
Beberapa menit kemudian ...
Caca, tampak menyembulkan wajahnya dari balik selimut menatap Lea, dengan tatapan mengintimidasinya.
"Nona kecil, sudah bangun ya? Maafkan Kak Lea ya, maaf ya Kakak lama ninggalin Nona Caca, soalnya Kakak tadi--"
"Stop, Caca sudah tahu. Caca mau makan, Caca lapar!" sahutnya sedikit ketus, sembari mengacuhkan Lea yang berada didekatnya. Bukannya marah, dan kesal Lea malah tertawa menatap wajah cantik yang terlihat sedang ngambek tersebut.
"Oke, Kak Lea udah belikan Caca ayam crispy Pak Tono loh. Caca gak mau? Mana banyak lagi, Kak Lea borong loh sekalian restok biar kalau mau nambah lagi masih ada!" ujarnya cengengesan.
Caca tampak kesal, anak kecil itu berjalan mendekati Lea lalu memeluknya, sembari menenggelamkan wajahnya yang bersemu merah. Lea perlahan, mengusap rambut panjang milik Nona Caca sembari menyelipkan rambut yang menutupi wajah Caca.
"Kakak ... Caca, mau cerita," lirihnya bersemu merah. Membuat Lea terkekeh pelan.
"Ya, ceritalah nanti Kak Lea dengar."
"Tapi janji dulu, sama Caca. Jangan tertawa! Awas ya Kak, jangan tertawa!" peringatnya kepada Lea. Wanita itu segera menganggukkan kepalanya, pertanda setuju, kali ini Lea penasaran dengan cerita yang ingin Caca ucapkan kepadanya. Makanya ia memilih diam, apalagi ketika melihat rona merah di pipi Nona mudanya tersebut.
"Kak Al ... Dia--" gantungnya, membuat Lea seketika mendengus kesal. Padahal ia sudah terlanjur penasaran akan cerita dari Nona Caca.
__ADS_1
"Kak Al? Ada apa hem? Kenapa berhenti?" tanya Lea menatap Caca kecewa.
"Tidak, Kak Al tidak kenapa-kenapa!"
"Caca! Ayo ceritalah, Kakak sudah terlanjur penasaran tahu." Sungutnya. Caca pun cengengesan, ia pun segera kembali melanjutkan ceritanya yang tertunda. Lea terlihat, serius mencernanya hingga cerita Caca selesai. Yang menceritakan kesehariannya, bermain boneka beruang bersama Alfa padahal pria itu tidak menyukai bermain boneka apalagi bersama seorang anak kecil.
Selain itu, Caca pun menceritakan bagaimana perlakuan Alfa yang manis kepadanya. Lea pun seketika baper, mendengarnya seperti sedang membaca kisah percintaan di dunia novel pikirnya. Apalagi mereka berdua sama-sama, dari keluarga kaya raya hanya umur saja yang membedakan. Apalagi Alfa, adalah pria tampan kekar dan berwibawa, selain itu ia juga adalah, seorang pekerja keras dan pria yang dewasa. Sedangkan Nona Caca, walaupun usianya masih sangatlah anak-anak namun pola pikirnya serta jiwa berani dan tangguhnya, yang membuat Lea mengagumi sosok anak asuhnya tersebut.
Ia berani tampil, dan sangat pintar berbicara. Selain itu IQ-nya pun di atas rata-rata, sama halnya dengan Tuan Muda Claude. Mereka benar-benar anak yang pintar, dan berkharisma sejak kecil. Pola pikir merekapun, sangatlah dewasa makanya orang-orang tidak akan berpikir umur lagi jika berbicara dengan keduanya. Lea saja sampai kalah, oleh Caca yang cerdik tanpa diajar pun ia sudah mengetahui segalanya. Hanya satu yang ia tidak tahu, yaitu memasak dan berenang.
Padahal di Mansion mereka yang seperti, istana para Raja dan Ratu itu, terdapat kolam berenang yang besar. Tetapi Caca tidak mau, belajar berenang dengan alasan ia sangat malas bergerak. Benar-benar alasan, yang tidak masuk ke akal menurut Lea. Perlu di maklumi jika, Nona kecil mereka tidak tahu memasak, bahkan menyentuh alat perlengkapan masak saja tidak di perbolehkan oleh kedua orang tuanya. Lea saja sampai tercengang mendengarnya, dari para pelayan di dapur yang mengatakan segalanya, tentang keluarga ini.
"Kakak tahu, Kak Alfa keceplosan mengatakan jika aku ini cantik!" pekiknya, membuat Lea seketika histeris sendiri. Alfa pria yang memang, terlihat berwibawa dan tampan, bahkan idaman semua wanita. Namun dibalik segalanya, yang hampir sempurna ada sikap menyebalkan tersimpan. Pria itu, mempunyai satu kekurangan, walaupun secara fisik ia perfect. Namun letak kekurangannya, ialah di sikap, pria itu memiliki sikap dan sifat yang berbanding terbalik dengan tampang dan parasnya yang sempurna.
Bagaimana Alfa menampar seorang pelayan wanita, hanya karena satu kesalahan sepele. Yang masih dapat di atasi, padahal itu hanyalah boneka saja. Lain halnya ketika, kepada orang lain contohnya seperti Lea Alfa akan bersikap layaknya orang tak saling mengenal, padahal dahulu mereka pernah menjadi orang yang akrab waktu pertama kali Lea menginjakkan kakinya di Mansion Ricchan.
Dan juga, untuk pertama kalinya, Lea melihat Tuan Muda Claude menangis hanya untuk dirinya. Claude tidak mau, jika Lea dekat dengan Alfa yang pada saat itu masih tinggal di Mansion Ricchan sebelum ia, berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya sekaligus belajar bisnis.
Jika mengingat kejadian dulu itu, Lea benar-benar ingin tertawa sekeras-kerasnya. Sebab Claude yang notabenenya, dingin dan arogan itu ternyata bisa menangis juga (Ya kan, manusia Lea 😭)
__ADS_1
"Wah, benarkah? Selamat Nona Caca!" sahutnya. Membuat Caca, merasa bangga karena telah membuat Alfa keceplosan untuk berkata jujur jika dirinya memanglah cantik. Walaupun pertamanya, gadis kecil itu senang dan bahagia namun beberapa menit kemudian ... Alfa, mengatakan jika dirinya jelek, dan tak menyadari jika ia keceplosan berbicara seperti itu. Caca sampai kesal beberapa kali, namun ia tidak mengatakan hal selanjutnya sebab suara ketukan pintu yang keras mampu membuat kedua wanita berbeda umur itu, terkejut.
"Tunggu sebentar! Kakak!" teriak Caca, seraya mengambil boneka beruang kesayangannya lalu, berlari menyusul Lea, yang sudah lebih dahulu membuka pintu kamar. Hingga menampilkan dua sosok pria kekar berbeda umur tersebut, terlihat ekspresi wajah keduanya datar menatap kepada Lea dan Caca.
"Kakak, ada apa mendatangi kami malam-malam begini?"
"Ya Tuan Muda, ada perlu apa?"
Pertanyaan yang sama, mereka tujukan kepada Claude. Alfa hanya diam di samping, Claude tidak mengeluarkan suara, namun gerak-gerik tubuhnya menyuruh Lea agar segera bergeser dari Nona Caca. Sebab Tuan Muda, ingin berbicara empat mata kepada Nona Caca. Dan Lea yang seakan mengerti hal tersebut, bergegas pergi duluan ke bawah tanpa banyak bicara lagi. Apalagi tatapan Al, kepadanya membuatnya seketika tak berani lagi berbicara.
'Dia benar-benar menakutkan,' batinnya bergidik ngeri.
Seperginya Lea, Caca pun kembali berbicara. Ia menatap pria muda nan kekar, yang saat ini berdiri di hadapannya yang berstatus sebagai kakaknya itu.
"Kakak, kenapa hanya diam? Kak Al, kenapa kalian hanya diam? Lalu Kak Lea? Kenapa kalian menyuruh Kak Lea untuk pergi?" tanya Caca, melontarkan banyak pertanyaan pada Claude yang terlihat diam, sedari tadi.
"Sebaiknya, kita bicarakan ini didalam saja. Aku harap kau mengerti Ca!" ujarnya, langsung masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu dari sang pemilik kamar. Caca terlihat geram, ia segera mengejar langkah besar kakaknya itu. Tanpa menghiraukan, atau menyuruh Alfa untuk ikut masuk juga.
Alfa terlihat, diam ia membiarkan Kakak beradik itu berbicara berdua. Pelan-pelan ia, menutup pintu tersebut sembari menghela napasnya dengan sangat kasar. Ia sudah menyarankan kepada, Claude agar tidak membuka suara tentang kabar mengejutkan, yang sekarang mereka dapatkan. Namun Claude, bersikeras untuk memberitahukannya kepada Caca, adiknya itu, jika ayah mereka tidak dapat menghadiri pesta ulang tahun putri tercintanya itu, sebab ia tengah dalam keadaan kritis di rumah sakit, di Negara Prancis.
__ADS_1
Entah apa, ekspresi Caca nanti, namun Claude tetap harus memberitahukan kepadanya kabar tersebut. Walaupun gadis kecil itu, akan menangis bahkan mengamuk, setelah mendengar kabar jika ayah mereka tengah dalam keadaan kritis.
***