvia loh."
"Kakak, ayo kita pulang! Tak usah pikirkan dia, lagian orang tuanya sudah mau datang kok." Ucap Lea lagi terus, menarik As keluar dari koridor rumah sakit.
Dia tidak ingin lama-lama, di rumah sakit. Apalagi berurusan, dengan anak kecil yang sok paling bijak tersebut, bahkan orang dewasa pun kalah-kalah.
"Lea, tapi ini tidak baik loh."
"Gak usah, dipikirin ikut Lea. Atau tinggal saja, disini sendirian," ancam Lea membalikkan tubuhnya, sambil melangkahkan kakinya meninggalkan As yang terdiam, menatap punggung Lea yang mulai menjauh darinya.
"Eh, benar juga ya. Dia kan orang kaya, pasti dia gak ditinggalkan juga! Lea benar, sebaiknya kami pergi daripada berurusan dengan orang kaya yang tiada habisnya!" As tampak bergumam, dia pun memutuskan untuk mengejar Lea.
Gadis itu sudah menghilang, entah pergi kemana.
Inilah kisah mereka, awal pertemuan yang penuh dengan kejadian yang tak terduga. Lea serasa di prank oleh anak kecil itu, dan kejadian tak terduga selanjutnya mereka kembali dipertemukan, dengan bentuk fisik yang berubah. Sebagai seorang majikan, dan babysitter dari adiknya.
Lea tak pernah menyangka hal tersebut, akan terjadi. Mereka dipertemukan kembali. Perjalanan pun akan berlanjut, hingga takdir yang menentukan skenario selanjutnya.
***
Bersambung...
Jangan lupa, vote, komen, like dan tambah favorit ya. Jangan lupa dukung karya ini~ @Arinda
__ADS_1