Babysitter Kesayangan Tuan Muda

Babysitter Kesayangan Tuan Muda
Bab 40. Butik (3)


__ADS_3

"Wah ... Kakak tampak semakin cantik, aku jadi ingin memakan Kakak loh." Cengirnya kembali berdiri, lalu memapah Lea agar berdiri.


Lea tampak tersipu malu, dengan segera dia memalingkan wajahnya. Claude benar-benar, membuatnya terus berdebar dan malu atas pujian yang dia lontarkan kepada Lea. Selama ini Lea, tidak pernah dipuji oleh orang-orang, tanpa terkecuali Caca.


Selalu memujinya, setiap saat. Tetapi dia tidak pernah berdebar dan semalu ini, bahkan jantungnya sedang berdisko didalam sana. Dan Claude menyadarinya, hanya saja dia berpura-pura tidak tahu jika Lea sedang tersipu malu kepadanya.


"Kakak suka? Atau tidak? Jika Kakak suka, syukurlah kita bisa pergi sekarang. Beritahu aku apa yang ingin, Kakak protes lagi? Katakan!" tampak Lea menggeleng kuat, dia tidak mungkin bilang kepada Claude jika dia tidak menyukai dress yang saat ini dia kenakan.


Lebih baik diam, daripada mengeluh yang akan membawanya kedalam masalah.

__ADS_1


"Aku suka." Jawabnya telak. Ketika melihat, Claude hendak berbicara lagi. "Benarkah? Kenapa wajah Kakak, masam seperti itu? Apakah Kakak tertekan bersamaku?!" tanyanya dengan nada menyelidik.


Lea terkesiap, segera meraih tangan kekar Claude tanpa rasa malu sedikitpun. Apalagi saat ini, mereka tengah menjadi tontonan semua orang. Dia harus segera pergi, dari butik ini sebelum Claude membuatnya kembali susah akan keinginannya.


"Tuan, ayo pergi. Kak Lea benar-benar menyukainya kok, mana berani Kakak tertekan didekat Tuan Muda!" ujarnya tersenyum paksa. Mencoba terlihat sesenang mungkin, kalau perlu Lea ingin lompat seperti anak kecil. Agar Claude, mempercayainya dan tidak meragukan dirinya.


"Benarkah, hum ... Baiklah, jika Kakak memaksa. Please madam," Claude memanggil karyawati yang tadi melayani mereka.


'Ya ampun, dia sedang apa sih. Huh rasanya melelahkan seharusnya aku mempersiapkan pesta Caca saja dibandingkan, menemaninya benar-benar modus,' batinnya berdecak sebal.

__ADS_1


Memandang, Claude yang tampak masih sangat serius berbincang dengan karyawati tadi. Hingga melupakan keberadaan Lea, yang tengah mengerucutkan bibirnya kesal.


"Bagaimana Tuan? Apakah perlu saya--"


"Tidak perlu! Aku borong semua, pakaian-pakaian branded itu. Nanti seseorang akan datang kemari," ujarnya memotong ucapan karyawati tersebut. Karyawati tampak menundukkan kepalanya, tatapan Claude benar-benar membuatnya takut. Lea yang sedari tadi, memerhatikan hanya bisa diam tanpa berbicara sepatah katapun.


"Ba--baik Tuan, saya mengerti." Ucapnya, Claude tak bergeming dia tidak menanggapinya sama sekali. Tatapan pria itu, terus menatap kearah seorang wanita yang tampak sangat cantik dan semakin bersinar dengan tampilannya, yang baru ini.


Claude benar-benar, mengagumi sosok tersebut. Sosok wanita yang telah membuatnya nyaman, dan telah berani mengambil tempat dihatinya wanita beruntung yang bisa mendapatkan cintanya. Tetapi disini Claude lah, yang paling beruntung. Jika ditanya siapakah tipe idealnya, maka Claude akan menjawab, tipe idealnya adalah wanita yang sedang berdiri dihadapannya saat ini.

__ADS_1


Wanita yang entah, menatapnya dengan perasaan apa. Karena kadang saja, tatapan wanita itu selalu berubah-ubah walaupun dia telah berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan, sesuatu yang sedang terjadi kepadanya dan mencoba tersenyum kepada dunia bahwa dia baik-baik saja. Padahal sebenarnya, dia tidak baik-baik saja. Dan Claude menyadarinya makanya, diam-diam ia mengawasi wanita tersebut.


***


__ADS_2