Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Extra part 2


__ADS_3

Dewa tersenyum sumringah sesaat setelah menutup panggilannya pada Ardinata.Mertuanya itu sudah sampai ke Jakarta kemarin.Hari ini dia baru saja bertemu Firman dan konsultasi seputar kuliah Rania.Bergegas,pria tinggi athletis itu masuk ke area kantornya yang ada di depan rumah utama.Rania memang magang disana sekarang.


Meski ditempati banyak orang,ruangan itu terlihat tenang dan santai.Hanya alunan musik lembut yang mendomonasi.Frans duduk dikursinya sambil mengecek beberapa laporan.Para arsitek yang sibuk dengan pekerjaannya masih berkutat dengan laptopnya,demikian juga para staff yang lalu lalang serentak mengangguk hormat padanya.


"Selamat pagi tuan,apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Frans yang sudah ada disamping Dewa.Majikannya itu malah menuju ke mejanya dan duduk dikusi di depannya.Frans masih mematung ditempatnya.


"Duduk Frans." perintah Dewa.Sesekali matanya melirik Rania yang tampak belum menyadari kehadirannya.Istri cantiknya itu terlihat membolak balik laporan keuangan yang bertumpuk dimejanya.Frans kembali kemejanya dan duduk dengan patuh disana.


"Bagaimana perkembangan usaha kita?" tanya Dewa to the point.


"Nugraha berkembang sangat pesat tuan,kita perlu tenaga tambahan dalam minggu ini.Kasihan para arsitek. ini kalau terlalu diforsir." Dewa manggut-manggut.Dia dan Frans memang sepemikiran.Para pekerja mereka memang mayoritas para senior yang punya jam terbang tinggi didunia arsitektur.Akhir-akhir ini terlalu banyak pekerjaan hingga mereka dipaksa lembur dan lembur.Dewa tentu tidak ingin keadaan ini berlarut-larut.


"Buka lowongan kerja untuk Nugraha Frans.Aku ingin tenaga baru ini fresh graduate atau sedikit diatasnya agar kita punya persiapan generasi pengganti beberapa tahun kemudian.Kau tau kriteria apa yang kuinginkan bukan?Biarkan para junior ini memegang desain interior.Kita perlu sentuhan modern mereka." Frans mengangguk.Dewa memang berencana mengembangkan desain interior setelah sebelumnya hanya mengambil job eksterior.Kemampuan sang tuan dalam bidang ini memang mumpuni.Andai saja Dewa masih menjadi pewaris Wright company,bisa dipastikan dia akan menjadi pebisnis sukses dengan kemampuannya.Tapi inilah yang membuat Frans tertantang.Dia ingin menemani tuannya itu dari titik nol.Bisa dibilang merekalah pendiri Nugraha arsitektur.Dia yang menjadi saksi betapa gigihnya Dewa membangun usahanya,bernegosiasi pada klien hingga turun langsung ke lapangan.


"Baik tuan." jawabnya singkat.Mereka masih berdiskusi beberapa menit sebelum Dewa beranjak ke lantai dua tempat yang tak kalah ramai dari lantai dasar karena beberapa proyek penting akan dikerjakan disana dibawah arahan Dewa yang sudah banyak berpengalaman dibidang itu.Frans masiih mengikutinya dari belakang.Pria Australia itu memang punya ruangan sendiri disamping ruangan Dewa.

__ADS_1


Berulang kali Dewa menyuruh Frans agar tinggal serumah dengannya saja dahulu.Toh mereka sama-sama sendiri sebelum Rania kembali ke pelukannya.Tapi Sekretaris tampannya itu lebih memilih membeli rumah dihunian yang cukup elit di sekitar sana.Bekerja pada Alex memang membuatnya punya gaji fantastis.Aneh memang kalau sampai detik ini dia tetap mau bekerja pada Dewa dengan gaji kecil.


Jam makan siang telah tiba.Dewa bergegas turun.Mata elangnya melirik meja Rania yang sudah kosong.Kemana istrinya?Seolah menjawab pertanyaan dalam hatinya,seorang staf yang lewat memberitahunya.


"Ibu Rania sudah pulang ke rumah pak." kata staf tadi.Dewa mengucapkan trimakasih dan berlalu dari sana.Semua orang tau kalau Rania adalah istri majikannya,namun Dewa selalu bersikap prosefional jika ada dalam jam kerja.Pria tampan itu melangkah lebar ke rumah.


Disana,istri cantiknya itu sedang berkutat dimeja makan.Tangannya menata hidangan dengan cekatan.Mungkin Rania teralalu fokus hingga lagi-lagi tidak menyadari kehadiran suaminya.Dewa memeluk tubuh sintal itu dari belakanng.Meletakkan dagunya di pundak sang istri.


"Mas Dewa bikin kaget aja." katanya sambil mengelus kepala Dewa.Spontan pria itu mempererat pelukannya lalu mencium pipinya.


"Makan dulu mas." Dewa meggeleng.


"hmmm.."


"kok hmmm sih?"

__ADS_1


"Ya habisnya aku bingung mau jawab apa.Memang mas Dewa tiap hari telepon papakan?saat aku nggak adapun mas Dewa tetap bersahabat baik dengan papa.Jadinya aku udah nggak kaget kalau papa telepon mas Dewa." ulas Rania lembut.Yang dia katakan benar adanya.Baik Ardinata maupun Dewa sama-sama dewasa dan bisa memilah masalah.Ada atau tidak hubungan antara Dewa dan Rania,keduanya tetap bersahabat.Dewa juga merasakan itu.Saat dia menyakiti Rania,berarti dia juga menyakiti hati sahabatnya itu.


"Yang,dengar...papa bilang kamu tidak usah kembali ke Jakarta.Firman sudah mengurus kepindahanmu ke universitas disini tanpa kamu mengulang mata kuliah lagi.Sedangkan usahamu akan dikelola mama untuk sementara ini." bisik Dewa ditelinga Rania lembut.Rania membalikkan tubuhnya tergesa.Matanya berbinar hingga berkaca karena bahagia.Tanpa berpikir dua kali diciumnya bibir Dewa membuat suaminya gelagapan,tidak menyangka istrinya akan bertindak agresif.Memang setelah pernikahan kedua mereka,Rania terlihat lebih berani dan posesif padanya.Dewa menahan tengkuk Rania saat wanitanya itu akan menyudahi ciuman panjang mereka.Dia memberikan ciuman lanjutan hingga Rania kehabisan nafas dan memukul dadanya.


"Lagi-lagi kau menggodaku dek." desisnya.Tangan kekarnya meraih tubuh itu lalu menggendonnya paksa ke kamar tamu di ruang depan.Terlalu lama kalau mereka harus ke kamar atas.Pria itu juga menutup pintu tergesa.


" Mas,makan dulu gih.Nanti makananya dingin lho." kata Rania saat menyadari suami kalem dan dewasanya sudah berubah garang.


"Biarkan.Makan siangku yang ini lebih hangat dan hot." bisiknya sambil melepas kemeja Rania dan mengecup tiap jengkal tubuh istrinya itu mesra.Dia tidak menyangkan istri cantiknya membalas perlakuannya.Tangan Rania juga mulai bergerilnya kemana-mana.Lidah wanitanya itu juga mulai menyerang titik-titik sensitif pada tubuhnya.Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rania dulu.


Diperlakukan seperti itu tentu membuat perasaan Dewa melambung.******* demi ******* lolos dari bibir keduanya.Tarikan nafas tak teratur dua insan yang mengejar ******* sebuah penyatuan hingga sesi percintaan itu berakhir.Dewa mengecup pucuk kepala istrinya penuh rasa sayang.Tangannya terus mengelus perut Rania yang polos.


"Cepatlah tumbuh disana sayang,aku ingin kau memanggilku papa." bisik Dewa nyaris bergumam.Jemari rania membelai tangan kekar itu.


"Aku juga menginginkan dia hadir disana mas." balas Rania tak kalah lembut.Dikecupnya pipi Dewa sesaat.

__ADS_1


"Rania....aku sudah tidak muda lagi bukan?itulah alasanku ingin cepat mempunyai anak.Maafkan aku yang berpikiran picik tanpa mempedulikan kesiapanmu ya sayang."


"Bukankah sudah kukatakan aku juga ingin menjadi ibu anak-anakmu mas?Kau juga tidak setua yang kau bayangkan mas.Dimataku,kau tetap pria paling tampan bagiku.Dewaku." Keduanya kembali berpelukan hingga tertidur karena kelelahan.


__ADS_2