
Mendung pekat menyelimuti bumi,mengubah sore yang harusnya cerah itu menjadi gelap gulita.Rania yang awalnya berjalan selangkah demi selangkah menuju rukonya menjadi mempercepat langkahnya.Apalagi gerimis mulai datang.Dia melirik jam dipergelangan tangannya.Masih jam 2 siang.Dia punya 2 jam lebih untuk bersantai diruko,melepaskan lelah dan beban pikirannya sebelum kembali kerumah jam 5 sore nanti.
Dari kejauhan dia melihat bayangan seorang pria memasuki rukonya.Pasti pelanggannya yang hendak mengambil pesanan offline karena beberapa kurir mengambil libur di akhir pekan.Dia sedikt berlari saat hujan mulai jatuh membasahi bumi.
Nafas rania masih memburu saat membuka pintu kaca rukonya.Dia mengibaskan tetesan air yang membasahi kemejanya lalu mengatur nafasnya yang masih tersengal.
"Kenapa hujan-hujanan?bukanya kau baru sakit?" tanya seorang pria yang suaranya sangat familiar ditelinganya.Rania membalikkan tubuhnya.Benar,pria itu duduk bersandar dikursi khusus konsumen yang didesain berhadapan dengan meja ovale ditengahnya.Terlihat rapi dan tampan dengan lengan kemeja yang tergulung hingga kesiku.Sebuah jam tangan mahal berwarna hitam melingkar di tangannya yang berwarna kuning langsat.
"Saya lupa tidak bawa payung.Lagian saya sudah tiba dipakiran depan saat hujan turun tadi." balas Rania sambil mengulurkan tanganya.Pria tadi menyambutnya hangat.Rania duduk dikursi satunya seraya menurunkan tas punggungnya kelantai.
"hmmmm...kak Firman ada perlu?"
"ya."
"Maaf,masalah apa ya kak?" tanya Rania hati-hati.Tidak biasanya Firman datang ke rukonya.Pasti ada suatu alasan yang menggerakan dosen sibuk yang punya jadwal mengajar dibeberapa universitas dikota itu untuk datang kesana.Wajah datar Firman berubah berbinar dengan senyum lebar memamerkan lesung pipi yang membuatnya terlihat sangat manis.
"Aku hanya bercanda Ran.Aku hanya mampir saja.Mela menyuruhku menunggunya disini.Dia ada keperluan diruko ujung sana."
"Ruko ujung bukannya tempat jual beli barang pecah belah ya kak?" Yang dikatakan Rania benar.Dua ruko berjajar paling ujung adalah tempat yang paling ramai dikunjungi para emak-emak.Tempat itu menjual berbagai peralatan rumah tangga dari yang kecil hingga besar dengan harga murah.
__ADS_1
"ya." jawaban Firman yang selalu singkat-singkat kadang membuat Rania geram.Apa manusia didepannya ini tidak punya persediaan kata?
"Apa tante nitip sesuatu?"
"Tidak.Dia belanja untukku.Minggu depan aku pindah ke apartemen." jawab Firman santai sambil menyelonjorkan kakinya santai.
"Kak Firman mau menikah?kok pakai acara pindah ke apartemen segala?padahal rumahkan luas banget kak?" Rania sangat ingin tau hingga Firman tertawa lebar kembali.
"Aku hanya ingin belajar mandiri Ran,lagian yang ingin kunikahi ada disini." Rania melihat sekelilingnya,kalau-kalau dia melihat sosok lain yang datang bersama Firman.Tapi setelahnya,dia tidak menamukan siapapun disana.Bukankah tadi Firman bilang yang akan dia nikahi ada disini?itu berarti...hanya ada Erna dan Tika disana,mungkinkah?
"Siapa yang kakak pilih?Erna atau Tika?" tanya Rania polos.Tawa Firman kembali meledak,membuat Rania makin bingung saja.Sesaat kemudian wajah itu terlihat serius menatapnya.
"Kak Firman bercandanya kelewatan deh.Aku sudah menikah.Mana bisa kakak nikahi?" Rania terkesiap saat Firman meraih pungung tangannya dan menggengamnya erat.Tatapan matanya seolah menghujam jantungnya.
"Aku tau kau tidak bahagia bersama Dewa.Datanglah kapanpun kau mau berbagi padaku Rania.Aku akan selalu menerimamu baik sebagai adik,sahabat ataupun belaha jiwamu." kata pria itu tegas.Rania menelisik wajah tampan didepannya dengan tatapan tak kalah tajam.Tapi yang dia temukan hanya sebuah kesungguhan.Bluuusss.....wajah Rania memerah.Gadis itu menundukkan wajahnya,tak berani beradu pandang lagi dengan Firman.
Rania memang mengagumi Firman yang pintar,rajin,cool dan perfect untuk ukuran pria muda sedikit diatasnya.Bisa terlihat bagaimana seorang Firman bisa lulus suma cum laude diusia 20 tahun dan menyelesaikan S2 nya juga dengan prestasi yang sama.Dia bahkan tidak perlu repot-repot mencari pekerjaan karena tawaran kerja yang datang silih berganti padanya.Terkubur sudah niatnya meneruskan bisnis papanya karena jiwa pendidik sang mama menurun sempurna padanya.Lajang yang berhasil membuktikan pada semua bahwa dia bisa sukses tanpa warisan orang tua.Sisi kebalikan Dewa yang dicap berhasil berbisnis karena nama besar Alexander Wright.Berulang kali bahkan papa dan mama Mela berniat menjodohkan Rania dan Firman karena kedekatan keluarga mereka dengan Rania yang telah dianggap anak mereka sendiri,namun Rania selalu menghindar...sama seperti Firman yang menghindarinya dengan bersikap dingin dan acuh padanya.
Diluar sana...dibawah payung lebar yang menaungi tubuh tinggi tegap seorang pria yang masih memakai setelan kerjanya,hujan jatuh bagai disiramkan dari atas langit.Sang sekretaris yang berdiri memayunginya hanya menatap sang tuan yang berdiri mematung menatap ruang ruko yang terang benderang dengan scene sepasang muda-mudi yang terlihat serasi dan saling bersitatap dan tangan yang masih saling bertautan.
__ADS_1
"Apa kita perlu kesana presedir?" tak ada jawaban hingga tubuh itu berbalik cepat dan melangkah lebar menuju mobil hitamnya.Frans seketika mengikutinya agar sang atasan tidak basah terkena hujan.Setelah memastikan Dewa masuk dan duduk nyaman,dia berjalan memutari mobil dan mengemudikannya menuju kantor Wright crop kembali.
Beberapa kali Frans melirik putra semata wayang Alexander itu dari kaca depan,namun wajahnya tetap terlihat datar,tanpa ekspresi.Dia menjadi bertanya-tanya,mungkinkah sesuatu terjadi pada rumah tangga tuannya?Tapi dia buru-buru menepis semua pikiran itu.Jika benar ada yang tidak beres,dialah orang pertama yang akan membereskan batu sandungan itu karena tugasnya adalah membantu dan melindungi Daniel Wright dengan seluruh jiwa dan raganya.
"Frans,kita kembali ke rumah." suara bariton itu menginterupsi pikiran Frans yang sibuk menebak-nebak.Diputarnya arah menuju rumah.Padahal hanya tinggal dua belokan lagi mereka sudah sampai ke kantor,namun apalah daya...Daniel butuh tenang dan rumah adalah solusi terbaik yang dipilihnya.
"Apa aku terlalu tua untuk menjadi suami Rania Frans?" Sekretaris berdarah bule itu hanya menggeleng.
"Usia bukan halangan untuk jatuh cinta presedir." balasnya bijak.Dewe melemparkan tatapannya keluar.Pria itu menarik nafas dalam lalu menghembuskannya.
"Apa kau pernah jatuh cinta?" sebuah pertanyaan bernada kekanakan yang terlalu feminin untuk ukuran seorang pemimpin Wright crop.Rasanya Frans ingin tertawa geli dibuatnya.Tapi mau tidak mau dia harus menjawabnya.
"Saya sudah disetting untuk bekerja tanpa melibatkan perasaan presedir." jawabnya kemudian.Entah apa lagi yang berkecamuk dalam pikiran keduanya hingga larut dan terdiam.Lampu hijau menyala dan Frans kembali melajukan mobilnya menembus hujan.
********
Readers,maafkan author yang tidak bisa update teratur sesuai janji ya.Hujan panas dan cuaca ekstrim membuat daya tahan tubuh saya terganggu dan kurang enak badan.Doakan saya cepat sehat agar terus bisa update cerita untuk kalian ya..
terimakasihππππππ
__ADS_1