
"Lalu om mau dipanggil apa?mas...seperti kemarin?bukanya om selalu menganggapku anak kecil ya?mana ada anak kecil memanggil pamannya mas?" Rania begitu berapi-api hingga sedikit berteriak.Kekesalannya sudah membuncah,cukup sudah Dewa menganggapnya anak kecil.Dia sudah dewasa,dia tau apa itu sebuah hubungan.
"Apa kau menyesal menikah dengan pria seusia ayahmu ini dek?" tanya Dewa dalam.Sorot matanya yang tajam seolah menghujam ulu hati Rania,menguliti tubuh dan perasaanya.
"Bukannya om yang menyesal menikahi bocah ingusan seperti aku ya?hingga mengakui aku sebegai istri saja om malu." sengit Rania lagi.Dewa menggelangkan kepalanya.Dipegangnya erat kedua bahu Rania yang masih ngos-ngosan menahan emosinya.
"Dengar dek...aku tidak pernah menyesal menikahimu.Aku tidak mengakuimu sebagai istri di depan Harun karena aku takut itu menganggu kuliahmu.Bukanya anak Harun adalah temanmu yang jadi penyebab pernikahan kita?" Seketika ingatan Rania berputar pada Mario dan perbuatannya.Jika bukan gara-gara Mario,mungkin pernikahan ini tidak akan pernah terjadi.Rania bingung harus berterimakasih atau memaki Mario saat ini.Mata Rania memadang iris mata kecoklatan yang teduh milik Dewa.
"Maafkan aku om." ujarnya kemudian.Yang dikatakan Dewa ada benarnya.Memang tidak ada larangan menikah bagi mahasiswi,tapi Rania sungguh tidak ingin menjadi bahan gunjingan sesama mahasiswa lain di kampusnya.
"Berhenti memanggilku om Rania.Atau aku akan menghukummu." desis Dewa lirih,namun membuat bulu kuduk Rania berdiri.Selama ini Dewa selalu saja menghukumnya dengan pola semi militer.
"Ba..baik om..aku...eehmmmpppp." mata Rania membeliak kaget saat benda kenyal menempel dibibirnya.Terasa lembut dan basah disana.Ya Tuhaann...ciuman pertamanya.Tubuh Rania menegang.Dewa yang melirik dengan ekor matanya tersenyum penuh kemenangan.Dia memperdalam ciumannnya walau tidak mendapatkan respon apapun dari Rania.Dia tau...bahkan sangat tau jika itu ciuman pertama bagi gadis kecilnya.Selama ini dia selalu menjaganya dengan baik.Pria itu melepas ciumannya dengan tergesa saat melirik leher jenjang Rania.Bayangan Mario melintas dibenaknya.Anak itu sudah meninggalkan banyak kiss mark di leher Rania tepat dimalam pernikahan paksa mereka.Dewa mengeram kesal.Baru kali ini ia lalai menjaga Rania.
Rania masih memejamkan matanya saat Dewa melepaskan ciumannya.Dia bahkan tidak sadar kapan Dewa menyudahinya karena terlalu larut dalam insiden kecil itu.
"Apa kau masih ingin mengulangnya dek?" bisiknya tepat diatas bibir Rania yang sedikit terbuka karena ulahnya tadi.Seketika Rania membuka mata.Dia hampir melonjak kaget saat matanya menatap sosok sekretaris Frans yang berdiri mematung ditangga terakhir sambil memegang platik besar berisi makanan dan minuman yang dipesan Dewa tadi.pasti sekretaris bule itu melihat mereka tadi.Wajah Rania memerah.
Dewa yang mengikuti tatapan mata istrinya kembali tersenyum geli.Apalagi Rania sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya.Dewa memberi isyarat agar Frans mendekat membawa bungkusan itu dan meletakkanya dimeja.
__ADS_1
"Kau makanlah disini saja Frans." perintahnya.
"Saya akan makan dibawah saja bersama para pekerja nyonya presedir." jawabnya tanpa ekspresi.Dalam hati Frans menggerutu tanpa henti.Bisa-bisanya presedirnya itu tidak mendengar langkah kakinya saat naik tangga tadi sehingga matanya yang perawan telah ternodai oleh adegan ciuman tanpa sensor yang diakukannya dengan istrinya.Bagaimana dia bisa makan dengan tenang dihadapan keduanya jika nekat makan bersama??
Frans mengangguk hormat lalu menuruni tangga.Dewa membuka bungkusan itu dan membukanya.Tangannya meraih sendok dan menyuapi Rania.
"aku bukan anak kecil om..aku bisa makan sendiri." tolaknya halus.Dewa melotot.Buru-buru Rania meralat panggilannya.
"ehh..anu..mas."
"hmmmm." mereka makan tanpa suara.Beberapa menit usai menghabiskan makanannya Frans mengirim pesan pada Dewa jika seluruh barang pesanan sudah datang.Para petugas akan langsung membawanya naik dan menatanya diatas.Kesibukan kecil terjadi malam itu.Jam toko yang seharuny tutup jam 7 menjadi jam 8 lebih.Tapi anehnya,kedua pekerja Rania malah terlihat asyik-asyik saja tanpa beban.
"Apa kau menyukai tempat ini?" Rania mengangguk.Memang tempat ini sangat strategis untuk bisnisnya.Selain dekat dengan kampus,dia juga bisa menjangkau berbagai tempat dengan mudah karena jalur searah.Dia juga merasa punya ikatan kuat dengan tempat itu.
"Baik.Frans,nego tempat ini dengan pemiliknya." lagi-lagi Rania terkesiap.Nego???
"Maksud mas Dewa apa?" rasa ingin taunya lebih besar dari rasa takut dan malunya.
"Aku ingin membelinya untukmu." jawab Dewa dengan entengnya.
__ADS_1
"Jangan mas."
"kenapa?" tanya Dewa dengan nada menyelidik.
"itu..lebih baik uangnya digunakan untuk hal lain saja.memajukan usahamu misalnya." Frans dan Dewa tertawa lepas hampir bersamaan.Rania melengos kesal.Dua manusia didepannya itu sama-sama membuat moodnya menjadi buruk.
"Presedir tidak akan jatuh miskin hanya karena membeli ruko kecil ini nyonya muda." jawab Frans setelah tawanya reda.Otak Rania berpikir cepat.Jika membeli ruko ini adalah hal mudah,seberapa kaya sebenarnya keluarga Wright itu?
"Nyonya tau Grand place permai?itu adalah salah satu aset tuan Alexander yang sekarang dikelola tuan Daniel." jelas sang sekretaris lagi.Grand place permai??bukan hanya Rania,Tika dan Erna juga sama-sama terkejut.Itu adalah bentukan tempat wisata besar yang menyediakan mall,hotel,dan layanan wisata lain yang digabung menjadi satu.Jika tempat itu adalah milik mertuanya,bisa dibayangkan seberapa kaya suaminya saat ini.Belum lagi anak cabang Wright group yang tersebar hingga ke kenagara tetangga.
"kita pulang sekarang dek!" Rania hanya menurut saat Dewa mengenggam tangannya dan menggiringnya masuk ke mobil.Tika dan Erna bersay good bye sambil melambaikan amplop yang diberikan Frans atas perintah Dewa tadi.Dewa menganggapnya uang lembur karena sudah mau pulang terlambat.
Sampai dirumah,Rania yang akan masuk ke kamar tamu diseret paksa agar naik ke kamar utama dilantai atas oleh Dewa.Berontakpun percuma,dia kalah tenaga.
"Ayo mandi." perintah Dewa.
"aku sudah mandi di ruko tadi mas.Kamu saja yang mandi.Biar aku siapkan airnya." Rania yang enggan bersitatap dengan Dewa beranjak ke kamar mandi,menyiapkan keperluan mandi sang suami lalu menyiapkan pula baju gantinya.
Rania sudah merebahkan dirinya saat Dewa keluar dari kamar mandi.Dia masih mengeringkan rambutnya yang masih basah.
__ADS_1
'Tuhaannn...kenapa dia sangat seksi??' batin Rania sambil sesekali mencuri pandang pada tubuh tinggi athletis di depannya.