Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Sadar


__ADS_3

Hampir tengah malam saat Dewa duduk diatas kursi roda dibantu seorang perawat yang mendorongnya memasuki ICU tempat Rania tidak sadarkan diri.Yanti hanya menatapnya tanpa ekspresi saat keduanya bersitatap didepan pintu.Hatinya mengharu biru.Dari tadi dia terus memohon agar dokter mengijinkan dia menemui Rania yang masih dalam kondisi koma.Ardinata yang baru saja mendonorkan darahnya sama seperti dirinya juga melarangnya banyak beraktifitas dulu dalam kondisi lemah.Mereka harus melewati masa pemulihan dalam beberapa jam kedepan.Namun bukan Dewa jika dia tidak bersikeras dengan kemauannya sendiri.Pria tampan itu memaksa kesana walau berada diatas kursi roda.


Perawat meninggalkannya didekat ranjang Rania.Air matanya turun.Rania berada disana dengan wajah pucatnya.Sebuah alat bantu pernafasan dan beberapa selang yang menempel ditubuhnya membuatnya bertahan hidup.Ruangan itu hanya dipenuhi bunyi monitor yang memantau detak jantung Rania.Dewa menggenggam jemarinya lalu menciumnya penuh cinta.Lama dia tenggelam dalam diam.


"Rania...bangunlah.Kalau ada yang harus pergi,itu adalah aku sayang.Bukan dirimu.Lihatlah,diluar sana banyak orang-orang yang menyayangimu menginginkan kau kembali sehat dan ceria.Kau harus kembali Rania.Meski kau tidak memaafkan aku,tapi aku orang pertama yang akan bahagia melihatmu walau dari kejauhan saja.Aku memang punya banyak kesalahan padamu,tapi yakinlah suatu saat aku akan menebusnya.Bangun dek,kau harus baik-baik saja saat aku meninggalkanmu." sampai disini tangis Dewa pecah.Dia sudah tidak bisa lagi berkata-kata.Perpisahan memang hanya meninggalkan rasa sakit dan air mata.Suara langkah terdengar,perawat tadi telah kembali.Dia yang akan membawanya kembali keruang pemulihan.


"Tunggu suster." ujarnya pelan.Dia sedikit berdiri dan mencium kening istrinya lama.Seolah setelah ini mereka tidak akan pernah berjumpa lagi.


"Sesuai janjiku,aku akan pergi dari hidupmu.Kelak kau harus bahagia sayang.Selamat tinggal Rania.Cepatlah sembuh,aku mencintaimu dengan segenap jiwaku dek." bisiknya lemah ditelinga Rania.Lalu genggaman tangan itu terlepas.Dia memberi isyarat pada suster untuk membawanya pergi tanpa menyadari gerakan jari Rania dibawah sana.Air mata juga meleleh dipipinya.


Beberapa jam setelahnya,saat Ardinata bangun dari tidurnya...pandangannya tertuju pada ranjang Dewa yang kosong disebelahnya.Pasti sahabatnya itu sedang menemani Rania.Matahari saja masih malu-malu menunjukkan sinarnya.Diliriknya jam dinding,masih jam 5 pagi.Dasar keras kepala.Dokter sudah menyuruhnya beristirahat karena mereka baru pulih setelah 48 jam.Tapi pria blasteran itu malah kelayapan keluar kamar.Ardinata menggelengkan kepalanya,rasa pusing masih menguasainya.Berlahan dia turun dari ranjang,membasuh wajahnya ditoilet lali berjalan pelan ke ICU.


Disana,Yanti masih setia menunggu didepan pintu dengan wajah gamang.Pasti semalaman dia tidak tidur melihat wajahnya yang kusut dan posisi duduknya yang tidak berubah.


"Bagaimana Rania ma?"


"Belum ada perkembangan pa.Kita berdoa saja."


"Pulanglah istirahat.Rawat Reno.Biar aku yang menunggui Rania." desah Ardinata lemah.


"Kau belum pulih pa."

__ADS_1


"Jangan memikirkan aku ma.Disini aku cuma duduk,tidak bekerja keras.Toh ada Dewa yang akan membantuku.Apa dia ada didalam?" Yanti menggeleng.


"Sejak dia menemui Rania tengah malam aku belum melihatnya lagi pa.Bukanya dia ada bersamamu ya?" tanyanya balik.Ardinata menggeleng juga.


"Saat aku bangun brankarnya sudah kosong."


"Mungkin dia sholat subuh di musholla pa." Ardin terdiam.Yanti melirik seseorang masuk ke ICU.


"Pa,itu perawat yang mengantar Dewa semalam." katanya terkaget.


"Sus tunggu."


"iya bu..."


"owhh...pak Dewa?Jam 4 tadi dia dijemput taksi online.Dokter sudah melarangnya,tapi katanya dia akan pulang kampung hari ini,ikut penerbangan jam 5 hari ini." jelas sang suster lagi.


"A...paa?pulang?kenapa tidak pamitan sama kami??


" Maaf saya kurang tau bu,saya permisi mau lihat kondisi pasien dulu." lalu wanita itu menghilang dibalik pintu.Ardinata dan Yanti saling pandang.


"Kenapa Dewa melakukan semua ini pa?" tanya Yanti setelah mereka lama terdiam.

__ADS_1


"Dia sudah berjanji akan pergi dari kehidupan Rania jika Rania tak ingin rujuk.Kau tau siapa Dewa kan?dia tidak main-main dengan sebuah janji ma." bals Ardin pelan.Mereka sama-sama tau watak sahabatnya itu.


"Tapi kenapa tidak menunggu Rania sadar dulu pa?" desah Yanti berat.


"Dewa pasti tidak ingin melihat putri kita kembali terluka saat melihatnya ma.Dia pasti sudah memikirkan semuanya masak-masak.Kita doakan saja keduanya bisa bahagia dengan jalan masing-masing." bisiknya lagi.Ada guratan kecewa diwajah keduanya.Bagaimanapun mereka berhutang nyawa pada Dewa.Mengucapkan terimakasih saja tidak bisa.


Masih terlena dalam pikiran masing-masing membuat keduanya tidak menyadari saat seorang dokter sudah berdiri diddekat mereka.


"Permisi pak,bu..."


"oohh dokter maaf. bagaimana keadaan putri kami?"


"Dia sudah siuman pak.Anda bisa menengoknya sekarang.Beberapa menit lagi Rania sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap." Ardinata mengucapkan terimaksih lalu masuk bersama istrinya.Rania menoleh dengan tatapan sayu.


"Mas Dewa..." katany lirih.Hati keduanya tercabik.Rania merentangkan tangannya,memperlihatkan cincin platinum beinisial nama mereka yang berkilauan.Cincin yang dia inginkan setelah berulang kali Dewa melarangnya.Bukan apa-apa,Dewa hanya tidak ingin orang menganggap Rania tidak terurus dengan mengenakan cincin imitasi.Padahal dia sudah membelikan sang istri perhiasan emas asli juga berlian yang mahal.Tapi anehnya,Rania tetap kukuh menginginkan cincin itu,sekukuh Dewa yang melarangnya.Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada cincin berharga sangat murah itu saat mereka berjalan-jalan di galeri platinum beberapa waktu lalu.


Hari ini,saat dia membuka matanya,cincin itu sudah ada dalam gengamannya.Tidak ada yang tau perihal cincin itu selain suaminya.Jika dia berada disana,berarti Dewa pasti datang mengunjunginya.Sungguh,hati Rania berbunga.Betapa dia sangat ingin orang yang dicintainya itu berada di dekatnya sekarang.Dia merindukan Dewa.


"Dimana mas Dewa ma?" tanyanya lemah.Yanti tidak kuasa menjawab.Ardinata mendekat,memegang jemari putrinya.


"Dewa keluar sebentar.Nanti dia akan kembali menjagamu." Dia tidak ingin Rania shock dan jatuh koma untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Sebentar lagi kamu akan dipindah ke ruang rawat Ran.Harus kuat ya..kau harus cepat sembuh." ujar sang papa lagi.Rania tersenyum lalu kembali memejamkan matanya.Tangannya tergerak mendekatkan cinin dalam gengamannya ke jantungnya.Ardinata tersenyum pahit.Entah jawaban apa yang akan dia berikan saat Rania nanti bertanya tentang Dewa lagi.Beberapa kali dia mencoba menghubungi Dewa,tapi ponselnya tidak aktif.Mungkin dia masih ada di dalam pesawat atau dalam perjalanan pulang kerumah.


__ADS_2