
...Nex partnya mau lagi nggak nih?...
...Kalau partnya ini suka nggak?...
...Harus komen ya.......
...Mamak mau minta maaf nih kalau ada typo banyak....
...Kalau suka dan seru dengan novelnya, jangan lupa ajak teman temannya buat baca juga 🤭...
...Salam sayang dari mamak Diyah...
...See you nex part ❤...
...●...
●
●
Brack
Tangan Langit mengenai sesuatu dari balik selimutnya yang berantakan. Langit mengambil barang yang mengenai tangannya tadi dan betapa terkejutnya dia benda apa yang saat ini ia pegang.
"Lita, ini barang lo" Ucap Langit
Lita membuka pintu kamar mandi dan terbelalak melihat pembalutnya yang kini ada di tangan Langit. "Langit" Teriak Lita lalu berlari ke arah Langit untuk merebut pembalut yang di pegang Langit.
Langit yang melihat Lita berlari kenarahnya dengn sengaja melempar pembalut Lita ke arah sofa. Namun Lita yang sudah terlanjut lari seketika terjatuh di atas tubuh Langit. Mata mereka saling bertatapan cukup lama hingga Langit menarik tengkuk Lita. Dia mencium lembut bibir Lita yang kecil.
"Jangan takut lagi sama gue Lita. Gue mau lo bersikap selayaknya seornag istri oada suaminya. Gue ingin rumah tangga kita akan berjalan untuk selamanya" Ucap Langit dengan mengusap lembut rambut Lita.
"Aku tidak lagi takut dengan kamu Langit, aku sudah mulai menerima kamu. Bahkan aku sudah menata semua barang barang ku di kamar kamu" Ucap Lita.
Langit seketika bangkit dan kini dirinya sedang memangku Lita di atas pahanya. Langit melihat sekeliling kamarnya dan melihat alat alat make up Lita yang tertata rapi di meja rias yang ada di kamar Langit.
"Terima kasih" Ucap Langit memeluk Lita. Lita mengusap lembut kepala Langit yang terasa lembut rambutnya dan harum minyak rambut Langit.
🌹🌹🌹
Hari berikutnya.
Langit saat ini sedang berada di depan kampus Lita. Tadi pagi dia tidak bisa mengantar Lita ke kampus karena dia bangun kesiangan. Namun untuk menebus kesalahannya kini Langit sudah berada di depan kampus Lita. Dia masih memakai seragam abu abunya namun atasannya ia tutupi dengan jaket kulit berwarna hitam.
__ADS_1
"Wih brondong tuh. Cakep banget sih"
"Iya cakep banget, dia jemput siapa ya?"
"Mau dong di jemput brondong cakep seperti itu"
Langit tidak perduli dengan pandangan para wanita yang sedang menatapnya dengan tatapan kagum. Dia asik dengan ponselnya karena dia sedang bermain game saat ini di atas motor sportnya.
"Yang kiri begok. Itu ada musuh" Ucap Langit yang asik dengan permainannya.
"Tebaki dong. Itu awas di balik pohon"
"Mapus lo kena juga kan"
Langit meluhat sekilas pada 2 orang wanita yang berpakaian sexy saat ini tengah berdiri di hadapannya. "Hai, nungguin siapa?" Tanya cewek itu.
"Cewek gue" Jawab Langit yang masih fokus ke ponselnya.
"Serius lo punya cewek di kampus ini?"
"Terua menurut lo gue di sini ngapain? Nungguin lo? Kan nggak mungkin gue nungguin tante tante kayak lo" Ucap Langit.
"Apa lo bilang?" Ucap wanita itu marah dengan ucapan Langit barusan.
Banyak orang orang yang ada di sekitar Langit mendengar ucapan Langut dan sontak membuat mereka tertawa. Wanita yang terkenal sebagai wanita tersexy sekampus di hina tante tante oleh anak berseragam SMA itu.
"Tante, kantinnya di mana sih? Gue haus nih mau beli minum" Tanya Langit.
"Sia***n lo. Gue bukan tante lo" Bentak wanita itu.
"Terus gue harus panggil lo apa? Dandan lo saja seperti tante gue, bahkan tante gue terlihat jauh muda dari pada lo" Ucap Langit mengejek.
"Awas ya lo" Ucap wanita itu yang semakin malu dengan ucapan Langit.
"Apa lo pada lihatin gue? Mau lo pada kena masalah sama gue" Ancam wanita itu.
Wanita itu langsung berjalan menunggalkan Langit yang masih mentertawakan wanita itu. "Tante gue punya rekomendasi salon perawatan yang bisa lo datangi, biar muka lo lebih muda sedikit" Teriak Langit
"Sia***n lo" Ucap wanita itu marah.
"Sudah lah jangan perdulikan bocah itu. Ayo kita pulang" Ucap teman wanita itu.
Setelah wanita itu pergi, Langit menarik tangannya ke atas kepala untuk melemaskan otot ototnya kembali yang terasa tegang karena duduk terlalu lama di atas motor.
__ADS_1
"Sayang" Teriak Langit saat melihat Lita yang beru saja keluar dari kelasnya.
Lita terkejut dengan kedatangan Langit di kampusnya apa lagi dengan panggilan Langit barusan yang memanggil dirinya dengan sebutan 'sayang' membuat pipi Lita yang memerah karena malu pada Langit.
Langit berlari menghampiri Lita lalu berjalan berdampingan menuju ke motornya. "Kamu ngapain di sini?" Tanya Lita.
"Nunggu lo lah, gue sengaja jemput lo karena gue tadi tidak bisa mengantar lo ke kampus" Ucap Langit.
Langit dan Lita sudah sampai di motor Langit. Langit baru akan memakaikan helm pada Lita namun di tolak oleh Lita. "Helm siapa ini? Ini kan helm cewek?" Tanya Lita.
"Helm lo lah" Jawab Langit hang memakaikan helm ke kepala Lita.
"Aku tidak punya helm ini" Ucap Lita.
"Helm ini baru gue beli tadi saat menuju ke sini. Gue kepikiran sama lo, kan gue kasihan sama lo kalau lo pakai helm gue terus yang berat ini" Jelas Langit.
"Yuk naik" Ucap Langit dan di angguki oleh Lita.
Lita naik ke jok belakang motor Langit lalu setelah itu Langit mulai melajukan motornya keluar dari are kampus.
Baru beberapa menit mereka keluar dari area kampus, Lita merasakan ponsel Langit yang terus getar di saku celananya. "Ponsel kamu getar terus nih Lang" Ucap Lita.
Langit menepikan motornya. Dia melihat Elang yang saat ini sedang menghubunginya. "Halo, ada apa?" Tanya Langit.
"Ke warung kang Asep sekarang. Gue sama Zahra lagi di jalan ke arah warung sekarang" Ucap Elang.
"Ok, gue ke sana sekarang" Jawab Langit. Langit mematikan ponselnya. Dia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Ikut gue sebentar ya, ada Elang sama Zahra di sana nanti" Ucap Langit.
"Terserah kamu saja" Jawab Lita.
"Tapi lo jadi cewek gue bukan istri, karena anak anak tidak adak ada yang tau soal pernikahan kita. Hanya Elang dam Zahra saja yang tau" Ucap Langit.
"Iya tidak apa apa, aku juga tidak nyaman kalau teman teman kamu tau setatus kita" Jawab Lita.
"Ya sudah, pegangan kita berangkat sekarang" Ucap Langit dan di angguki kembali oleh Lita.
🌹🌹🌹
Warung kang Asep.
Elang dan Zahra baru saja sampai di warung kang Asep. Elang turun dari motor sport warna hitamnya sedangkan Zahra turun dari motor tril milik Elang yang kini menjadi milik Zahra.
__ADS_1
"Wih bang Elang bawa sang ratu nih"
"Kalau gue sih setuju kalau Zahra jadi ratu kita"