Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Percakapan Sahabat


__ADS_3

Rania merebahkan dirinya diatas kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.Dia begitu gusar kala mengingat perkataan Dewa tadi.Pintu terbuka dan dia mendengar langkah kaki memasuki kamarnya.Tanpa menolehpun dia tau jika itu Dewa.Pria itu duduk di tepi ranjang dan mengelus kepalanya.


"Astaga,tubuhhmu panas dek." Tidak ada jawaban.Rania memang sudah merasakan suhu tubuhnya naik sejak terpaksa mandi tadi.Tapi dia ingin turun dan makan bersama.


"kita harus memanggil dokter."


"Tidak usah mas,ambilkan saja obatku dilaci atas." kata Rania lemah.Dewa menarik laci,mengambilkan obat lalu mengambil air putih diatas nakas.


"Minumlah dek!" ujarnya sambil mengulurkan keduanya.Rania bangun dan meminum obatnya.Dewa menaruh gelas kosong kembali ke tempatnya.Direngkuhnya tubuh Rania yang tidur membelakanginya.


"Dek,aku memang belum bisa mencintaimu sebagai seorang suami pada istrinya hingga saat ini.Maafkan aku yang masih terus menganggapmu putri kecilku dan menyayangimu sebagai seorang paman." Rania terisak.Lagi-lagi dia mendengarnya langsung dari bibir Dewa.


"Tolong beri aku waktu untuk merubah perasaan ini.Bantu aku berubah.Yang harus kau tau,pernikahan kita mungkin suatu kecelakaan dan paksaan...tapi aku tidak pernah main-main dengan pernikahan.Apa kau setuju untuk membantuku belajar mencintaimu Rania?" bisik Dewa di dekat telinganya.Bulu kuduk Rania meremang.Bagaimanapun dia wanita normal yang sudah dewasa.Bisikan tadi terdengar sangat seksi di indra pendengarannya.Belum lagi nafas harum Dewa yang menerpa lehernya.Dia seperti diberikan sensasi lain.


"Rania,maukah kau ikut denganku menemui papa di Sydney?" Rania diam,menata perasaanya.


"Aku tidak akan memaksa jika kamu belum mau dek.Aku akan bilang pada papa kalau kau..."


"Aku mau mas!" potong Rania kemudian.Dewa tersenyum bahagia dan memeluk tubuh mungil Rania dari belakang.


"Terimakasih dek."


"hmmmmm"


"jangan tidur dulu.Sudah menjelang maghrib.Tidak baik tidur jam segini."


"Aku hanya tiduran mas." kilah Rania.Sesaat kemudian adzan berkumandang.Dewa menuntun Rania ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu lalu kembali sholat berjamaah.Walau dalam kondisi sakit,Rania tidak ingin melewatkan kesempatan beribadah bersama sang suami.Dia menyandarkan tubuhnya ke dinding dan mendengarkan suara merdu Dewa membaca beberapa surat dalam Al-qur'an hingga isya' tiba.Mereka kembali berjamaah hari itu.


Dewa melepas kopyahnya dan membantu Rania berdiri dari duduknya.Dia membimbing istri kecilnya menuju ranjang dan membantunya tiduran.


"Dek,kapan kamu siap berangkat?"

__ADS_1


"Terserah mas Dewa saja."


"Baiklah,lebih cepat lebih baik.Kalau kau sudah sehat,kita berangkat."


"Aku sudah tidak apa-apa mas."


"Apa kau yakin?" Rania mengangguk.Dewa menyandarkan kepala wanitanya ke dada bidangnya.


"Ceritakan bagaimana papa mertua.Terus terang aku takut." ujar Rania lemah.Dia memang terbiasa menonton sinetron yang kebanyakan mertua pasti jahat atau tidak suka dengan menantunya.Ada ketakutan tersendiri karena dia akan jauh dari rumah.


"Papa pria yang tegas tapi sangat lembut.Dia sangat bahagia ketika tau aku sudah menikah denganmu.Dia juga yang memintaku membawamu kesana.Jadi apa yang kau takutkan hem?"


"Aku...."


"Dek,ada aku disana.Kau tidak sendiri.Kau hanya perlu percaya padaku.Itu saja." ungkap Dewa.Sejujurnya dia juga masih belajar beradaptasi dengan sang papa yang notebane orang baru dalam kehidupannya.Tapi dia bertekad akan membantu dan menjaga Rania.


"Apa kau masih butuh waktu untuk berpikir hingga kau siap?"


"baiklah.Sekarang tidurlah.Agar besok kau bisa lebih segar.Aku akan mengambil penerbangan siang agar kau bisa bersiap-siap."


"Aku akan mengepak pakaianku pagi-pagi sekali." tukas Rania.


"Tidak perlu membawa pakaian dek,aku sudah menyiapkannya dirumah papa.Bawa barang yang penting saja."


"Bagaimana dengan kuliahku mas?"


"Kau bisa kuliah lagi disana.Lakukan apa yang kau inginkan.Aku ingin kau nyaman selama disana.Papa juga jarang ada dirumah.Waktunya banyak dihabiskan di Korea untuk mengurus bisnisnya." Ada kebahagiaan menelusup dihati Rania.Diam-diam dia berdoa agar kehidupanya kelak akan baik-baik saja.Dia hanya perlu bersabar dan berlapang dada.Dewa memang lebih mirip menjadi orang tuanya dibanding menjadi suaminya.


"Mau kemana mas?" tanya Rania saat Dewa turun dari ranjang.Dia sama sekali tidak berharap bila Dewa akan tidur terpisah dari dirinya.Rania sudah merasa sangat nyaman tidur dalam pelukan hangat pujaan hatinya itu.


"Kebawah,aku harus diskusi dengan papa Ardin dan menyuruh Frans membooking tiket.Kelihatannya mereka sedang asyik mengobrol ditaman." Benar kata Dewa,dari kamar itu mereka bisa melihat jelas papanya mengobrol serius dengan Frans yang sangat fasih berbahasa Indonesia.

__ADS_1


"Aku turun dulu ya dek." pamit Dewa kemudian.


"iya mas." Dewa sudah menutup pintu saat Rania meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu pada Tika.Dia sudah memutuskan untuk tetap meneruskan usaha toko onlinenya.Dia tidak bisa memberhentikan pekerjanya karena alasan pribadi.Dia juga tidak bisa memupus mimpinya untuk mempunyai toko online besar yang punya banyak reseller diseluruh negeri.Mamanya sudah sepakat untuk bersedia membantunya memantau toko rintisannya itu.


Dewa yang menemui Ardin dan Frans disambut hangat keduanya.Dia memilih duduk berhadapan dengan mertua rasa sahabatnya itu.


"Pa,besok aku dan Rania akan kembali ke Sydney." katanya tanpa basa-basi.Ardin manggut-manggut.


"Terserah kalian.Yang penting kalian rukun dan saling mencintai." tukasnya lagi.


"Baiklah...Frans,tolong urus tiket untuk besok ya."


"Baik presedir." Frans bangkit dari duduknya lalu menuju kamarnya.Dewa menoleh pada Ardin dan menatapnya serius.


"Kau membahas apa?"


"aku ingin bicara sebagai seorang sahabat,Ar." jawab Dewa sambil merubah posisi duduknya menjadi lebih santai.Ardinatapun berbuat demikian.


"Kau kan tau Ar,pernikahanku dengan Rania itu kecelakaan.Aku baru saja mengatakan padanya agar dia mau membantuku belajar mencintainya." Dewa membuka pembicaraan.


"lalu apa jawabanya?"


"ya dia hanya mengangguk.Kau seperti tidak tau kalakuan putrimu saja."


"Kau juga sudah hafal kelakuannya,bahkan lebih mengenalny dari pada aku,papanya."


"itu karena kau workaholic sejati sob.Kau sampai lupa pada tumbuh kembang putrimu." Wajah Ardin berubah sendu,yang dikatakan Dewa benar adanya.Selama ini dia terlalu sibuk bekerja untuk membuktikan jika dia bisa mandiri tanpa bantuan orang tua kedua belah pihak.Dia juga ingin membuktikan jika dia dan istrinya tidak salah memilih pasangan.Cinta punya seribu kekuatan untuk membuat bangkit sebuah keterpurukan.Dia sangat bersyukur memperistri Yanti mahira permana yang begitu kuat dan teguh untuk terus mendorongnya maju dan bangkit dari kegagalan.Benar kata orang....dibalik pria yang sukses pasti ada wanita kuat yang setia memberinya semangat.


"Kau melamun Ar?"


"Andai waktu bisa berputar kembali,Wa...aku tidak akan kehilangan masa kecil Rania." desahnya sendu.Dewa menepuk bahunya.

__ADS_1


"Aku memang ditakdirkan menjaganya Ar.Kau tidak perlu risau pada nasib putrimu dimasa depan."


__ADS_2