Babysitter Kesayangan Tuan Muda

Babysitter Kesayangan Tuan Muda
Bab 12.


__ADS_3

"Aku harap, Kak Lea mau menerima perkataan ku tadi. Aku benar-benar mencintai Kakak, bukan seperti obsesi yang Kakak katakan tempo hari."


Perkataan, Claude beberapa menit yang lalu selalu terngiang-ngiang dibenak Lea bahkan ketika dia, sedang makan saat ini. Benar-benar ucapan Claude, seperti sesuatu yang selalu mengejarnya. Dan harus dia ingat terus, sepanjang hidupnya.


"Argh ... Lama-lama aku bisa gila, karena memikirkannya. Huh bagaimana ini?" gumam Lea frustasi, sembari mengunyah makanan miliknya dengan tenang serta tegang.


"Kak Lea!" pekik Caca, mencari-cari Kak Lea yang entah pergi kemana sedari tadi.


"Kak Le--"


"Eh, pintunya terbuka!" gumam Caca, ketika tidak sengaja melihat pintu kamar milik Kakaknya Claude terbuka sedikit, menampakkan dua orang sejoli yang tengah saling tatap-tatapan.


Tampak gadis berkacamata, yang Caca ketahui bahwa namanya adalah Kimberly. Tengah merangkul pundak kakaknya Claude, dan Caca tidak menyukainya. Karena yang Caca ketahui, kakaknya begitu tidak menyukai wanita yang menyentuhnya tanpa izin tanpa terkecuali Kak Lea.


Dan Caca benci akan hal itu, apalagi melihat sikap sok akrab Kimberly kepada kakaknya. Membuat Caca tak menyukai gadis tersebut. Mau secantik apapun rupanya.


"Oh, ayolah Claude. Masa kau ingin menolak ajakan ku, padahal ini hari spesial untuk kita berdua." Ujar Kimberly.


Membuat Claude diam, dengan wajah acuhnya.


"Claude, ayolah!" kali ini Kimberly memberanikan diri merangkul Claude, hingga membuat pria tampan tersebut menatapnya dengan begitu tajam.


"Clau--"


"Hei! Lepaskan tanganmu, dari Kakakku!" pekik Caca dengan marah, datang dengan wajah sangarnya. Walaupun dia masih begitu kecil, tetapi ketika marah dia tidak akan simpan-simpan apalagi, orang yang membuatnya marah berada di hadapannya saat ini.


"Eh, Caca ada apa?" tanya Kimberly. Tanpa mendengarkan ucapan Caca tadi yang menyuruhnya, menjauhkan tangannya dari Claude.


"Jangan pura-pura tuli, jauhkan tanganmu dari Kakakku! Sekarang juga?!" bentak Caca dengan sangat marah.


Membuat Kimberly, memasang wajah sedihnya. Padahal dia tidak berbuat macam-macam, tetapi malah dibentak, apalagi yang membentaknya adalah adik kekasihnya sendiri yang seharusnya menjadi orang yang akrab kepadanya.


"Caca, keluarlah jangan berbuat keributan." Sahut Claude dengan sangat santai, baginya selama bukan Kak Lea dia tidak akan mengambil pusing.


"Aku tidak mau Kak, dia harus pergi dulu dari Mansion kita! Karena aku tidak menyukainya!" ungkap Caca.

__ADS_1


Membuat Claude terdiam. Lalu memberi kode kepada Kimberly, untuk menjauhinya beberapa centi.


"Ca, pergilah. Ini bukan urusan untuk, anak-anak sepertimu!" usir Claude kelapa adiknya.


Tetapi Caca, malah diam dengan meneteskan air matanya. Serasa semuanya telah, direncanakan Caca pun menangis sekencang-kencangnya membuat Lea, yang baru saja selesai makan dan membersihkan meja langsung berlarian mencari arah sumber suara tangisan tersebut.


"Caca!" pekiknya, berlari memeluk Caca. Ternyata yang menangis adalah Caca, Lea mengira jika yang menangis itu bukanlah Caca karena tidak mungkin Caca menangis tanpa diganggu seseorang. Karena di Mansion tidak ada, yang berani membuat keturunan Ricchan menangis sedikitpun.


"Caca, kau kenapa? Kenapa menangis? Siapa yang telah mengganggumu? Katakan kepada Kak Lea!" tekan Lea. Lalu Caca, tanpa beban apapun menunjuk pada Kimberly yang terlihat diam, dengan wajah yang bingung.


"Aku?" tanya Kimberly.


"Ya kau. Dia yang telah, membuatku menangis!" lirih Caca membuat Lea diam, menatap kepada Kimberly.


"Apa benar?"


"Iya, Kak. Dia telah mengambil kakakku Claude! Dan menyentuhnya, Caca benci itu Kak Lea, cepat suruh dia pulang!" pekik Caca. Tetapi Lea, merasa tidak enak hati tidak mungkin dia mengusir Kimberly pulang sementara gadis itu terlihat tidak ingin pulang, dan masih ingin disisi Claude.


Sementara Claude, yang sedari tadi melihat kejadian tersebut. Hanya diam, tanpa berkomentar tatapannya bahkan terarah kepada Lea terus, dia merasa sangat kagum kepada Lea karena bisa menjaga seorang anak dengan begitu telaten, padahal usia Lea masih muda. Dan Claude suka itu, dirinya tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti Lea menjadi miliknya mungkin, Claude akan menjadi orang yang paling manja. Dan selalu bermanja-manja kepada Lea nantinya, dan Claude tidak sabar kapan hari tersebut datang kedalam hidupnya.


"Kimberly, maaf untuk kegaduhan yang telah terjadi ya. Lain kali Kakak, akan lebih berhati-hati lagi baik silakan lanjutkan perbincangan kalian. Caca akan Kakak jaga!" ucap Lea. Seraya menarik Caca untuk mengikutinya.


Membuat Claude seketika badmood, melihatnya. Bukan ini yang dia inginkan, Claude ingin berbincang-bincang dengan Kak Lea bukan Kimberly. Ucapan Lea tadi, sungguh mengecewakan Claude.


"Claude, tad--"


"Lepas! Pulanglah Kimberly, dan jangan datang jika aku tidak menyuruhmu datang?!" bentak Claude dengan kasar, menghempaskan tangan Kimberly dari tubuhnya.


Kimberly tampak kecewa, karena Claude lagi-lagi menolaknya. Lalu meninggalkan dirinya, begitu saja, sebenarnya Claude mencintainya atau tidak mengapa sikapnya seperti itu kepada Kimberly. Padahal Kimberly, begitu mencintai Claude bahkan dari dulu, semenjak mereka bertemu untuk pertama kalinya. Kimberly mengira, dialah cinta pertama untuk Claude nyatanya bukanlah dia terbukti dari, sikap Claude kepadanya.


Dan Kimberly, kecewa akan hal itu.


"Oh ayolah Kimberly, jangan patah semangat dulu. Ini baru awal, lagian Claude memang dari dulu seperti itu. Selalu memperlakukanmu, dengan dingin seharusnya, aku bersemangat untuk mengejarnya bukan malah patah semangat seperti ini!" gumam Kimberly memberi semangat kepada dirinya.


Dan berusaha tidak, overthinking terhadap hal yang dia pikirkan saat ini.

__ADS_1


***


"Kak Lea, mengapa Kakak tidak mau mengusir perempuan itu? Ih padahal, Caca jengkel banget sama dia. Sok cantik banget!" ungkap Caca, merasa gemas sendiri.


"Ca, gak boleh gitu ya. Bagaimanapun kita harus hormati dia, apalagi dia kekasih Kakak Claude. Mana ada Kak Lea berani mengusir!" balas Lea dengan terkekeh.


Membuat Caca, tambah kesal.


"Caca kesal ya? Maafin Kak Lea ya, tadi Kakak gak enak. Abisnya diakan tamu, gak boleh gitu sama tamu, apalagi dia niatnya baik kok." Jelas Lea.


"Hum ... Terserah, Kak Lea aja deh. Caca ngikut!" seru Caca.


Lea menanggapinya, dengan tersenyum.


"Caca, Kak Lea pergi antar minum ini dulu ya! Dikamar Kakak Claude!" ucap Lea, sembari mengangkat nampan yang berisikan dua cangkir teh panas, untuk pasangan baru tersebut.


"Eh, itu--"


"Kimberly!" seru Lea, membuat Kimberly menengok kearah Lea.


"Kak Lea!" panggil Kimberly, Lea pun segera mendekat kearah Kimberly. Tampak gadis itu, tengah menangis tangisnya membuat Lea menjadi khawatir, jika terjadi sesuatu diantara Kimberly dan Claude karena kejadian tadi.


"Kimberly kau baik-baik saja? Ada apa? Mengapa kau disini?" tanya Lea.


"Aku pamit pulang ya Kak, tolong sampaikan salam ku kepada Claude. Katakan saja seperti itu! Aku pulang dulu." Pamit Kimberly dengan begitu menyedihkan, seperti seseorang yang tengah patah hati.


"Aneh!" gumam Lea, dengan segera melangkah, menuju ke kamar milik Tuan Muda Claude untuk menanyakan suatu hal.


Sesampainya Lea, dia pun segera mengetuk pintu kamar tersebut. Untuk memastikan jika pemilik kamar, berada di dalam atau tidak ada.


Ceklek!


'Terbuka, berarti Tuan Muda tidak pergi kemana-mana melainkan berada didalam, lalu mengapa dia membiarkan Kimberly pulang dengan sendirinya, bukankah malam ini mereka memiliki janji?,' batin Lea.


"Siapa?"

__ADS_1


__ADS_2