
"Kak Lea, astaga maaf Kak. Caca kira siapa!" ujar Caca dengan cengengesan sambil mengusap, dadanya.
Lea tersentak, menatap Caca dengan tatapan mengintimidasi. Caca hanya diam, sambil menelan salivanya dengan sangat susah payah.
"Ah, itu. Caca habis masuk ke kamar Caca tadi, mau ambil sesuatu tapi Caca lupa kalau Kak Lea lagi, nungguin Caca dibawah!" ucap Caca berbohong, teringat sesuatu yang sedang dia pegang. Segera menyembunyikannya dibalik, tubuhnya. Membuat Lea, semakin curiga.
"Caca Ricchan!"
Deg!
Caca tampak terkejut, jika Lea sudah menggunakan nama panjang beserta marganya berarti dia benar-benar tidak mempercayai akan hal tersebut. Dan Caca tahu, dia harus melakukan apa sekarang, untuk membuat Kak Lea tidak mencurigainya.
"Kak, Caca minta maaf." Lirih Caca, segera menghambur ke pelukan Lea, sambil melirik seorang pelayan yang berjalan ke arah mereka dengan tiba-tiba.
"Non, kata Nyonya besar hadiah dari Nona Kimberly tadi mana? Nyonya menyuruh saya, untuk mengambilnya," sahut seorang pelayan tiba-tiba. Membuat Caca seketika panik, segera memberikan bungkusan yang Kakaknya berikan kepadanya tadi. Ingin rasanya Caca memaki, pria tersebut karena telah membohonginya, tetapi ketika melihat gerak-gerik dari pelayan tersebut.
Sepertinya dia bisa menebak sesuatu. Sepertinya Kakaknya itu, yang menyuruh seorang pelayan untuk menolongnya dari kecurigaan Kak Lea. Caca pun, akhirnya bernapas lega setelah memberikan barang tersebut kepada pelayan, dan tanpa banyak basa-basi pelayan tersebut secara pergi meninggalkan mereka berdua. Lea tampak diam, sepertinya kecurigaannya telah selesai.
"Kakak, maafkan Caca. Caca hampir lupa tadi," lirih Caca.
"Kakak!" pekik Caca, membuyarkan lamunan Lea. Sepertinya Lea tengah memikirkan sesuatu, bahkan ekspresinya seperti tidak mood sekarang. Caca semakin merasa bersalah.
"Caca, maafkan Kak Lea ya. Maaf buat Caca menunggu lama, ayo ikut Kak Lea mienya udah masak tinggal dimakan nanti dingin, gak enak loh makannya sudah dingin." Sahut Lea tersenyum. Membuat Caca, bernapas lega untuk kedua kalinya, sembari mengikuti Lea menuju ke meja makan. Berbagai macam makanan, sudah tersaji di sana. Dan yang paling Caca, tunggu adalah mie spesial buatan Kak Lea. Yang mempunyai banyak sekali topping, kesukaan mereka.
Caca sangat lahap memakannya, entahlah efek kelaparan atau ingin cepat-cepat selesai, untuk segera melontarkan banyak pertanyaan menantang kepada Kak Lea.
Lea tersenyum, sambil mengusap kepala Caca penuh sayang. Sambil membayangkan, bagaimana ekspresi Caca saat tahu, dia akan pergi dari sisi gadis kecil tersebut.
"Makannya, pelan-pelan ya. Nanti tersedak."
Baru saja Lea, memperingati. Tiba-tiba saja Caca tersedak, dengan sigap Lea memberikan segelas air putih yang disambut langsung oleh Caca.
__ADS_1
"Kan, sudah dibilangin. Caca pelan-pelan aja ya, jangan terburu-buru gitu, Caca bisa makan sendiri? Kak Lea, ada urusan mendadak, Kak Lea harus segera pergi?" tanya Lea kepada Caca. Caca pun segera menggelengkan kepalanya.
Dia tidak mau Kak Lea pergi, sebelum menjawab segala pertanyaannya.
"Gak mau!"
"Kak Lea, gak boleh pergi! Pokoknya gak boleh!" pekik Caca. Lea hanya diam, yang tadinya tersenyum secerah mentari pagi kini senyuman tersebut luntur seketika. Ada rasa kesal dihatinya, dia tidak membenci Caca hanya saja dia sedang kesal, kenapa mendadak sekali urusannya diluar. Dia pun, tidak ada keinginan untuk pergi.
"Kak Lea tidak boleh pergi, temani Caca saja please." Rengek Caca memeluk Lea, dengan sangat erat membuat seseorang yang baru saja datang, seketika berdeham dengan keras.
Ekhem!
"Kakak!"
"Tuan Muda!"
"Caca, lepaskan Kak Lea. Biarkan dia pergi, sepertinya urusannya sangat penting," sahut Claude dengan acuh, sambil menarik kursi meja didepannya, dan duduk dengan tenang tanpa, melihat tatapan Caca dan Lea kepadanya.
"Gak mau! Mending, Kak Claude pergi sana. Jangan ganggu kami ya, Kakak gak diundang tahu. " Balas Caca dengan sengit. "Benarkah?"
Claude makan dalam diam, dan tenang. Sementara Caca berbicara tanpa kenal lelah, bertanya-tanya kepada Lea. Lea pun pasrah, dan menjawabnya, sambil melirik kearah Claude. Wajahnya tampak datar, tidak ada senyum sedikitpun yang terukir. Masih sama waktu pertama kali mereka bertemu, anak kecil yang berusia lima tahun saat itu. Wajah datar, dan sangarnya menatap kepada Lea. Lea jadi tertawa ketika mengingatnya tak disangka-sangka olehnya, anak tersebut sudah tumbuh dewasa sekarang.
Lea jadi ingin kembali, ke masa lalu saja.
Flashback On
"Mommy ... Mommy ... Mommy!" pekikan seorang anak kecil, terdengar keras. Memanggil mommynya, beberapa kali tangisnya semakin keras. Membuat seseorang yang baru saja melintas, menengok mencari sumber arah tangisan tersebut.
"Mommy ..." Lirihnya, langsung pingsan. Membuat seseorang langsung panik dan segera menggendong anak kecil tersebut, kedalam pelukannya sambil menggoyangkan tubuh tersebut.
"Dek bangun, dek!" gadis itu memekik, menepuk pipi gembul anak kecil tersebut sambil meraih ponselnya, lalu menelepon seseorang.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian ...
Seorang pria datang, bersama temannya. Dengan mimik khawatir. Mendekati sang wanita, yang tengah mendekap seorang anak kecil.
"As, tolongin dong." Titahnya. Pria tersebut segera menolong, menggendong anak kecil yang pingsan tersebut.
"Ini kenapa Le? Anak siapa ini? Kok ada disini?" tanyanya kepada sang wanita. Wanita tersebut terdiam, sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku juga, gak tahu As. Cepatan kita bawa, ke rumah sakit takutnya kenapa-kenapa!" Lea tampak menahan tangis. Ya gadis itu adalah Lea, yang saat itu masih duduk di bangku SMA. Gadis itu tampak khawatir, sampai melupakan tujuannya yang ingin membeli sesuatu ke warung tadi. Pada saat melintasi, sebuah gang sempit dekat rumah Pak RT. Tiba-tiba saja dia, dikejutkan dengan seorang anak laki-laki yang terbaring tak sadarkan diri.
Wajah anak kecil itu, tampak ada jejak kemerahan dibagian lehernya. Lea jadi semakin khawatir, apalagi melihat penampilan dari anak kecil tersebut sudah bisa, kita tebak jika dia bukanlah dari kalangan bawah, melainkan kalangan atas. Dan Lea semakin menjadi takut. Dia takut, jika mereka akan disalahkan nantinya, tetapi Lea mempunyai hati nurani, dengan sangat khawatir dia membawa anak kecil tersebut ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dari Dokter.
Rumah Sakit Bahteramas
Sesampainya mereka di sana, Lea pun segera memanggil suster untuk menolong mereka. Suster pun datang, membawa sebuah brankar. Anak kecil tersebut, segera dibawa ke sebuah ruangan pemeriksaan untuk diperiksa. Lea tampak gelisah, mondar-mandir sambil menggigit kukunya merasa sangat khawatir dengan keadaan, anak kecil tersebut.
Siapapun dia, Ya Tuhan tolong selamatkan dia. Aku takut dia kenapa-kenapa.
Beberapa menit kemudian ... Terdengar, suara pintu terbuka. Dokter keluar, dengan mimik lega bersama seorang Suster di sampingnya Lea segera mendekat dengan wajah khawatirnya. Bertanya kepada Dokter, tentang keadaan anak kecil tadi.
"Bagaimana Dok?"
"Pasien baik-baik saja, Anda tidak perlu risau. Sebaiknya Anda istirahat, dia akan sadar beberapa saat lagi. Itu hanya luka, kecil, lukanya sudah kami obati," ucap Dokter. Membuat Lea pun lega.
"Terimakasih banyak Dok, saya sangat berterimakasih. Apakah saya sudah boleh masuk?"
"Boleh, baik kalau begitu. Saya permisi Nona." Dokter pun pergi, bersama seorang Suster. Lea pun segera masuk kedalam ruangan, dengan diikuti oleh As dibelakangnya.
Pria itu, tampak berjaga-jaga. Dia melindungi wanitanya, bagaimanapun Lea sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.
***
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa vote, komen, dan like ya Terimakasih ☺