
"Kak, aku lapar. Sebaiknya kita pergi sekarang, apakah Kakak benar-benar tidak mau protes lagi? Ini penawaran terakhir loh," cengirnya menatap pada Lea yang tampak berdiam diri, dengan wajah yang ditekuk.
Lea bergeming, dengan acuh mengangkat bahunya. Claude tertawa kecil, diapun segera meraih tangan Lea lalu menggenggamnya dengan erat.
Tampak Lea terkejut, namun keterkejutan tersebut segera dia hilangkan. Tanpa banyak berkata, Claude melangkahkan kakinya keluar butik dengan wajah yang ceria, sembari menggenggam tangan seorang wanita yang sekarang telah menjadi kekasihnya. Banyak mata melihat mereka, ada yang bertatapan iri, dan ada yang kesal.
Kesal, karena mereka semua patah hati karena idola mereka telah mempublikasikan kekasihnya. Kabar pertunangan, Claude dan Kimberly belum tersebar luas makanya sebagian orang beranggapan jika wanita yang saat ini Claude gandeng adalah kekasih satu-satunya dari pria berwajah tembok dengan aura dinginnya, yang selalu saja membuat orang-orang ketakutan jika bertatapan ataupun bertemu secara tidak sengaja.
"Kakak, aku bahagia. Benar-benar bahagia, apakah Kakak merasakan hal yang sama denganku?" tanyanya kepada sang empu, yang tampak diam sedari tadi.
"Kakak ... " Sahutnya lagi, sembari melepas genggaman tangannya lalu menatap pada Lea. Saat ini, mereka sudah sampai didepan parkiran mobil tampak seorang pria dengan aura dingin terpancar diwajahnya, sedang berdiri tepat di samping mobil milik Claude.
"Eh, ma--maaf," balas Lea. Claude tampak diam, menatap kedua bola mata berwarna hitam pekat tersebut dengan begitu intens sehingga membuat orang yang dia tatap, menjadi salah tingkah.
'Please, berhentilah menatapku!,' batinnya memekik.
"Kakak, aku sedang bahagia karena Kakak berada di dekatku sekarang. Tetapi, apakah Kakak pun merasakan hal yang sama sepertiku? Apakah Kakak bahagia, berada di dekatku seperti yang sekarang aku rasakan?" tanyanya. Lea terdiam, sembari memikirkan perkataan Claude barusan.
'Entahlah, aku hanya merasa tenang saja,'
"Kakak jawablah, aku menunggu tahu." Celetuknya memasang wajah kesalnya, karena lagi-lagi Lea mengantungi pertanyaannya.
"Ak--aku bahagia! Yah, benar-benar bahagia!" balasnya telak ketika tatapan tajam, Claude mengarah kepadanya. Lea benar-benar tidak ingin bertengkar dengan Tuan Muda Claude, karena dia merasa tidak akan pernah menang jika berbicara kepada pria tersebut. Apalagi sekarang, ada seorang pria sedang menatap kepada mereka saat ini.
__ADS_1
"Really? Atau Kakak--"
Hup!
Karena kelewatan cerewet, dan melontarkan Lea berbagai macam pertanyaan. Claude pun seketika bungkam, ketika tangan lentik Lea membungkam bibirnya yang ingin kembali berbicara. Tampak wanita itu, beracak-acak pinggang, sambil menatap tajam kepada Claude.
Mark pria itu bergeming, ingin menegur Lea yang tampak membungkam mulut Tuannya. Bukannya dia tidak menyukai keberadaan Lea, hanya saja dia merasa risih dan was-was ketika melihat, bagaimana lancangnya wanita itu kepada Claude. Sepertinya Mark, belum tahu yang sebenarnya yang sedang terjadi karena yang setahu Mark, Tuan Muda Claude memiliki seorang kekasih sekaligus calon tunangannya, yang bernama Nona Kimberly.
Dan Mark, mengenali gadis tersebut karena mereka dulu pernah berteman baik. Kimberly, gadis yang baik dan tidak pernah melihat orang dari siapa dia, dan apakah dia dari orang berada. Menurut Mark Tuan Muda, sangat beruntung bisa mempunyai tunangan dengan sifat sebaik Kimberly.
Sebelum Mark, menegur Lea. Claude langsung memberikan sebuah isyarat kepada Mark, karena menyadari pria itu tampak menatap Lea dengan tatapan berbeda dari, tatapannya yang sebelumnya. Dan Claude marah akan itu.
Sementara Lea, yang tersadar jika seseorang menatapnya segera melepaskan tangannya tersebut, lalu memberi jarak beberapa senti antaranya dengan Claude.
"Kak, lupakan pertanyaanku yang tadi. Ayo kita berangkat, aku lapar tahu!" ajaknya Lea hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Dengan hati-hati Mark hendak membukakan, pintu mobil untuk Lea. Namun Claude, segera memerintahkan Mark agar berhenti, karena dia yang akan membukakan pintu mobil untuk Lea. Dan Mark pun, hanya bisa mengikutinya saja tanpa protes bagaimanapun Claude adalah atasannya.
Walaupun dia tidak menyukai keberadaan Lea, tetapi Mark mencoba keras untuk tidak memperlihatkan rasa tidak sukanya. Karena Lea telah mendekati, seseorang yang tidak seharusnya dia dekati karena pria tersebut telah memiliki seorang tunangan. Mark belum tahu, hubungan keduanya, tetapi yang pastinya Mark tidak menyukai keberadaan Lea diantara Tuan Claude dan Nona Kimberly.
Sementara Lea. "Sepertinya, dia tidak menyukaiku, ah aku jadi tidak enak sekarang tolong jangan memperlakukanku dengan manis Tuan Muda, Anda tidak lihat, seperti apa wajah pria itu sekarang." Gumamnya, setelah masuk kedalam mobil tampak Claude pria itu tengah tersenyum kepadanya sambil duduk di sampingnya.
Dan kali ini, bukan Claude lagi yang menyetir melainkan pria tadi yang tidak menyukai keberadaan dirinya diantara Tuan Muda. Entahlah, Lea menjadi tidak enak, dan sedikit kesal pasti pria itu sedang beranggapan aneh tentangnya padahal yang sebenarnya terjadi, bukanlah atas keinginannya. Lea sebagai korban disini.
__ADS_1
"Kita akan kemana sekarang, Tuan Muda?"
"Restoran Bruule Plaza Senayan." Balasnya, tanpa menoleh kepada Mark ataupun kearah lain karena tatapan matanya, tidak bisa berpaling dari wanita cantik yang sekarang berada di sampingnya saat ini.
"Baiklah Tuan!" Mark pun, segera menyalakan mobil lalu melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, membela jalanan ibukota menuju ke sebuah restoran yang telah diberitahu oleh sang bos tadi.
Sementara Lea, wanita itu tampak diam menoleh sekilas kearah Claude yang sedang menatapnya dengan sebuah senyuman terukir di wajah tampannya, senyuman tersebut benar-benar membuat Lea tidak bisa berkata-kata. Baru pertama kali dalam hidupnya, dia melihat pria dingin dengan wajah tanpa ekspresinya ketika menatap orang-orang, termasuk dirinya.
Tanpa beban apapun, tersenyum kepadanya. Membuat jantung Lea berdebar, dengan begitu cepat debarannya bahkan sampai bisa Lea dengar sendiri. Entahlah apakah, pria itu mendengar debaran jantung Lea atau tidak. Tapi yang pastinya, Lea sedang menahan malu sekarang dia segera menolehkan kepalanya menatap keluar jendela menatap pemandangan perkotaan, yang tampak padat.
Claude berdecak kesal, karena Lea tampak menghindari tatapannya. Padahal Claude sudah memaksa, bibirnya untuk bisa tersenyum semanis mungkin kepada Lea. Namun bukannya disambut, dengan sebuah senyuman juga, Lea malah membuang mukanya kearah lain.
Ingin rasanya, dia meraih wajah cantik tersebut. Namun niat tersebut, segera dia urungkan ketika melihat Lea yang sedang menatap keluar jendela mobil dengan begitu, tenang. Dan Claude tidak mungkin mengganggunya.
'Apakah dia benar-benar, kekasihku? Rasanya seperti mimpi. Beginikah rasanya jatuh cinta? Aku bahkan sampai ingin memilikinya, aku benar-benar ingin memilikinya, dia adalah wanitaku,' batinnya bermonolog dalam hati, sambil memerhatikan Lea dengan intens.
Beberapa menit kemudian ...
Restoran Bruule Plaza Senayan
Sesampainya mereka, Claude pun segera membukakan pintu mobil untuk Lea. Dia bersikap layaknya lelaki dewasa yang sedang berkencan, dengan seorang wanita yang lebih muda dibandingkan dirinya. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah, dia seorang pria remaja yang sedang dalam masa pubernya, tengah berkencan dengan seorang wanita yang umurnya terpaut sangat jauh dengan dirinya.
Dan Claude tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena baginya umur hanyalah angka. Tidak ada larangan untuk mereka bersama bukan, asalkan berjodoh. Dan Claude berharap, jodohnya adalah wanita yang sekarang tengah dia genggam tangannya, yang sekarang berdampingan masuk kedalam restoran bersamanya.
__ADS_1
***