
Eum!
Lenguh, Lea ketika ciuman yang berlangsung lama tersebut terhenti. Keduanya terlihat, menghirup udara dengan ngos-ngosan usai berciuman.
"Ciuman pertamaku!" hardik Lea, sembari memegang bibirnya yang habis dicium oleh Tuan Mudanya tersebut. Yang sudah, tidak perawan lagi karena telah dicium oleh Tuannya tersebut.
"Claude! Aish ... Berani sekali, kau menciumku!" ketus Lea menatap tajam, kearah Claude. Ia seakan tidak Terima ciuman pertamanya, diambil oleh Tuan Mudanya sendiri. Padahal Lea sangat menikmati ciuman tersebut, Claude ternyata pintar berciuman, ia tidak kaku sama sekali seperti Lea.
Makanya Lea terbuai, tak berdaya dan pasrah saja saat Claude menyerang bibirnya. Ia tidak berkutik sama sekali, dan itu semua Claude lihat walaupun dia setengah sadar, setengah mabuk.
"Tapi Kakak, menikmatinya bukan!" imbuhnya, dengan tersenyum tanpa dosa sekalipun karena telah mencium Lea tanpa seizin dari wanita itu. Lea benar-benar marah, karena ini adalah ciuman pertamanya yang seharusnya ia lakukan bersama pria yang ia cintai. Bukan malah, melakukannya dengan pria muda yang berstatus sebagai majikannya tersebut.
"Tidak! Kembalikan, ciuman pertamaku! Dasar baj*ngan tengik!" pekik Lea dengan garang, menatap tajam kearah Claude. Pria itu tersenyum tipis, ia langsung berdiri menyesuaikan posisi dengan Lea agar lebih dekat dan bisa, menatap wajah cantik wanita itu ketika sedang marah.
"Kenapa melihatku?! Menjauhlah sana, jangan dekat-dekat. Kau ini tidak berperasaan sekali, sudah mengambil first kiss ku?!" bentaknya.
"Bukan hanya Kakak saja, yang kehilangan first kiss, aku pun sama!"
"Aku tida peduli! Kembalikan first kiss ku, Tuan Muda. Anda kenapa malah mengambilnya! Menyebalkan sekali," gerutu Lea. Ingin marah, tapi rasanya ia tidak setega itu, apalagi pria itu memiliki hati kepadanya, dan juga keadaannya yang tengah mabuk. Membuat Lea tidak bisa, berbuat apa-apa selain marah dan menunggu pelayan lewat, untuk membantunya membawa Claude ke kamarnya.
"Aku bisa mengembalikannya." Timpal Claude, membuat Lea seketika tersenyum mendengarnya. Jika bisa, berarti first kiss nya bisa kembali lagi seperti semula.
"Bagaimana caranya? Kau saja, sedang mabuk. Bagaimana cara mengembalikannya?" tanya Lea dengan polosnya, membuat Claude seketika tertegun mendengarnya.
__ADS_1
'Dia benar-benar polos, menggemaskan sekali,'
"Mau tau?"
"Atau, mau tahu sekali?"tanya Claude, sembari mendekatkan wajahnya kearah Lea yang terlihat memundurkan tubuhnya kebelakang hingga tak sengaja, membentur tembok hingga membuat dirinya mengaduh kesakitan. Dan memaki-maki tembok yang ia tabrak, padahal tembok hanyalah benda mati yang tidak bisa minggir ataupun berbicara.
" Enyahlah kau tembok, sakit sekali! Kenapa nasib sial selalu mendatangiku!" gumamnya sembari mengadu kesakitan.
"Kakak, kenapa kau memarahi tembok? Padahal kau sendiri yang salah, karena tidak mau melihat-lihat terlebih dahulu. Kakak ini, kenapa menjadi menggemaskan begini, didalam mimpi? Aku jadi ingin, segera menikahi Kakak!" ungkapnya, menganggap jika dirinya sedang bermimpi dan didalam dirinya ada Kak Lea bersamanya.
"Mimpi?" gumam Lea, mengerutkan dahinya menatap intens pada Claude yang terlihat memejamkan matanya dan kembali duduk di atas kursi. Lea segera mendekatinya, untuk memastikan jika dia benar-benar tertidur karena melihat, Claude memejamkan kedua matanya.
"Tuan! Tuan Choel! Kau tidur ya? Baiklah, selamat malam. Kakak pergi dulu, untuk memanggil Pak Jang, tunggu di sini dan jangan kemana-mana!" tekan Lea, dan hanya diangguki kepala oleh Claude sebab dirinya merasa, mual dan ingin memuntahkan isi perutnya tersebut tatkala merasakan, didalam tubuhnya seperti sedang diaduk-aduk.
"Pak! Pak Jang ... " Pak Jang menoleh, ketika ia merasa dirinya dipanggil oleh seseorang. Dan yang ternyata memanggilnya adalah, Pak Jang kepala pelayan Mansion, yang selalu meng-handle segala pekerjaan didalam Mansion maupun luarnya.
"Nona? Sedang apa, Anda disini? Nona Caca, sedari tadi mencari Anda kemana-mana," imbuhnya. Membuat Lea terdiam, ia mengira Caca sudah pergi duluan tanpanya, ternyata gadis itu tengah mencari keberadaan dirinya juga.
"Eum ... Ma--maaf, Pak Jang! Aku habis mencari Tuan Muda tadi, dan Tuan Muda ternyata mabuk berat. Aku tidak tahu harus berbuat apa, tolong bantu aku membawanya ke kamarnya Pak!" pinta Lea. Pak Jang pun, mengiyakannya dan memanggil dua orang lainnya, yang akan membantu mereka membawa Tuan Muda ke kamarnya, karena tubuh Tuan Muda yang tidaklah ringan, membuatnya kesusahan untuk mengangkatnya sendirian.
"Pak, bagaimana Caca? Apakah dia masih mencariku?" tanya Lea, disaat mereka akan pergi menuju ke ruangan Tuan Muda berada. Dua orang pria tampak mengikuti mereka.
"Tidak Nona, Nona memutuskan untuk pergi lebih dulu ke kamarnya. Karena dia sangat lelah, dan mengantuk, dia mengatakan jika Nona sudah datang, dia meminta Nona untuk pergi ke kamarnya membuatkannya susu," ujar Pak Jang, kepada Lea.
__ADS_1
"Begitu ya Pak, maafkan aku. Aku benar-benar lama tadi sebab Tuan Muda, tidak membiarkanku pergi, apalagi aku tidak bisa mengangkat tubuhnya yang besar itu. Anda lihat sendiri, tubuhku sekecil apa!" ungkap Lea memperlihatkan lengannya, yang begitu kecil kepada Pak Jang.
Membuat Pak Jang, seketika tersenyum tipis.
Sesampainya mereka, kedua mata Lea seketika dibuat melotot penuh tatkala, pandangan matanya tertuju kepada Claude yang terlihat kusut, bahkan bau amis tercium. Sepertinya pria itu habis muntah, bahkan sampai mengotori kemeja yang dia pakai. Lea dan Pak Jang pun, cepat-cepat mendekati Claude, ketika melihat tubuhnya yang hampir jatuh dari atas kursi.
"Ya ampun, Tuan Muda! Kenapa Anda, jadi seperti ini? Aku benar-benar akan memarahi mu besok! Lihat saja!" gerutu Lea, sembari memperbaiki tataan kemeja Claude seperti semula, yang terlihat terlepas dari tempat yang seharusnya.
"Huh, muntahnya sangat banyak. Bau alkohol, yang amis, aku juga jadi ikutan mau muntah!" gumamnya sembari, menutup hidungnya menggunakan kedua telapak tangannya. Pak Jang terlihat, menyuruh dua orang tadi membantunya mengangkat tubuh Claude, yang tidaklah ringan tersebut.
Lea terlihat, menjauh beberapa meter, memberikan jalan agar memudahkan untuk membawa Tuan Muda pergi dari ruangan tersebut. Setelah Pak Jang, pergi dengan dua orang pria tadi yang sudah ditugaskan langsung oleh Pak Jang sendiri, untuk mengangkat Tuan Muda menuju ke kamarnya, yang letaknya ada di lantai atas bersebelahan dengan kamar milik Nona Caca. Lea pun segera, memanggil satu pelayan untuk membersihkan muntahan yang mengotori lantai tersebut, dan setelah selesai ruangan tersebut langsung ia kunci, menggunakan kunci yang Pak Jang berikan kepadanya tadi.
"Akhirnya, aku bisa bersantai! Pinggang ku rasanya mau patah," gumamnya sembari menggerakkan tubuhnya perlahan, untuk meregangkan nya.
Setelah itu, Lea segera berjalan menuju ke dapur. Ia melihat di room tempat pesta Nona Caca tadi, sudah tidak ada orang. Sepertinya mereka sudah pulang ke rumah masing-masing, dan kini pelayan tengah bekerja sama membersihkannya. Lea ingin sekali membantu para pelayan itu namun ia teringat akan perkataan Pak Jang tadi, bahwa Caca menyuruhnya untuk membuatkannya susu.
Lalu Lea, mengantarkannya ke kamar gadis kecil itu.
Dengan terburu-buru, Lea membuatkan susu untuk Nona Caca. Sekalian membuatkan teh hijau, untuk Tuan Claude tak lupa, ia membawa sepiring makanan untuk Tuan Muda. Karena Lea tahu, Claude pasti sedang kelaparan apalagi, dia habis muntah dengan banyak tadi.
"Selesai, setelah mengantarkan susu untuk Caca. Aku akan pamit lalu, mengantarkan teh hijau dan makanan ini kepada Tuan Muda. Sekalian menengok keadaannya," gumamnya segera mengantarkan susu kepada Nona Caca.
***
__ADS_1