BADBOY ITU SUAMIKU

BADBOY ITU SUAMIKU
112 Akhir haluku


__ADS_3

Satu minggu sudah Zahra meninggal dunia. Saat ini Elang yang di temani oleh Dika dan Langit datang ke markas mereka. Yoga dan Jack tidak bisa ikut karena mereka tengah sibuk untuk acara penerimaan hasil ujian yang akan di adakan lusa.


Elang dan kedua sahabatnya itu turun dari mobil ketika mobil mereka berhenti di sebuah gedung tua yang ada di tengah hutan. Mereka bertiga berjalan menuju ke arah pintu yang telah di bukakan oleh anak buah Elang yang berjaga.


Saat baru masuk ke dalam gedung, mereka mendengar teriakan kesakitan dari dalam gedung. Dika tersenyum devil karena dia tau suara siapa yang tengah meraung ruang itu.


"Arght" Teriak Jamal yang sudah kesakitan dengan kedua tangan yang terikan rantai di dinding.


Elang, Dika dan Langit masuk ke sebuah ruangan yang pengap dan lembap. Dia melihat seluruh tubuh Jamal yang sudah seperti zombi dengan luka luka menganga. Bau anyir darah tercium jelas di ruangan itu.


"E..lang. Tolong lepasin gue... bunuh gue" Ucap Jamal terbata bata ketika melihat Elang dan kedua sahabatnya masuk ke dalam ruangan itu.


"Membunuh lo adalah hal paling mudah buat kami. Tapi karena ulah lo, Ratu kami telah tiada dan gue pribadi nggak akan terima itu" Ucap Dika.


Dika berjalan menghampiri Jamal, dia menendang wajah Jamal dengan sangat keras hingga Jamal muntah darah. Dika berjongkok di depan Jamal yang mulai kehilangan kesadarannya.


"Lo sudah membuat Zahra tiada. Jadi terima semua akibat dari ulah lo sendiri" Ucap Dika.


Dika bangkit lalu kembali ke belakang Elang. Elang terus menatap tajam ke arah Jamal dengan tatapan benci. "Obati lukanya, lakukan apapun agar dia tetap hidup. Gue nggak akan biarkan dia mati begitu saja" Ucap Elang dingin lalu berbalik untuk pergi dari bangunan itu.


"Lang, lo nggak mau habisi dia?" Tanya Langit.


"Setelah dari acara kelulusan" Jawab Elang dingin.


Langit menoleh ke balakang, dia menatap Dika yang juga menatapnya. "Lusa acara kelulusan anak kelas Xll. Kita akan hadir di sana" Jelas Dika.


"Anak anak lain ikut semua?" Tanya Langit.


"Terserah" Jawab Elang singkat. Dia lebih memilih fokus pada jalanan. Langit menghela nafasnya lalu menepuk bahu Elang.


🌹🌹🌹


Hari kelulusan.


Hari ini adalah acara kelulusan untuk anak anak kelas Xll. Langit datang bersama Lita yang saat ini tengah mengandung calon buah hati mereka. Seluruh sekolah baru saja mengetahui jika Lita sudah menikah dengan Langit.


Sedangkan Dika datang bersama Anita tentunya. Anita terus menggandeng lengan Dika karena sudah lama mereka tidak bertemu.


Elang kali ini datang bersama Dion yang sebagai perwakilan dari Zahra. Hari ini tema pakaian untuk kelulusan di pilih warna putih. Semua yang datang di wajibkan memakai pakaian berwarna putih karena untuk menghormati Zahra yang beberapa hari yang lalu baru saja meninggal dunia.


"Selamat siang semuanya, saya sebagai kepala sekolah SMA Dirgantara mengucapkan terima kasih banyak karena anda semua telah hadir di acara pelepasan siswa kelas Xll. Dari yang kalian tau, beberapa hari kemarin kita baru saja kehilangan seorang siswi berbakat di sekolah ini. Siswi yang baik, ceria dan supel itu telah lebih dulu menghadap sang khaliq. Kami dari keluarga besar SMA Dirgantara mengucapkan bela sungkawa yang mendalam untuk nak Elang khususnya dan keluarga. Semoga keluarga yang di tinggalkan bisa menerima dengan tabah dan iklas." Ucap kepala sekolah.


"Saya berdiri di sini juga ingin mengumumkan peringat 1 sampai 3 bagi anak anak yang memiliki nilai sempurna dalam ujian tahun ini. Untuk peringkat ke 3 di raih oleh ananda Anita Dwikara." Ucap kepala sekolah yang langsung mendapat tepuk tangan dari semua orang.


Anita dan Dika bangkit dari duduknya. Dika memeluk Anita untuk memberikan selamat. Lalu Anita berjalan menuju Jack yang juga memeluknya. "Selamat ya dek" Ucap Jack.


"Makasih kak" Jawab Anita. Anita berjalan naik ke atas panggung. Dia berdiri di belakang kepala sekolah namun sebelumnya dia bersalaman dulu dengan kepala sekolah.


"Baik saya lanjutkan lagi. Untuk peringkat ke 2, di raih oleh ananda Angelina Gahari. Silahkan nak Angel naik ke atas panggung" Ucap kepala sekolah.


Angel bangkit dari duduknya. Dia berpelukan dengan Jack lalu berjalan naik panggung untuk menyalami kepala sekolah. Setelah itu dia berpelukan di atas panggung oleh Anita. "Selamat kakak ipar" Ucap Anita.


"Terima kasih adik ipar" Ucap Angel.


"Ini yang kita tunggu tunggu, untuk peringkat pertama di SMA Dirgantara adalah...." Ucap kepala Sekolah terhenti ketika melihat nama Zahra Denisa Tarawijaya yang tertera di peringkat pertama. Kepala sekolah melihat ke arah Elang dan Dion yang duduk di barisan pertama karena mereka termasuk tamu kehormatan di sekolah untuk mewakili perusahaan mereka masing masing.


"Peringkat pertama adalah...Zahra denisa Tarawijaya" Ucap kapala sekolah. Seketika seluruh orang yang ada di ruangan tersebut terdiam mendengar siapa pemilik peringkat pertama di sekolah itu.


Elang menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Dion menepuk bahu Elang dan mengangguk ketika Elang manatapnya. Dia bangkit dari duduknya lalu berjalan naik ke atas panggung.


Anita dan Angel yang masih berada di atas panggung sudah tidak kuasa menahan air matanya. Mereka berpelukan melihat Elang yang bersalaman dengan kepala sekolah. Setelah itu Elang menghampiri kedua sahabat Zahra itu yang tengah menangis.


"Jangan menangis, Zahra pasti sedih melihat kalian menangis. Harusnya kalian bahagia karena kalian masuk 3 besar di sekolah ini. Kalian gadis yang pintar" Ucap Elang menghapus air mata Anita dan Angel bergantian.


"Jangan sedih lagi" Ucap Elang mengusap kedua pucuk kepala Anita dan Angel dengan senyuman yang lembut.

__ADS_1


Elang berdiri di sebelah Angel dan Anita. Kepala sekolah mulai memberikan hasil ujian sebagai simbol. Saat sampai ke Elang, kepala sekolah mulai menitihkan air matanya.


"Zahra pasti sangat bajagia jika dia yang berdiri di sini. Tapi karena Tuhan lebih sayang padanya, jadi kita kehilangan dia lebih cepat" Ucap kepala sekolah lirih.


"Zahra pasti melihat ini dari atas sana pak, saya yakin dia juga bajagia bisa menerima ini" Ucap Elang merima sebuah map dari kepala sekolah.


"Kamu pria yang hebat Elang. Kamu yang tabah ya nak. Bapak yakin akan ada kebahagian yang besar menantimu" Ucap kepala sekolah.


"Terima kasih pak" ucap Elang tersenyum.


"Berilah tepuk tangan yang meriah untuk ketiga murid kebanggaan kita ini" Ucap kepala sekolah yang langsung mendapatkan tepuk tangan meriah dari semua oarang.


Setelah menghadiri acara kelulusan, Elang memilih untuk mendatangi makam Zahra. Dia jongkok di samping makam Zahra sambil melepaskan kaca mata yang bertengger di pangkal hidungnya.


"Hai sayang, kamu pasti di sana tengah tersenyum bahagia bukan?" Ucap Elang.


Elang menaruh bunga yang ia beli tadi saat di perjalanan. Dia mengusap lembut baru nisan yang bertuliskan nama Zahra di sana. Tanpa Elang sadar, air mata Elang kembali luluh. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri yang sangat merindukan Zahra.


"Aku sangat merindukan kamu Zahra. Aku sangat merindukan kamu. Aki sudah berusaha untuk tabah dan menerima semua ini, tapi aku gak bisa Zahra. Aku gak bisa...." Ucap Elang.


Elang menangis sesegukan sambil menyentuh batu nisan Zahra.


"Maaf kan aku Zahra, maaf karena aku tidak bisa menjaga kamu. Bahkan karena kelemahan ku, kamu harus pergi dengan hati yang hancur. Maafkan aku sayang" Ucap Elang lirih.


Cukup lama Elang menangis di makam Zahra.


Elang memilih untuk pulang setelah matahari tenggelam. Dia mengendarai mobilnya menuju ke rumah yang selama ini menjadi saksi perjalanan kisah cintanya pada Zahra.


Saat Elang masuk, dia melihat Langit dan Dika yang berda di ruang tamunya.


"Lo dari mana Lang?" Tanya Langit.


"Lo kenapa?" Tanya Dika menyentuh bahu Elang.


"Gue capek, gue mau istirahat" Ucap Elang menepis tangan Dika. Dengan langkah gontai Elang masuk ke dalam kamarnya. Dia menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.


"Gue juga merasakan hal sama seperti lo Dik, tapi kita apa? Kita hanya bisa menemani dan menyemangati dia saja. Kalau dia tidak berusaha untuk bertahan, percuma juga apa yang kita lakukan selama ini" Ucap Langit.


"Terus gimana? Apa lo tega meninggalkan dia dalam keadaan dia yang seperti ini?" Tanya Dika.


Belum juga Langit menjawab pertanyaan Dika. Mereka berdua mendengar suara benda jatuh dari dalam kamar Elang. Langit dan Dika saling pandang lalu berlari ke arah pintu kamar Elang.


"Bang***t, dia menguncinya dari dalam Ngit" Ucap Dika.


"Kita dobrak saja" Ucap Langit yang di jawab anggukan kepala oleh Dika.


Baru saja mereka akan mendobrak pintu kamar Elang, mereka kini terbelalak saat mendengar suara tembakan dari dalam kamar Elang.


"Elang, buka Lang" Ucap Dika menggedor gedor pintu kamar Elang. Namun Elng tak kunjung membuka pintunya.


Langit terus mencoba mendobrak pintu kamar Elang.


"Bantuin gue anj***g" Umpat Langit karena dia sangat khawatir dengan keadaan Elang saat ini. Bahkan tangannya sudah mulai gemetar dan keringat dingin mnegucur di dahinya.


"Jangan lakukan hal bodoh Elang, gue mohon" Ucap Langit yang terus mencoba mendobrak pintu kamar Elang. Dengan bantuan Dika, akhirnya mereka berdua sudah berhasil membuka pintu kamar Elang.


Seketika Langit dan Dika terduduk di lantai dengan mata datar menatap lurus ke depan. Mereka berdua terpaku melihat keadaan Elang yang kini terkapar di lantai dengan sebelah tangannya yang memeluk foto Zahra. Darah segar mengalir dari kepala Elang karena tembakan pistol yang Elang arahkan sendiri ke kepalanya.


Di saat bersamaan Dion yang khawatir dengan keadaan Elang baru saja sampai di rumah Elang. Dia heran karena pintu rumah yang terbuka lebar dan ada mobil Langit dan Dika yang berada di pekarangan rumah Elang.


"Pada ke mana sih mereka, rumahnya kok sepi bagini?" Guman Dion.


Dion langsung masuk begitu saja ke dalam rumah Elang. Betapa terkejutnya Dion saat melihat Elang yang sudah terkapar tak bernyawa. Dia juga melihat Dika dan Langit yang masih terduduk di lantai dengan tatapan kosong.


"Langit, Dika. Apa yang terjadi? Kenapa Elang bisa sampai seperti itu?" Tanya Dion.

__ADS_1


"Maaf, kami lalai" Ucap Dika tanpa mengalihkan pandangannya dari Elang.


Langit perlahan bangkit dari duduknya. Dia berjalan mendekati tubuh Elang yang bersimbah darah. Air mata Langit sudah tak mampu ia bendung lagi. Dengan tangan gemetaran, dia meraih tengan Elang yang memeluk foto Zahra.


"Lo pengecut Elang, lo pengecut" Ucap Langit menangis.


"Arght, kenapa lo harus begini Elang" Teriak Langit frustasi.


Dika dan Dion pun menangis menatap sahabat, saudara bahkan orangbyang paling mereka kagumi kini telah tiada.


Sikap Elang saat di depan orang orang semuanya hanya lah topeng belaka. Selama ini dia masih belum bisa menerima atas meninggalnya Zahra. Setiap malam dia terus menangis dan beberapa kali juga dia mencoba untuk bunuh diri namun terus di gagalkan oleh sang kakek.


Namun entah dari mana Elang bisa mendapatkan senjata api untuk ia gunakan sebagai alat bunuh diri.


Malam harinya jasad Elang langsung di kebumikan bersebelahan dengan makam Zahra yang belum benar benar kering.


Kakek Dirga yang tak kuasa menahan kesedihan berulang kali kehilangan kesadarannya. Namun saat ini pemakaman Elang telah selesai. Langit dan Dika seeta Dion masih setia berada di samping makam Elang.


"Selamat jalan kawan. Semoga lo bisa bertemu dan bahagia bersama Zahra di sana" Ucap Langit.


"Selamat jalan Elang, lo sahabat terbaik yang gue miliki" Ucap Dika.


"Selamat jalan Elang. Semoga lo bahagia dengan Zahra dan anak kalian yang belum sempat lahir kedunia di surga." Ucap Dion.


"Selamat Jalan ketua geng Naga Darat "


TAMAT





💥💥💥


Hai hai hai...


Gimana seru nggak nih ceritanya.


Maaf ya jika masih ada typo. Nanti aku usahakan untuk lebih teliti lagi.


Uang parkirnya kaka, jangan lupa ya..😁


👍 Like


♥️ Favorit


💬 Komen


⭐⭐⭐⭐⭐ bintang 5 juga.


Selamat membaca ya kak


Terima kasih banyak


See you next part


😊😊😊🙏🙏🙏


#BadBoyItuSuamiku


#badboy


#kampus

__ADS_1


#fiksiRemaja


__ADS_2