
Sorot cahaya matahari menembus korden jendela.Rania membuka matanya yang bengkak karena terlalu lama menangis.Dia baru tidur beberapa jam yang lalu karena semalaman dia habiskan untuk terus menangis dan menyesali kebodohannya.
Diluar sana dia mendengar mobil Dewa sudah meninggalkan rumah.Sampai kapan dia akan bertahan dalam rumah tangga semu yang menyakitkan ini?Memang tidak ada gunanya sebuah penyesalan.Dia harus melihat masa depan.
Rania mencuci wajahnya lalu menyalakan laptopnya.Tekatnya sudah bulat,dia harus kuliah.Dia ingin mewujudkan harapan mamanya,menjadi wanita terpelajar.Rania mengetik beberapa kata dikolom pencarian,lalu tersenyum saat dia mendapat artikel yang dia inginkan.
Saat ini dia tidak mungkin meminta biaya pendidikan pada mama papanya karena Dewa sudah menikahinya.Dewalah yang seharusnya bertanggung jawab pada kehidupannya,tapi Rania enggan mengatakan apapun pada pria itu.Perubahan sikap Dewa yang acuh tak acuh padanya sudah warning keras agar dia juga menghindari frekwensi pertemuan mereka.Jadi apa salahnya jika Rania menentukan arah hidupnya dengan menyibukkan diri diluar?karena dia yakin Dewa juga tidak mau ambil pusing dengan kehidupannya.Pria itu juga sudah memilih jalan hidupnya sendiri.Yang dia lakukan cuma menjalani formalitas sebagai seorang suami.Memberi uang dan pulang kerumah saat malam tiba,selain itu abstain.
Dia meraih handphonenya dan menghubungi Mela agar menjemputnya dirumah beberapa menit lagi.Rania menyiapakan semua perhiasan pemberian orang tua dan kakek neneknya dalam sebuah wadah.Hari ini dia akan menjualnya sebagai modal membuka toko onlinenya.
Selama ini Rania memang sudah menggeluti dunia berjualan online lewat beberapa aplikasi.Walau belum maksimal karena dia harus membagi waktu antara sekolah dan berjualan.Sekarang tekatnya makin kuat,dia ingin mengembangkan bisnis kecilnya untuk membiayai kuliahnya juga kebutuhannya.Untuk apa dia menggunakan uang pemberian Dewa jika dia tidak pernah dianggap sebagai seorang istri?Bahkan kaki dan tangannya masih genap dan lebih dari cukup untuk menghasilkan uang sendiri.
Beberapa menit kemudian motor Mela sudah sampai didepan pagar rumahnya.Rania setengah berlari keluar setelah sebelumnya mengunci pintu lalu melompat ke jok belakang motor matic sahabat kecilnya itu.Dia dan Mela mang sudah bersahabat dari SD,kebetulan juga tetap satu kelas hingga SMA.
"Kamu serius mau buka usaha sambil kuliah Ran?" teriak Mela berusaha melawan angin yang menerpa keduanya.Rania sedikit menggeser duduknya merapat pada Mela agar pembicaraan mereka lebih mudah didengar.
"iya Mel."
"Kakakku ada ruko di dekat calon kampus kita kalau kamu mau menempatinya Ran."
"beneran?"
"iya.ntar aja dirumah cerita lagi deh.kita hampir sampe." Tak berapa lama kemudian mereka berhenti di parkiran sebuah toko emas besar.Mela menggandeng Rania masuk.Keduanya melakukan transaksi jual beli dan keluar secepatnya dari toko itu.
"Mel bentar deh,kita nggak mungkin bawa uang ini kemana-mana.Enggak nyaman tau."
__ADS_1
"Tadi aku juga kepikiran gitu Ran.Trus gimana?"
"Kita ke atm itu Mel.kelihatannya ada mesin setor tunainya."
"Yakin bisa masuk semua?"
"ya bisalah.orang uang cuma limapuluh jutaan,bukannya semilyar." sedikit terbahak keduanya sepakat menyeberang jalan dan menyetorkan uangnya untuk keamanan.Rania masuk sendirian,sedang Mela menunggu di depan pintu atm.
Gadis manis itu tersenyum lega saat Rania keluar dengan dompet kempes.Artinya dia tidak dag dig dug duaarr lagi saat membonceng Rania kemana-mana hari ini.Walau bukan nominal yang sangat besar,tapi uang itu adalah harapan satu-satunya Rania untuk bertahan hidup nantinya.Mela melajukan motornya kerumah besarnya yang tak berapa jauh dari toko emas tadi.Saat mereka masuk,sebuah mobil warna hitam juga berbelok masuk garansi rumah.
"Ran,itu kak Firman pas pulang tuh.Kamu bisa tanyakan langsung masalah rukonya dia." kata Mela saat seorang pria muda yang baru saja turun dari mobilnya dan memasuki rumah sambil menyangking tas kerjanya.
Firman adalah nama kakak kandung Mela.Dia adalah dosen disalah satu perguruan tinggi negeri yang bergengsi.Sepertinya dia baru saja pulang mengajar karena masih memakai kemeja panjang press body yang memperlihatkan tubuh gagahnya.
"Kak,sini bentar deh.Rania ingin bicara." Firman menghentikan langkahnya lalu menatap mereka berdua.Mela menarik lengan kakaknya untuk duduk,diikuti Rania.
"engg...begini kak,saya ingin membuka usaha toko online dan offline pakaian dan butuh tempat kak.Kata Mela kak Firman ada ruko tak terpakai didekat kampus.Apa saya boleh memakai atau memyewanya kak?" Firman menatap tajam Rania hingga gadis itu salah tingkah.Mela yang baru kembali dari dapur membawa minuman menatap keduanya.Rania duduk tegang,demikian juga kakaknya,seperti dua orang asing yang baru kenal.
"Sewa ruko disana mahal.Apa kau yakin bisa membayarnya?apa kau yakin usahamu bisa berjalan nantinya." Rania terdiam dan menundukkan kepalanya.Bingung harus menjawab apa.Perkataan Firman ada benarnya.Selama ini dia hanya berjualan online tanpa stok dan berbagi keuntungan dengan menjadi reseller,dia baru akan mencoba menjadi agen kali ini.Siapa yang percaya pada kemampuannya?bahkan orang tuanya juga pasti tidak bisa percaya tanpa bukti.
"apa salahnya memberi kesempatan ada Rania untuk mencoba sih kak?" bela Mela saat tau Rania hanya menunduk,tidak berani menatap kakaknya yang pandangannya seperti polisi menginterogasi.
"Kau bisa lihat kan?bahkan menjawab pertanyaanku saja dia tidak bisa.Bisnis itu butuh keberanian Mel,bukan asal bisa dan punya modal saja." sangat ketus.Bahkan Rania sudah tidak punya keinginan lagi menempati ruko milik Firman.Dia sudah putus asa dan memilih berjualan secara online saja.
"Kak,kau ini keterlaluan ya.bukannya memberi semangat pada pemula seperti Rania,ehhh inj malah bikin bete." omel Mela dengan wajah muram.Dia bisa merasakan kalau Rania sangat kecewa saat itu.
__ADS_1
"enggak papa Mel,Aku bisa mulai usaha dimana saja.Lapakku juga cuma disosmed,jadi aku nggak butuh-butuh tempat amat." akhirnya Rania bersuara juga.
"Tapi Ran..."
"udah,beneran nggak papa kok Mel.Nanti aku bisa cari tempat lainya kok.Kak maaf ya,aku nggak bermaksud lancang tadi.Kalau gitu saya permisi dulu kak,asalamualaikum." Rania berdiri dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman namun Firman mengacuhkannya.Sedikit kecewa dia menarik tangannya lagi dan berbalik menuju pintu.Mela yang bersungut kesal menjajari langkah sahabatnya.
"Aku antar ya Ran,bentar aku ambil kunci dulu."
"ehh..nggak usah lagi,rumah baruku kan dekat sini Mel.Aku jalan kaki aja sambil melihat-lihat kalau ada tempat layak sewa sesuai kemampuanku." ujar Rania tulus.Dia sudah banyak merepotkan Mela dan tidak ingin sahabatnya itu repot lagi untuk hal kecil.
"Tapi Ran,aku..." Rania memegang kedua pipi Mela dan menguncangnya pelan.
"Aku bukan anak kecil lagi oke?"
"iya deh...hati-hati ya Ran."
"okee...pulang ya!" pamit Rania lalu menghilang dibalik pintu.Mela yang masih kesal berbalik ke ruang tamu.Firman masih duduk disana merengangkan badannya.
"Kak,kenapa sih jahat banget ama Rania?dia itu udah banyak masalah tau."
Firman masih acuh dan malah menutup matanya,menghilangkan penat.
"Kak,kau ini.."
"Apa lagi?biar dia cari tempat lain."
__ADS_1
"Ish!kakak benar-benar tidak punya hati." bentak Mela sambil berlalu masuk ke kamarnya.