Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Dingin


__ADS_3

Hampir tengah malam saat Rania terjaga.Entah berapa jam dia ketiduran dikamar mandi setelah berdiri terus dibawah shower.Tubuhnya mengigil dan jarinya memutih.Berlahan dia bangkit dan meraih handuk,berjalan terseok keluar.Tidak ada siapa-siapa disana.Dengan tangan bergetar dia menekan saklar dan menyalakan lampu.


Sesaat setelah mengganti pakaiannya dia berjalan keluar,mencari keberadaan suaminya.Tiba diruang kerja Dewa dia berhenti.Ruangan itu terang benderang pertanda suaminya masih disana.Pelan,dibukanya pintu hingga ekor matanya melihat Dewa yang duduk menghadap jendela sambil menghisap rokoknya dalam.Seingatnya Dewa bukan perokok.Kenapa hari ini dia merokok?


"mas...." panggilnya,Dewa berbalik menatapnya tajam.


"Ketuk pintu baru masuk!" ketusnya.Rania terpaku.Selama ini dia tidak pernah mengetuk jika ingin masuk kemanapun dirumah itu.Ada luka disudut hatinya.Dewanya sudah berubah menjadi tidak peduli padanya.


"maaf." katanya kemudian,menyembunyikan air mata yang hampir jatuh dari kelopak matanya.


"untuk apa kemari." tanya Dewa membuang pandangannya kearah lain.Rania mengigit bibir bawahnya.Tak pernah Dewa sekasar itu padanya.Matanya kembali menghangat.


"A..aku..aku hanya..."


"kembali ke kamarmu dan tidurlah." sentak Dewa yang sontak membuat Rania mundur dan menutup pintu.Lagi-lagi tangisanya pecah.Berlari dia masuk ke kamarnya.Dia memang sudah kotor,apa yang bisa Dewa harapkan darinya?pria itu bahkan sangat teguh memegang syariat.Tapi apa pria itu tau?dia juga sudah melawan dan mempertahankan diri.Mana kata-katanya yang dulu terlontar dari bibirnya bahwa dia akan mempercayai istrinya selamanya?kenapa dia tidak bertanya bagaimana kejadian sebenarnya padanya?kenapa dia diam saja?Rania terus tenggelam dalam air mata hingga pagi tiba.


Subuh sesudah sholat,dia turun dengan langkah gontai ke dapur.Berpapasan dengan bik Sum yang menundukkan wajahnya saat pandangan mereka bertemu.Rania tersenyum kecut.Pembantu saja jijik menatapnya,apalagi suaminya.Berlahan dia buka kulkas dan mencari bongkahan es untuk meredakan kelopak matanya yang bengkak karena terlalu banyak menangis.Hampis setengah jam disana,Rania menyudahi kompresannya karena merasa dirinya lebih baik.


"Nyonya butuh sesuatu?" tanya bik sum formal.Padahal biasanya dia tidak pernah memanggilnya begitu.Rania menggeleng dan naik kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Gemricik air terdengar di kamar mandi,pasti suaminya yang ada disana.Dia membuka lemari dan menyiapkan pakaian untuknya.Hanya baju rumahan karena Dewa baru berangkat ke kantor jam 8.Dia juga merapikan seprei dan menyapu lantai saat Dewa keluar dari kamar mandi.


"Mas,aku sudah menyiapkan pakaianmu."


"hmmmm" Dewa tak menyahut,melewati pakaian yang sudah terlipat rapi di ranjang.Pria itu menuju lemari dan malah mengambil pakaian lain,mengabaikan pilihan Rania lalu berjalan keluar tanpa sedikitpun memandang istrinya.Hati Rania membeku.Dia kembali turun ke dapur untuk membuatkan kopi suaminya seperti hari biasa,namun saat sampai dibawah,bik Sum sudah membawakan kopi untuknya.Rania meremas tangannya.


"mas mau sarapan apa pagi ini?" kembali pertanyaanya terjawab dengan sunyi.Dewa sudah menganggapnya tidak ada.Rania masih terpekur dengan berbagai pikiran dikepalanya hingga tidak menyadari Dewa sudah berdiri dan melangkah keluar rumah.


"Mas,mau kemana?" buru Rania saat kesadarannya terkumpul sempurna.Dia mencekal tangan Dewa untuk menghentikan langkahnya.Tapi lagi-lagi hanya kecewa yang didapatinya karena Dewa menepis tangannya kasar.Pria itu bahkan menepuk-nepuk bekas cekalan Rania seolah baru saja terkena sesuatu yang menjijikkan.


"Berhenti pura-pura peduli padaku.Dulu kau menjebakku dalam pernikahan palsu,dan sekarang kau menipuku dengan wajah polos dan dandananmu.Kau pakai hijab dikepalamu tapi mengangkat pakaianmu agar orang lain bebas menikmati tubuhmu.Aku malu punya istri munafik seperti dirimu." hardik Dewa dingin.


"mas..ini salah paham.Bukan aku yang ada difoto ini." teriak Rania menghalangi jalan Dewa dengan merentangkan kedua tangannya.


"Apa aku harus percaya pada rubah betina sepertimu Rania?" Dewa menepis tangan itu lalu pergi meninggalkan Rania yang diam dalam tangisan.Dia tidak punya siapapun dirumah ini.Suami yang menjadi alasannya berada dirumah ini sudah tidak ingin melihatnya lagi.Kakinya bergerak lambat kembali ke kamar dan meraih ponselnya.Dia mengganti bajunya lalu memesan ojek online yang akan datang beberapa saat lagi.Berada disini terlalu lama malah akan menambah luka yang bersarang dibenaknya.


"Nyonya mau kemana?" tanya satpam dari dalam pos.Rania menoleh sekejap lalu membuang pandangannya.Semua orang dirumah ini menjadi aneh dan bersikap formal padanya.Tapi dia sudah mengeraskan hatinya.


"Saya mau ke kampus pak." jawabnya pendek lalu buru-buru naik keatas motor ojol yang dipesannya.Tangisnya kembali pecah hingga sang tukang ojek tidak berani bertanya apapun padanya.Dia hanya ingin pulang dan memeluk mamanya,meluruhkan luka dihatinya.

__ADS_1


Rumah besar berlantai dua itu adalah tujuannya.Rania menekan bel.Masih terlalu pagi untuk bertamu.Tapi dia bukan tamu,dia adalah anak yang kembali kerumah orang tuanya.


Rania menghambur kedalam pelukan papanya saat tau Ardinata yang membuka pintunya.Dia menangis tersedu-sedu hingga sang papa dibuat kaget dan berteriak memanggil mamanya yang setengah berlari mendekati mereka.Rania memeluk keduanya sambil terus menitikan air mata.Yanti menenangkannya dan berusaha membuat Rania menceritakan segalanya.


Terbata,Rania menceritakan semuanya dari awal hingga akhir.Mama dan papanya masih memeluknya,memberi kekuatan pada putri mereka untuk tetap tegar.Orang tua mana yang tega melihat putrinya dalam keadaan sekacau Rania?


Ardinata menarik nafas dalam.Ditatapnya Rania lekat.Ada yang tersayat dikisi hatinya saat menantu yang juga sahabatnya,orang yang dia percaya menjaga Rania malah menyakiti putrinya.


"Sudahlah Ran,semua itu adalah takdir yang tidak bisa kita hindari.Sabar nak,tetaplah disini.Mama dan papa akan menjagamu." putus Ardinata kemudian.Yanti yang melihat putrinya kalut membawanya ke kamar lalu menyuruhnya beristirahat.Dia kembali menemui Ardianata yang masih termangu diruang tamu.


"Apa papa memikirkan sesuatu?" tanyanya seraya menjajari ssuaminya.Hatinya juga gundah.


"kita berdua sudah cukup mengenal Dewa ma.Apa kau percaya jika kubilang ini karma yang harus diterima Rania karena menjebak Dewa?kita tidak bisa menyalahkan dirinya sepenuhnya."


"kita juga tidak berhak mencampuri urusan rumah tangga mereka kecuali Dewa sudah mengembalikan Rania pada kita." gumam Yanti pelan.Ardinata mengangguk.


"Apapun keputusan mereka,kita wajib menyemangati Rania,membuatnya bangkit dan memberinya kasih sayang pa.Rania terlalu muda untuk menjalani semua ini." desah Yanti.Jiwa keibuannya bangkit.


"Kita juga seusia Rania saat harus berjalan diantara badai ma."

__ADS_1


"tapi ini lain pa.Kita berjuang bersama karena saling mencintai,tapi Rania..." Ardinata terdiam.Yang dikatakan istrinya benar.Rania berjuang sendirian karena dari awal cintanya sudah bertepuk sebelah tangan.


__ADS_2