Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Tamu


__ADS_3

"Dek,pagi ini adik papa Alex akan datang dan menginap disini." kata Dewa sambil menyusul Rania ke meja makan.Tiga bulan sudah mereka menempati rumah itu dengan penuh cinta dan suasana pengantin baru yang menggebu.Dewa bahkan tidak membiarkan Rania tanpa perhatian darinya.Dimanapun,kapanpun,sesibuk apapun dia selalu memberikan perhatian pada istri kecilnya itu.


"Adik papa yang mana mas?"


"Kau belum tau dek,dia adik bungsu papa yang tinggal di Melbourne." Rania manggut-manggut.Setahunya,Alexander Wright sang papa mertua adalah anak tunggal keluarga Wright,sama seperti suaminya kini.Tapi kenapa tiba-tiba Alex punya adik?atau dia salah dengar saat mendengar penuturan Dewa?


"Ada keperluan apa kemari mas?apa dia juga punya bisnis disini?"


"Aku juga kurang tau,dia hanya bilang mau berkunjung." ujar Dewa sambil menyesap kopi hitam buatan istrinya.Rania meletakkan tangannya di bahu Dewa dan menatap suaminya penuh cinta.


"Mas...."


"apa dek?"


"Bisakah mas Dewa tidak bekerja hari ini?aku ingin bersamammu seharian ini mas." Dewa menatap istrinya dalam.Kenapa Rania begitu manja?biasanya juga dia tidak pernah berlaku demikian.Istri kecilnya itu akan dengan senang hati mengurus dan menyiapkan seluruh keperluannya tiap pagi.Tapi sekarang?dia malah bergelayut manja dilengannya.


"Kenapa?kau minta sesuatu?tas,sepatu,perhiasan atau...." Rania menggeleng kuat.Tidak ada daftar barang-barang itu dalam hidupnya.Dia tipe perempuan sederhana yang tidak butuh semua barang itu.Yang dia pakai juga produl lokal yang harganya terjangkau.Dan tentang perhiasan?Rania sama sekali tidak berminat memakainya.Dia hanya memakai giwang kecil serta cincin kawin yang diberikan oleh Dewa.Selebihnya dia tidak suka.


"Lalu?"


"Aku hanya ingin bersamamu mas." rengek Rania.


"Kalau begitu ikutlah ke kantor dek."

__ADS_1


"ke kantor?aku malu mas!apa kata karyawanmu disana?"


"Kenapa kau mengurusi mereka?Kau istriku dek,tidak ada salahnya jika kau ikut denganku.Kantor itu juga milikku,walaupun hadiah dari papa.Aku tidak bekerja untuk orang lain." timpal Dewa.Dia memang berkali-kali menawarkan agar Rania ikut saat wanitanya itu bersikap manja.Jiwa kebapakannya akan selalu meronta.


"Sudahlah,tapi mas Dewa janji ya,akhir pekan ini jangan lembur." pinta Rania dengan pupy eyesnya yang membuat Dewa gemas.Pria tampan itu mencium pipi istrinya bergantian.


"iya sayang.Insyaallah Akan ku usahakan." balas Dewa kemudian.Kesibukannya beberapa minggu terakhir ini memang menyita kebersamaanya dengan Rania.Dia selalu pulang malam saat Rania sudah tidur,atau lebih tepatnya ketiduran karena lelah menunggunya.Seharian istrinya itu memang sibuk dikampus dan rukonya yang makin ramai orderan.


"kok diusahakan sih mas?Aku maunya mas Dewa janji." sungut Rania kesal.Dewa tersenyum lembut,mengelus kepalanya berlahan.


"Dek,Kita ini muslimkan?diwajibkan kita berkata insyaallah jika berjanji.Bukankah kalimat itu berarti jika Allah mengijinkan?Aku akan berusaha,tergantung nanti Allah mengijinkan atau tidak.Jangan pernah memastikan sesuatu dek,karena kepastian itu hanya milik Allah yang haq." ulasnya sabar.Rania menundukkan wajahnya.Bagaimanapun Dewa adalah suami yang baik,juga imam terbaik untuknya.


"Sudahlah..mas pergi dulu ya,ke kantor sebentar.Sejam lagi mau jemput adik papa,om Chris."


"Nanti saja habis jemput om Chris,biar dia sekalia sarapan disini. Kamu ke kampus hari ini?"


"ya,tapi pulang sebelum dzuhur mas,hanya ada dua mata kuliah." jawab Rania.


"Nggak mampir ke ruko?"


"Katanya mau ada tamu,ya nggak usah mas.Biar aku langsung pulang saja.Biar Tika dan Erna yang kesini nanti sore."


"Istri pintar." ujar Dewa,lagi-lagi mengelus kepala Rania mesra.

__ADS_1


"Sayang,Bukhari dan Imam muslim meriwayatkan hadist bahwa barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,hendaklah ia memuliakan tamunya.Om Christ tamu pertama kita dirumah ini,kita akan menyambutnya degan baik." lanjut Dewa lagi.


"ya mas,insyaallah." jawab Rania pendek.Diam-diam dia bersyukur punya suami sesabar Dewa.Pilihannya tidaklah salah,pria ini selembut papanya.Rania selalu merasa nyaman disampingnya.


"Mas berangkat ya..asalamualaikum."


"Walaikumsalam,hati-hati mas." Dewa mengangguk.Sekretaris Frans membukakan pintu mobil untuknya,lalu menutupnya.Dia beralih menuju kemudi dan membawanya pergi.Rania masih mematung di depan teras rumahnya yang megah.Beberapa saat kemudian,dia berbalik masuk ke dalam rumah.Satu jam lagi dia ada kuliah.Dia harus bersiap.


Berulang kali Dewa sudah melarangnya naik motor ketika pergi ke kampus,namun Rania selalu menolak dengan halus.Dia bahkan mengabaikan mobil keluaran terbaru yang dihadiahkan Dewa padanya.Bukan tidak bisa menyetir,tapi wanita itu selalu beralasan jika mobil akan menghambat pergerakannya.Sebagai putri Ardinata,dia sudah diajari menyetir mobil saat baru masuk SMA,Dewa yang ditunjuk papanya untuk mengajarinya hingga mengantongi sim A.Tapi Rania tetap gadis sederhana yang lebih rela berpanas-panasan naik bis demi berkumpul dengan teman-temannya yang kurang beruntung dalam hal ekonomi.Berkumpul dengan mereka mengajarkannya banyak hal tentang kehidupan,kerja keras dan rasa syukur.


"nyonya ehh...mbak Rania mau berangkat?" sapa bik Sum saat Rania menuruni tangga.Dia memang melarang bik Sum memanggilnya nyonyak karena merasa risih,tapi bi Sum selalu saja salah sebut karena belum terbiasa.


"ehh iya bik.Sebentar lagi mas Dewa pulang kok,mau ada tamu.Tolong bibi masak makanan tambahan ya.Maaf nggak bisa bantu bibi,soalnya mas Dewa baru bilang tadi."


"iya tidak apa-apa mbak.Bibi bisa sendiri kok.Mbak Rania tenang saja." jawab bi Sum,membuat Rania tersenyum lega.Pasangan suami istri itu memang sangat cekatan dan berpengalaman.Rania atau Dewa bahkan tidak perlu menyuruh mereka melakukan ini itu,mereka cukup tau apa pekerjannya dirumah ini.


"Rania pergi dulu ya bi,asalamualaikum."


"iya mbak,walaikumsalam."


Rania melangkah tenang menuju teras.Didepan sana,pak Man suami bik Sum sudah menyiapkan motor maticnya lalu melanjutkan merapikan rumput dihalaman.


Mentari masih memancarkan kehangatan saat Rania meninggalkan rumah besar itu menuju kampus,melewati deretan perumahan elite disekitarnya.Rumah-rumah yang besar dan indah,walau tak seluas dan semegah kediamannya.Dia sama sekali tidak mengindahkan tatapan aneh maupun mendengarkan bisik-bisik tetangga yang mengira dia sugar babynya Dewa.Toh dia menikah resmi,atas dasar cinta pula.Dia juga sangat bahagia dengan pernikahannya.Untuk apa mendengarkan orang lain?bukankah dia cuma punya dua tangan?dua tangan itu bahkan tidak cukup untuk menutup mulut mereka.Dia hanya harus menutup telingannya rapat-rapat agar bisa menjalani hidup yang penuh stigma.

__ADS_1


__ADS_2