Babysitter Kesayangan Tuan Muda

Babysitter Kesayangan Tuan Muda
Bab 26. Pergi Belanja Part 2 end


__ADS_3

Grand Mall City


Sesampainya mereka di sebuah Mall besar, terletak dipertengahan ibukota. Lea tampak pusing, sepertinya dia mabuk karena terlalu lama didalam mobil. Lea memang, tidak bisa lama-lama berada didalam mobil, maka dia akan mabuk, untung saja ada Claude yang sigap membantu Lea berjalan sambil, mengeluarkan selembar uang membelikan Lea sebotol air mineral untuk ia minum, agar keadaan membaik.


Lea tersentak, dia memegang erat tangan kekar Claude lalu menundukkan kepalanya. Sepertinya ada sesuatu, yang mendorongnya untuk keluar. Dan Claude tahu itu, dia segera mengusap punggung bagian belakang Lea, sambil memijit nya dengan perlahan.


"Choel, ini--"


"Kak, muntah lah! Jangan ditahan-tahan." Sahut Claude, memotong perkataan Lea agar dia diam, dan segera memuntahkan sesuatu yang minta dikeluarkan.


Huek!


Huek!


Cairan bening keluar, Lea langsung bernapas lega segera meraih botol mineral yang Claude berikan kepadanya tadi. Meneguk hingga kandas, tak bersisa rasanya lega ketika mualnya, sudah selesai. Tubuhnya kembali fit, walaupun tadi sempat hampir tumbang.


Lea menjadi bersemangat kembali, untuk belanja segala kebutuhan menjelang pesta perayaan ulang tahun Nona Muda Caca yang ke sepuluh tahunnya. Sudah tidak dirasa, anak kecil yang dulunya dia pangku dan dia jaga setiap harinya tanpa absen sedikitpun, kini akan beranjak dewasa.


"Kakak, kita istirahat sebentar ya, Kakak belum membaik seratus persen loh." Diagnosis Claude. Lea hanya diam, menatap sekelilingnya lalu beralih menatap pada sebuah gerobak yang berada di pinggir jalan.


Bakso! Pengen bakso!


Tiba-tiba saja, perutnya keroncongan efek muntah tadi. Lea jadi kelaparan lagi, dia menatap kepada Claude sambil menunjuk sebuah gerobak milik mang penjual bakso. Claude tampak bingung, dengan arah tunjuk Lea.


"Ada apa Kak? Kakak mau, istirahat di gerobak? No lebih baik di dalam mobil saja." Tolak Claude, Lea seketika cemberut.


Sepertinya Claude salah paham, dia bukan ingin beristirahat di gerobak melainkan dia lapar dan ingin makan bakso! Coba peka sedikit!

__ADS_1


"Gak! Mau makan bakso, aku lapar!" ucap Lea. Claude terdiam, menatap kembali kearah gerobak yang berada di sebrang jalan raya. Lalu menatap kepada Lea.


"Kakak, beneran mau makan, makanan seperti itu?" tanya Claude, Lea mengangguk cepat dengan sangat antusias.


"Tapi kan Kak--"


Astaga!


"Kak Lea!" pekik Claude, ketika melihat Lea berlari menyebrang jalanan yang terlihat ramai akan motor dan mobil yang bolak-balik membela, ibukota. Baru saja, dia berbicara tiba-tiba saja dia diajak senam jantung oleh Kak Lea yang tiba-tiba saja, berlari menyebrang jalanan demi makanan tersebut. Claude jadi melongo bukan! Dia kaget, tentu saja kaget biasanya Lea yang dia lihat adalah sosok wanita tangguh, dan sangat tegas jika bertindak. Tetapi berbanding terbalik dengan sekarang, wanita tersebut tampak sangat girang ketika mendapatkan apa yang dia mau.


Sambil tersenyum, selebar mentari pagi. Tanpa sadar senyum Claude tertarik, menyaksikan seorang wanita yang tengah tersenyum menatap semangkuk bakso pesanannya. Terlihat sekali dia bahagia, Claude jadi gemas sendiri dan ingin mengurung sang wanita.


Kak, tetaplah tersenyum seperti itu. Aku jadi bahagia tahu, hanya melihat senyuman Kakak, sehat lah selalu.


Batinnya, ikut duduk di samping Lea, memandang dengan intens wanita itu memakan baksonya. Sementara Lea, yang tersadar jika sedang diperhatikan oleh seseorang, segera membalikkan tubuhnya ingin ke meja satunya.


"Makanlah Kak, dan jangan kemana-mana!" tegas Claude. Lea pun mengangguk patuh, tidak mau ribut sekarang karena dia sedang dilanda badmood karena kelaparan di tambah, seseorang sedang memperhatikannya makan. Membuatnya semakin tak bersemangat, dengan malas dia mengunyah makanannya hingga habis.


Claude tampak, mengeluarkan dompetnya. Lea yang melihatnya segera menghentikannya, Lea tidak mau Claude membayar makannya karena dia masih punya uang, hanya untuk membayar semangkuk bakso. Sebenarnya Lea ingin mengajak Claude makan bakso, sekadar mencicipi saja tetapi pria tersebut tampak, sangat tidak menyukai makanan tersebut. Padahal rasanya sangat enak loh, Lea maklum dia orang kaya mana pantas makan-makanan jalanan seperti ini.


"Biar aku yang bayar," ujar Lea. Segera mengeluarkan uang berwarna biru dari dalam, tasnya.


"Jangan Kak, biarkan aku saja yang bayar. Kakak duduklah di sana, istirahatlah sebentar setelah itu kita akan berbelanja!" Claude tampak tersenyum, Lea hanya diam sambil memutar bola matanya malas.


Tentu saja, malas meladeni sikap Claude yang satu ini. Dia lebih menyukai, Claude dalam mode dinginnya dibandingkan Claude dalam mode Choel nya. Rasanya agak norak, pria berwajah tembok itu tiba-tiba saja tersenyum secerah mentari pagi. Pasti orang-orang akan beranggapan, jika dia gila sama halnya dengan Lea.


"Terserah kau saja." Lea pasrah, segera menyimpan kembali uang miliknya kedalam tas. Setelah itu duduk di kursi, sambil memainkan gadgetnya membuka media sosial miliknya melihat-lihat postingan temannya yang sedang, liburan keluar kota. Tanpa sadar Claude, sudah berada didepannya sedang menatapnya dalam diam.

__ADS_1


"Kakak!"


"Eh, iya!" Lea gelagapan, segera menyimpan ponselnya kedalam tasnya menatap Claude yang tampak datar.


Wah benar-benar, kepribadian yang unik ya. Kemana perginya Choel tadi? Oh ya ampun, kenapa Anda menjadi menakutkan seperti ini sih. Mode cute tadi kemana aaa.


Lea jadi heboh sendiri, dia menatap Claude. Wajahnya masih sama datar, menatap kepada Lea.


"Kak, ayo kita pergi keburu malam," ajak Claude. Lea pun menganggukkan kepalanya, mereka pun berjalan, dengan keadaan Claude didepan sebagai seorang pemimpin arah, sementara Lea berada di belakang tubuh kekar tersebut, dia berjalan bak kurcaci yang sedang mengikuti tiang listrik.


Bruk!


"Aawww ... Sa--sakit tahu! Kenapa berhenti sih!" tiba-tiba saja, Claude berhenti dengan reflek jidat Lea terpukul tubuh bidang dan kekar tersebut, membuatnya kesakitan. Claude tampak diam menanggapinya, benar-benar orang tak berperasaan pikir Lea sambil mengelus jidatnya.


"Kak!" sambil memegang tangan Lea.


"Apaan sih, lepas," titah Lea. Bukannya melepaskan tangan Lea, Claude malah mencengkramnya semakin erat membuat Lea meringis kesakitan.


"Tu--tuan, apa yang Anda lakukan hem? Lepas aku kesakitan tahu!" ketus Lea, Claude hanya diam, segera membalikkan tubuhnya Lea tampak sangat kesal. Claude menarik Lea untuk, mengikutinya. Lea hanya bisa pasrah, dia berharap ada seseorang yang bisa membantunya lepas dari pria gila tersebut.


"Kita sampai sekarang, Kakak belanja lah aku akan membantu," ucap Claude datar. Lea tampak terkejut, secepat itu ya mereka sampai padahal tadi jalanan lagi macet. Ajaib sekali, begitu batinnya. Padahal beberapa menit yang lalu, mereka masih ada dijalan, tapi sekarang mereka sudah berada didalam Grand Mall benar-benar ajaib. Apakah Tuan Muda Claude ini, seorang penyihir yang memiliki teleportasi bisa menghilang sesuka hati, hanya dengan menjentikkan tangannya saja.


Lea benar-benar kagum, dan hari ini dia kasih bintang lima setidaknya pria itu berguna juga. Membantunya membawa barang, dia jadi hilang beban sekarang. Di tengah-tengah asiknya mereka berdua berbelanja, tiba-tiba saja seseorang datang menyapa Lea. Lea terkejut ketika melihat sosok tersebut, apalagi orang tersebut lancang memegang bahunya. Ingin rasanya Lea menepis tangan tersebut, apalagi ketika melihat ekspresi berubah dari Tuan Muda bisa habis orang tersebut.


***


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2