Babysitter Kesayangan Tuan Muda

Babysitter Kesayangan Tuan Muda
Bab 55. Kekesalan Claude


__ADS_3

"Kakak, besok aku akan pergi ke Prancis!"


'Lalu apa urusannya denganku, Tuan Muda'


"Lalu?"


"Kak, berjanjilah satu hal kepadaku. Jika Kakak, tidak akan pergi walaupun seseorang memaksa Kakak! Jangan pergi, tetaplah disini tunggu aku kembali, lalu!" Claude dengan berani, meraih tangan Lea lalu menggenggamnya erat menatap sendu kepada Lea.


Hingga membuat, wanita itu terdiam menelan salivanya dengan sangat susah payah. Ketika melihat tatapan Tuan Muda, yang tertuju kepadanya, seakan tengah membawanya ke medan peperangan. (Berperang perasaan 😭)


"Aku ti--"


"No ... Tidak ada, penolakan! Ini adalah perintah dari Tuan Muda." Ujarnya seraya, menaruh jari telunjuknya tepat di bibir merah jambu milik sang wanita, sehingga menghentikan perkataannya.


'Masih sempat-sempatnya, berkata ini adalah perintah Tuan Muda. Ya ampun menyebalkan sekali' gerutunya bergumam.


"Kenapa melihatku Kak? Aku tampan ya? Memang," deliknya telak, melempar senyum jenaka kepada Lea. Hingga membuat wanita itu membuang mata malasnya, ketika mendengar perkataan ngawur dari Tuannya.


'Ya, ya Anda yang tertampan, serah Anda saja Tuan Muda' pasrahnya lagi-lagi, bergumam.


"Kak, berjanjilah! Jangan pernah, berani mengingkarinya!"


"Jika sampai, Kakak mengingkarinya, maka aku tidak akan segan-segan." Diraihnya wajah Lea lalu, ditatapnya intens sembari mencengkram erat pinggang ramping wanita tersebut. Hingga membuat Lea, setengah mati menahan debarannya yang tiada hentinya berdebar dengan kencang ketika berada di sekitar Tuan Muda.

__ADS_1


Lea tidak, paham dengan perasaannya saat ini. Ketika ia mengetahui jika Tuan Muda, besok akan berangkat menuju ke Prancis entah mengapa tiba-tiba saja, ia merasa khawatir dan takut sesuatu hal akan terjadi. Dan Lea enggan sekali, pergi dari Keluarga ini padahal, keinginannya pertama ialah ia ingin sekali, pergi jauh dari keluarga ini. Tapi berbeda saat ini, rasanya dirinya enggan pergi apalagi mendengar perkataan Tuan Muda tadi yang menyuruhnya tetap disini dan menunggu pria itu datang.


Namun, satu hal yang Lea harus ingat. Cepat atau lambat Nyonya Veronica pasti akan menyuruhnya pergi, apalagi masa kontraknya akan segera habis. Nona Caca, tidak membutuhkan dirinya lagi, begitulah yang Nyonya besar katakan kepadanya. Dan Lea hanya bisa memaklumi hal tersebut, Nyonya besar melakukannya bukan semata-mata menjauhkan Lea dari Caca. Namun yang sebenarnya terjadi, adalah Nyonya besar tidak mau Claude putranya berhubungan dengan Lea yang hanya gadis biasa, yang tidak berpendidikan dan latar belakang keluarganya yang kurang diketahui. Dan Lea sadar, akan hal tersebut walaupun tidak diberitahu lagi.


Tidak perlu, diberitahu pun Lea akan tetap pergi. Apalagi uang di tabungannya sudah sangat cukup, untuk membiayai kebutuhan hidupnya diluar sana. Lea tidak akan, kembali ke kampung halamannya lagi sebab ia sangat malas berhadapan, dengan para keluarga ibunya yang tiada habis-habisnya membuat telinganya sakit, setiap mendengar mereka bercerita tentang keberhasilan anak mereka dan menyudutkan Lea sebagai cucu tertua di keluarga ibunya. Lea merasa sakit hati, setiap hari harus berkumpul bersama keluarga dari ibunya itu, ia selalu dicibir dan tak dianggap keberadaannya.


Hingga dirinya, memutuskan untuk menjadi seorang Babysitter setelah beberapa hari, tamat SMA. Lea memutuskan untuk, pergi meninggalkan kampung halaman ibunya menyisakan adiknya yang betah, tinggal di sana, maklum saja anak lelaki lebih dilihat di sana. Jadi Lea tak perlu, lagi mengkhawatirkan adiknya itu sebab banyak keluarga dari ibunya, yang menyayangi adiknya.


Berbanding terbalik dengan dirinya, yang sama sekali tak dilihat dan dipandang baik di sana. Bahkan para tetangga pun, mulai mengeluarkan kata-kata kurang mengenakan tentangnya hingga membuat Lea, tidak akur lagi dengan orang-orang di sana. Dan ketika, memasuki keluarga ini Lea menjadi ceria kembali, ia merasa jiwanya menjadi hidup kembali setelah sekian lama, memendam perasaan sakit hati dan rasa, ingin menyerahnya akan kehidupan.


Apalagi, para penghuni Mansion sangat mengkhawatirkan dirinya. Lea menjadi sangat terharu, dan anak yang ia asuh, Nona Caca, begitu menyayanginya. Lea bahkan merasa tidak kesepian lagi apalagi Nona Caca, sangat menyayanginya, dan menganggapnya sebagai seorang Kakak setelah Claude.


Ia bahkan, sampai melupakan luka lamanya ketika untuk pertama kalinya, menginjakkan kakinya di Mansion Ricchan. Terutama Tuan Besar Lea, benar-benar tidak akan pernah melupakan jasa pria parubaya itu kepadanya. Tuan Besar sudah sangat berjasa untuk hidupnya ia benar-benar menghormati pria parubaya itu. Dan Lea, selalu berdoa untuk kesembuhannya, orang yang telah menyelamatkan hidupnya dari malapetaka.


Jika hari itu, Tuan Besar tidak menyelamatkan dirinya entah hal buruk apa, yang akan menimpa dirinya saat itu.


Tampak Lea, mendengus kesal menanggapi perkataan pede dari Claude. Benar-benar manusia pede pikirnya, menatap jengah kepada Claude.


"Tidak! Kurang kerjaan apalagi, aku untuk memikirkan mu?!"


"Aku kira, Kakak memikirkan aku!" balasnya terdengar kecewa. Membuat Lea menghela napas kasar. Pancaran kekecewaan, terlihat jelas di wajah tampan milik Tuan Mudanya itu. Padahal ia sudah berekspektasi tinggi, jika wanitanya sedang memikirkan dirinya, sama hal dengannya yang juga sedang memikirkan sang wanita dan mengkhawatirkannya.


Namun kenyataannya, Lea tidak sedang memikirkannya. Membuat Claude seketika kecewa.

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal aku sedang memikirkan Kakak loh!" ujarnya membuat, Lea terdiam.


Ketika Lea, hendak membalas perkataan Claude barusan. Tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya tersebut, ketika melihat Nona Caca digendong oleh Tuan Alfa, menuruni anak tangga.


"Kakak! Mom, ingin berbicara dengan Kak Lea!" pekiknya dengan suara cemprengnya, namun tidak dengan wajahnya. Wajahnya yang cantik itu terlihat sembab, seperti habis menangis bahkan buliran air mata terlihat masih menggenangi bawah mata gadis itu. Dan Lea melihatnya, sepertinya sesuatu hal sedang terjadi.


Terlebih lagi, Nyonya Besar tiba-tiba saja ingin berbicara dengan Lea lewat sambungan telepon. Raut wajah Tuan Muda, terlihat berubah datar tanpa ekspresi apapun dan Alfa, melihatnya dengan sangat jelas. Bagaimana Tuan Muda, yang tadinya terlihat biasa saja, seketika berubah begitu saja apalagi mendengar Nyonya besar ingin berbicara, dengan Lea. Berdua saja lewat sambungan telepon.


"Sebaiknya mo--"


"Baiklah Tuan, dan Nona, izinkan saya berbicara dengan Nyonya Besar. Kalian tunggu disini saja ya, tidak akan lama!" ucap Lea, segera memotong ucapan Tuan Muda, ia pun segera merampas, telepon tersebut dari tangan Claude, setelah beberapa menit Caca memberikannya kepada Claude. Lalu pamit kepada Caca, sebelum akhirnya ia pergi tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Claude terlihat sangat kesal, ia tidak bisa berkata-kata lagi. Apalagi melihat Lea, yang pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga. Claude yang kesal, pun segera meninggalkan meja makan menyisakan Caca, dan Al yang terlihat saling tatap satu sama lainnya lalu, menatap kedua sejoli tersebut dengan menghela napas mereka.


Terlebih lagi, Caca sedang digendong oleh Alfa, karena gadis kecil itu merengek ingin digendong. Dan tentu saja Alfa, tidak bisa menolaknya, apalagi Caca habis menangis tadi.


Ia merengek, kepada mommynya ingin ikut Kakaknya dan Alfa menuju ke Prancis, untuk menemui Daddynya yang sedang dirawat di sana. Namun Nyonya besar tentu saja, tidak mengizinkannya. Hingga membuat Caca menangis, dan mengamuk ia bahkan hampir saja memukul Alfa menggunakan pot bunga, di dalam kamarnya lantaran kesal, kepada semua orang yang selalu saja melarang dirinya. Padahal ia ingin sekali, bertemu dengan daddynya.


"Kakak, Kak Claude kenapa ya? Kenapa dia jadi marah dan pergi begitu saja, aish ... Jangan bilang, dia cemburu dengan mommy karena telah membuat Kak Lea pergi," tebaknya, menatap punggung Kakaknya yang menghilang ditelan pintu.


Alfa, hanya diam tanpa menanggapinya. Ia hanya bisa membuang napas dengan sangat kasar, lalu mengajak Caca untuk makan malam. Menemani gadis kecil itu, makan malam sambil mendengar ocehan dan uneg-unegnya yang keluar, memarahi Claude Kakaknya yang paling mengesalkan. Alfa hanya bisa tersenyum menanggapinya, apalagi ketika Caca mengatakan jika ia, ingin sekali membuang Kakaknya dikandang buaya jika Kakaknya itu berani, membuat Kak Lea patah hati dengan menikahi Kimberly.


Bukan Claude nanti, yang akan dibuang dikandang buaya melainkan Caca yang akan, Claude buang lebih dahulu.

__ADS_1


***


Jangan lupa, vote, komen, dan likenya 🙏 Cuman itu hehe~ Gak lebih. Ayo dukung karyaku ini ya 😄


__ADS_2