
Rania dan Mela masih bengong saat Dewa menuju kamar mandi yang terletak diantara kamar keduanya.Pria itu bahkan mandi dengan cuek lalu kembali ke kamar Rania tanpa mengatakan apapun.
"Mel,aku tidur dikamarmu ya?" kata Rania memohon.
"Jangan Ran,kamu ke kamarmu sana.Ada suamimu.Aku tidak enak pada om Dewa."
"Tapi kamu taukan dia sudah menalakku Mel?kamu ingin aku berbuat zina?" bisik Rania lagi.
"Memangnya dia sudah bilang kalau menjatuhkan talak padamu?"
"Dia sudah mengembalikan aku pada papa saat marah Mel." lirih Rania.
"Tapi tidak terucap kata talak dari bibirnya kan Ran?itu artinya dia hanya melakukan talak kinayah.Jika tidak ada niat dihatinya untuk menceraikan kamu,maka tidak akam jatuh talak Ran.Kau lupa perkataan pak Umar waktu kita dipesantren dulu?" jelas Mela.
"Tanyakan saja apa dia ada niat bercerai atau tidak.Tapi setelah mendengar ceritamu,bukannya tuan Alex mertuamu yang mendaftarkan gugatan cerai itu?baik kau ataupun om Dewa sama sekali tidak pernah datang ke persidangan."
"Tapi dia juga mengajak rujuk Mel.Itu artinya dia memang sudah menalakku."
"Tapi secara hukum kalian masih suami istri Ran."
"Lalu apa yang harus kulakukan?" keluh Rania.Kepalanya bahkan sudah berdenyut,ingin diistirahatkan.Tapi bagaimana dia bisa tidur jika kamarnya sudah ditempati Dewa?
"Ran,Allah itu maha pengampun.Om Dewa bukanya hanya ingin merawatmu ya?Dia tidur dikamarmu karena kau tidak mau diajak pulang ke rumahnya.Kalau aku jadi diapun aku akan melakukan hal yang sama karena dirumah ini ada wanita lain selain istrinya.Dia menghindari fitnah Ran.Aku yakin dia sangat menyayangimu.Dan aku juga yakin tujuan om Dewa itu baik."
__ADS_1
"Mel,tolonglah..."
"Ran,percayalah..aku sangat ingin kau bahagia.Aku tidak ingin sahabat cantikku ini menjadi janda.Jika memang masih bisa diselamatkan,berjuanglah.Pertahankan rumah tangga kalian."
"Aku lelah berjuang sendirian Mel." desah Rania makin pelan.
"Kau tidak sendirian.Ada aku,papa mamamu dan semua orang yang menyayangimu.Bangkitlah Ran.Menangis dan memendam perasaanmu tidak akan menghasilkan apa-apa.Kalau kau masih mencintainya,jangan biarkan kak Laura atau wanita manapun mendekat padanya."
"Mel,sungguh aku capek dengan semua ini."
"Rania dengar...temui suamimu.Dia sudaj banyak berkorban untukmu.Kau lupa dia meninggalkan Wright group untukmu.Kau lupa dia memilih menghilang dari pada menceraikanmu?dan kau juga lupa bahwa ditubuhmu mengalir darahnya?kau harus ingat itu semua Rania." pungkas Mela debgan nada berapi-api walaupun hanya saling berbisik.Rania masih akan melayangkan protes,namun Mela mengangkat bahunya tidak mau tau,dia malah bergegas masuk ke kamarnya lalu mengunci pintunya dari dalam.
Rania yang bingung dan salah tingkah berlahan mengetuk pintu lalu memasuki kamarnya.Dewa sudah tertidur dengan kaos dan celana pendeknya.Wajahnya terlihat lelah.Ingin Rania mengusap pipi pria yang sangat dia rindukan itu.Hatinya bergetar.Cinta itu masih ada,bahkan berakar makin kuat dihatinya.
Berlahan dia membaringkan dirinya disamping Dewa.Diatas kasur yang untunnya lumayan longgar.Kalaupun salah satu kakinya harus keluar dari area kasur,masih ada karpet tebal yang akan tetap membuatnya hangat.Dia menarik selimut lalu memejamkan matanya yang terasa berat.
Jam 4 pagi saat Rania terjaga.Subuhpun belum menyapa.Wanita itu kembali menutup matanya saat merasakan hangat yang menyelubungi dirinya.Hingga sedikit tersentak saat deru nafas membuatnya mendongak.Ahh..ya Tuhaaann...dia tertidur dalam pelukan Dewa yang memeluk tubuhnya erat.Lengannya melingkar posesif di pinggang ramping Rania,membuat putri Ardinata itu menahan nafas.Berlahan dia memindahkan tangan dan kaki Dewa yang berada di tubuhnya.Sangat berat.Saat dia hampir berhasil,Dewa malah sudah terbangun dan mempererat pelukannya.
"Le..lepaskan pak." bisiknya.
"Ini bukan kantor dek.Aku Dewa,suamimu.Tidak bisakah kau memanggilku seperti saat kita bersama dulu?" balas Dewa dengan suara parau.Rania terdiam,detak jantungnya kembali tidak beraturan.
"Hari ini kita pulang kerumah.Kumohon,ikutlah aku."
__ADS_1
"Tapi kita bukan lagi suami istri mas.Kita sudahh...."
"ssstttt..aku akan menelepon papa dan bicara padanya dek."
"Apa semua semudah itu?kau membuangku tanpa perasaan,dan sekarang kau ingin kembali dengan mudahnya.Apa hati wanita sepertiku hanya layak kau jadikan permainan mas?apa sedikitpun tidak ada cinta dan penyesalan buatku?apa semua yang kulakukan padamu masih kurang hingga aku hanya kau anggap boneka tak bernyawa.Hatiku sakit mas,sangat sakit." isakan Rania semakin keras.Dewa meraih tubuh mungilnya dan menenggelamkannya dalam dada bidangnya.
"Teruskan dek.Katakan apa yang ingin kau katakan.Aku akan mendengarkan keluhan dan kemarahanmu." bisiknya sambil membelai kepala Rania penuh kasih sayang.Dia tidak marah,dia memang sudah seharusnya mendapatkannya.
"Untuk apa mas Dewa kembali jika nantinya akan meninggalkan aku lagi?sedikitpun kau tidak pernah percaya padaku mas.Kau lebih percaya apa yang kau lihat dari pada yang kau rasakan.Secara langsung kau bahkan sudah menuduhku berselingkuh karena mengembalikan aku pada papa." Dewa tetap diam mendengar semua kemarahan Rania yang terus menangis didadanya.
"Sayang..kau harus mendengarkan kebenaran ini.Jika aku tidak percaya padamu aku tidak akan menyuruh Frans menyelidiki semuanya.Aku diam karena ingin kau selamat.Semakin aku mempertahankamu,papa akan lebih tega menyakitimu.Dia ingin kau jauh dariku.Tidak terbersit dalam benakku untuk menceraikanmu Rania.Aku hanya mengembalikanmu pada Ardinata agar dia menjaga dan melindungimu.Papaku,pria yang sangat terobsesi pada harta."
"Lalu kenapa kau tidak membawaku pergi saja?"
''Rania,aku sudah tidak punya apa-apa saat keluar dari kediaman Wright.Semua aset atas namaku sudah dibekukan.Aku tidak ingin membuatmu sengsara.Ardinata tau pasti saat itu aku hancur tak punya apa-apa."
"Tetap saja mas Dewa salah."
"iya.aku memang salah Rania.Saat kau menolakku untuk rujuk dan mendengar alasanmu tidak mau kembali padaku,saat itu aku merasa duniaku sudah berakhir.Hanya Frans yang dengan setia menemaniku."
" Frans?dimana dia sekarang?" Rania terkesiap.Bukankah Frans adalah orang suruhan Alexander?bagaimana dia tetap ada disisi Dewa dan bukannya mengabdi pada Alex kembali.
"Dia ada dirumah kita.Rumah peninggalan almarhumah ibuku."
__ADS_1
"Aku tidak mengerti." keluh Rania.Dewa membingkai wajahnya
"Pulanglah Rania dan aku berjanji akan menjelaskan semuanya.Sungguh aku tidak bisa melihatmu sakit atau terluka.Kalau kau bersedia rujuk,aku akan langsung telepon papa agar dia kemari.Beri aku satu kesempatan.Satu kali saja,biarkan aku menjadi suamimu." Rania terdiam,menyandarkan kepalanya ke dada Dewa,menghirup setia aroma yang serasa menghipnotisnya.Yang terjadi tetap akan terjadi.