Balada Cinta Belahan Jiwa

Balada Cinta Belahan Jiwa
Extra part 1


__ADS_3

Pasangan pengantin baru itu menuruni tangga sambil bergandengan mesra.Keduanya terlihat sangat bahagia dengan senyum lebar yang terus terukir dibibir keduanya.


"Pa,lihat...pengantinnya sudah turun tuh.Mana udah keramas basah-basahan gitu." Goda Laura yang duduk menghadap tangga.


"Yah,namanya pengantin baru La,kamunya aja yang nggak nikah-nikah.Nungguin apa sih?" tanya pak Budi membalikkan godaan Laura pada Dewa.


"Lho kok jadi aku yang ditanya?kalau aku belum menikah berati belum ada jodohnya papa." tegas Laura sedikit geram.Dia selalu saja dibuat jengkel kalau papa mamanya sudah membahas masalah menikah.Endingnya dia juga yang akan terpojok nantinya.


"Iya ini kan juga motifasi buat kamu agar cepat menikah La.Lagian umurmu sudah tidak muda lagi." omel mamanya.Laura hanya diam.Tidak ada gunanya menjawab lagi.


"Bagaimana dengan Firman?om Lihat kalian terlihat akrab tadi." sela Ardinata.Laura terlihat sedikit tersipu.


"Kami sudah lama putus om." jawabnya kemudian.


"Putuskan bisa balikan lagi La,lihat kakakmu dan Rania,mereka bercerai saja balikan kok ini yang masih pacaran nggak ada usahanya.Lagian ya La,nyari yang kayak Firman itu susah lho.Buktinya yang kamu bawa kerumah tuh pria-pria nggak bener semua." oceh sang mama lebih panjang lagi.


"Mungkin memang belum ketemu jodohnya tan." Bela Dewa sambil mengambil duduk disamping Rania.


"Kamu juga Wa,kalau sudah balikan begitu jangan sakiti lagi perasaan Rania.Jaga dia baik-baik.Untungnya Rania sabar,setia,mau aja kamu ajak balikan." omelan mama Laura berbalik pada Dewa yang membela putrinya.


"Iya tan,Dewa akan menjaga Rania baik-baik.Terlalu banyak luka yang saya tinggalkan padanya." jawab Dewa pasrah.Rania meneteskan air matanya lagi.


"Lho..kok nangis?Ini hari bahagiamu lho Ran.Udah,jangan nangis ya.." nasehat pak utomo.Dia tau Rania sangat terharu saat itu.

__ADS_1


Acara bercengkrama itu terjadi hingga jam 9 malam.Keluarga pak Budi sudah pamit beberapa menit lalu,tertinggal Ardinata dan Dewa saja diruangan itu.Yanti sedang menidurkan sibontot,sedang Rania pamit ke kamar karena kelelahan.


"Apa rencanamu setelah ini Wa?" tanya Ardin tiba-tiba.


"Maksud papa?"


"hidup Rania,kuliahnya,usaha retailnya dan kelanjutan rumah tangga kalian." Dewa tersenyum,menyelonjorkan kakinya,sama persis dengan yang dilakukan Ardinata sang mertua.


"Mungkin aku akan merepotkan papa lagi." desahnya.


"apa?"


"Aku nggak mungkin menyuruh Rania putus kuliah pa.Tinggal sedikit lagi.Sedangkan aku?papa tau aku harus membantu om Budi hingga Laura bisa memegang perusahaanya sendiri sembari mengembangkan usahaku sendiri.Biar nanti Rania pulang ke Jakarta hingga lulus.Aku akan mengunjunginya dua minggu sekali." beber Dewa.Ardinata termenung.Dewa mungkin mudah mengatakannya,tapi Rania?apa mungkin dia mau berpisah lagi dari suaminya setelah apa yang sudah menimpa mereka?Ardin tidak yakin.


"Besok papa berangkat jam berapa?"


"Take off jam 8." Dewa hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang mertua yang cuek bebek.Dia berjalan masuk ke kamarnya.Rania sudah naik ke atas ranjang dengan selimut tebal menutupi tubuhnya sampai ke leher.


"Kenapa dek?" tanya Dewa saat melihat Rania begitu gelisah.


"Nggak pa-pa kok mas.Cuma capek aja." Dewa menghampirinya.Tidak biasanya Rania mengeluh capek.Dia memeriksa kening istrinya,takut thypusnya kumat,tapi dia baik-baik saja,malah seperti menghindarinya dengan raut gundah.Jengkel,disibaknya selimut tebal yang menutupi tubuh wanitanya.Ahhh ya Tuhann........hampir saja Dewa memekik kaget.Rania berbaring malu-malu disana dengan sebuah lingrie seksi berwarna merah yang sangat transparan.Dewa sampai harus merasa kesusahan menelan ludahnya.Tenggorokannya terasa tercekat.Belum pernah dia melihat Rania seberani ini.


"Sayang..kau menggodaku?" ucapnya serak.Dibuangnya selimut tebal itu secara asal ke lantai kamar.Dewa sudah berubah bak singa kelaparan.Dikungkungnya Rania hingga sulit bergerak.Ciuman dan hisapan-hisapan kecil bergerak liar dari bibirnya.Tangan kekarnya juga sudah bergerilya kemana-mana,meloloskan lingrie itu dari tubuh mulus istrinya.Rania yang awalnya pasrah juga berubah liar.Kedua tangannya terus membuka pakaian Dewa hingga tak tersisa sehelai benangpun.Gerakan-gerakan erotisnya semakin membakar gairah Dewa yang sudah kehilangan separuh kesadarannnya.Yang ada hanya nafsu yang ingin dituntaskan.

__ADS_1


Suara erangan dan ******* kembali bergaung diseluruh kamar.Untunglah hanya mereka yang berada dilantai atas kalau saja ada manusia lain disana,bisa dipastikan dia akan merasa terbakar pula.Tubuh keduanya berkilauan dibasahi keringat,namun penyatuan tetap terjadi tanpa lelah.Keduanya berusaha saling memuaskan,membelai penuh cinta hingga pelepasan sempurna membuat keduanya ambruk tidak berdaya.


Dewa meraih handuk bersih yang disiapkan Rania dikepala ranjang.Diusapnya peluh sang istri penuh cinta.Demikian juga Rania,dia mengelap tubuh basah suaminya dengan tangan bergetar.Dewa tersenyum dan mengecup bibirnya mesra.


"Kemana dek?" tanya Dewa saat melihat istrinya turun dari ranjang.


"Bersih-bersih dulu mas.Lengket." Dewa bergerak cepat berdiri disampingnya,menuntunnya ke kamar mandi,lalu kembali ke ranjang dengan piyama berwarna senada.


Rania membaringkan tubuh lelahnya pada pelukan Dewa yang duduk sambil menyandarkan tubuhnya dikepala ranjang.Suami tercintanya itu membelai kepalanya tanpa henti sambil sesekali mengecup keningnya mesra.


"Sayang,tadi aku bicara dengan papa tentang kuliahmu dan usaha retailmu yang mulai berkembang dan hubungan kita kedepannya." tak ada jawaban.Rania hanya diam dengan jemari lentiknya yang sesekali mengusap dada bidang Dewa.


"Bagaimana kalau setelah program magang ini selesai,kau lanjutkan dulu kuliahmu dan tinggal bersama papa.Aku akan ke Jakarta dua minggu sekali untuk menemuimu." lagi-lagi tidak ada jawaban hingga Dewa merasa jengah.Sesuatu membasahi dadanya.Ranianya menangis.Dewa bangkit dari duduknya dan menangkup kedua pipi istri cantiknya itu.


"Sayang jangan menangis.Aku hanya mengajakmu berdiskusi,bukan memaksamu.Rania sayang...aku tidak suka melihatmu menangis." ujar Dewa lalu meraih tubuh Rania kedalam pelukannya hingga wanitanya merasa tenang.


"Aku tidak mau pergi darimu mas." kata Rania disela isakan yang menyayat hati Dewa.


"Sayang kuliahmu,usahamu...."


"Aku tidak menginginkan semua itu mas.Aku...hanya ingin bersamamu." Hati Dewa trenyuh.Tidak ada wanita manapun yang akan mencintai dirinya sebesar cinta Rania padanya.


"ssssttt..diamlah sayang.Besok kita cari solusinya ya.Nanti biar papa konsultasi pada Firman mengenai pendidikanmu.Yang jelas aku tidak ingin kau berhenti kuliah sayang.Kau istriku..tentu saja tempatmu adalah disampingku." Rania mengangguk.Sungguh wanita muda itu tidak punya impian apa-apa selain hidup bersama Dewa.

__ADS_1


__ADS_2