Babysitter Kesayangan Tuan Muda

Babysitter Kesayangan Tuan Muda
Bab 39. Butik (2)


__ADS_3

"Bu--bukan! Tuan, sebaiknya kita kembali sekarang. Aku harus menyiapkan segalanya, kita belum ada persiapan loh, sebaiknya kita tunda dulu keinginan Tuan Muda yang tadi ya!" ucap Lea.


"Tidak mau! Lagian, persiapan apa? Apa Kakak lupa? Itu bukan urusan Kakak lagi," sahut Claude. Membuat Lea diam, dengan wajah bingungnya.


'Bukan urusan? Maksudnya apa,' batinnya.


"Ada Mark, yang meng-handle semuanya. Kakak hanya perlu menemaniku sekarang, dan untuk hidangan penutupnya Kakak yang akan membuatnya, tapi tidak sekarang. Caca sudah memberi izin loh!" sahut Claude cengegesan.


Ya, Claude telah mengelabui adiknya tadi. Saat Lea masih berada didalam ruang ganti, Claude asik berbincang dan memanas-manasi adiknya tersebut. Tidak terbayangkan bukan, ekspresi Caca saat itu bahkan dia sampai menutup panggilan teleponnya berkali-kali ketika Claude meneleponnya.


"Mark? Mark siapa? Dan apa, yang Anda lakukan kepada Nona Caca lagi, Tuan Muda." Tanya Lea dengan nada menginterogasi, sembari menatap tajam kepada Claude yang terlihat cengengesan tak jelas dihadapannya saat ini.


'Berhentilah, oh ya ampun Tuan Muda sadarlah. Anda bisa saja menakuti semua orang dengan senyuman Anda itu,' gumamnya.


Sejujurnya, lebih baik melihat Claude diam tanpa ekspresi apapun diwajahnya. Dibandingkan melihat pria muda tersebut tertawa, bukannya orang-orang ikut tertawa malahan mereka menjadi ketakutan. Bukan hanya orang-orang yang takut, Lea pun jadi ikut ketakutan.


"Asisten baruku!"


"Apa!" pekik Lea, dengan suara tercekik. Asisten baru? Maksudnya apa, Lea tampak semakin dibuat kebingungan oleh perkataan Tuan Mudanya tersebut.


"Dia adalah asisten baruku, lebih tepatnya dia akan menjadi bawahan ku kedepannya. Apakah Kakak masih tidak mengerti juga?" tanyanya. Lea hanya diam, sembari mencerna kembali perkataan Tuan Muda yang barusan dia ucapkan tadi.


"Lalu, Al? Bukankah dia juga, asisten Tuan Muda?"


"Hem, sama dengan Mark. Cuman bedanya Alfa adalah Sekretaris ku, dan untuk Mark dia hanyalah asistenku saja," ujarnya. Lea pun mengerti, maksud dari perkataan Tuan Muda Claude.


"Lalu, Caca ada apa dengannya?" tanya Lea, penasaran.

__ADS_1


"Dia bilang, ingin menyusul Kakak. Tapi aku menyuruhnya untuk tidak menyusul kita, karena aku dan Kakak akan berkencan secara resmi!" ujar Claude spontan, dengan wajah tanpa ekspresi.


Deg!


Lea tampak sangat terkejut, mendengar penuturan dari Claude. Bisa-bisanya pria itu, berbicara seperti itu kepada anak polos seperti Caca, memangnya seberapa tahu dia akan kencan orang dewasa? Lea saja, yang bertahun-tahun tidak pernah, menjalin kasih kepada pria manapun. Tidak tahu, akan hubungan apa saja yang dilakukan seseorang yang sedang, menjalin kasih.


"Tu-tuan Muda, Anda benar-benar, ya ampun ... Kakak sampai tidak bisa berkata-kata loh, bisa tidak mulut Tuan Muda di filter sedikit. Caca itu anak kecil, yang pemikirannya belum matang dia masih kecil. Tapi Anda malah, menodai pikirannya," ujarnya sambil menggelengkan kepalanya.


Kapan Claude bisa, berbicara tanpa benar seratus persen? Lea tahu dia anak, yang tidak suka berbohong kepada siapapun. Apalagi tentang, apa yang sedang dia rasakan, maka dia tidak akan segan-segan mengungkapkannya. Tapi yang Lea maksud disini adalah, bisa tidak dia berbohong sedikit saja.


Bukannya membuat Caca mengerti, dia malah membuat Caca terkejut dan kepikiran. Pasti gadis kecil tersebut, tengah gelisah ingin menyusul Lea namun Claude malah melarangnya, karena akan menjadi pengganggu di kencan mereka berdua.


Jujur saja, Lea lebih suka jika Caca berada disisi mereka. Agar bisa, menjauhkan Lea dari Claude.


"Kakak cantik sekali, aku menyukainya!" terang Claude tanpa sadar tersenyum, menatap Lea dari atas sampai bawah. Wanita itu tampak sangat cantik, dengan menggunakan Midi dress berwarna merah maroon, panjang selutut dengan memakai high heels berwarna silver.


Sementara Lea, hanya bisa tersenyum sesekali memalingkan wajahnya kesamping. Karena rona diwajahnya, tampak terlihat jelas dan Claude melihatnya. Claude jadi semangat, untuk melanjutkan kencan pertama mereka ini.


Dia benar-benar, akan mengabadikan momen tersebut. Sebagai memori terindah sepanjang hidupnya, rasanya bagaikan mimpi sekarang mereka tengah berkencan.


Ekhem!


"Tuan, ini terlalu berlebihan. Aku ingin protes," ujar Lea dengan wajah kesalnya rasanya dia ingin terjatuh karena, tidak biasa memakai high heels. Bukan hanya itu Lea merasa, tidak nyaman dengan dress yang saat ini dia pakai. Karena Lea telah, terbiasa memakai blazer ataupun switer kemana-mana.


Dia tidak terlalu, kepikiran akan outfit yang sedang dia gunakan. Pikirnya, apapun yang dia pakai itulah yang dia anggap nyaman, Lea selalu berpakaian yang dia anggap nyaman untuk dia kenakan.


"Kakak ingin protes apa? Bukankah, ini sudah cocok untuk Kakak? Aku menyukainya tahu!" tekan Claude sembari bersedekap dada. Lea memutar bola matanya, malas menatap jengah kearah Claude yang tampak memasang wajah datarnya.

__ADS_1


Padahal tadi, jelas-jelas pria itu sedang tersenyum.


"Ya, Tuan Muda menyukainya. Tapi aku tidak! High heels ini terlalu, menyiksa kakiku, aku tidak akan bisa berjalan kalau memakainya!" cerocos Lea.


Claude terdiam, melirik kearah Lea, turun kebawah kaki wanita tersebut. Tampak Lea menahan sakit. Claude tiba-tiba saja berjongkok, tepat dihadapan Lea.


Lea tampak terkejut, bahkan sampai gelagapan menyuruh Claude agar segera berdiri. Apa kata orang-orang nantinya? Seorang Claude Ricchan, dengan begitu mudah berjongkok dihadapan seorang wanita asing secara tiba-tiba.


"Tu--tuan Muda, berdiri! Jangan seperti ini, Anda tidak malu apa orang-orang melihat tahu--"


"Bisa tidak Kakak, duduk dak diamlah. Tidak usah melihat mereka! Tatap aku saja," ucapnya seraya meraih wajah Lea agar menatap kepadanya saja.


Lea tampak terkejut, segera menepis tangan kekar Claude yang sedang memegang wajahnya. Lalu memalingkan wajahnya kesamping, enggan untuk menatap kepada Claude. Pria itu tersenyum senang, segera membuka high heels yang Lea pakai.


Lalu mengambil sebuah kotak besar, berwarna putih yang tertulis nama sebuah brand terkenal di atasnya. Lea tampak, bertanya-tanya didalam hati sepertinya Tuan Muda Claude habis membeli sesuatu, bahkan waktu dan tempatnya tertulis jelas di atas kotak tersebut. Bahkan ada kartu, ucapan tanda Terimakasih serta secuil surat kecil.


Lea jadi penasaran, bukan penasaran dengan isi dari surat kecil tersebut. Melainkan penasaran, apa isi didalam kotak tersebut.


'What Sepatu, buat siapa ya,' batinnya bertanya-tanya. Tidak mungkin, sepatu tersebut untuk Tuan Claude sebab ukurannya jauh berbeda dengan ukuran kaki raksasa milik pria tersebut.


"Ta da!"


Sepatu Baby D Ballet Pump In Black Dotted Swiss. Tak disangka-sangka oleh Lea, Claude memakaikannya sepasang sepatu yang sudah pasti dia tahu harganya tidaklah mahal, sudah bisa membeli segala kebutuhannya selama dua bulan. Bagi Lea, uang segitu sudah sangat lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.


Ingin rasanya Lea protes, namun segera dia urungkan. Jika dia protes lagi, maka sudah dapat dipastikan pria itu pasti akan membelikannya sesuatu yang lebih mahal lagi.


***

__ADS_1


__ADS_2